Membangun Generasi Emas Bangsa Indonesia 2025
Rumput Laut
Padang Lamun
Padang lamun merupakan ekosistem perairan dangkal yang kompleks, memiliki produktivitas hayati yang tinggi, dan merupakan sumberdaya laut yang penting baik secara ekologis maupuin secara ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan potensi ekosistem padang lamun di Pulau Barrang Lompo, serta mengkaji hubungan antara fenomena pasang surut menurut siklus bulan dengan kelimpahan dan jumlah jenis juvenil fauna nekton yang berasosiasi didalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penutupan lamun yang tinggi tidak memberikan kelimpahan dan jumlah jenis juvenil ikan yang tinngi, dan ternyata pada saat bulan gelap kelimpahan juvenil ikan lebih tinggi dari pada saat bulan terang. Berdasarkan jenis-jenis juvenil ikan yang ditemukan ternyata padang lamun memiliki potensi yang besar sebagai daerah asuban berbagi jenis juvenil ikan ekonomis penting diantaranya ikan kerapu, beronang, ikan merah, ikam ekor kuning dan berbagai jenis udang putih.
Sumber: http://www.unhas.ac.id/lemlit/researches/view/139.html
Persebaran Padang Lamun
Tumbuhan lamun merupakan tumbuhan laut yang mempunyai sebaran cukup luas mulai dari benua Artik sampai ke benua Afrika dan Selandia Baru. Jumlah jenis tumbuhan ini mencapai 58 jenis di seluruh dunk (Kuo dan Me. Comb 1989) dengan konsentrasi utama didapatkan di wilayah Indo-Pasifik. Dari jumlah tersebut 16 jenis dari 7 marga diantaranya ditemukan di perairan Asia Tenggara, dimana jumlah jenis terbesar ditemukan di perairan Filipina (16 jenis) atau semua jenis yang ada di perairan Asia Tenggara ditemukan juga di Filipina.
Dua hipotesis yang saling bertolak belakang yang digunakan untuk menjelaskan penyebaran lamun adalah : 1. Hipotesis Vikarians dan 2. hipotesis pusat asal usul. Hipotesis vikarians yang dikemukakan oleh McCoy dan Heck (1976), berdasarkan lempeng tektonik, perubahan iklim, dan juga pertimbangan ekologi seperti kepunahan dan hubungan spesies-habitat. Berdasarkan penyebaran terumbu karang (sklerektinia), lamun, dan mangrove, McCoy dan Heck ( 1976) menyimpulkan bahwa : pola biogeography lebih baik dijelaskan oleh keberadaan penyebaran biota secara luas pada waktu sebelumnya yang telah mengalami perubahan akibat kejadian tektonik, speciation, dan kepunahan, bersama dengan geologi modern dan teori biogeografi. Sedangkan hipotesis pusat asal usul berpendapat bahwa pola distribusi lamun dapat dijelaskan dari penyebarannya yang merupakan radiasi yang berasal dari lokasi yang memiliki keanekaragaman yang paling tinggi yang disebut pusat asal usul (den Hartog, 1970). Hipotesis ini berpendapat bahwa “Malinesia” (termasuk kepulauan Indonesia, Kalimantan-Malaysia, Papua Nugini, dan Utara Australia) merupakan pusat asal usul penyebaran lamun.
Mukai (1993) menunjukkan bahwa pola penyebaran modern dari lamun di barat Pasifik merupakan fungsi dari arus laut dan jarak dari pusat asal usul (Malesia). Datanya menjelaskan bahwa jika mengikuti arus laut utama yang berasal dari pusat asal usul (Malesia) dengan keanekaragaman lamun tinggi, maka akan terjadi penurunan keanekaragaman lamun secara progresif kearah tepi (Jepang, Selatan Quensland, Fiji) yang memiliki lebih sedikit jenis lamun tropis. Yang perlu dicermati bahwa distribusi lamun sepanjang utara-mengalirnya Kuroshio dan selatan-aliran timur arus Australia juga merefleksikan gradient lintang. Hal lainnya adalah penyebaran lamun sepanjang gradient ini juga dipengaruhi oleh temperatur.
Di Indonesia ditemukan jumlah jenis lamun yang relatif lebih rendah dibandingkan Filipina, yaitu sebanyak 12 jenis dari 7 marga. Namun demikian terdapat dua jenis lamun yang diduga ada di Indonesia namun belum dilaporkan yaitu Halophila beccarii dan Ruppia maritime* (Kiswara 1997). Dari beberapa jenis yang ada di Indonesia, terdapat jenis lamun kayu (Thalassodendron ciliatum) yang penyebarannya sangat terbatas dan terutama di wilayah timur perairan Indonesia, kecuali juga ditemukan di daerah terumbu tepi di kepulauan Riau (Tomascik et al 1997). Jenis-jenis lamun tersebut membentuk padang lamun baik yang bersifat padang lamun monospesifik maupun padang lamun campuran yang luasnya diperkirakan mencapai 30.000 km2 (Nienhuis 1993).
Thalassia hemprichii Umum dijumpai di daerah subtidal yang dangkal dan berlumpur
Thalassodendron ciliatum Paling banyak dijumpai, biasa tumbuh dengan spesies lain, dapat tumbuh hingga kedalaman 25 m. Sering dijumpai pada substrat berpasir. Sering mendominasi di zona subtidal dan berasosiasi dengan terumbu karang sampai kedalaman 30 m, di lereng terumbu karang
Karakteristik Ekologi
Suhu
Beberapa peneliti melaporkan adanya pengaruh nyata perubahan suhu terhadap kehidupan lamun, antara lain dapat mempengaruhi metabolisme, penyerapan unsur hara dan kelangsungan hidup lamun (Brouns dan Hiejs 1986; Marsh et al. 1986; Bulthuis 1987). Marsh et al. (1986) melaporkan bahwa pada kisaran suhu 25 - 30°C fotosintesis bersih akan meningkat dengan meningkatnya suhu. Demikian juga respirasi lamun meningkat dengan meningkatnya suhu, namun dengan kisaran yang lebih luas yaitu 5-35°C.
Pengaruh suhu juga terlihat pada biomassa Cymodocea nodosa, dimana pola fluktuasi biomassa mengikuti pola fluktuasi suhu (Perez dan Romero 1992). Penelitian yang dilakukan Barber (1985) melaporkan produktivitas lamun yang tinggi pada suhu tinggi, bahkan diantara faktor lingkungan yang diamati hanya suhu yang mempunyai pengaruh nyata terhadap produktivitas tersebut. Pada kisaran suhu 1035 °C produktivitas lamun meningkat dengan meningkatnya suhu.
Salinitas
Toleransi lamun terhadap salinitas bervariasi antar jenis dan umur. Lamun yang tua dapat menoleransi fluktuasi salinitas yang besar (Zieman 1986). Ditambahkan bahwa Thalassia ditemukan hidup dari salinitas 3,5-60 °°/o, namun dengan waktu toleransi yang singkat. Kisaran optimum untuk pertumbuhan Thalassia dilaporkan dari salinitas 24-35 °°/0.
Salinitas juga dapat berpengaruh terhadap biomassa, produktivitas, kerapatan, lebar daun dan kecepatan pulih lamun. Pada jenis Amphibolis antartica biomassa, produktivitas dan kecepatan pulih tertinggi ditemukan pada salinitas 42,5 °°/o. Sedangkan kerapatan semakin meningkat dengan meningkatnya salinitas, namun jumlah cabang dan lebar daun semakin menurun (Walker 1985).
Berbeda dengan hasil penelitian tersebut di atas, Mellors et al. (1993) dan Nateekarnchanalarp dan Sudara (1992) yang melakukan penelitian di Thailand tidak menemukan adanya pengaruh salinitas yang berarti terhadap faktor-faktor biotik lamun.
Kekeruhan
Kekeruhan secara tidak langsung dapat mempengaruhi kehidupan lamun karena dapat menghalangi penetrasi cahaya yang dibutuhkan oleh lamun untuk berfotosintesis masuk ke dalam air. Kekeruhan dapat disebabkan oleh adanya partikel-partikel tersuspensi, baik oleh partikel-partikel hidup seperti plankton maupun partikel-partikel mati seperti bahan-bahan organik, sedimen dan sebagainya.
Erftemeijer (1993) mendapatkan intensitas cahaya pada perairan yang jernih di Pulau Barang Lompo mencapai 400 u,E/m2/dtk pada kedalaman 15 meter. Sedangkan di Gusung Tallang yang mempunyai perairan keruh didapatkan intensitas cahaya sebesar 200 uJ3/m2/dtk pada kedalaman 1 meter.
Pada perairan pantai yang keruh, maka cahaya merupakan faktor pembatas pertumbuhan dan produksi lamun (Hutomo 1997). Hamid (1996) melaporkan adanya pengaruh nyata kekeruhan terhadap pertumbuhan panjang dan bobot E. acoroides.
Kedalaman
Kedalaman perairan dapat membatasi distribusi lamun secara vertikal. Lamun tumbuh di zona intertidal bawah dan subtidal atas hingga mencapai kedalaman 30
m. Zona intertidal dicirikan oleh tumbuhan pionir yang didominasi oleh Halophila ovalis, Cymodocea rotundata dan Holodule pinifolia, Sedangkan Thalassodendron ciliatum mendominasi zona intertidal bawah (Hutomo 1997).
Selain itu, kedalaman perairan juga berpengaruh terhadap kerapatan dan pertumbuhan lamun. Brouns dan Heijs (1986) mendapatkan pertumbuhan tertinggi
E. acoroides pada lokasi yang dangkal dengan suhu tinggi. Selain itu di Teluk Tampa Florida ditemukan kerapatan T. testudinwn tertinggi pada kedalaman sekhar 100 cm dan menurun sampai pada kedalaman 150 cm (Durako dan Moffler 1985).
Nutrien
Dinamika nutrien memegang peranan kunci pada ekosistem padang lamun dan ekosistem lainnya. Ketersediaan nutrien menjadi fektor pembatas pertumbuhan, kelimpahan dan morfologi lamun pada perairan yang jernih (Hutomo 1997).
Unsur N dan P sedimen berada dalam bentuk terlarut di air antara, terjerap/dapat dipertukarkan dan terikat. Hanya bentuk terlarut dan dapat dipertukarkan yang dapat dimanfeatkan oleh lamun (Udy dan Dennison 1996). Dhambahkan bahwa kapasitas sedimen kalsium karbonat dalam menyerap fosfat sangat dipengaruhi oleh ukuran sedimen, dimana sedimen hahis mempunyai kapasitas penyerapan yang paling tinggi.
Di Pulau Barang Lompo kadar nitrat dan fosfet di air antara lebih besar dibanding di air kolom, dimana di air antara ditemukan sebesar 45,5 uM (nitrat) dan 7,1118 uM (fosfet), sedangkan di air kolom sebesar 21,75 uM (nitrat) dan 0,8397 uM (fosfet) (Noor et al 1996).
Penyerapan nutrien oleh lamun dilakukan oleh daun dan akar. Penyerapan oleh daun umumnya tidak terlalu besar terutama di daerah tropik (Dawes 1981). Penyerapan nutrien dominan dilakukan oleh akar lamun (Erftemeijer 1993).
Mellor et al. (1993) melaporkan tidak ditemukannya hubungan antara faktor biotik lamun dengan nutrien kolom air.
Substrat
Lamun dapat ditemukan pada berbagai karakteristik substrat. Di Indonesia padang lamun dikelompokkan ke dalam enam kategori berdasarkan karakteristik tipe substratnya, yaitu lamun yang hidup di substrat lumpur, lumpur pasiran, pasir, pasir lumpuran, puing karang dan batu karang (Kiswara 1997). Sedangkan di kepulauan Spermonde Makassar, Erftemeijer (1993) menemukan lamun tumbuh pada rataan terumbu dan paparan terumbu yang didominasi oleh sedimen karbonat (pecahan karang dan pasir koral halus), teluk dangkal yang didominasi oleh pasir hitam terrigenous dan pantai intertidal datar yang didominasi oleh lumpur halus terrigenous. Selanjutnya Noor (1993) melaporkan adanya perbedaan penting antara komunitas lamun dalam lingkungan sedimen karbonat dan sedimen terrigen dalam hal struktur, kerapatan, morfologi dan biomassa.
Tipe substrat juga mempengaruhi standing crop lamun (Zieman 1986). Selain itu rasio biomassa di atas dan dibawah substrat sangat bervariasi antar jenis substrat. Pada Thalassia, rasio bertambah dari 1 : 3 pada lumpur halus menjadi 1 : 5 pada lumpur dan 1 : 7 pada pasir kasar (Burkholder et al. 1959 dalam Zieman 1986).
Sumber: http://web.ipb.ac.id/~dedi_s/index.php?option=com_content&task=view&id=25&Itemid=53
Biologi Hewan Laut
Perbandingan Kelimpahan Ikan Karang pada Terumbu Buatan Biorock dengan Transplantasi Karang di Tanjung Lesung, Banten
I. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Metode terbaru yang digunakan untuk transplantasi terumbu adalah mineral accretion atau biorock. Metode ini pertama kali ditemukan oleh Prof. Wolf Hilbertz pada tahun 1974 yang kemudian sejak 1988 bekerja sama dengan Dr. Tom Goreau mencoba untuk dikembangkan di seluruh dunia antara lain di Indonesia, Jamaica, Maldives, Papua Nugini, dan Thailand (GCRA, 2007). Tujuan lainnya dari pembuatan terumbu buatan dan transplantasi karang selain untuk mempercepat regenerasi terumbu karang juga untuk membuat suatu tempat baru bagi komunitas berbagai jenis ikan karang.
Studi yang sudah ada menjelaskan bahwa komunitas ikan karang masih dalam kondisi kurang baik di wilayah terumbu buatan (Kartawijaya. 2003). Penelitian Valentino (2004) menjelaskan bahwa kondisi komunitas ikan karang di wilayah transplantasi karang masih dalam kondisi kurang baik dibandingkan lokasi sekitarnya karena pelaksanaan transplantasi masih dalam fase awal. Dari penelitian ini, penulis mencoba membandingkan komunitas ikan karang di kedua wilayah tersebut dan diharapkan kondisi komunitas ikan karang di wilayah terumbu buatan Biorock lebih baik dibandingkan komunitas ikan karang di wilayah transplantasi karang. Penulis juga ingin melihat struktur trophic level berbagai jenis ikan karang yang terdapat di stasiun terumbu buatan Biorock dan Transplantasi Karang.
Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah
- Membandingkan kelimpahan ikan karang yang berada di kawasan terumbu buatan Biorock dan transplantasi karang
- Melihat struktur trophic level berbagai jenis ikan karang yang berada di kawasan terumbu Biorock dan transplantasi karang di daerah Tanjung Lesung, Banten.
II. METODE PENELITIAN
Penelitian ini berlokasi di perairan pantai Tanjung Lesung Resort, Banten dengan koordinat dua stasiun pengamatan yaitu 06o28’41,9” LS 105o30’30,2” BT (stasiun biorock) dan 06o28’42,7” LS -105o30’30,7” BT (stasiun transplantasi karang). Pengambilan data dilakukan sebanyak 1x setiap bulannya dan dilakukan selama 4 bulan dari bulan Agustus-November 2007. Metode pengambilan data di lapangan dengan menggunakan Stationary Visual Cencus untuk data ikan karang dan Foto Transek untuk data terumbu karang (Hill and Wilkinson, 2004). Stasiun pengamatan ada 2 stasiun, yaitu stasiun Biorock dan Transplantasi Karang dimana kedua stasiun sama-sama menggunakan 5 buah transek kuadrat 2x2 m per stasiun.
Parameter fisika-kimia perairan yang diambil meliputi suhu, salinitas, kecerahan dan pH perairan. Peralatan yang digunakan selama penelitian di lapangan antara lain GPS (Global Positioning System), Termometer, Refraktometer, Secchi Disk, Kertas Lakmus, Kamera Underwater, peralatan SCUBA diving, alat tulis dan sabak untuk penulisan di bawah air. Peralatan serta bahan penelitian yang digunakan selama pengolahan data antara lain seperangkat komputer, software Image J, program Fishbase (2008) dan buku Identifikasi Ikan (Allen, G.R dan Steen, R.C. 1990 ; Allen, et.all,. 2005). Analisis data yang digunakan adalah kelimpahan, indeks komunitas (keanekaragaman, keseragaman dan dominansi) untuk data ikan karang (Odum, 1993) dan uji t untuk membandingkan keadaan kedua stasiun serta persentase penutupan terumbu karang untuk data terumbu karang.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
III.1 Parameter fisika-kimia perairan
Parameter fisika-kimia perairan yang diukur selama penelitian berlangsung di kedua stasiun pengamatan termasuk ke dalam kondisi optimal bagi pertumbuhan terumbu karang yang ditunjukkan oleh suhu berkisar antara 28-30oC, salinitas pada masing-masing stasiun relatif stabil, yaitu berkisar antara 32-33o/oo , faktor kecerahan yang sangat mendukung, kedalaman yang masih memungkinkan untuk terumbu karang dapat tumbuh dengan baik yaitu berkisar antara 2,5-3 m dan nilai pH yang relatif stabil,yaitu 8
III.2 Struktur komunitas ikan karang
III.2.1 Jumlah spesies dan indeks komunitas
Secara keseluruhan data ikan yang diperoleh dari kedua stasiun tersebut terdiri dari 20 famili, 44 genus dan 119 spesies.


Berdasarkan Gambar 2 diketahui bahwa jumlah spesies ikan karang yang berada di stasiun Biorock lebih banyak dibandingkan dengan jumlah spesies ikan karang yang muncul di stasiun Transplantasi Karang. Hal ini disebabkan oleh faktor kondisi dan keadaan terumbu karang yang ditransplantasikan di stasiun Transplantasi Karang dan di sekitar kerangkeng tidak terlalu baik dibandingkan dengan terumbu karang yang berada di stasiun Biorock.
Berdasarkan Gambar 3 dapat diketahui bahwa indeks keanekaragaman (H’) rata-rata di stasiun Biorock (3.00) lebih tinggi dibandingkan indeks keanekaragaman rata-rata di stasiun Transplantasi Karang (2,58) yang menandakan keanekaragaman ikan karang di stasiun Biorock lebih baik dibandingkan di stasiun Transplantasi Karang
Berdasarkan Gambar 4 dapat dilihat bahwa indeks keseragaman (E) rata-rata di stasiun Biorock (0,85) memiliki nilai yang sama dengan indeks keseragaman rata-rata di stasiun Transplantasi Karang (0,85). Hal ini menandakan bahwa di antara kedua stasiun keseragaman jenis ikan karang yang muncul selama penelitian berlangsung tidak ada perbedaan.
Berdasarkan Gambar 5 nilai indeks dominansi (C) diketahui bahwa indeks dominansi rata-rata di stasiun Biorock (0,07) lebih rendah dibandingkan indeks dominansi rata-rata di stasiun Transplantasi Karang (0,10). Hal ini menandakan bahwa dominansi jenis ikan karang yang muncul selama penelitian dilakukan di stasiun Biorock lebih sedikit dibandingkan dominansi jenis ikan karang yang muncul di stasiun Transplantasi Karang.
III.2.2 Struktur trophic level

Berdasarkan Gambar 6 di atas dapat diketahui bahwa di kedua stasiun spesies yang muncul kebanyakan memiliki struktur trophic level Karnivora (K) dan paling sedikit adalah jenis ikan Planktivora. Hal ini dapat disebabkan oleh ketersediaan makanan yang melimpah di kedua stasiun sehingga jenis ikan karnivora lebih sering muncul di kedua stasiun untuk mencari makanan di sekitarnya.
III.2.3 Uji t
Dengan menggunakan Tabel t maka dapat diperoleh nilai t tabel sebesar 3,29 untuk semua waktu pengamatan kecuali untuk bulan November pada pukul 10 menggunakan t tabel sebesar 3,41 yang diperoleh dari hasil interpolasi t tabel lainnya (Magurran, 1988). Menggunakan hipotesis yang ada dapat diketahui bahwa untuk bulan Agustus dan September seluruh waktu pengamatan memiliki nilai t hitung <> t tabel atau memiliki perbedaan nyata.
III.3 Struktur komunitas terumbu karang
Terumbu karang di sekitar wilayah pengambilan data termasuk relatif buruk yang ditandai dengan jumlah Dead coral algae (DCA) yang sangat banyak hingga mencapai 50% di stasiun Biorock dan mencapai 61% di stasiun Transplantasi Karang (Grafik 7). Hal ini disebabkan di sekitar wilayah pengambilan data merupakan kawasan wisata sehingga banyak terjadi kerusakan terumbu karang yang disebabkan oleh perilaku manusia. Rata-rata persen penutupan terumbu karang di stasiun Biorock yang diamati sebesar 25,78%. Rata-rata persen penutupan terumbu karang di stasiun Transplantasi Karang yang diamati sebesar 16,07%. Bentuk pertumbuhan terumbu karang yang banyak ditemukan di kedua stasiun pengambilan data adalah Acropora Branching (ACB).

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kondisi ikan karang di stasiun Biorock lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi ikan karang di stasiun Transplantasi Karang. Hal ini dapat disebabkan oleh stasiun biorock yang memiliki penutupan terumbu karang yang cocok untuk menjadi tempat berdiam diri (shelter) beberapa jenis ikan karang. Dengan menggunakan uji t bulan Oktober dan November memiliki perbedaan yang nyata tentang keadaan komunitas ikan karang di kedua stasiun. Hal ini disebabkan bulan Oktober dan November merupakan musim peralihan dimana cuaca relatif lebih baik dibandingkan bulan Agsutus dan September yang masih termasuk musim timur. Ikan karang yang banyak muncul di kedua stasiun memiliki struktur trophic level Karnivora (K). Hal ini dapat disebabkan oleh ketersediaan makanan yang melimpah di kedua stasiun sehingga jenis ikan karnivora lebih sering muncul di kedua stasiun untuk mencari makanan di sekitarnya.
Tipe terumbu karang di perairan pantai Tanjung Lesung termasuk ke dalam tipe terumbu karang tepi (fringing reef). Kondisi terumbu karang di stasiun Biorock lebih baik dibandingkan dengan kondisi terumbu karang di stasiun Transplantasi Karang dengan nilai persentase penutupan terumbu karangnya sebesar 25,78%. Sedangkan untuk terumbu karang di stasiun Transplantasi Karang nilai persentase penutupan terumbu karangnya sebesar 16,07%.
Saran
Saran-saran yang dapat diberikan oleh penulis untuk penelitian selanjutnya adalah :
- Penelitian ini mengunakan durasi waktu pengamatan selama 10 menit sekali waktu pengamatan sehingga untuk penelitian selanjutnya perlu diuji coba dengan durasi waktu yang lebih lama.
- Dapat pula dilakukan penelitian lanjutan mengapa ikan karnivora lebih banyak diketemukan di stasiun Biorock dan Transplantasi Karang dibandingkan struktur trophic level ikan karang lainnya.
- Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kelimpahan ikan karang di stasiun Biorock dan stasiun Transplantasi Karang.
DAFTAR PUSTAKA
Fishbase. 2008.
http://www.fishbase.org/summary/spesiessummary.ID.genusname=??speciesname=??.php [17 Februari 2008]
GCRA. 2007. Biorock/Mineral Accretion Technology for Reef Restoration, Mariculture and Shore Protection. http://www.globalcoral.org. [20 Mei 2007]
Hill, Jos and Clive Wilkinson. 2004. Methods For Ecological Monitoring Of Coral Reefs : A Resource For Managers. Australian Institute of Marine Science. p : vi + 117
Magurran, Anne E. 1988. Ecological Diversity and Its Measurement. New Jersey : Princeton University Press. p : 181
Odum, E. P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Edisi ketiga. Terjemahan dari Fundamental of Ecology. Alih Bahasa oleh T. Samingan. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. 174-200 h.
Biodata

Fitoplankton

Fitoplankton adalah komponen autotrof plankton. Autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen.
Nama fitoplankton diambil dari istilah Yunani, phyton atau "tanaman" dan planktos, yang berarti "pengembara" atau "penghanyut". Sebagian besar fitoplankton berukuran terlalu kecil untuk dapat dilihat dengan mata telanjang. Akan tetapi, ketika berada dalam jumlah yang besar, mereka dapat tampak sebagai warna hijau di air karena mereka mengandung klorofil dalam sel-selnya (walaupun warna sebenarnya dapat bervariasi untuk setiap spesies fitoplankton karena kandungan klorofil yang berbeda beda atau memiliki tambahan pigmen seperti phycobiliprotein).
Fitoplankton memperoleh energi melalui proses yang dinamakan fotosintesis sehingga mereka harus berada pada bagian permukaan permukaan (disebut sebagai zona euphotic) lautan, danau atau kumpulan air yang lain. Melalui fotosintesis, fitoplankton menghasilkan banyak oksigen yang memenuhi atmosferBumi.
Kemampuan mereka untuk mensintesis sendiri bahan organiknya menjadikan mereka sebagai dasar dari sebagian besar rantai makanan di ekosistem lautan dan di ekosistem air tawar.
Disamping cahaya, fitoplankton juga sangat tergantung dengan ketersediaan nutrisi untuk pertumbuhannya. Nutrisi-nutrisi ini terutama makronutrisi seperti nitrat, fosfat atau asam silikat, yang ketersediaannya diatur oleh kesetimbangan antara mekanisme yang disebut pompa biologis dan upwelling pada air bernutrisi tinggi dan dalam. Akan tetapi, pada beberapa tempat di Samudra Dunia seperti di Samudra bagian Selatan, fitoplankton juga dipengaruhi oleh ketersediaan mironutrisi besi. Hal ini menyebabkan beberapa ilmuan menyarankan penggunaan pupuk besi untuk membantu mengatasi karbondioksida akibat aktivitas manusia di atmosfer.
Walaupun hampir semua fitoplankton adalah fotoautotrof obligat, ada beberapa fitoplankton yang miksotrofik dan ada juga spesies tak berpigmen yang merupakan heterotrof (yang ini dinamakan sebagai zooplankton). Jenis-jenis ini, yang paling dikenal adalah dinoflagellata seperti genus Noctiluca dan Dinophysis, memperoleh karbon organiknya dengan memakan organisme atau material detritus lainnya.
Oleh : Yogi Suardi
Referensi : http://id.wikipedia.org/wiki/Fitoplankton
Biologi Tumbuhan Laut
Studi Ekologi Beberapa Spesies Harmful Algal Bloom (HAB) di Perairan Teluk Hurun, Lampung Selatan
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Keberadaan fitoplankton di suatu perairan memberikan kontribusi terbesar terhadap produktivitas primer di satu perairan. Menurut Steeman-Nielsen (1952), kurang lebih 95% produktivitas primer di laut disumbangkan oleh fitoplankton. Namun ternyata tidak selamanya populasi fitoplankton yang padat dapat memberikan dampak positif pada kesuburan perairan. Pada beberapa kasus, ledakan populasi fitoplankton justru menjadi bencana bagi kehidupan biota lainnya. Hal inilah yang kemudian disebut blooming atau ledakan populasi. Pada umumnya, fenomena blooming ditandai dengan berubahnya warna air laut yang dikenal dengan sebutan red tide atau pasang merah. Namun pada perkembangannya, istilah ini sering menyesatkan karena ledakan fitoplankton ternyata tidak selalu dicirikan dengan warna merah (red). Blooming fitoplankton juga dapat menyebabkan air laut berubah warna dari biru-hijau menjadi merah kecoklatan, hijau, atau kuning-hijau, bergantung pada pigmen yang dikandungnya (Nontji, 2006). Bahkan dalam beberapa kasus, ledakan fitoplankton tidak menimbulkan warna apa-apa di permukaan laut.
Istilah yang saat ini mulai sering digunakan di dunia internasional adalah HAB atau harmful algal bloom. HAB merupakan istilah untuk menyatakan ledakan populasi fitoplankton yang berbahaya karena spesies-spesies penyebab HAB menyebabkan racun atau toksik. Spesies HAB sendiri dibagi ke dalam dua kelompok, yakni penghasil racun dan penghasil biomassa tinggi. Fenomena ini sering terjadi begitu saja tanpa diketahui faktor-faktor yang menyebabkannya dan tanpa dapat diprediksi waktu terjadinya. Secara umum, penyebab terjadinya HAB juga berasal dari aktivitas manusia sehingga dapat meningkatkan pemasukan bahan organik ke perairan, transportasi dan pembuangan air ballast atau bekas pencucian kapal. Adapun penelitian ini dilakukan untuk mempelajari karakteristik beberapa spesies HAB yang ada di Teluk Hurun, Lampung Selatan, dilihat dari sudut pandang ekologi. Melalui pengukuran beberapa parameter lingkungan, dapat dilakukan analisis lebih lanjut mengenai faktor lingkungan apa yang paling berperan terhadap hadirnya spesies tersebut di perairan Teluk Hurun. Hal ini diharapkan menjadi salah satu studi awal mengenai karakteristik ekologi HAB, sehingga selanjutnya dapat dilakukan penelitian mendalam mengenai HAB.
Tujuan
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:
1. Mempelajari karakteristik HAB di perairan Teluk Hurun, Lampung Selatan.
2. Mengetahui faktor-faktor lingkungan, terutama faktor fisika dan kimia yang paling berperan terhadap keberadaan HAB di perairan Teluk Hurun, Lampung Selatan.
METODE
Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di perairan Teluk Hurun, Lampung Selatan, yang berlokasi pada 105o13’45” – 105o13’0” BT dan 5o31’30” – 5o33’36” LS, dengan luas 1,5 km. Pengambilan contoh dilaksanakan pada tanggal 9 Juni 2006, meliputi 12 stasiun penelitian dengan masing-masing 2 kali pengambilan contoh, yaitu pada saat pasang dan surut. Penelitian ini dilakukan seiring dengan proyek Penelitian Terpadu Ekologi dan Strain HAB Teluk Hurun, yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Bahan dan Metode Analisis Data
Pengambilan contoh penelitian meliputi parameter biologi, fisika, dan kimia. Sebagai obyek parameter biologi diambil contoh fitoplankton menggunakan jaring Kitahara (diameter mulut jaring 30 cm, ukuran mata jaring 0,08 mm) dan contoh HAB dengan menggunakan jaring berdiameter 25 cm dan memiliki mata jaring berukuran 25 cm. Sedangkan parameter fisika dan kimia yang diobservasi beserta metode dan peralatannya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1. Metode pengukuran parameter fisika – kimia
| Parameter | Satuan | Metode | Alat |
| Kecerahan | m | - | Secchi disk |
| ppt | - | CTD Model SBE 603 | |
| Suhu | oC | - | CTD Model SBE 603 |
| cm/s | - | CM2X pada sejumlah stasiun sebaran, dan RCM8 Current Meter pada 2 stasiun harian | |
| dm | - | Wave and Tide Recorder | |
| Oksigen terlarut | ml/l | Titrasi Winkler | Peralatan Titrasi Winkler |
| Nitrat | µg A/l | Spketrofotometri | Spektrofotometer |
| Fosfat | µg A/l | Spektrofotometri | Spektrofotometer |
| pH | - | - | pH meter merk Cybersca |
Proses identifikasi HAB dimulai pada bulan September 2006, bertempat di Laboratorium Plankton P2O LIPI dan Laboratorium Biologi Laut, Bagian Keanekaragaman Hayati Laut, Departemen ITK, FPIK – IPB. Setelah diperoleh data kelimpahan fitoplankton, HAB, serta hasil pengukuran parameter fisika – kimia, selanjutnya dilakukan analisis data menggunakan metode Analisis Komponen Utama (AKU) atau Principal Component AnalysisSTATISTICA 6.0. Kemudian faktor – faktor utama ini dilihat sebarannya di perairan dengan menggunakan piranti lunak Surfer 8.0. (PCA) untuk mengetahui faktor – faktor yang berperan penting pada keberadaan HAB di Teluk Hurun. Pengolahan data AKU dilakukan dengan menggunakan piranti lunak
HASIL DAN PEMBAHASAN
Komposisi Kelimpahan Fitoplankton dan Perbandingannya pada Saat Pasang dan Surut
Hasil pencacahan menunjukkan diatom mendominasi hampir di semua stasiun kecuali di stasiun 1 Pasang, dimana jumlah dinoflagelata lebih banyak daripada diatom. Hal ini diperkirakan sebagai dampak dari letak stasiun yang dekat dengan mangrove karena mangrove merupakan penghasil nitrogen alami yang cukup efektif. Menurut Riegman et al. (1996), dinoflagelata umumnya kalah bersaing dengan diatom di bawah kondisi N yang terbatas. Karena itu pada kondisi ini diperkirakan jumlah NO3 yang tersedia cukup banyak sehingga dinoflagelata dapat tumbuh dengan baik. Kondisi pasang juga turut menjadi faktor pendukung karena pada saat itu umumnya nutrien akan ikut naik ke permukaan sehingga menyuplai cukup banyak makanan yang diperlukan oleh fitoplankton.


Rasio HAB dengan Dinoflagelata.
Sebagian besar spesies HAB berasal dari kelompok dinoflagelata. Dari sekitar 4000 jenis mikroalga laut, hanya 200 jenis yang dikategorikan berbahaya, dimana sekitar 80 jenisnya merupakan produsen toksin dan berasal dari kelompok dinoflagelata (Masó dan Garcés, 2006). Masó dan Garcés (2006) juga menambahkan bahwa kondisi blooming HAB terjadi apabila konsentrasinya di perairan mencapai 104 – 105 ind/liter dalam periode tertentu (umumnya 1 – 3 minggu). Meski demikian, terkadang blooming HAB juga terjadi dalam waktu yang sangat singkat, seperti yang pernah terjadi di Teluk Kao, yakni hanya satu hari. Berikut ini adalah grafik komposisi HAB dibandingkan dengan jumlah keseluruhan dinoflagelata yang tercacah.

Jumlah HAB yang kecil (3%) menunjukkan bahwa pada saat penelitian tidak terjadi blooming yang signifikan. Namun bila kelompok HAB ini dirinci per spesies, maka akan terlihat beberapa spesies yang kelimpahannya cukup mendominasi, meskipun tetap belum dapat digolongkan ke dalam kejadian blooming alga. Penjelasan mengenai kelimpahan HAB akan dibahas pada sub-bab berikut ini.
Kelimpahan HAB dan Kaitannya dengan Parameter Lingkungan
1. Distribusi HAB Teluk Hurun

Gambar 5. Distribusi spasial HAB (a) pasang dan (b) surut, dan (c) rerata kelimpahan semua stasiun
Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui penyebaran HAB di Teluk Hurun pada saat penelitian ini dilakukan. Lokasi dengan intensitas warna yang semakin tinggi menunjukkan bahwa di lokasi tersebut kelimpahan HAB-nya lebih tinggi dibandingkan di lokasi lain. Saat air pasang, HAB lebih banyak terkonsentrasi di stasiun 2,3, dan 5, sedangkan saat air surut, HAB cukup melimpah di stasiun 1 dan 2.
2. Analisis Komponen Utama
Berdasarkan grafik AKU (sumbu 1 dan 2) saat air pasang, terlihat bahwa stasiun 3 dan 6 lebih dicirikan oleh faktor fisika, yaitu salinitas, suhu, dan arus di kedalaman 8 meter yang cukup tinggi nilainya. Namun dari ketiga parameter fisika yang mempengaruhi, salinitas tampak lebih mendominasi dibandingkan suhu dan arus. Sedangkan stasiun 4, 5, dan 7 lebih dicirikan oleh faktor kimia yakni nutrien (nitrat dan fosfat), meskipun terdapat pula pengaruh suhu yang cukup signifikan yang mencirikan stasiun 7. Stasiun 8, 9, 10, 11, dan 12 membentuk kelompok sendiri dimana kelima stasiun ini tidak dicirikan oleh parameter apapun. Sedangkan stasiun 1 dan 2 yang pada awalnya tidak tampak dicirikan oleh parameter apapun, oleh grafik sumbu 1 dan 3 terlihat dicirikan oleh tingginya kandungan oksigen terlarut (stasiun 1) dan suhu (stasiun 2). Apabila dikaitkan dengan jumlah HAB yang cukup melimpah pada stasiun 2, 3, dan 5 pada saat air pasang, maka dapat dikatakan bahwa kemunculan HAB dapat dipengaruhi oleh suhu, salinitas, dan nutrien (nitrat).
Sedangkan grafik AKU (Surut) sumbu 1 dan 2 serta sumbu 1 dan 3 menunjukkan bahwa hampir semua stasiun dicirikan oleh faktor tertentu. Stasiun 7, 9, dan 10 terlihat dicirikan oleh arus yang kuat namun dengan kandungan fosfat yang sangat rendah. Sementara itu, stasiun – stasiun yang terletak dekat dengan daratan (stasiun 1, 2, 3, 4, dan 5) dicirikan oleh parameter nutrien, suhu, dan salinitas. Stasiun 2 dan 3 dicirikan dengan kandungan nitrat dan suhu yang tinggi, namun memiliki pH rendah dan kecerahan yang tidak terlalu tinggi, sedangkan stasiun 6 cenderung memiliki kandungan fosfat yang tinggi, arus yang sangat kecil, dan kandungan nitrat serta pH sedang. Stasiun 11 dan 12 memiliki kecerahan yang tinggi karena pada saat pengambilan contoh dilakukan di stasiun ini matahari sedang bersinar terik. Apabila dikaitkan dengan kelimpahan HAB yang cukup tinggi di stasiun 1 dan 2, maka dapat dikatakan bahwa pada saat surut, kemunculan HAB dipengaruhi oleh tingginya nutrien dan suhu pada lokasi tersebut.
Untuk membandingkan kondisi perairan pada saat pasang dan surut, terutama pada stasiun – stasiun yang memiliki kelimpahan HAB yang cukup tinggi, berikut ini akan disajikan tabel hasil pengamatan parameter lingkungan dan grafik distribusi spasial dari ketiga parameter utama yang memengaruhi kelimpahan HAB, yakni suhu, salinitas, dan nitrat.
3. Distribusi spasial parameter utama (suhu, salinitas, nitrat)
3.1. Suhu

Gambar 3. Distribusi Spasial Suhu (a) pasang (b) Surut, dan (c) rerata semua stasiun
3.2. Salinitas

Gambar 4. Distribusi spasial salinitas (a) pasang dan (b) surut, dan (c) rerata semua stasiun
3.3. Nitrat

Gambar 5. Distribusi spasial nitrat (a) pasang (b) surut, dan (c) rerata semua stasiun
Pada penelitian yang dilaksanakan di Teluk Hurun ini, suhu menjadi faktor lingkungan yang memberi kontribusi signifikan terhadap keberadaan HAB. Hal ini sejalan dengan beberapa hasil penelitian terhadap spesies – spesies HAB, dimana suhu juga menjadi faktor yang penting. Umumnya spesies HAB ditemukan di lokasi – lokasi tropis dengan suhu air yang cukup hangat. Suhu yang terukur di perairan Teluk Hurun menunjukkan kisaran nilai yang cukup tinggi, seperti kasus HAB yang pernah ditemukan di Teluk Kao pada bulan Maret 1994 (Wiadnyana et al, 1996). Pada saat itu suhu air berkisar antara 30.9 – 31.5 oC dan ditemukan spesies HAB jenis Pyrodinium bahamense dalam kondisi yang cukup melimpah. Melalui grafik distribusi spasial suhu, kita dapat melihat bahwa pada saat pasang, stasiun – stasiun yang kelimpahan HAB-nya tinggi adalah stasiun yang memiliki suhu cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun – stasiun lainnya. Hal ini berlaku juga pada kondisi surut dimana stasiun 1 dan 2 (kelimpahan HAB tinggi) memiliki suhu lebih hangat dibandingkan stasiun – stasiun lainnya.
Salinitas di perairan sangat penting untuk mempertahankan tekanan osmosis antara tubuh dan perairan, karena itu salinitas dapat memengaruhi kelimpahan dan distribusi plankton secara umum. Salinitas yang tinggi akan mengakibatkan tekanan osmosis tubuh terhadap lingkungan meningkat sehingga energi yang diperlukan untuk menyesuaikan diri pun meningkat. Widiarti (2000) menyatakan bahwa Pyrodinium bahamense di Teluk Hurun umumnya ditemukan di stasiun penelitian dengan rata – rata salinitas yang lebih tinggi (31) dibandingkan dengan stasiun lainnya yang nilai salinitasnya 29. Hallegraeff (1998) inPyrodinium menyukai perairan dengan salinitas tinggi, yaitu pada kisaran (30 – 35). Penelitian Koukaros dan Nikolaidis (2004) mengenai Dinophysis juga menekankan pentingnya peranan salinitas dibandingkan suhu. Widiarti (2000) juga menyatakan bahwa
Kandungan nitrat di perairan Teluk Hurun dapat dikatakan berada pada batas normal, karena nilainya cukup jauh di bawah standar yang telah ditetapkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup (46.46 ?g A/l). Berdasarkan grafik diketahui bahwa nitrat cenderung semakin tinggi nilainya di stasiun – stasiun yang dekat daratan. Hal ini dapat disebabkan oleh run-off yang berasal dari sungai, maupun aktivitas budidaya perikanan yang ada di daerah Padang Cermin. Konsentrasi nitrat tertinggi berada di stasiun 5, dimana saat pasang nilainya 0.69 ?g A/l, dan saat surut mencapai 0.75 ?g A/l. Namun secara keseluruhan kandungan nitrat pada saat pasang cenderung lebih tinggi dibandingkan saat surut. Sumber nitrogen lain yang memungkinkan adalah kompleks mangrove yang berada di sekitar area penelitian. Mangrove merupakan sumber alami nitrogen karena pada wilayah ini banyak terdapat detritus dan sampah – sampah organik yang mengalami dekomposisi.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Mengutip pendapat Masó dan Garcés (2006) bahwasannya spesies – spesies HAB diketahui memiliki karakteristik yang berbeda – beda, dimana setiap spesies memiliki sejarah hidup yang spesifik yang beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik HAB yang diobservasi di perairan Teluk Hurun pun tidak dapat dikatakan sebagai karakteristik absolut. Pada perairan ini diketahui bahwa keberadaan HAB dipengaruhi faktor suhu, salinitas, dan nitrat.
Spesies HAB cenderung menyukai perairan yang bersuhu hangat, karena itu HAB banyak ditemukan di daerah tropis. Pada penelitian ini, spesies HAB banyak ditemukan di wilayah perairan dengan kisaran suhu 29,68 – 29,81 oC. Selain itu, faktor salinitas juga turut memicu berkembangnya HAB. Perairan dimana banyak ditemukan HAB memiliki salinitas dengan kisaran 32.83 – 32.89, meskipun dalam literatur banyak disebutkan bahwa HAB menyukai perairan dengan salinitas tinggi (35 – 40), seperti yang ditemukan di Teluk Kao dan Teluk Ambon. Nitrat yang memadai juga dapat memicu pertumbuhan HAB, karena seperti fitoplankton lainnya, HAB membutuhkan nitrat sebagai asupan nutriennya. Pada stasiun – stasiun yang kelimpahan HAB-nya cukup banyak, faktor nutrien menjadi faktor penciri stasiun tersebut sehingga dapat dikatakan bahwa nutrien turut menjadi faktor pendukung keberadaan HAB.
Saran
Munculnya HAB di suatu perairan tidak hanya tergantung pada faktor fisika dan kimia, melainkan juga pada karakteristik biologinya. HAB diketahui dapat membentuk fase dorman yang disebut siste atau dinosiste, yang apabila kondisi lingkungan mendukung maka siste ini akan pecah dan menimbulkan dampak berbahaya secara tiba – tiba. Hal ini merupakan salah satu penyebab HAB sulit diprediksi kemunculannya. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang menekankan pada penyebaran siste atau dinosiste HAB untuk mengurangi kesulitan tersebut. Selain itu, proses pemantauan atau monitoring yang rutin dan berkelanjutan juga diperlukan, terutama di wilayah perairan dimana HAB sering ditemukan meskipun dalam jumlah sedikit.
DAFTAR PUSTAKA
Koukaras, K. and Nikolaidis, G. 2004. Dinophysis Blooms in Greek Coastal Waters (Thermaikos Gulf, NW Aegean Sea). Journal of Plankton Research Vol.26 (4): 445 – 457.
Masó, M. and Garcés, E. 2006. Harmful Microalgae Blooms (HAB); The Problematic and Conditions that Induce Them. Marine Pollution Bulletin 53 (2006): 620 – 630.
Nontji, A. 2006. Tiada Kehidupan di Bumi Tanpa Keberadaan Plankton. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta
Reigman, R., M. de Boer, L. de Senerpont Domis. 1996. Growth of Harmful Marine Algae in Multispecies Cultures. Journal of Plankton Research Vol. 18 (10): 1851 – 1866.
Steeman-Nielsen, E. 1952. The Use of Radioactive Carbon (C-14) for Measuring Organic Production in The Sea. 117 – 140p.
Wiadnyana, N.N., T. Sidabutar, K. Matsuoka, T. Ochi, M. Kodama, Y. Fukuyo. 1996. Note on the Occurence of Pyrodinium bahamense in Eastern Indonesian Waters. In: Yasumoto, T., Oshima, Y and Fukuyo, Y. (Eds). 1996. Harmful and Toxic Algal Blooms. Proceedings of the Seventh International Conference on Toxic Phytoplankton, Sendai, Japan, 12-16 July 1995. 49 – 52p.
Widiarti, R. 2000. Pola Suksesi Organisme Penyebab Red Tide, Pyrodinium bahamense plate, di Teluk Hurun, Lampung Selatan. Tesis (tidak dipublikasikan). Fakultas Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Penulis

Heidi Retnoningtyas, S.Pi, Penulis dilahirkan pada 24 Juni 1984, berasal dari kota Subang Jawa Barat,dan telah menyelesaikan pendidikan Strata 1 di Institut Pertanian Bogor Pragram Studi Ilmu Kelautan, Sekarang penulis bekerja di Kementrian Lingkungan Hidup.
GURU DAN PBM
Tips Bagi Ayah dan Ibu Yang Bekerja
Membesarkan anak dengan baik memang tidak mudah bagi pasangan suami-istri yang bekerja. Dengan panduan berikut mudah-mudahan Anda dapat me...
Mengenai Saya
- KURNIA TRIYULI
- It is not how much we have, but how much we enjoy, that makes happiness
Translate
Total Tayangan Halaman
Labels
- alam (69)
- aleut (1)
- ANTROPOSFER (1)
- bahan ajar (11)
- BATIK MALANGAN (1)
- BATUAN DAN MINERAL (10)
- bentuk muka bumi (7)
- BENUA (14)
- bimbingan belajar (48)
- BIOMA (11)
- BUAH (12)
- BUDAYA INDONESIA (5)
- buku psikologi (15)
- BUNAKEN (3)
- citra penginderaan jauh (53)
- DEFINISI GEOGRAFI (3)
- demografi (35)
- EVALUASI PEMBELAJARAN (10)
- FENOMENA (30)
- flora dan fauna (28)
- GEOGRAFI EKONOMI (2)
- geografi hewan (15)
- GEOGRAFI LINGKUNGAN (25)
- GEOGRAFI PERTANIAN (23)
- geografi tumbuhan (23)
- geologi (70)
- geomorfologi (36)
- GLOBALISASI (1)
- GURU DAN PBM (34)
- HARI BUMI (2)
- HIDROLOGI (7)
- hipnotis (18)
- HUJAN ASAM (3)
- ilmu tanah (6)
- imahagi (4)
- informasi (57)
- INTERPRETASI CITRA (54)
- IPS SD (28)
- JUDUL PENELITIAN (1)
- KAMUS GEOGRAFI (1)
- kartografi (12)
- keajaiban dunia (3)
- kebudayaan (2)
- KECERDASAN (25)
- KELAS IX SEM 1: EKONOMI (10)
- KELAS IX SEM 1: GEOGRAFI (6)
- KELAS IX SEM 1: SEJARAH (4)
- KELAS IX SEM 1: SOSIOLOGI (1)
- KELAS IX SEM 2: EKONOMI (4)
- KELAS IX SEM 2: GEOGRAFI (70)
- KELAS IX SEM 2: SEJARAH (11)
- KELAS IX SEM 2: SOSIOLOGI (2)
- KELAS VII SEM 1 : SOSIOLOGI (2)
- KELAS VII SEMESTER 1 (7)
- KELAS VIII SEM 1: SOSIOLOGI (1)
- KELAS VIII SEMESTER 2 EKONOMI (8)
- KELAS VIII SEMESTER 2 GEOGRAFI (4)
- KELAS VIII SEMESTER 2 SEJARAH (2)
- KELAS VIII SEMESTER 2 SOSIOLOGI (4)
- KEMAMPUAN LAHAN (2)
- KERJASAMA INTERNASIONAL (7)
- KESESUAIAN LAHAN (10)
- KLIMATOLOGI (25)
- KONSEP DASAR GEOGRAFI (1)
- KONSEP DASAR IPS (1)
- kosmografi (123)
- KRISTAL (28)
- KUE (1)
- KUIS PSIKOLOGI (8)
- KUTUB (5)
- LAUT JEPANG (7)
- lingkungan hutan tropis (5)
- lokasi wisata alam (8)
- LPJ (1)
- MASALAH SOSIAL (2)
- MATERI FLASH (12)
- MATERI GEOGRAFI KELAS VII (52)
- MATERI GEOGRAFI KELAS VIII SEMESTER 2 (41)
- materi kelas viii (34)
- materi kelas x (15)
- materi kelas xii (10)
- MEDIA PEMBELAJARAN (5)
- menu (5)
- metklim (34)
- MIGRASI HEWAN (3)
- NATIONAL GEOGRAPHIC (2)
- NEGARA (20)
- negara berkembang (29)
- negara maju (17)
- obyek wisata (7)
- OLEH-OLEH DARI ROTE (4)
- olimpiade kebumian (1)
- OSEANOGRAFI (53)
- OTAK (7)
- palaentologi (2)
- PANTAI PRIGI (1)
- pemanasan global (14)
- pembelajaran (36)
- pembelajaran alam (4)
- penduduk (26)
- pengantar geografi (8)
- pengetahuan agama (2)
- pengetahuan komputer (10)
- PENGETAHUAN UMUM (10)
- penjelajahan (7)
- perdagangan internasional (1)
- PERGERAKAN NASIONAL (11)
- PERISTIWA GEOGRAFI (2)
- PERKEMBANGAN ANAK (35)
- PETA INTERAKTIF (2)
- PROPOSAL (1)
- PTK (4)
- PULAU (1)
- RELIEF DASAR LAUT (1)
- RESEP MASAKAN (7)
- RPP DAN SILABUS KARAKTER BANGSA (4)
- RUMAH (26)
- sedimentasi (1)
- sejarah (25)
- SEJARAH INDONESIA (11)
- selingan (16)
- seni dapur (3)
- SILABUS GEOGRAFI (4)
- SINEMATOGRAFI (12)
- situs peninggalan sejarah (21)
- SOAL GEOGRAFI (2)
- sosiologi (12)
- STATISTIK (17)
- SUAKA ALAM DAN SUAKA MARGASATWA (45)
- suku bangsa (4)
- TAMAN (9)
- TAMAN NASIONAL (45)
- tanaman langka (11)
- TANAMAN OBAT TRADISIONAL (1)
- teknologi (10)
- TELAAH KURIKULUM (3)
- tenaga eksogen (11)
- tenaga endogen (6)
- TENGGER (2)
- tentang otak (11)
- THE GEOGRAPHY DEPARTEMENT (10)
- tips dan trik (74)
- TSUNAMI (1)
- tubuh kita (92)
- UKG (2)
- UNDANG-UNDANG TENTANG PENDIDIKAN (2)
Entri Populer
-
Hutan Heterogen adalah hutan yang terdiri atas berbagai jenis tumbuhan seperti hutan hujan tropis yang terdapat di Pulau Sumatera...
-
Perkembangan Jumlah Penduduk Indonesia dalam Kaitannya dengan Perkembangan Penduduk Dunia Jumlah penduduk pada suatu ne...
-
Sedimentasi adalah terbawanya material hasil dari pengikisan dan pelapukan oleh Air, angin atau gletser ke suatu wilayah yang kemudian dien...
-
Mungkin sebagian besar wanita telah mendengar khasiat teh hijau untuk kesehatan payudaranya. Namun, barangkali sebagian ...
-
Jenis peta di samping ini termasuk peta tematik atau peta khusus. Dinamakan Peta Tematik karena peta me...
-
Penyakit yang Dapat Disembuhkan Secara empiris Sarang Semut telah terbukti dapat meyembuhkan beragam penyakit ringan dan berat, seperti kan...
-
Perhatikan gambar citra foto udara di bawah ini. Klik mouse pada gambar kaca pembesar dan arahkan pada tempat-tempat yang dinginkan. Coba an...
-
Hutan Pantai ( beach forest ) Hutan yang tumbuh di daerah pantai adalah hutan bakau (mangrove). Hutan bakau memilik akar napas dan d...

