Kurikulum Pendidikan 2013, Apa yang Baru? Lebih analitis, tanpa pembagian IPA-IPS. Jam belajar siswa bertambah.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menilai perlu dikembangkan kurikulum berbasis penguatan penalaran, bukan hafalan semata. Kurikulum pendidikan di Indonesia dipandang perlu disesuaikan dengan tuntutan zaman. Pola pembelajaran harus diarahkan untuk mendorong murid mencari tahu dan mengobservasi, bukan diberi tahu.
Kemendikbud pun menyusun perubahan kurikulum untuk tahun 2013. Kurikulum baru ini diuji publik selama tiga minggu mulai Senin, 3 Desember 2012. “Zaman sudah berubah. Kompetensi diperlukan untuk pengembangan intelektual siswa juga harus berubah, karena tantangan yang mereka hadapi di masa depan tidak akan sama dengan sekarang,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M. Nuh.
Alasan perubahan kurikulium itu juga merujuk pada hasil sejumlah survei internasional tentang kemampuan siswa Indonesia. Misalkan pada 2007, survei ‘Trends in International Math and Science’ Global Institute mencatat hanya 5 persen siswa Indonesia mampu mengerjakan soal berkategori tinggi yang memerlukan penalaran. Sedangkan siswa Korea yang sanggup mengerjakannya mencapai 71 persen.

Sebaliknya, 78 persen siswa Indonesia dapat mengerjakan soal-soal kategori rendah yang hanya memerlukan hafalan, sementara siswa Korea yang bisa mengerjakan soal semacam itu hanya 10 persen.
Ditambah lagi dengan catatan Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2009, Indonesia menempati peringkat 10 besar terbawah dari 65 negara peserta PISA. Diadakan tiga tahun sekali sejak 2000, PISA menyertakan siswa berusia 15 tahun dari 65 negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Kriteria penilaian PISA mencakup kemampuan kognitif, dan keahlian siswa dalam membaca, matematika, dan sains.
PISA 2009 memperlihatkan, hampir semua siswa Indonesia hanya menguasai pelajaran sampai level 3 saja, sementara banyak siswa negara lain yang menguasai pelajaran sampai level 4, 5, bahkan 6. Survei Global Institute 2007 dan hasil PISA 2009 dalam dirangkum dalam satu kesimpulan: prestasi siswa Indonesia rendah dibanding negara lain.
IPA-IPS Hilang

Rancangan Kurikulum 2013 mengurangi mata pelajaran di tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Mata pelajaran SD yang sebelumnya ada 10 dipadatkan menjadi 6, sedangkan mata pelajaran SMP yang sebelumnya berjumlah 12 diringkas menjadi 10.

Enam mata pelajaran yang diajarkan di SD itu adalah Matematika, Bahasa Indonesia, Agama, Pendidikan Jasmani, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, dan Kesenian. Sementara Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial yang sebelumnya ada di daftar mata pelajaran, akan diajarkan secara terpadu dengan pelajaran-pelajaran lain sesuai tema yang sedang dibahas.

“Misalnya di IPA ada tema soal air, maka tema air itu bisa jadi muatan di pelajaran matematika, Bahasa Indonesia, dan PPKN,” kata Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemendikbud, Ibnu Hamad, kepada VIVAnews, Minggu 2 Desember 2012. Dengan demikian, IPA dan IPS bukannya dihapus dari kurikulum, melainkan diintegrasikan dengan pelajaran lain berdasarkan tema.

Ibnu menjelaskan, khusus mata pelajaran IPA dan IPS ini, Menteri Nuh memberikan tiga alternatif pengintegrasian. Pertama, nama pelajaran IPA dan IPS sama sekali tidak dimunculkan, namun muatannya muncul di pelajaran-pelajaran lain. Kedua, IPA dan IPS dimunculkan mulai kelas 4 SD sampai 6 SD. Ketiga, IPA dan IPS akan dimunculkan sebagai pelajaran tersendiri untuk kelas 5 dan 6 SD.

“Intinya, yang dihapuskan adalah nama pelajarannya –IPA dan IPS. Namun substansi pelajaran IPA dan IPS tidak ada satu pun yang dihilangkan,” ujar Ibnu. IPA dan IPS bukan satu-satunya mata pelajaran yang akan diubah dalam kurikulum baru. Bahasa Inggris pun tidak akan masuk ke dalam mata pelajaran SD, tapi tetap diajarkan sebagai ekstra kurikuler.

Sementara itu, 10 mata pelajaran yang akan diajarkan di tingkat SMP adalah Pendidikan Agama, Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Seni Budaya dan Muatan Lokal, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, dan Prakarya.

Meski mata pelajaran berkurang, namun jumlah jam pelajaran justru bertambah. Jam belajar siswa SD bertambah rata-rata empat jam per minggu. Untuk kelas 1 SD, jam belajar bertambah dari 26 menjadi 30 jam, kelas 2 SD dari 27 menjadi 32 jam, kelas 3 SD dari 28 menjadi 34 jam, dan kelas 4, 5, 6 SD dari 32 menjadi 36 jam.

Jam pelajaran siswa SMP pun bertambah enam jam per minggu, dan siswa SMA bertambah dua jam per minggu. Satu jam pelajaran adalah 35 menit, bukan 60 menit. Penambahan jam belajar ini dilakukan karena jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat dibanding negara-negara lain.

Model pembelajaran di kurikulum baru ini mendorong murid untuk mencari tahu dan melakukan observasi. Siswa diarahkan untuk merumuskan masalah (bertanya), bukan hanya menyelesaikan masalah (menjawab). Murid dilatih untuk berpikir analitis (mengambil keputusan), bukan berpikir mekanistis (rutin). Siswa juga diajari untuk bekerja sama dan berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah.

“Kurikulum baru ini didesain menyiapkan generasi Indonesia yang lebih optimis, di mana terdapat keseimbangan antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan,”  kata Ibnu.

Kualitas Guru

Perubahan kurikulum ini melalui empat tahap. Pertama, Kemendikbud mengembangkan kurikulum dengan melibatkan para pakar pendidikan, kebudayaan, sampai ilmuwan. Kedua, presentasi di depan Wakil Presiden RI Boediono pada 13 November 2012. Ketiga, uji publik selama tiga minggu untuk menghimpun berbagai masukan masyarakat. Keempat, memformulasi ulang masukan masyarakat.

Para pakar yang telah dimintai masukan antara lain Rektor Universitas Paramadina dan penggagas gerakan "Indonesia Mengajar" Anies Baswedan, fisikawan dan tokoh pendidikan Yohanes Surya, sejarawan Taufik Abdullah, serta sastrawan dan budayawan Goenawan Mohamad.

Anies Baswedan meminta pemerintah juga memperhatikan guru, di samping menyusun kurikulum pendidikan baru untuk murid. “Kurikulum baru ini mensyaratkan kompetensi guru yang lebih baik karena beban ada di guru. Menurut kurikulum baru, guru harus mengajar dengan cara berbeda,” kata Anies.

Oleh sebab itu Anies menekankan pada peningkatan kualitas guru ketimbang perubahan kurikulum. “Ini karena ujung tombak ada pada guru. Apapun muatan kurikulum yang diberikan pada murid, yang akan menyampaikan materi di kelas adalah guru. Jadi mengubah kurikulum tanpa meningkatkan kualitas guru, tak ada artinya,” kata dia.

Anies menyatakan, seorang murid menyukai pelajaran bukan karena bukunya, tapi karena gurunya. Ia mencontohkan, pelajaran matematika jadi menyenangkan jika gurunya menyenangkan. “Meski bukunya sama, namun kecintaan murid pada suatu pelajaran berbeda-beda. Jadi fokus pemerintah jangan hanya di hulu (kurikulum), tapi juga di hilir (guru),” ujarnya.

Wakil Presiden Boediono sendiri, menurut Anies, sudah memberikan arahan pada Kemendikbud untuk memperhatikan faktor guru. “Arahan Pak Boediono sudah betul. Harus ada juga tim khusus untuk guru supaya seimbang,” kata dia

Kurikulum 2013, Pelajaran SD dan SMP Dikurangi "Penataan kurikulum baru ini tidak harus memberi beban buku baru."



Pengurangan mata pelajaran sekolah akan terjadi pada kurikulum baru 2013 di tingkat SD dan SMP.

SMP yang semula mempunyai 12 mata pelajaran, pada tahun 2013 hanya akan mempunyai 10 mata pelajaran saja.

10 mata pelajaran tersebut yakni Pendidikan Agama, Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Seni Budaya dan Muatan Lokal, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, dan Prakarya.

“Namun saya harap penataan kurikulum baru ini tidak harus memberi beban buku baru,” ujar Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono usai Rapat Kerja antar Menteri di kantornya, Rabu, 21 November 2012.

Untuk SD, terjadi perubahan dari 10 mata pelajaran menjadi hanya enam. Keenam mata pelajaran itu adalah Matematika, Bahasa Indonesia, Agama, Pendidikan Jasmani, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, dan Kesenian. Sedangkan IPA dan IPS menjadi tematik di pelajaran-pelajaran lain.

Meski berkurang, kata Agung, kurikulum baru ini akan menambah panjangnya jam pelajaran. Untuk SD kelas 1 dari 26 jam per minggu menjadi 30 jam. Untuk kelas 2 SD dari 27 jam menjadi 32 jam. Sedangkan untuk kelas 3 SD dari 28 jam menjadi 34 jam, sementara kelas 4, 5, 6 SD dari 32 menjadi 36 jam per minggu.

“Tapi satu jam itu bukan 60 menit, melainkan 35 menit,” jelas Agung.

Agung berharap pergantian ini tidak disertai dengan beban buku baru karena Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan membuat buku induk. Untuk anak sekolah dasar, mereka tidak perlu banyak membawa buku, cukup satu buku yang terintegrasi.

Kurikulum pendidikan baru ini akan diterapkan pada tahun ajaran 2013/2014. Namun kurikulum ini akan mulai berlaku untuk kelas 1 dan 4 sekolah dasar, dan VII SMP, baik negeri yang dikelola Kemendikbud maupun Kementerian Agama dan juga sekolah swasta, sedangkan lainnya bertahap.

Alasanya, karena kelas yang lebih tinggi sedang mempersiapkan ujian nasional. Harapannya, tiga tahun akan datang semua tingkatan sudah menggunakan sistem ini. 
 

INGIN DAPAT UANG GRATIS??

Bisnis 100% Tanpa Modal

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERING HEAD TOGETHER (NHT) DAPAT MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN IPS KELAS V SD


Bisnis 100% Tanpa Modal


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang Masalah
Pembelajaran merupakan suatu aktivitas yang kompleks dan melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan dengan yang lainnya. Jika pembelajaran melibatkan lebih dari satu  model pembelajaran mungkin akan menghasilkan kualitas pendidikan yang lebih baik.

            Usaha-usaha guru dalam membelajarkan siswa merupakan bagian yang sangat penting dalam mencapai keberhsilan tujuan pembelajaran yang sudah dirancang. Oleh karena itu pemilihan model, strategi, pendekatan, serta teknik pembelajaran merupakan suatu hal yang utama. Pencapaian mutu pendidikan yang tinggi tidak hanya ditentukan oleh siswa, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor guru dan pendukung lainnya. Komponen guru dan siswa merupakan unsur yang utama yang menentukan tinggi rendahnya hasil pembelajaran pada pendidikan.
            Dalam mewujudkan hasil pembelajaran yang efektif dan efisien, peranan guru sangat penting, karena guru memegang tugas dalam mengatur di dalam kelas. Suasana kelas yang hidup dapat membuat siswa belajar tekun dan penuh semangat, sebaliknya suasana kelas yang suram, menegangkan serta aktivitas yang monoton menjadikan siswa kurang bersemangat dalam belajar.
            Guru merupakan perancangan sekaligus sebagai pelaksana proses pembelajaran, dengan mempertimbangkan tuntutan kurikulum, kondisi siswa dan yang paling utama adalah pemilihan model pembelajaran. Karena model pembelajaran adalah pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar yang dirancang untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran.
            Pedoman ini memuat tanggung jawab dalam melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Salah satu dari tujuan penggunaan model pembelajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa selama belajar. Diharapkan terjadi perubahan dari mengingat (memorizing) atau menghapal (rote learning) kearah berpikir (thinking) dan pemahaman (Understandung), dari model ceramah ke pendekatan discovery learning atau inqury learning atau dari belajar individual ke kooperatif.
            Model pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar merupakan hal yang penting dalam meningkatkan mutu pembelajaran, karena dengan model tersebut guru dapat menciptakan kondisi belajar yang mendukung pencapaian tujuan pembelajaran. Pemakaian model pembelajaran harus dilandaskan pada pertimbangan untuk menempatkan siswa sebagai subjek belajar yang tidak hanya menerima siswa pasif saat belajar di dalam kelas. Namun guru harus menempatkan siswa sebagai insan yang alami memiliki pengalaman, keinginan dan pikiran yang dapat dimanfaatkan untuk belajar, baik secara individu maupun secara kelompok. Oleh karena itu seyogianya setiap guru mampu memilih strategi dan model pembelajaran yang dapat membuat peserta didik mempunyai keyakinan bahwa dirinya adalah orang yang mampu belajar.
            Dari pendapat di atas seharusnya seorang guru dapat menggunakan berbagai macam model pembelajaran, strategi, serta pendekatan dalam belajar agar dapat membantu siswa dalam meningkatkan hasil belajarnya. Karena dengan menggunakan berbagai model pembelajaran akan dapat memberikan motivasi yang besar terhadap hasil belajar siswa. Tapi pada kenyataannya dilapangan ada guru yang ditemui yang tidak dapat memiliki model pembelajaran yang tepat untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Serta kurangnya guru dalam memberikan motivasi berupa bimbingan pada saat jam pelajaran berlangsung, sehingga siswa kurang termotivasi dan kurang minat untuk belajar dengan baik dirumah dan di sekolah.
            Akibat dari rendahnya pemberian motivasi belajar dan pemilihan model pembelajaran yang tidak tepat, siswa akan merasa bosan dan malas ketika belajar di kelas dan dirumah serta banyak siswa gagal dan frustasi dalam belajar sehingga mempengaruhi hasil belajar, rasa percaya diri dan minat siswa untuk mau belajar. Dalam hal kegagalan ini kurang diperhatikan oleh guru dan tidak mampu menanggulangi masalah-masalah tersebut. Seperti dengan melakukan suatu perubahan-perubahan dalam belajar serta memberikan dorongan semangat belajar, memulihkan kepercayaan diri siswa, baik yang timbul karena kesadaran dari dalam dirinya ataupun karena adanya motivasi dari orang lain.
            Masih banyak lagi hal-hal yang perlu dilakukan untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Seperti perubahan model dan strategi mengajar. Dimana selama ini guru hanya terfokus pada satu model saja seperti model ceramah. Model ini yang banyak digunakan oleh guru setiap kali mengajar di dalam kelas.
            Guru mengajar di depan kelas dan siswa hanya duduk dan diam mendengarkan penjelasan dari guru. Tapi guru tidak dapat mengetahui apakah siswa yang mendengarkan penjelasannya tersebut paham dan mengerti apa yang disampaikannya. Dari penjelasan tersebut timbul pertanyaan apakah guru hanya tahu menggunakan satu model saja setiap kali mengajar?
            Jika seorang guru tidak dapat memilih strategi mengajar yang tepat mungkin guru akan merasa kesulitan dalam menghadapi siswa didalam kelas. Sebab strategi dalam mengajar adalah tindakan nyata dari guru untuk memakai pembelajaran melalui cara tertentu, yang dinilai lebih efektif clan efisien untuk menghasilkan tujuan pembelajaran yang maksimal. Muhibbyn Syah, (2003: 20). berpendapat bahwa “strategi pengajaran adalah keseluruhan metode dan prosedur yang menitik beratkan pada kegiatan siswa dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan tertentu”. Dengan kata lain strategi mengajar adalah politik atau taktik yang digunakan guru dalam melaksanakan pengajaran di kelas. Tetapi masih banyak juga guru yang belum tepat dalam pemilihan model, strategi  dan model pembelajaran yang tepat.
            Salah satu perubahan yang perlu, dilakukan adalah belajar individual menjadi kooperatif yang bergantung pada kelompok-kelompok kecil dalam belajar. Meskipun isi dan petunjuk yang diberikan pengajar mencirikan bagian dari pengajaran, namun pembelajaran kooperatif secara berhati-hati menggabungkan kelompok-kelompok kecil,sehingga anggotanya dapat bekerja sama untuk memaksimalkan pembelejaran masing-masing anggota kelompok sendiri dari  empat siswa atau lebih yang mempunyai kemampuan yang berbeda-beda
            Slavin (dalam trimanjuniarso.wordpress.com8) berpendapat Pembelajaran kooperatif mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerjasama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar. Kebanyakan melibatkan siswa dalam kelompok yang terdiri dari empat siswa yang mempunyai kemampuan yang berbeda-beda.
            Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang menekankan kepada keaktifan siswa yang berbentuk kelompok. Kelompok belajar kooperatif sendiri didasarkan atas saling ketegantungan positif yang menuntut adanya akintabilitas individual yang mengukur penguasaan materi pelajaran tiap anggota kelompok, dan kelompok diberikan hasil tentang prestasi belajar anggota-anggotanya, sehingga mereka mengetahui temannya yang memerlukan bantuan. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang mengutamakan ada banyak kelompok-kelompok kecil dalam pembelajaran, serta menuntut siswa agar bekerja lama dan berinteraksi sesama anggota kelompok dalam memahami materi, memberikan pendapatan pada jawaban terhadap tugas dalam kelompok.
            Menempatkan model pembelajaran kooperatif ini harus sesuai dengan kaidah-kaidah atau tahap-tahap pelaksanaan. Model pembelajaran tersebut dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Semakin sering guru menggunakan model pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran, cenderung semakin tinggi motivasi belajar siswa dan hasil belajar siswa akan semakin baik.
            Ciri khas pembelajaran kooperatif yaitu siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok dan tinggal dalam satu kelompok untuk beberapa minggu atau beberapa bulan. Sebelum siswa tersebut diberi penjelasan atau diberi pelatihan, tentang bagaimana dapat bekerja sama. Aktifitas pembelajaran kooperatif dapat digunakan tiga tujuan yang berbeda yaitu Dalam pembelajaran teretentu siswa menjadi kelompok yang berupaya untuk menemukan sesuatu, kemudian setelah pembelajaran habis siswa dapat bekerjasama untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai segala sesuatu yang telah dipelajari untuk persiapan kuis,bekerjasama dalamsuatu format belajar kelompok.
            Menurut Trianto,(2009:82) ditemukan bahwa “Model pembelajaran Kooperatif tipe NHT di rancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional” spenser kagan (1993) pembelajaran kooperatif tipe NHT melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tecakup, dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tesebut.
            Dari hasil wawancara dan observasi di Sekolah Dasar Negeri 101769 Tembung, dapat melihat rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa/KKM dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Rendahnya aktifitas dan partisipasi siswa dalam kegiatan belum mencapai KKM pembelajaran dan kurang tepatnya model pembelajaran yang digunakan oleh guru. Hal ini dilihat dari banyaknya siswa yang bermain-main saat guru mengajar di dalam kelas atau ketika guru berada di luar kelas. Banyaknya siswa tidak mengerjakan tugas di rumah mereka lebih senang dihukum dari pada mengerjakan tugas. Banyaknya siswa yang mengerjakan pekerjaan rumah di sekolah, dengan cara melihat hasil pekerjaan rumah temannya (menyontek). Berdasarkan data yang diperoleh dari sekolah bahwa siswa 70% untuk mata pelajaran IPS rendah. Siswa yang mendapat nilai <65 21="21" atau="atau" belum="belum" berhasil.="berhasil." berjumlah="berjumlah" dengan="dengan" kriteria="kriteria" mendapat="mendapat" nilai="nilai" orang="orang" siswa="siswa" tuntas="tuntas" yang="yang">65 berjumlah 9 orang (30%) dengan kriteria tuntas atau berhasil.Dari data tersebut maka dapat dikatakan bahwa hasil belajar siswa masih rendah pada mata pelajaran IPS.
            Berdasarkan latar belakang di atas penulis mencoba melakukan penelitian tindakan kelas dengan mengimplementasikan model hubungan pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam kegiatan belajar mengajar pada pelajaran IPS dengan pokok bahasan kenampakan alam dan buatan di indonesia.
            Diharapkan melalui pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, rasa percaya diri siswa sehingga meningkatnya hasil belajar siswa. Karena pada model pembelajaran ini siswa mempunyai keaktifan belajar yang tinggi baik secara individual maupun secara kelompok.
            Adapun judul penelitian tindakan kelas ini adalah “Penerapan Model Pembelajaran kooperatif tipe NHT untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa  pada mata pelajaran IPS Kelas V Sekolah Dasar Negeri. 101769 Tembung”.   
1.2.  Identifikasi Masalah
Dan hasil pengamatan dilokasi penelitian penulis mengidentifikasi masalah yang ada antara lain:
1.      Rendanhya hasil belajar siswa dalam pelajaran IPS yang rata rata hanya 60, hal ini dapat dilihat dari ulangan umum akhir semester. Nilai rata-rata tersebut masih jauh dibawah KKM yang ditetapkan yaitu 65
2.      Model pembelajaran yang diterapkan oleh guru kurang tepat sehingga hasil belajar siswa menjadi rendah.
3.      Rendahnya kemauan dan minat siswa dalam belajar
4.      Sebahagian siswa kurang berani dalam menjawab pertanyaan guru.
5.      Guru kurang memberi motivasi kepada siswa
1.3. Pembatasan masalah
Dalam suatu penelitian tanpa ketidakjelasan pembatasan masalah yang akan diteliti menyebabkan penelitian tidak terarah. Agar penelitian ini mencapai sasaran penulis membatasi masalah yang hendak diteliti yaitu : “Penerapan Model pembelajaran kooperatif tipe NHT Untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada materi pokok Kenampakan Alam dan Buatan Kelas V SDN 101769 Tembung,  Tahun Ajaran 2010/2011.
1.4.  Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang telah diurakan diatas pada latar belakang masalah maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
“Apakah Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Numbering Head Together (NHT) ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada  materi Pokok  Kenampakan Alam dan Buatan di kelas V SDN 101769, Tahun Ajaran 2010 / 2011?”
1.5. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar  siswa  dengan menggunakan model pembelajaran koperatif NHT pada materi pokok Kenampakan Alam dan Buatan kelas V SDN 101769 Tembung  Tahun Ajaran 2010/2011.
1.6.  Manfaat Hasil Penelitia
Adapun manfaat yang diharapkan sebagai berikut:
a. . Bagi siswa                 :    Meningkatkan cara berfikir siswa tersebut supaya lebih kritis, tanggap kepada lingkungan atau diri sendiri, aktif dalam kegiatan sehari-hari untuk meningkatkan hasil belajar secara individu.
b.    Bagi Guru                 :    Meningkatkan kemampuan kepropesionalan guru dalam pembelajaran yang dilakukan di kelas, mempunyai strategi yang tepat di kelas tersebut serta percaya diri dalam pemberian motivasi yang tepat serta memberikan model pembelajaran kooperatif tipe NHT yang terarah.
c.    Bagi Sekolah            :    Meningkatkan Mutu pelajaran IPS di kelas V 2010/2011 dan juga sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi kepala sekolah dalam meningkatkan mutu kelulusan di sekolah.
d.         Bagi peneliti      :  Sebagai bahan masukan untuk menjadi calon pendidik dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.



Model Pembelajaran NHT (Numbered Head Together)






NHT (Numbered Head Together)
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah
Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan  akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen  dalam Ibrahim (2000: 28) dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu :
1. Hasil belajar akademik stuktural
Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
2. Pengakuan adanya keragaman
Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang.
3. Pengembangan keterampilan social
Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.
Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya.Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagen dalam Ibrahim (2000: 29), dengan tiga langkah yaitu :
a)      Pembentukan kelompok;
b)      Diskusi masalah;
c)      Tukar jawaban antar kelompok
Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan oleh Ibrahim (2000: 29) menjadi enam langkah sebagai berikut :

Langkah 1. Persiapan
Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Langkah 2. Pembentukan kelompok
Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.
Langkah 3. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan
Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh guru.
Langkah 4. Diskusi masalah

Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum.
Langkah 5. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban

Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.
Langkah 6. Memberi kesimpulan

Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.
Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh  Lundgren dalam Ibrahim (2000: 18), antara lain adalah :
  1. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
  2. Memperbaiki kehadiran
  3. Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar
  4. Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil
  5. Konflik antara pribadi berkurang
  6. Pemahaman yang lebih mendalam
  7. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
  8. Hasil belajar lebih tinggi


Metode Pembelajaran Discovery (Penemuan)





Metode Pembelajaran Discovery
Metode pembelajaran discovery (penemuan) adalah metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri. Dalam pembelajaran discovery (penemuan) kegiatan atau pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Dalam menemukan konsep, siswa melakukan pengamatan, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan dan sebagainya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip.
Metode discovery diartikan sebagai prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran perseorang, memanipulasi objek sebelum sampai pada generalisasi. Sedangkan Bruner  menyatakan bahwa anak harus berperan aktif didalam belajar. Lebih lanjut dinyatakan, aktivitas itu perlu dilaksanakan melalui suatu cara yang disebut discovery. Discovery yang dilaksanakan siswa dalam proses belajarnya, diarahkan untuk menemukan suatu konsep atau prinsip.
Discovery ialah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental yang dimaksud antara lain: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dengan teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan intruksi. Dengan demikian pembelajaran discovery ialah suatu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan berdiskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.
Metode pembelajaran discovery merupakan suatu metode pengajaran yang menitikberatkan pada aktifitas siswa dalam belajar. Dalam proses pembelajaran dengan metode ini, guru hanya bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator yang mengarahkan siswa untuk menemukan konsep, dalil, prosedur, algoritma dan semacamnya.
Tiga ciri utama belajar menemukan yaitu: (1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan; (2) berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.
Blake et al. membahas tentang filsafat penemuan yang dipublikasikan oleh Whewell. Whewell mengajukan model penemuan dengan tiga tahap, yaitu: (1) mengklarifikasi; (2) menarik kesimpulan secara induksi; (3) pembuktian kebenaran (verifikasi).
Langkah-langkah pembelajaran discovery adalah sebagai berikut:
  1. identifikasi kebutuhan siswa;
  2. seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian konsep dan generalisasi pengetahuan;
  3. seleksi bahan, problema/ tugas-tugas;
  4. membantu dan memperjelas tugas/ problema yang dihadapi siswa serta peranan masing-masing siswa;
  5. mempersiapkan kelas dan alat-alat yang diperlukan;
  6. mengecek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan;
  7. memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penemuan;
  8. membantu siswa dengan informasi/ data jika diperlukan oleh siswa;
  9. memimpin analisis sendiri (self analysis) dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi masalah;
  10. merangsang terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa;
  11. membantu siswa merumuskan prinsip dan generalisasi hasil penemuannya.
Salah satu metode belajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah yang sudah maju adalah metode discovery. Hal ini disebabkan karena metode ini: (1) merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif; (2) dengan menemukan dan menyelidiki sendiri konsep yang dipelajari, maka hasil yang diperoleh akan tahan lama dalam ingatan dan tidak mudah dilupakan siswa; (3) pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain; (4) dengan menggunakan strategi discovery anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan dapat dikembangkan sendiri; (5) siswa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan problema yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan nyata.
Beberapa keuntungan belajar discovery yaitu: (1) pengetahuan bertahan lama dan mudah diingat; (2) hasil belajar discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada hasil lainnya; (3) secara menyeluruh belajar discovery meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir bebas. Secara khusus belajar penemuan melatih keterampilan-keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.
Beberapa keunggulan metode penemuan juga diungkapkan oleh Suherman, dkk (2001: 179) sebagai berikut:
  1. siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil akhir;
  2. siswa memahami benar bahan pelajaran, sebab mengalami sendiri proses menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih lama diingat;
  3. menemukan sendiri menimbulkan rasa puas. Kepuasan batin ini mendorong ingin melakukan penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat;
  4. siswa yang memperoleh pengetahuan dengan metode penemuan akan lebih mampu mentransfer pengetahuannya ke berbagai konteks;
  5. metode ini melatih siswa untuk lebih banyak belajar sendiri.
Selain memiliki beberapa keuntungan, metode discovery (penemuan) juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya membutuhkan waktu belajar yang lebih lama dibandingkan dengan belajar menerima. Untuk mengurangi kelemahan tersebut maka diperlukan bantuan guru. Bantuan guru dapat dimulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan dengan memberikan informasi secara singkat. Pertanyaan dan informasi tersebut dapat dimuat dalam lembar kerja siswa (LKS) yang telah dipersiapkan oleh guru sebelum pembelajaran dimulai.
Metode discovery (penemuan) yang mungkin dilaksanakan pada siswa SMP adalah metode penemuan terbimbing. Hal ini dikarenakan siswa SMP masih memerlukan bantuan guru sebelum menjadi penemu murni. Oleh sebab itu metode discovery (penemuan) yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode discovery (penemuan) terbimbing (guided discovery).
DAFTAR PUSTAKA
Suherman, dkk. (2001). Common TexBook Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika UPI Bandung.


MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING (TEBAK KATA)

Bisnis 100% Tanpa Modal



A. Pengertian
Metode ini berguna untuk kelas yang aktif dalam kelas. Pengertian aktif terdapat 2 (dua) macam, yaitu:
1. aktif dalam arti selalu atau suka berbicara meski tidak dalam pembelajaran,
2. aktif dalam arti siswa mau dan mampu berfikir dan bertanya jika menemukan kesulitan.

Dalam buku Cooperative Learning PAIKEM oleh Agus Suprijono menjelaskan pembelajaran aktif yaitu; Pembelajaran adalah proses belajar dengan menempatkan peserta didik sebagai center stage performance, dengan proses pembelajaran yang menarik sehingga siswa dapat merespon pemelajaran dengan suasana yang menyenangkan. Sedangkan aktif adalah siswa atau peserta didik mampu dan dapat bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.
Maka dari itu, berlangsungnya proses pembelajaran tidak terlepas dengan lingkungan sekitar atau tidak terbatas pada empat dinding kelas. Melainkan pembelajaran dapat terlaksana dengan pendekatan lingkungan menghapus kejenuhan dan menciptakan peserta didik yang cinta terhadap lingkungan sekitar. Sedikit contoh metode Pembelajaran Aktif yaitu dengan Metode Tebak kata.
Model pembelajaran tebak kata adalah model pembelajaran yang menggunakan media kartu teka-teki yang berpasangan dengan kartu jawaban teka-teki. Permainan tebak kata dilaksanakan dengan cara siswa menjodohkan kartu soal teka-teki dengan kartu jawaban yang tepat. Melalui permainan tebak kata, selain anak menjadi tertarik untuk belajar juga memudahkan dalam menanamkan konsep pelajaran IPS dalam ingatan siswa. Jadi, guru mengajak siswa untuk bermain tebak kata dengan menggunakan media kartu dari kertas karton dalam mata pelajaran IPS.

Dalam menerapkan metode permainan ada beberapa hal yang harus disiapkan adalah sebagai berikut :
1. siapkan materi yang akan di sampaikan.
2. siapkan bahan ajar yang di butuhkan.
3. siapkan kata kunci yang akan di pertanyakan.
Media: :
Buat kartu ukuran 10X10 cm dan isilah ciri-ciri atau kata-kata lainnya yang mengarah pada jawaban (istilah) pada kartu yang ingin ditebak. Buat kartu ukuran 5X2 cm untuk menulis kata-kata atau istilah yang mau ditebak (kartu ini nanti dilipat dan ditempel pada dahi atau diselipkan di telinga.
Langkah-langkah :
1. Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai atau materi ± 45 menit.
2. Guru menyuruh siswa berdiri berpasangan di depan kelas
3. Seorang siswa diberi kartu yang berukuran 10×10 cm yang nanti dibacakan pada pasangannya. Seorang siswa yang lainnya diberi kartu yang berukuran 5×2 cm yang isinya tidak boleh dibaca (dilipat) kemudian ditempelkan di dahi atau diselipkan di telinga.
4. Sementara siswa membawa kartu 10×10 cm membacakan kata-kata yang tertulis didalamnya sementara pasangannya menebak apa yang dimaksud dalam kartu 10×10 cm. jawaban tepat bila sesuai dengan isi kartu yang ditempelkan di dahi atau telinga.
5. Apabila jawabannya tepat (sesuai yang tertulis di kartu) maka pasangan itu boleh duduk. Bila belum tepat pada waktu yang telah ditetapkan boleh mengarahkan dengan kata-kata lain asal jangan langsung memberi jawabannya.
6. Dan seterusnya

CONTOH KARTU:
BERDASARKAN SIKAP YANG DITUNJUKKAN.
• tidak memandang perbedaan sebagai usaha mencari alternatif
• yang dicari adalah kambing hitam bukan peraturannya yang mungkin salah.
TIPE BUDAYA POLITIK APAKAH AKU...?

JAWABAN:

TIPE BUDAYA POLITIK MILITAN

B. Prinsip atau Ciri-Ciri
• Pembelajaran berlangsung menyenangkan
• Siswa diarahkan untuk aktif
• Menggunakan media kartu
C. Kelebihan dan Kekurangan dalam Pemanfaatannya
• Kelebihannya :
a. anak akan mempunyai kekayaan bahasa.
b. Sangat menarik sehingga setiap siswa ingin mencobanya.
c. Siswa menjadi tertarik untuk belajar
d. memudahkan dalam menanamkan konsep pelajaran dalam ingatan siswa.
• Kekurangannya :
a. memerlukan waktu yang lama sehingga materi sulit tersampaikan.
b. Bila siswa tidak menjawab dengan benar maka tidak semua siswa dapat maju karena waktu terbatas.
D. Kesimpulan
Jadi, model pembelajaran Tebak Kata merupakan salah satu model pembelajaran Cooperative Learning, dengan proses pembelajaran yang menarik agar siswa menjadi berminat atau tertarik untuk belajar, mempermudah dalam menanamkan konsep-konsep dalam ingatan siswa. Selain itu siswa juga diarahkan untuk aktif, yaitu siswa atau peserta didik mampu dan dapat bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.

Desain Strategi Pembelajaran





Strategi Pembelajaran

Secara umum strategi dapat diartikan sebagai suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi juga bisa diartikn sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah,digariskan.
Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dari pendapat tersebut, Dick and Carey (1985) juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran itu adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan suatu rencana tindakan (rangkaian kegiatan) yang termasuk juga penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Ini berarti bahwa di dalam penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu, artinya disini bahwa arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan, sehingga penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Namun sebelumnya perlu dirumuskan suatu tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya.

Jenis-jenis strategi pembelajaran
Pengembangan pengalaman belajar akan akan sangat ditentukan oleh pengemasan materi pelajaran. Pengemasan materi secara individual, seperti pengemasan dalam bentuk pengajaran terprogram dan pengemasan dalam bentuk modul, maka pengalaman belajar harus didesain secara individual juga, artinya pengalaman belajar yang dapat dilakukan oleh siswa secara mandiri. Demikian juga halnya, kalau pengemasan materi pelajaran dilakukan untuk kebutuhan kelompok sehingga materi pengajaran tidak memungkinkan dapat dipelajari sendiri, maka pengalaman belajar harus didesain untuk pengajaran kelompok atau klasikal yang memerlukan bimbingan guru.
Mengorganisasi pengalaman belajar meliputi 4 hal pokok yaitu;
  1. Pengidentifikasian dan penetapan spesifikasi dan kualifikasi hasil yang harus dicapai dan menjadi sasaran setiap usaha pembelajaran.
  2. Pertimbangan dan pemilihan strategi pembelajaran yang ampuh untuk mencapai sasaran. Masalah ini berkaitan dengan penetapan metode dan teknik pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan jenis materi pembelajaran.
  3. Pertimbangan dan penetapan langkah-langkah yang ditempuh sejak awal sampai akhir. Masalah ini berkaitan dengan penetapan prosedur dan kegiatan yang harus dilakukan baik oleh guru atau siswa.
  4. Pertimbangan dan penetapan tolak ukur dan ukuran baku yang akan digunakan untuk menilai keberhasilan usaha yang dilakukan. Masalah ini berkaitan dengan penetapan alat evaluasi untuk mengumpulkan informasi tentang kebrehasilan siswa mencapai tujuan dan kompetensi pembelajaran.
Pencapaian sasaran atau tujuan yang ditentukan, akan sangat tergantung pada pengemasan bahan dan strategi pembelajaran yang digunakan.

Macam-macam strategi pembelajaran

a)  Strategi Pembelajaran Ekspository
Strategi pembelajaran ekspository adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Roy Killen (1998), Menamakan strategi ekspository  ini dengan istilah strategi pembelajaran langsung (direct instruction), Oleh karena ekspository lebih menekankan kepada proses bertutur maka, sering juga dinamakan istilah strategi. Fokus utama strategi ini adalah kemampuan akademis siswa. Metode pembelajaran yang sering digunakan untuk mengaplikasikan strategi ini adalah metode kuliah atau ceramah.
Ada beberapa langkah dalam penerapan strategi ekspository,yaitu;
1)      Persiapan
Langkah ini berkaitan dengan mempersiapkan siswa untuk menerima pelajaran.  Tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan persiapan adalah:
  • Mengajak siswa keluar dari kondisi mental yang pasif.
  • Membangkitkan motivasi dan minat siswa untuk belajar.
  • Merangsang dan menggugah rasa ingin tahu siswa.
  • Menciptakan suasana dan iklim pembelajaran yang terbuka.
Beberapa hal yang harus dilakukan dalam langkah persiapan diantaranya adalah;
2)      Penyajian
Langkah penyajian adalah langkah penyampaian materi pelajaran sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan. Yang harus dipikirkan oleh setiap guru dalam penyajian ini adalah bagaimana agar materi pelajaran dapat dengan mudah ditangkap dan dipahami oleh siswa. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan langkah ini diantaranya adalah penggunaan bahasa, intonasi suara, menjaga kontak mata dengan siswa, dan penggunaan kalimat atau bahasa yang lucu agar kelas tetap hidup dan segar.
3)      Korelasi
Langkah korelasi adalah langkah menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman siswa atau hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat menangkap keterkaitannya dalam struktur pengetahuan yang telah dimilikinya. Langkah korelasi dilakukan tiada lain untuk memberikan makna terhadap materi pelajaran, baik makna untuk memperbaiki struktur pengetahuan yang telah dimilikinya, maupun makna untuk meningkatkan kualitas kemampuan berpikir dan kemampuan motorik siswa.
4)      Menyimpulkan
Menyimpulkan adalah tahapan untuk memahami inti dari materi pelajaran yang telah disajikan. Menyimpulkan berarti pula memberikan keyakinan kepada siswa tentang kebenaran swatu paparan. Dengan demikian, siswa tidak merasa ragu lagi akan penjelasan guru. Menyimpulkan bisa dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya;
  • Mengulang kembali initi-inti materi yang menjadi pokok-pokok persoalan.
  • Memberikan beberapa pertanyaan yang relevan dengan materi yang disajikan.
 5)      Mengaplikasikan
Langkah aplikasi adalah langkah untuk kemampuan siswa setelah mereka menyimak penjelasan guru. Tehnik yang biasa dilakukan pada langkah ini diantaranya;
  • Membuat tugas yang relevan dengan materi yang telah disajikan
  • Memberikan tes yang sesuai dengan materi pelajaran yang telah disajkan.
b)    Strategi Pembelajaran Inkuiri
Strategi pembelajaran inkuiri (SPI) adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban yang sudah pasti dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui Tanya jawab antara guru dan siswa. Strategi pembelajaran ini sering juga dinamakan strategi beuristic, yang berasal dari bahasa yunani, yaitu heuriskein yang berarti saya menemukan.
Secara umum proses pembelajaran dengan menggunakan SPI dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut;
 1)     Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsive. Pada langkah ini guru mengkondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran. Berbeda dengan tahapan preparation dalam strategi Pembelajaran Ekspositori ((SPE) sebagai langkah untuk mengkondisikan agar siswa siap menerima pelajaran, pada langkah orientasi pada SPI,guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan SPI sangat tergantung kepada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah, tanpa kemampuan dan kemauan itu tidak mungkin proses pembelajaran akan berjalan dengan lancer.
2)      Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka teki itu. Dikatakan teka teki alam merumuskan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam strategi inkuiri, karna melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya pengembangan mental melalui proses berpikir. Dengan demikian teka-teki yang menjadi masalah dalam berinkuiri adalah teka-teki yang mengandung konsep yang jelas yang harus dicari dan ditemukan. Ini penting dalam pembelajaran inkuiri.
3)      Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada dasarnya sudah dimiliki sejak individu itu lahir. Potensi berfikir itu dimulai dari kemampuan setiap individu untuk menebak atau mengira-ngira (perhipotesis) dari suatu permasalahan. Manakala individu dapat membuktikan tebakannya, maka ia akan sampai pada posisi yang dapat mendorong untuk berpikir lebih lanjut.
4)      Mengumpulkan Data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Ddalam strategi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya, oleh sebab itu, tugas dan peran guru daam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaanyang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan.
5)      Menguji Hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji hipotesis  adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan. Disamping itu, menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggung jawabkan.
6)      Merumuskan Kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan puncak dalam proses pembelajaran. Sering terjadi, oleh karena banyaknya data yang diperoleh, menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus terhadap masalah yang hendak dipecahkan. Oleh karna itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
c)      Strategi Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan system pengelompokan atau tim kecil, yaitu antara 4-6 orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademis, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (Heterogen). Sistem penilaian dilakukan terhadap kelompok. Setiap kelompok akan memperoeh penghargaan (reward), jika kelompok mampu menunjukkan prestasi yang dipersyaratkan. Dengan demikian, setiap anggota kelompok akan memiliki ketergantungan positif. Ketergantungan semacam itulah yang selanjutnya akan memunculkan tanggung jawab individu terhadap kelompok dan keterampilan interpersonal dari setiap anggota kelompok. Setiap individu akan saling membantu, mereka akan memiliki motivasi untuk keberhasilan kelompok, sehingga setiap individu akan memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan kontribusi demi keberhasilan kelompok.
Prosedur pembelajaran kooperatif pada perinsipnya terdiri atas 4 tahap, yaitu;
1)      Penjelasan materi
Tahap penjelasan diartikan sebagai proses penyampaian pokok-pokok  materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. Tujuan utama dalam tahap ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran. Pada tahap ini, guru memberikan gambaran umum tentang materi pelajaran yang harus dikuasai yang selanjutnya siswa akan memperdalam materi dalam pembelajaran kelompok (team). Pada tahap ini guru dapat menggunakan metode ceramah, curah pendapat dan tanya jawab, bahkan kalau perlu guru dapat menggunakan demonstrasi. Disamping itu, guru juga dapat menggunakan berbagai media pembelajaran agar proses penyampaian dapat lebih menarik siswa.
2)      Belajar dalam kelompok
Setelah guru menjelaskan gambaran umum tentang pokok-pokok materi pelajaran, selanjutnya siswa diminta untuk belajar pada kelompokya masing-masing yang telah dibentuk sebelumnya. Pengelompokan dalam SPK bersifat heterogen, artinya kelompok dibentuk berdasarkan perbedaan-perbedaan setip anggotaya, baik perbedaan gender, latar belakang agama, social sampai ekonomi dan etnik serta perbedaan kemampuan akademis, dalam hal kemampuan akademis, kelompok pembelajaran biasanya tediri  dari 1 orang berkemampuan akademis tinggi, 2  orang dengan kemampuan sedang, dan satu lainnya dari kelompok kemampuan akademis kurang (anita lie, 2005). Selanjutnya lie, menjalankan beberapa alasan lebih disukainya pengelompokan heterogen. Pertama, kelompok heterogen memberikan kesempatan untuk saling mengajar (peer  tu toring) dan saling mendukung. Ke 2, kelompok ini meningkatkan relasi dan interaksi antar ras, agama, etnik, dan gender. Terakhir, kelompok heterogen memudahkan pengelolaan kelas karna dengan adanya satu orang yang berkemampuan akademis tinggi, guru mendapatkan satu asisten untuk siap 3 orang melalui pembelajaran tim siswa didorong untuk melakukan tukar menukar (sharing) informasi dan pendapat, mendiskusikan permasalahan secara bersama, membandingkan jawaban mereka dan mengoreksi hal-hal yang kurang tepat.
3)      Penilaian
Penilaian dalam SPK biasa dilakukan dengan tes atau kuis. Tes atau kuis baik dilakukan secara individual maupun secara kelompok. Tes individual nantinya akan memberikan informasi kemampuan setiap siswa; dan tes kelompok akan memberikan informasi kemampuan setiap kelompok. Hasil akhir setiap siswa adalah penggabungan keduanya dan dibagi dua. Nilai setiap kelompok memiliki nilai sama dalam kelompoknya. Hla ini disebabkan nilai kelompok adalah nilai bersama dalam kelompoknya yang merupakan hasil kerja sama setiap anggota kelompok.
4)      Pengakuan Tim
Pengakuan tim (team recognation) adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol  atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadia. Pengakuan dan pemberian penghargaan tersebut, diharapkan dapat memotivasi tim lain untuk lebih mampu meningkatkan prestasi mereka.


Perangkat Pembelajaran: Silabus, RPP, & AUH






Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah program perencanaan yang disusun sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran untuk setiap kegiatan proses pembelajaran.
Komponen-komponen RPP:
  • Tujuan pembelajaran
  • Materi/isi
  • Strategi dan Metode Pembelajaran
  • Media dan sumber belajar
  • Evaluasi
Silabus adalah rencana  pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetens,kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran,kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.
Komponen-komponen Silabus
  • Menentukan Identitas Silabus
  • Rumusan Standar Kompetensi
  • Menentukan Kompetensi Dasar
  • Merumuskan Kegiatan Pembelajaran
  • Mengidentifikasi materi pokok/ materi pembalajaran
  • Merumuskan indikator pencapaian kompetensi
  • Menentukan penilaian
  • Menentukan alokasi waktu
  • Menentukan sumber belajar
Contoh Format Analisis Ulangan Harian:



Referensi: (1) Wina,Sanjaya. 2010. PerencanaandanDesainSistemPembelajaran.Jakarta : PT.FajarInterpratama; (2) Trianto. 2010. Mendesain Model PembelajaranInovatif- Progresif.Jakarta :Kharisma Putra Utama.


Rencana Minggu Efektif (RME), Program Tahunan, Program Semester, Kalender Pendidikan




Pengertian perangkat pembelajaran
Adalah perlengkapan kegiatan pembelajaran yang disusun secara sistematis yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Seperti: RPP, LKS, Kalender, Silabus, Prota, Prosem, Dll.
Macam-macam perangkat pembelajaran
Rencana Minggu Efektif (RME)
Adalah hitungan hari-hari efektif yang ada pada tahun pelajaran berlangsung.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam menentukan jumlah ME :
  • Menentukan jumlah minggu selama satu tahun.
  • Menghitung jumlah minggu tidak efektif selama satu tahun.
  • Menghitung jumlah minggu efektif dengan cara jumlah minggu dalam satu tahun dikurang jumlah minggu tidak efektif .
  • Menghitung jumlah jam efektif selama satu tahun dengan cara jumlah minggu efektif dikali jumlah jam pelajaran per minggu
Program Tahunan
Adalah rencana penetapan alokasi waktu satu tahun untuk mencapai tujuan (SK dan KD) yang telah ditetapkan.
Langkah Penyusunan Program  tahunan :
  1. Mengidentifikasi jumlah KD dan indikator dalam satu tahun
  2. Melakukan pemetaan KD untuk tiap semester
  3. Menentukan alokasi waktu untuk masing-masing KD berdasarkan kedalaman dan keluasan KD.
  4. Mengidentifikasi jenis kegiatan di luar KBM dan waktu yang dibutuhkan ( UAS, UKK, UNAS, libur setelah ulangan, libur awal puasa, LHR, EF, dsb)
Program Semester
adalah program yang berisikan garis-garis besar mengenai hal-hal yang hendak dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut.
Program semester merupakan penjabaran dari program tahunan. Isi dari program semester adalah tentang bulan, pokok bahasan yang hendak disampaikan, waktu yang direncanakan, dan keterangan-keterangan.
Program semester berisikan garis-garis besar mengenai hal-hal yang hendak dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut. Pada umumnya program semester ini berisikan:
  1. Identitas (satuan pendidikan, mata pelajaran, kelas/semester, tahun pelajaran)
  2. Format isian (standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, jumlah jam pertemuan (JJP), dan bulan).
Kalender Pendidikan
Penyusunan kalender pendidikan selama satu tahun pelajaran mengacu pada efesiensi, efektifitas dan hak-hak peserta didik.


PERANGKAT PEMBELAJARAN

SILABUS
PENGERTIAN SILABUS
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/ pembelajaran, indicator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar.
PRINSIP PENGEMBANGAN SILABUS
  1. Ilmiyah
  2. Relevan
  3. Sistematis
  4. Konsisten
  5. Memadai
  6. Actual dan kontekstual
  7. Fleksibel, dan
  8. Menyeluruh
RPP (RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN)
PENGERTIAN RPP
RPP adalah rencana yang menggambarkan prosedur atau pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam silabus.
RPP BERKARAKTER
  1. Eksplorasi
  2. Elaborasi
  3. konfirmasi
KOMPONEN RPP
  1. Kolom identitas mata pelajaran
  2. Standar kompetensi
  3. Kompetensi dasar
  4. Indikator pencapaian kompetensi
  5. Tujuan pembelajaran
  6. Materi ajar (materi pokok)
  7. Materi/kompetensi prasyarat
  8. Alokasi waktu
  9. Metode pembelajaran
  10. Kegiatan pembelajaran
  11. Penilaian
  12. Sumber belajar
MANFAAT RPP
Agar pembelajaran yang terjadi di dalam kelas mencapai hasil yang maksimal, karena segala sesuatu yang direncanakan terlebih dahulu akan mendapatkan hasil yang lebih baik.
PERBEDAAN
RPP berkarakter lebih ditekankan pada karakter siswa. RPP pada umumnya lebih di tekankan pada tujuan yang dicapai oleh guru.
AUH (ANALISIS ULANGAN HARIAN)
Untuk menyusun analisis ulangan harian memerlukan persiapan yang mendukung hasil analisis yang kita lakukan, persiapan yang perlu kita lakukan:
  1. Menyiapkan tabel untuk pengolahan data nilai
  2. Menyiapkan bentuk soal untuk mencapai kompetensi siswa
  3. Melaksanakan pengolahan data untuk mengetahui bentuk soal mudah, sukar, sedang, dan amat sukar

amazing panoramic photos that look like little planets






At the Burbage South Boulders, near Hathersage, Derbyshire




At the Burbage South Boulders, near Hathersage, Derbyshire.
Monte Rosa from the Stralhorn

Monte Rosa from the Stralhorn.


A view from the top of Ben Nevis

A view from the top of Ben Nevis.


The rocky mass of Cima Grande in the Tre Cima, the Dolomites, Italy. Taken from the tiny summit of Cima Piccola after climbing the Yellow Edge Route



The rocky mass of Cima Grande in the Tre Cima, the Dolomites, Italy.

One of Dan Arkle's snaps which didn't involve climbing up a mountain... Sheffield town centre
Sheffield town centre





One of Dan Arkle's amazing 'little planet' photos. Pictured is Win Hill, Derbyshire with Lose Hill, Mam Tor and Kinder on the left

 Win Hill, Derbyshire


Sheffield Botanical Gardens: 'My first little planet. I like the symmetry, and the way the building clings onto the ground'




Sheffield Botanical Gardens.



Robin Hood's Stride. 'These fantastic pinnacles are in popular climbing area near Birchover, Matlock, Derbyshire'

Robin Hood's Stride.





Hound Tor in Dartmoor. Dan said: 'Hay Tor is visible on the bottom right. This one is also the cover photo for Boulder Britain, by Niall Grimes, the first bouldering guidebook for all of the UK'
Hound Tor in Dartmoor.


Lose Hill in Derbyshire. A summit orientation plate is in the centre; Mam Tor is just left of the top; Kinder and Edale are on the top right. Bleaklow and the rest of the Dark Peak are bottom right
Lose Hill in Derbyshire.