Tampilkan postingan dengan label OLEH-OLEH DARI ROTE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OLEH-OLEH DARI ROTE. Tampilkan semua postingan

Oleh-Oleh dari Rote (1): Kura-Kura Pulang Kampung

by Reynold Sumayku

Pelepasliaran sekitar 40 ekor kura-kura leher ular (Chelodina mccordi) ke habitatnya di Pulau Rote dalam seremoni yang melibatkan menteri kehutanan beberapa waktu lalu itu bisa jadi merupakan langkah pelestarian yang nyaris terlambat—tetapi mungkin pula menjadi awal keberhasilan. Nyaris terlambat karena kini si kura-kura hampir tidak pernah lagi ditemukan di habitat aslinya, danau, rawa, atau lahan basah Pulau Rote di Nusa Tenggara Timur. Berikut beberapa foto tentang kura-kura leher ular dan acara tersebut:

Kura-kura leher ular dalam penangkaran di Jakarta.

Dalam penangkaran, kura-kura yang dewasa ditempatkan di bak-bak yang diberi eceng gondok agar mirip seperti habitat.

Telur-telurnya seperti di atas.

Menjelang dikemas untuk dibawa ke Pulau Rote.

Siap dikeluarkan dari peti kemas begitu tiba di Pulau Rote.

Dikeluarkan dan akan diberi air agar tetap sehat menjelang pelepasliaran keeseokan harinya.

Pengecekan lokasi pelepasliaran.

Senja di Danau Peto, tempat pelepasliaran, sehari sebelum hari-H.

Persiapan menjelang kedatangan menteri untuk acara esok hari.

Acara malam. Merayakan kekerabatan dengan tarian dan tuak.

Pagi menjelang. Berdandan untuk penampilan dalam pergelaran kesenian sebelum pelepasliaran.

Topi tradisional Rote, ti'i langga. Ini topi siapa punya ya?

Tarian penyambut menteri.

Kesepakatan tiga keluarga untuk melindungi kura-kura leher ular ditandai dengan pemotongan kerbau.

Menteri Kehutanan MS Kaban (kiri, bertopi) melepaskan kura-kura ke danau.

Prasasti di tepi danau.

Oleh-Oleh dari Rote (2): Dawai Sasando Berdenting Sayup

by Reynold Sumayku

Di Rote ada dua Matahari, begitu kalau boleh meminjam sebuah guyonan lama. Panasnya top. Tetapi ini sekaligus juga sebuah pulau yang indah di mata saya. Dengan suka hati saya menghabiskan hari-hari tambahan di sana, sambil meraba-raba tujuan dan target.

Persoalan siapa yang menjadi teman saya terpecahkan begitu seseorang bernama Yeremi Pah menyatakan kesediaannya mengantar. Om Yeremi, begitu saya memanggil dia, dikenalkan kepada saya di sela-sela acara pelepasliaran kura-kura leher ular di Danau Peto, Kecamatan Rote Tengah. “Karena saya orang Rote dan rasanya saya tahu di mana bisa menemukan hal-hal yang kamu cari,” katanya.

Bepergian dalam tim yang terdiri dari dua orang saja selalu terasa ideal buat saya. Akan lebih leluasa, lebih cepat bergerak. Maka jadilah Om Yeremi memboncengi saya dengan motornya selama dua hari yang tersisa. Saya tinggal menaruh pantat di jok. Tapi tidak selamanya nyaman karena dalam 1-2 jam saja akan terasa bahwa ransel kamera mulai membuat punggung dan pinggang pegal. Padahal perjalanan kami paling tidak akan berlangsung 5-6 jam setiap hari.

Perjalanan dari Danau Peto menuju Ba'a.

Di hari kedua, menjelang sore, saya minta kami berhenti di tepi sebuah danau yang kami lewati, Danau Tua. Danau itu dangkal dan berlumpur tebal. Belasan kerbau tampak sedang berkubang, sampai ke tengah danau. Di tepian itu ada jaring ikan sedang dijemur pada batang sebuah pohon.

Di pohon itu jugalah kami beristirahat. “Duduk di sini dulu Om, saya mau ambil gambar. Sekalian istirahat. Punggung saya sakit gendong tas itu terus.” Tak lama kemudian Om Yeremi kelihatan sibuk. Dia menggendong ransel kamera saya kemudian mencoba-coba menaruhnya di bagian depan motor. Ternyata bisa. “Hehe.. Kenapa nggak dari kemarin saja ya, Om,” kata saya. Om Yeremi ikut tertawa.

Di mana-mana di pulau ini kelihatannya ada pohon lontar. Tak heran jika ada yang menjuluki Rote sebagai Nusa Seribu Lontar. (Sejuta juga cocok, sepertinya). Sayangnya, tidak di mana-mana ada sasando–walaupun Rote identik pula dengan alat musik berdawai yang dibuat dengan material sebagian dari pohon lontar itu.

Pencarian sasando di pulau asalnya ini tidak begitu mudah, kalau tidak tahu dari mana memulainya. Saya tidak tahu dari mana memulainya, tapi cukup yakin bagaimana mencarinya.

Informasi dari seseorang di dermaga Ba’a, ibu kota Kabupaten Rote Ndao, Bapak Yusuf Nggebu sudah meninggal dunia. Ia adalah seniman sasando yang beberapa tahun lalu pernah ditulis profilnya oleh Kompas. Akhirnya modal kami adalah bertanya-tanya. Ke sana-ke sini. Adakah lagi pemain sasando tradisional di Rote? Adakah pembuatnya yang tradisional?

Di sinilah makin jelas pentingnya peran Om Yeremi. Sebagai orang Rote, ia sangat membantu dalam pencarian informasi. Akhirnya kami tiba di kediaman Hance Pah yang sederhana di Desa Lalu Koen, Kecamatan Rote Barat Daya. Hance disebut-sebut sebagai salah satu pembuat sasando yang masih tersisa di Rote. Lainnya rata-rata sudah merantau dan menjadikan sasando sebagai komoditi, terutama untuk cenderamata.

Hance mulai membuat sasando sejak 1982. Belakangan, ia membuat sasando tradisional yang bisa dilipat. Ia juga membuat topi tradisional Rote yang disebut ti’i langga. Kalau melihat suasana di rumahnya, kemudian diakuinya pula, tidak setiap hari ia membuat sasando dan menjadikannya seperti industri. Ia hanya membuat sasando andaikan ada yang memesan. “Terkadang pesanan datang dari dinas pariwisata,” ucapnya.

Hance menunjukkan sasando tradisional hasil karyanya.

Hance menunjukkan sasando tradisional hasil karyanya.

Meski mampu membuat sasando tradisional, Hance tidak bisa memainkannya. Hal ini berbeda dengan sosok yang kami temui setelahnya, yakni Yusuf Messah (52) dari Desa Meoain. Siang ketika kami mampir ke rumahnya, Pak Yusuf tidak berada di rumah. Kami hanya bertemu dengan istrinya.

Namun, malamnya ketika kami kembali ke sana, Pak Yusuf mengenakan pakaian tradisional Rote dan menyenandungkan beberapa tembang tradisional. “Itu lagu tentang suasana pada tahun 1940-an, ciptaan almarhum ayah saya, Benyamin Messah,” kata Pak Yusuf setelah menyelesaikan sebuah lagu. “Lagu itu ditujukan kepada orang-orang yang pulang bertani, biasanya sebagai hiburan malam.”

Yusuf Messah menyenandungkan tembang tradisional Rote diiringi petikan sasando.

Syair lagu yang dinyanyikan oleh Pak Yusuf dengan iringan petikan sasandonya itu menggunakan bahasa halus yang berbeda dengan bahasa tradisional sehari-hari.

Pak Yusuf tidak setuju jika dikatakan sasando menjelang punah. “Masih ada anak-anak yang memiliki minat terhadap sasando,” kata orang yang mengaku bisa memainkan puluhan tembang tradisional dengan sasando ini. Ia lantas menunjuk anak lelakinya yang bernama Yendro Messah, siswa SMA, seraya berkata, “Ia sudah bisa main sasando sejak kelas 1 SMP.”

Lusa keesokan harinya saya sudah di Kupang (Pulau Timor) dan bersiap kembali ke Jakarta. Tetapi masih ada waktu untuk melihat pusat kerajinan seni Oesafa di jalan raya Timor. Di sana terdapat kerajinan sasando Dalekesa (berarti satu hati) yang dikelola oleh Zakarias Ndaong.

Di tempat ini dibuat sasando-sasando berukuran kecil, yang dimaksudkan sebagai cenderamata. Tapi yang ingin saya lihat adalah kepiawaian Zakarias dalam memainkan sasando elektrik. Disebut demikian, karena sudah mengalami sejumlah modifikasi dibanding sasando gong yang tradisional (baca majalah NG Indonesia edisi Oktober 2009).

Zakarias memainkan sasando di ruangan kerjanya. Lagunya Wonderful Tonight (Eric Clapton).

“Yang sulit adalah bagaimana memadukan tangan kiri dan kanan dengan perasaan,” kata Zakarias yang telah kondang sebagai pemain dan berpengalaman pentas ke Jepang atau negara-negara Eropa. Saya tetap tidak mengerti. Tak lama setelah kabel dicolok ke pengeras suara, melantunlah intro lagu Wonderful Tonight karya Eric Clapton dari sasandonya. Bukan sekadar intro ternyata, karena Zakarias memainkannya sampai selesai. Kemudian lagu-lagu lain.

“Di Jepang banyak orang berminat mempelajari cara bermain sasando,” ucap Zakarias. Bagaimana di sini, di tanah air? “Kalau sasando elektrik yang diatonik ini rasanya prospeknya cukup baik. Dinas pariwisata sering mengadakan acara dan pementasan,” katanya.

Bagaimanapun, di Pulau Rote sendiri, kenyataannya sulit mencari pemain sasando. Terutama yang tradisional. Dalam kesan saya, denting sasando tradisional terdengar makin sayup-sayup.

Oleh-Oleh dari Rote (3): Melongok Tenun Ikat

by Reynold Sumayku

Hal lainnya yang saya cari dalam perjalanan ke Pulau Rote beberapa waktu lalu adalah tenun ikat. Foto-foto ini diambil di Kampung Ndao. Kampung tersebut dinamakan demikian karena sebagian besar penduduknya berasal dari Pulau Ndao, sebuah pulau kecil yang dapat ditempuh dalam waktu tiga jam berperahu dari Rote.

Menurut cerita, setiap perempuan Ndao harus bisa menenun. Kemampuan ini penting dalam kebudayaan mereka. Barangkali sama pentingnya dengan kewajiban bagi kaum lelaki untuk bekerja atau pergi mencari nafkah. Bagaimanapun, sehari-hari, para perempuan Ndao baru menenun di waktu luang, setelah selesai memasak dan mengurus keluarga.

Kemampuan menenun diajarkan turun-temurun dari nenek ke ibu, dari ibu ke anak, dari anak ke cucunya si nenek, begitu terus. Tidak begitu mengherankan apabila banyak perempuan Ndao yang sudah bisa menenun sejak usia belia. “Saya sudah bisa sejak umur sembilan,” kata Wenty Fattu (30) siang itu.

Ibu Wenty biasanya menyelesaikan tiga kain tenun dalam sebulan. “Dahulu kami memintal benang sendiri dari pohon kapas. Tapi sekarang kami membeli benang sutra saja, agar praktis. Lagipula di mana mau cari pohon kapas sekarang,” ucapnya.

Setiap satu bantal benang menurut harga pada September lalu ia beli dengan uang 250 ribu rupiah. Itu setidaknya bisa digunakan sebagai bahan untuk membuat sehelai kain. Atau, katanya, “Satu kemeja pun bisa.” Harga jual sehelai kain tenun jadi antara 300-500 ribu rupiah tergantung motifnya. Namun jika sudah sampai di Jakarta, atau luar negeri, bisa mencapai satu juta lebih.

Berikut beberapa foto dari Kampung Ndao di Pulau Rote:

Menyiapkan benang.

Jalinan benang kapas semula berwarna putih.

Proses pewarnaan. Benang kapas telah menjadi hitam, warna dasar.

Ibu Koten menunjukkan jalinan benang yang sedang dikeringkan dalam proses pewarnaan. Ikatan-ikatan yang berwarna biru dibuat dengan tali rafia, sebagai batas penanda untuk membuat warna lain.

Wenty Fattu sedang mengerjakan tenunannya. Foto yang ini saya buat dengan angle seperti ini dengan alasan yang rada aneh: sering sekali saya melihat foto orang menenun dengan angle kira-kira seperti ini.

Salah satu kain tenun yang sudah selesai.

Kain-kain tenun yang sudah selesai digantung di beranda untuk menarik minat calon pembeli.

Oleh-Oleh dari Rote (4-Selesai): Gula Lempeng

by Reynold Sumayku

Andreas Mooy mengaku lupa berapa umurnya secara persis. Ia hanya memberi ancar-ancar di atas 70 tahun. Wajahnya memang dipenuhi keriput. Tetapi rekan saya om Yeremi berbisik kepada saya, mungkin Pak Andreas salah hitung umur. Buktinya, Andreas berkali-kali memanjat pohon lontar pagi itu dengan kecekatan yang sangat mencengangkan untuk ukuran lelaki berumur 70-an. Otot-ototnya tampak sungguh liat.

Kami sedang mengunjungi kebun dekat kediaman Andreas dan istrinya yang keempat, Yunce Unbanu (asal Timor), di Desa Oehandi, Pulau Rote. Saya ingin melihat dari dekat bagaimana air dari pohon lontar diproses menjadi gula berbentuk lempengan-lempengan kecil. Dengan latar belakang suara tawa anak-anak yang sedang bermain, Andreas yang tidak lancar berbahasa Indonesia itu sedang menunjukkannya.

Dengan bantuan Om Yeremi sebagai penerjemah, gambaran tentang gula lempeng saya dapatkan. Juni-Juli adalah bulan-bulan di mana lontar paceklik dari nira. Airnya kering. Kemudian mulai Agustus hingga November adalah saatnya masyarakat Rote banyak membuat gula lempeng dan gula cair dari pohon lontar, karena airnya sedang banyak-banyaknya. Desember hingga Maret, dengan asumsi standar bahwa itu sedang musim penghujan, pohon-pohon lontar biasanya tidak menghasilkan air sama sekali.

Jika Andreas bertugas memanjat pohon, mengambil nira, dan menurunkannya ke bawah dengan wadah dari daun lontar, Yunce bertugas merebus, mencetak, mendinginkan, kemudian menjual gula-gula lempeng yang dihasilkan. Ia biasanya menjual kepada pengumpul dengan harga 100 rupiah per lempeng. Dalam sehari mereka membuat minimal 150 lempengan gula.

Waktu memotretnya hanya sekitar dua jam lebih sedikit. Saya jauh dari kata puas dengan hasilnya. Tetapi setidaknya, setelah yang satu ini saya merasa lega karena target dari perjalanan ke Rote cukup terpenuhi :D

Om Yeremi Pah (jaket merah) di bawah pohon-pohon lontar dekat Danau Tua. Di Rote, ada satu jenis pohon lagi yang mirip lontar yakni pohon gewang. “Tetapi gewang tidak begitu banyak kegunaannya dibanding lontar,” katanya.

Andreas Mooy memanjat pohon lontar.

Wadah yang digunakan terbuat dari daun lontar pula. Ini Pak Andreas Mooy dari dekat. Anda percaya ia berumur 70-an tahun? Saya percaya.

Yunce Unbanu tengah mendidihkan air nira dari pohon lontar. Awalnya berwarna putih, ketika mengental akan berwarna cokelat.

Gula lempeng yang masih cair dituangkan ke dalam cetakan-cetakan yang dibuat dari daun lontar juga. Kemudian didinginkan.

Sudah mulai mengering.