Tampilkan postingan dengan label metklim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label metklim. Tampilkan semua postingan
ANOMALI CUACA
"Ekor" Badai Perburuk Cuaca di Indonesia
Kamis, 30 Desember 2010, Kompas
AP Photo/Nati Harnik
Belasan kendaraan tetap jalan meski dalam kondisi badai salju di Dodge Street di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat, Kamis (24/12). Badai salju yang menerpa sebagian besar Amerika Serikat hari itu membuat Natal kali ini benar-benar sebuah Natal yang putih.
Oleh YUNI IKAWATI
KOMPAS.com - Menghangatnya suhu muka laut di Indonesia sejak April lalu mengakibatkan akumulasi energi di atmosfer wilayah ini. Anomali itu menimbulkan angin kencang dan hujan lebat disertai petir yang terpicu oleh bibit badai tropis di utara Australia. Ancaman ini berpotensi muncul hingga akhir Januari 2011.
Dalam kondisi normal, pemanasan matahari di perairan tropis akan menghasilkan uap air yang kemudian oleh sistem cuaca global berupa sirkulasi kolom udara Sirkulasi Hadley akan terdistribusi ke wilayah subtropis pada kawasan antara 30 dan 60 derajat Lintang Utara dan Selatan. Oleh Sirkulasi Ferrel selanjutnya diteruskan ke kawasan kutub masuk ke sirkulasi polar.
Mengikuti garis edar matahari itu yang bergerak naik turun ke utara-selatan khatulistiwa, terjadi ”sabuk hujan”. Pada Desember di belahan bumi utara mengalami musim dingin. Sedangkan Juni berlangsung musim panas. Kondisi sebaliknya terjadi di belahan bumi selatan.
Namun, kondisi yang terjadi sejak hampir setahun ini menyimpang dari pola normalnya. Menghangatnya suhu muka laut di hampir seluruh wilayah Indonesia—antara 2 dan 5 derajat celsius di atas normal—sejak April menyebabkan tidak terjadinya distribusi uap air.
”Akumulasi uap air terkonsentrasi di wilayah Indonesia saja. Sedangkan daerah di sekelilingnya kering,” ujar Edvin Aldrian, Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Hal ini ditunjukkan oleh pantauan satelit cuaca pada beberapa hari terakhir. ”Tampak penumpukan awan hujan di Indonesia. Sedangkan di Australia dan Asia Timur nyaris tak berawan. Ini mengakibatkan kawasan tersebut mengalami kekeringan,” ujarnya.
Akumulasi energi ini tentunya menimbulkan dampak negatif juga bagi Indonesia, yaitu terjadinya musim hujan dengan curah hujan di atas normal. Gangguan cuaca ini kian besar hingga puncak hujan pada musim ini, yaitu Desember hingga Februari mendatang.
Ancaman itu muncul bersamaan dengan terjadinya badai tropis yang normalnya terbentuk pada bulan-bulan mendatang. ”Bibit badai sudah mulai terlihat sejak November lalu,” ujar Edvin yang juga peneliti iklim dan cuaca di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
Meski baru berupa bibit badai, kondisi cuaca ini sudah cukup berpengaruh bagi Indonesia, yaitu timbulnya angin kencang disertai hujan lebat dan petir serta gelombang laut yang tinggi.
Mengapa demikian? Energi yang ”tersimpan” di atmosfer Nusantara ini terlepas meski dipicu gangguan cuaca yang kecil saja, yaitu berupa bibit badai, belum menjadi badai.
Fenomena ini sudah muncul pada Selasa (28/12/2010). Bibit badai yang terbentuk di utara Australia menimbulkan tarikan udara naik di wilayah Jawa karena adanya jajaran pegunungan di kawasan tengah.
Udara naik dari Banten, kemudian mendingin di kawasan pegunungan hingga turun di Jakarta pada sore hari yang udaranya panas. Pertemuan dua masa angin ini menimbulkan angin puting beliung di berbagai wilayah di Ibu Kota sehingga menumbangkan sekitar 70 pepohonan dan menelan dua korban jiwa.
Potensi terbentuknya puting beliung ditandai dengan cuaca yang cerah pada pagi hari. Cuaca yang mendung pada pagi hari akan meredam meluasnya kejadian angin kencang dan puting beliung.
Ancaman akan semakin besar jika musim pembentukan badai tiba. Selama ini karena Indonesia berada di bawah 10 derajat lintang utara dan selatan, siklon atau badai tropis yang terjadi di luar wilayah ini tak memberikan dampak berarti.
Namun, akumulasi energi yang diyakini Edvin akibat bertumpuknya gas-gas rumah kaca sejak pertengahan abad telah mengakibatkan membesarkan gangguan badai bagi Indonesia. Karena badai semakin besar dan berekor semakin panjang.
”Gangguan cuaca pada musim yang basah ini diperkirakan akan berlangsung hingga lewat Tahun Baru nanti,” ujar Edvin.
Perkiraan cuaca BMKG untuk kurun waktu Selasa (28/12/2010) hingga 3 Januari 2011 menyebutkan, tekanan udara di belahan bumi selatan lebih rendah dibandingkan di belahan bumi utara. Potensi tekanan rendah diperkirakan terjadi di barat Australia. Dan, pada akhir periode tekanan rendah akan muncul di Samudra Hindia sebelah selatan Jawa.
Angin di atas wilayah Indonesia sebelah utara khatulistiwa umumnya dari arah utara-timur. Sedangkan di selatan khatulistiwa dari arah barat daya-barat laut, kecepatan angin 5-45 km per jam. Hujan terjadi di sebagian besar Indonesia dan potensi hujan lebat dapat terjadi di Indonesia sebelah selatan khatulistiwa.
Hary Tirto Djatmiko, Kepala Sub-Bidang Informasi BMKG, mengatakan, hujan deras disertai kilat/petir dan angin kencang perlu diwaspadai hingga 3 Januari di berbagai zona prakiraan musim di Indonesia.
Pada 30-31 Desember 2010, ancaman itu berpotensi mengancam Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Sumatera Selatan, semua provinsi di Pulau Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Tenggara, Maluku Tengah, Papua Barat, dan Papua.
Sedangkan pada 1 hingga 3 Januari 2010, gangguan cuaca mengancam Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Bengkulu, Lampung, semua provinsi di Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Tenggara, Papua Barat, dan Papua.
Sabuk awan
Kondisi memanasnya suhu laut ini ternyata tak hanya terjadi di wilayah Indonesia, tetapi juga di khatulistiwa di belahan bumi lain sehingga terbentuk sabuk awan di sepanjang khatulistiwa.
Kondisi ini mengakibatkan penjalaran gelombang Rossby yang beredar di subtropis—berdampak pada hujan salju ekstrem tertarik ke kawasan selatan. Hal inilah yang menyebabkan entakan udara dingin atau cold surge hingga menimbulkan hujan lebat di Pakistan dan selatan China.
Kondisi serupa berpotensi terjadi di Indonesia jika gelombang Rossby di Siberia tertahan oleh masa udara dari Pasifik, hingga mengarah ke selatan. Sejak November 2006 hingga 2007, BMKG memantau terjadinya cold surge dari Siberia.

Hujan (Rain)

HUJAN..

Hujan merupakan satu bentuk presipitasi yang berwujud cairan. Presipitasi sendiri dapat berwujud padat (misalnya salju dan hujan es) atau aerosol (seperti embun dan kabut). Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Tidak semua air hujan sampai ke permukaan bumi karena sebagian menguap ketika jatuh melalui udara kering. Hujan jenis ini disebut sebagai virga.

Hujan memainkan peranan penting dalam siklus hidrologi. Lembaban dari laut menguap, berubah menjadi awan, terkumpul menjadi awan mendung, lalu turun kembali ke bumi, dan akhirnya kembali ke laut melalui sungai dan anak sungai untuk mengulangi daur ulang itu semula.

Jenis-jenis hujan

Untuk kepentingan kajian atau praktis, hujan dibedakan menurut terjadinya, ukuran butirannya, atau curah hujannya.

Jenis-jenis hujan berdasarkan terjadinya

  • Hujan siklonal, yaitu hujan yang terjadi karena udara panas yang naik disertai dengan angin berputar.
  • Hujan zenithal, yaitu hujan yang sering terjadi di daerah sekitar ekuator, akibat pertemuan Angin Pasat Timur Laut dengan Angin Pasat Tenggara. Kemudian angin tersebut naik dan membentuk gumpalan-gumpalan awan di sekitar ekuator yang berakibat awan menjadi jenuh dan turunlah hujan.
  • Hujan orografis, yaitu hujan yang terjadi karena angin yang mengandung uap air yang bergerak horisontal. Angin tersebut naik menuju pegunungan, suhu udara menjadi dingin sehingga terjadi kondensasi. Terjadilah hujan di sekitar pegunungan.
  • Hujan frontal, yaitu hujan yang terjadi apabila massa udara yang dingin bertemu dengan massa udara yang panas. Tempat pertemuan antara kedua massa itu disebut bidang front. Karena lebih berat massa udara dingin lebih berada di bawah. Di sekitar bidang front inilah sering terjadi hujan lebat yang disebut hujan frontal.
  • Hujan muson atau hujan musiman, yaitu hujan yang terjadi karena Angin Musim (Angin Muson). Penyebab terjadinya Angin Muson adalah karena adanya pergerakan semu tahunan Matahari antara Garis Balik Utara dan Garis Balik Selatan. Di Indonesia, hujan muson terjadi bulan Oktober sampai April. Sementara di kawasan Asia Timur terjadi bulan Mei sampai Agustus. Siklus muson inilah yang menyebabkan adanya musim penghujan dan musim kemarau.

Jenis-jenis hujan berdasarkan ukuran butirnya

  • Hujan gerimis / drizzle, diameter butirannya kurang dari 0,5 mm
  • Hujan salju, terdiri dari kristal-kristal es yang suhunya berada dibawah 0° Celsius
  • Hujan batu es, curahan batu es yang turun dalam cuaca panas dari awan yang suhunya dibawah 0° Celsius
  • Hujan deras / rain, curahan air yang turun dari awan dengan suhu diatas 0° Celsius dengan diameter ±7 mm.

Jenis-jenis hujan berdasarkan besarnya curah hujan (definisi BMKG)

  • hujan sedang, 20 - 50 mm per hari
  • hujan lebat, 50-100 mm per hari
  • hujan sangat lebat, di atas 100 mm per hari.

Hujan buatan

Sering kali kebutuhan air tidak dapat dipenuhi dari hujan alami. Maka orang menciptakan suatu teknik untuk menambah curah hujan dengan memberikan perlakuan pada awan. Perlakuan ini dinamakan hujan buatan (rain-making), atau sering pula dinamakan penyemaian awan (cloud-seeding).

Hujan buatan adalah usaha manusia untuk meningkatkan curah hujan yang turun secara alami dengan mengubah proses fisika yang terjadi di dalam awan. Proses fisika yang dapat diubah meliputi proses tumbukan dan penggabungan (collision dan coalescense), proses pembentukan es (ice nucleation). Jadi jelas bahwa hujan buatan sebenarnya tidak menciptakan sesuatu dari yang tidak ada. Untuk menerapkan usaha hujan buatan diperlukan tersedianya awan yang mempunyai kandungan air yang cukup, sehingga dapat terjadi hujan yang sampai ke tanah.

Bahan yang dipakai dalam hujan buatan dinamakan bahan semai.

Jenis Awan

1. Awan rendah ( Low )

Stratokumulus, awan Nimbostratus dan awan Stratus masuk ke klasifikasi awan rendah, letaknya kurang dari 3000 m dari permukaan bumi. Awan stratokumulus kelihatan kasar, awan Nimbostratus warnanya gelap dan memiliki lapisan lapisan jelas, disebut juga awan hujan, sedangkan awan Stratus terletak di bagian langit rendah, tebal dan berwarna kelabu.

Awan Nimbostratus
yang ini awan Stratus
ini stratokumulus
2. Awan sederhana tinggi ( Mid high ) Yang masuk ke jenis awan Mid high itu awan Altokumulus dan awan Altostratus. Berada di ketinggian di antara 3000 m sampai dengan 6000 m, makanya disebut awan mid high, karena disebut tinggi gak kesampean tapi gak bisa juga disebut rendah, Awan Altokumulus cirinya berkepul-kepul, berlapis dan enggak rata, biasanya awan ini menandakan hari yang cerah, kalau awan Altostratus kelihatan lebih padat dan berwarna lebih gelap nampak seperti air. Check this out..
Awan Altostratus
Awan Altokumulus
Awan tinggi ( High ) Tidak ada info yang spesifik mengenai ketinggian dari Awan tinggi ini, yang jelas pasti di langit yang tinggi, makanya namanya awan tinggi , yang termasuk awan tinggi diantaranya awan Sirus, awan sirokumulus, dan awan sirostratus. Awan sirus berbentuk seperti kapas yang tipis dan lembut, menandakan cuaca yang lumayan cerah, awan sirokumulus nampak mirip dengan awan Altokumulus, namun kelihatan lebih rapat menyerupai sisik ikan, terakhir awan Sirostratus berwarna putih cerah, kelihatan memiliki texture yang tipis dan lembut
Awan Sirus ( bener-bener kelihatan tipis )
Awan Sirokumulus ( kelihatan seperti gabungan kumulus dan sirus )
Awan Sirostratus
3. Awan tinggi ke atas ( Up high ) Dari namanya saja kita sudah tahu bahwa kelompok awan ini terdapat di lapisan langit yang sangat tinggi sekitar 6 km hingga 9 km. Nah awan Kumulus dan awan Kumolonimbus lah yang termasuk ke kelompok ini. Awan kumulus sering kita lihat di langit, bentuknya paling familiar menyerupai kumpulan awan-awan yang lumayan besar, sedangkan awan Kumolonimbus menyerupai kumpulan awan yang sangat besar yang berwarna cerah dan gelap, biasanya disebut juga awan badai, sebab awan ini bukan hanya membawa hujan, melainkan kilat dan petir juga
Awan Kumulus
Awan kumolonimbus

Cuaca dan Iklim

A. Pengertian Cuaca dan Iklim

Cuaca adalah keadaan udara pada saat tertentu dan di wilayah tertentu yang relatif sempit dan pada jangka waktu yang singkat. Cuaca itu terbentuk dari gabungan unsur cuaca dan jangka waktu cuaca bisa hanya beberapa jam saja. Misalnya: pagi hari, siang hari atau sore hari, dan keadaannya bisa berbedabeda untuk setiap tempat serta setiap jamnya. Di Indonesia keadaan cuaca selalu diumumkan untuk jangka waktu sekitar 24 jam melalui prakiraan cuaca hasil analisis Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Departemen Perhubungan. Untuk negara negara yang sudah maju perubahan cuaca sudah diumumkan setiap jam dan sangat akurat (tepat).

Iklim adalah keadaan cuaca rata-rata dalam waktu satu tahun yang penyelidikannya dilakukan dalam waktu yang lama (minimal 30 tahun) dan meliputi wilayah yang luas. Matahari adalah kendali iklim yang sangat penting dan sumber energi di bumi yang menimbulkan gerak udara dan arus laut. Kendali iklim yang lain, misalnya distribusi darat dan air, tekanan tinggi dan rendah, massa udara, pegunungan, arus laut dan badai. Perlu Anda ketahui bahwa ilmu yang mempelajari tentang iklim disebut Klimatologi, sedangkan ilmu yang mempelajari tentang keadaan cuaca disebut Meteorologi.

B. Unsur-Unsur Cuaca dan Iklim Ada beberapa unsur yang mempengaruhi cuaca dan iklim, yaitu suhu udara, tekanan udara, kelembaban udara dan curah hujan.

1. Suhu Udara Suhu udara adalah keadaan panas atau dinginnya udara. Alat untuk mengukur suhu udara atau derajat panas disebut thermometer. Biasanya pengukuran dinyatakan dalam skala Celcius (C), Reamur (R), dan Fahrenheit (F). Suhu udara tertinggi di muka bumi adalah di daerah tropis (sekitar ekuator) dan makin ke kutub, makin dingin.Di lain pihak, pada waktu kita mendaki gunung, suhu udara terasa dingin jika ketinggian bertambah. Kita sudah mengetahui bahwa tiap kenaikan bertambah 100 meter, suhu udara berkurang (turun) rata-rata 0,6o C. Penurunan suhu semacam ini disebut gradient temperatur vertikal atau lapse rate. Pada udara kering, besar lapse rate adalah 1o C.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya suhu udara suatu daerah adalah: a. Lama penyinaran matahari. b. Sudut datang sinar matahari. c. Relief permukaan bumi. d. Banyak sedikitnya awan. e. Perbedaan letak lintang.

Matahari merupakan sumber panas. Pemanasan udara dapat terjadi melalui dua proses pemanasan, yaitu pemanasan langsung dan pemanasan tidak langsung. a. Pemanasan secara langsung Pemanasan secara langsung dapat terjadi melalui beberapa proses sebagai berikut: 1) Proses absorbsi adalah penyerapan unsur-unsur radiasi matahari, misalnya sinar gama, sinar-X, dan ultra-violet. Unsur unsur yang menyerap radiasi matahari tersebut adalah oksigen, nitrogen, ozon, hidrogen, dan debu. 2) Proses refleksi adalah pemanasan matahari terhadap udara tetapi dipantulkan kembali ke angkasa oleh butir-butir air (H2O), awan, dan partikel-partikel lain di atmosfer. 3) Proses difusi Sinar matahari mengalami difusi berupa sinar gelombang pendek biru dan lembayung berhamburan ke segala arah. Proses ini menyebabkan langit berwarna biru. b. Pemanasan tidak langsung.

Pemanasan tidak langsung dapat terjadi dengan cara-cara berikut: 1. Konduksi adalah pemberian panas oleh matahari pada lapisan udara bagian bawah kemudian lapisan udara tersebut memberikan panas pada lapisan udara di atasnya. 2. Konveksi adalah pemberian panas oleh gerak udara vertikal ke atas. 3. Adveksi adalah pemberian panas oleh gerak udara yang horizontal (mendatar). 4. Turbulensi adalah pemberian panas oleh gerak udara yang tidak teratur dan berputar-putar ke atas tetapi ada sebagian panas yang dipantulkan kembali ke atmosfer.

2. Tekanan Udara Kepadatan udara tidak sepadat tanah dan air. Namun udarapun mempunyai berat dan tekanan. Besar atau kecilnya tekanan udara, dapat diukur dengan menggunakan barometer. Orang pertama yang mengukur tekanan udara adalah Torri Celli (1643). Alat yang digunakannya adalah barometer raksa. Tekanan udara menunjukkan tenaga yang bekerja untuk menggerakkan masa udara dalam setiap satuan luas tertentu. Tekanan udara semakin rendah apabila semakin tinggi dari permukaan laut. ANGIN Angin adalah udara yang bergerak. Ada tiga hal penting yang menyangkut sifat angin yaitu: Kekuatan angin, Arah angin, Kecepatan angin.

Sistem Angin 1. Angin Passat Angin passat adalah angin bertiup tetap sepanjang tahun dari daerah subtropik menuju ke daerah ekuator (khatulistiwa). Lihat gambar 6: a) Angin Passat Timur Laut bertiup di belahan bumi Utara. b) Angin Passat Tenggara bertiup di belahan bumi Selatan. Di sekitar khatulistiwa, kedua angin passat ini bertemu. Karena temperatur di daerah tropis selalu tinggi, maka massa udara tersebut dipaksa naik secara vertikal (konveksi). Daerah pertemuan kedua angin passat tersebut dinamakan Daerah Konvergensi Antar Tropik (DKAT). DKAT ditandai dengan temperatur yang selalu tinggi. Akibat kenaikan massa udara ini, wilayah DKAT terbebas dari adanya angin topan. Akibatnya daerah ini dinamakan daerah doldrum (wilayah tenang).

2. Angin Anti Passat Udara di atas daerah ekuator yang mengalir ke daerah kutub dan turun di daerah maksimum subtropik merupakan angin Anti Passat. Di belahan bumi Utara disebut Angin Anti Passat Barat Daya dan di belahan bumi Selatan disebut Angin Anti Passat Barat Laut. Pada daerah sekitar lintang 20o - 30o LU dan LS, angin anti passat kembali turun secara vertikal sebagai angin yang kering. Angin kering ini menyerap uap air di udara dan permukaan daratan. Akibatnya, terbentuk gurun di muka bumi, misalnya gurun di Saudi Arabia, Gurun Sahara (Afrika), dan gurun di Australia. 3. Angin Barat Sebagian udara yang berasal dari daerah maksimum subtropis Utara dan Selatan mengalir ke daerah sedang Utara dan daerah sedang Selatan sebagai angin Barat. Pengaruh angin Barat di belahan bumi Utara tidak begitu terasa karena hambatan dari benua. Di belahan bumi Selatan pengaruh angin Barat ini sangat besar, tertama pada daerah lintang 60o LS. Di sini bertiup angin Barat yang sangat kencang yang oleh pelaut-pelaut disebut roaring forties.

4. Angin Timur Di daerah Kutub Utara dan Kutub Selatan bumi terdapat daerah dengan tekanan udara maksimum. Dari daerah ini mengalirlah angin ke daerah minimum subpolar (60o LU/LS). Angin ini disebut angin Timur. Angin timur ini bersifat dingin karena berasal dari daerah kutub.

5. Angin Muson (Monsun) Angin muson ialah angin yang berganti arah secara berlawanan setiap setengah tahun. Umumnya pada setengah tahun pertama bertiup angin darat yang kering dan setengah tahun berikutnya bertiup angin laut yang basah.

Pada bulan Oktober – April, matahari berada pada belahan langit Selatan, sehingga benua Australia lebih banyak memperoleh pemanasan matahari dari benua Asia. Akibatnya di Australia terdapat pusat tekanan udara rendah (depresi) sedangkan di Asia terdapat pusat-pusat tekanan udara tinggi (kompresi). Keadaan ini menyebabkan arus angin dari benua Asia ke benua Australia. Di Indonesia angin ini merupakan angin musim Timur Laut di belahan bumi Utara dan angin musim Barat di belahan bumi Selatan. Oleh karena angin ini melewati Samudra Pasifik dan Samudra Hindia maka banyak membawa uap air, sehingga pada umumnya di Indonesia terjadi musim penghujan. Musim penghujan meliputi seluruh wilayah indonesia, hanya saja persebarannya tidak merata. makin ke timur curah hujan makin berkurang karena kandungan uap airnya makin sedikit.

Angin Lokal Di samping angin musim, di Indonesia juga terdapat angin lokal (setempat) yaitu sebagai berikut:

1. Angin darat dan angin laut

Angin ini terjadi di daerah pantai. Pada siang hari daratan lebih cepat menerima panas dibandingkan dengan lautan. Angin bertiup dari laut ke darat, disebut angin laut. Sebaliknya, pada malam hari daratan lebih cepat melepaskan panas dibandingkan dengan lautan. Daratan bertekanan maksimum dan lautan bertekanan minimum. Angin bertiup dari darat ke laut, disebut angin darat.

2. Angin lembah dan angin gunung Pada siang hari udara yang seolah-olah terkurung pada dasar lembah lebih cepat panas dibandingkan dengan udara di puncak gunung yang lebih terbuka (bebas), maka udara mengalir dari lembah ke puncak gunung menjadi angin lembah. Sebaliknya pada malam hari udara mengalir dari gunung ke lembah menjadi angin gunung.

3. Angin Jatuh yang sifatnya kering dan panas Angin jatuh atau Fohn ialah angin jatuh bersifatnya kering dan panas terdapat di lereng pegunungan Alpine. Sejenis angin ini banyak terdapat di Indonesia dengan nama angin Bahorok (Deli), angin Kumbang (Cirebon), angin Gending di Pasuruan (Jawa Timur), dan Angin Brubu di Sulawesi Selatan).

3. Kelembaban Udara Di udara terdapat uap air yang berasal dari penguapan samudra (sumber yang utama). Sumber lainnya berasal dari danau-danau, sungai-sungai, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya. Makin tinggi suhu udara, makin banyak uap air yang dapat dikandungnya. Hal ini berarti makin lembablah udara tersebut. Alat untuk mengukur kelembaban udara dinamakan hygrometer atau psychrometer.

Ada dua macam kelembaban udara: 1) Kelembaban udara absolut, ialah banyaknya uap air yang terdapat di udara pada suatu tempat. Dinyatakan dengan banyaknya gram uap air dalam 1 m³ udara. 2) Kelembaban udara relatif, ialah perbandingan jumlah uap air dalam udara (kelembaban absolut) dengan jumlah uap air maksimum yang dapat dikandung oleh udara tersebut dalam suhu yang sama dan dinyatakan dalam persen (%). Contoh: Dalam 1 m³ udara yang suhunya 20o C terdapat 14 gram uap air (basah absolut = 14 gram), sedangkan uap air maksimum yang dapat dikandungnya pada suhu 20o C = 20 gram. 4. Curah Hujan Curah hujan yaitu jumlah air hujan yang turun pada suatu daerah dalam waktu tertentu. Alat untuk mengukur banyaknya curah hujan disebut Rain gauge. Curah hujan diukur dalam harian, bulanan, dan tahunan. Curah hujan yang jatuh di wilayah Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: - bentuk medan/topografi - arah lereng medan - arah angin yang sejajar dengan garis pantai - jarak perjalanan angin di atas medan datar Hujan ialah peristiwa sampainya air dalam bentuk cair maupun padat yang dicurahkan dari atmosfer ke permukaan bumi. Garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai curah hujan yang sama disebut Isohyet.

Klasifikasi hujan:

a. Berdasarkan ukuran butirannya, hujan dibedakan menjadi: 1. hujan gerimis/drizzle, diameter butir-butirannya kurang dari 0,5 mm; 2. hujan salju/snow, terdiri dari kristal-kristal es yang temperatur udaranya berada di bawah titik beku; 3. hujan batu es, merupakan curahan batu es yang turun di dalam cuaca panas dari awan yang temperaturnya di bawah titik beku; dan 4. hujan deras/rain, yaitu curahan air yang turun dari awan yang temperaturnya di atas titik beku dan diameter butirannya kurang lebih 7 mm.

b. Berdasarkan proses terjadinya, hujan dibedakan atas: 1. Hujan Frontal Hujan frontal adalah hujan yang terjadi di daerah front, yang disebabkan olehpertemuan dua massa udara yang berbeda temperaturnya. Massa udara panas/lembab bertemu dengan massa massa udara panas massa udara dingin udara dingin/padat sehingga berkondensasi Gambar 9. Hujan Frontal. dan terjadilah hujan.

2. Hujan Zenithal/ Ekuatorial/ Konveksi/ Naik Tropis Jenis hujan ini terjadi karena udara naik disebabkan adanya pemanasan tinggi. Terdapat di daerah tropis antara 23,5o LU - 23,5o LS. Oleh karena itu disebut juga hujan naik tropis. Arus konveksi menyebabkan uap air di ekuator naik secara vertikal sebagai akibat pemanasan air laut terus menerus. Terjadilah kondensasi dan turun hujan. Itulah sebabnya jenis hujan ini dinamakan juga hujan ekuatorial atau hujan konveksi. Disebut juga hujan zenithal karena pada umumnya hujan terjadi pada waktu matahari melalui zenit daerah itu. Semua tempat di daerah tropis itu mendapat dua kali hujan zenithal dalam satu tahun.

3. Hujan Orografis/Hujan Naik Pegunungan Terjadi karena udara yang mengandung uap air dipaksa oleh angin mendaki lereng pegunungan yang makin ke atas makin dingin sehingga terjadi kondensasi, terbentuklah awan dan jatuh sebagai hujan. Hujan yang jatuh pada lereng yang dilaluinya disebut hujan orografis, sedangkan di lereng sebelahnya bertiup angin jatuh yang kering dan disebut daerah bayangan hujan.

4. Awan Awan ialah kumpulan titik-titik air/kristal es di dalam udara yang terjadi karena adanya kondensasi/sublimasi dari uap air yang terdapat dalam udara. Awan yang menempel di permukaan bumi disebut kabut. a. Menurut morfologinya (bentuknya) Berdasatkan morfologinya, awan dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu: 1. Awan Commulus yaitu awan yang bentuknya bergumpal-gumpal (bundar-bundar) dan dasarnya horizontal.

Cumulus clouds panorama.jpg

Awan Commulus adalah awan yang bentuknya seperti bunga kol. Awan ini terjadi karena proses konveksi. Secara lebih rinci awan ini terbagi dalam 3 jenis, yaitu: strato commulus yaitu awan commulus yang baru tumbuh, commulus, dan commulonimbus yaitu awan commulus yang sangat besar dan mungkin terdiri beberapa awan commulus yang bergabung menjadi satu.

2. Awan Stratus yaitu awan yang tipis dan tersebar luas sehingga dapat menutupi langit secara merata. Dalam arti khusus awan stratus adalah awan yang rendah dan luas.

3. Awan Cirrus yaitu awan yang berdiri sendiri yang halus dan berserat, berbentuk seperti bulu burung. Sering terdapat kristal es tapi tidak dapat menimbulkan hujan b. Berdasarkan ketinggiannya Berdasarkan ketinggiannya, awan dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu: 1. Awan tinggi (lebih dari 6000 m – 9000 m), karena tingginya selalu terdiri dari kristal-kristal es. a. Cirrus (Ci) : awan tipis seperti bulu burung. b. Cirro stratus (Ci-St) : awan putih merata seperti tabir. c. Cirro Cumulus (Ci-Cu) : seperti sisik ikan. 2. Awan sedang (2000 m – 6000 m) a) Alto Comulus (A-Cu) : awan bergumpal gumpal tebal. b) Alto Stratus (A- St) : awan berlapis-lapis tebal. 3. Awan rendah (di bawah 200 m) a) Strato Comulus (St-Cu) : awan yang tebal luas dan bergumpal gumpal. b) Stratus (St) : awan merata rendah dan berlapis-lapis. c) Nimbo Stratus (No-St) : lapisan awan yang luas, sebagian telah merupakan hujan. Awan yang terjadi karena udara naik, terdapat pada ketinggian 500 m–1500 m a) Cummulus (Cu) : awan bergumpal-gumpal, dasarnya rata. b) Comulo Nimbus (Cu-Ni): awan yang bergumpal gumpal luas dan sebagian telah merupakan hujan, sering terjadi angin ribut.

Badai

Badai sesuatu yang menakutkan

Badai adalah cuaca yang ekstrim, mulai dari hujan es dan badai salju sampai badai pasir dan debu.[1] Badai disebut juga [[siklon] tropis]] oleh meteorolog, berasal dari samudera yang hangat.[2] Badai bergerak di atas laut mengikuti arah angin dengan kecepatan sekitar 20 km/jam.[2] Badai bukan angin ribut biasa.[3] Kekuatan anginnya dapat mencabut pohon besar dari akarnya, meruntuhkan jembatan, dan menerbangkan atap bangunan dengan mudah.[3] Tiga hal yang paling berbahaya dari badai adalah sambaran petir, banjir bandang, dan angin kencang.[4] Terdapat berbagai macam badai, seperti badai hujan, badai guntur, dan badai salju.[5] Badai paling merusak adalah badai topan (hurricane), yang dikenal sebagai angin siklon (cyclone) di Samudera Hindia atau topan (typhoon) di Samudera Pasifik.[1]

Penyebab Terjadinya Badai

Penyebab badai adalah tingginya suhu permukaan laut.[6] Perubahan di dalam energi atmosfer mengakibatkan petir dan badai.[7] Badai tropis ini berpusar dan bergerak dengan cepat mengelilingi suatu pusat, yang sumbernya berada di daerah tropis.[6] Pada saat terjadi angin ribut ini, tekanan udara sangat rendah disertai angin kencang dengan kecepatan bisa mencapai 250 km/jam.[6] Hal ini bisa terjadi di Indonesia maupun negara-negara lain.[6] Di dunia, ada tiga tempat pusat badai, yaitu di Samudera Atlantik, Samudera Hindia, dan Samudera Pasifik.[6]

Badai datang secara tiba-tiba http://pesatnews.com/wp-content/uploads/2009/09/badai.jpg Badai yang disertai petir http://bolehtau.files.wordpress.com/2008/02/storm01.jpg

Referensi

  1. ^ a b Brian Williams, "Fakta Paling Top: Planet Bumi", Erlangga for Kids, 9797418928, 9789797418922.
  2. ^ a b Paul Bennet dan Barbara Taylor, "Planet yang Bergolak", Erlangga for Kids, 9790155239, 9789790155237.
  3. ^ a b Catherine Chambers, "Badai (Seri Ada Apa Di Bumi? Bencana Alam)", Erlangga for Kids, 9790152876, 9789790152878.
  4. ^ Rick Thomas, "Wush, Duarr!", Erlangga for Kids, 9790154739, 9789790154735.
  5. ^ M. Sulaeman, "Lebih Dekat dengan Alam", PT Grafindo Media Pratama, 9799255317, 9789799255310.
  6. ^ a b c d e "Ayo Belejar", Kanisius, 9792118225, 9789792118223.
  7. ^ Masaru Emoto, "The hidden messages in water", Gramedia Pustaka Utama, 2006, 979222324X, 9789792223248.

Cara Menamai Badai

IKE dan GUSTAF, namanya memang indah. Di balik keindahan nama

nya, badai kedua itu telah menghancurkan kota Texas Amerika Serikat dan Kuba. Bagaimana badai terjadi dan mengapa diberi nama seperti manusia?

Setiap tahun, antara 1 Juni hingga 30 September, Amerika mengalami hurricane season (musim badai).

Badai Ike di Houston

Pada musim itu, badai mengancam pantai dan teluk di wilayah timur Amerika Serikat, Meksiko, serta kepulauan Karibia.

Menurut National Hurricane Center, “hurricane” adalah nama untuk angin tropis yang terjadi di samudra Atlantik. “Angin tropis” merupakan nama umum dari sistem angin bertekanan rendah di daerah tropis.

Angin tropis bergerak perlahan, dengan kecepatan tak lebih dari 17 meter per detik atau sekitar 61 km/jam. Angin dengan kecepatan di atas 61 km/jam disebut topan tropis. Jika kecepatannya mencapai 119 km/jam, maka disebut hurricane (badai).

Terjadinya Badai

Badai biasanya terjadi pada wilayah tropis, saat air laut mulai panas (sedikitnya 27 derajat celcius). Air panas membasahi angin, kemudian berputar membentuk pusaran. Sebagian besar badai Atlantik berawal dari pergerakan angin dari pantai barat Afrika yang bertemu air panas di laut tropis, kemudian menciptakan badai..

Pada kenyataannya, proses terjadinya badai belum terungkap secara pasti. Namun, para ahli mencatat ada tiga tahapan terjadinya badai:

1. Penguapan terus menerus dari laut yang panas. Udara di langit menjadi panas

2. Terjadi perbedaan tekanan udara antara daratan dengan langit.

3. Karena udara di langit lebih panas, udara di daratan bergerak naik, membawa uap air, kemudian membentuk pusaran angin. Itulah yang disebut badai.

Badai juga bisa diteliti dengan melihat pergerakan angin. Pada awalnya, angin dari berbagai arah bergerak menuju satu titik di tengah. Terjadi tubrukan, angin naik ke atas membawa uap panas. Angin mulai berputar dan membentuk pusaran. Pusaran itu makin lama semakin cepat, kemudian terbentuk badai. Agar badai terbentuk, kecepatan angin di setiap level ketinggian harus sama. Kalau tidak, badai kehilangan bentuk dan tercerai berai.

Badai berbentuk pusaran. Ada tiga bagian badai, yakni eye (merupakan pusat badai yang tenang), eye wall (daerah di sekitar eye, di sini angin berputar sangat kencang), dan rain bands (daerah di bagian luar yang mengandung uap air).

Badai di bagian utara berputar berlawanan arah dengan jarum jam, melaju dari timur ke barat. Badai di belahan selatan berputar searah jarum jam, bergerak dari barat ke timur. Perbedaan arah badai ini merupakan akibat rotasi bumi.

Untuk melacak jejak badai, Badan Meteorologi Amerika menggunakan satelit yang diberi nama Hurricane Hunters. Semenjak 1965, mulai digunakan pesawat Hercules yang mampu terbang mendekati badai.

Untuk mempermudah pelacakan, badai diberi nama. Nama ini diberikan oleh Badan Meteorologi Dunia. Beberapa puluh tahun lalu, badai diberi nama tokoh agama tertentu yang lahirnya berdekatan dengan terjadinya badai.

Setelah perang dunia II, badai hanya diberi nama seperti nama laki-laki. Pada 1950-an, yang terjadi sebaliknya, badai hanya diberi nama perempuan. Mulai 1970-an, nama badai bisa laki-laki atau perempuan.

Badai diberi nama dengan aturan sebagai berikut: badai pertama yang terjadi pada tahun itu diberi nama dengan awalan A, misalnya badai Arlene. Badai kedua diberi nama dengan awalan B, yakni Bret, kemudian Cindy, Dennis, dan seterusnya. Nah, dengan pola penamaan seperti itu, coba tebak, badai Gustaf dan Ike merupakan badai yang ke berapa?

Pemanasan Global

Hutan

Menanggapi isu yang sedang hangat saat ini yaitu tentang pemanasan global, saya tercengang setelah membaca Majalah National Geographic Indonesia edisi Oktober 2007. Ternyata bumi memang sedang memanas lebih cepat dari yang semestinya karena adanya pemanasan global yang disebabkan oleh bertambahnya gas CO­2 secara tajam didalam atmosfer bumi. Pemanasan global adalah naiknya suhu permukaan bumi yang disebabkan peningkatan karbondioksida (CO2) dan gas-gas lain atau gas rumah kaca yang menyelimuti bumi dan memerangkap panas. Kebaikan suhu ini mengubah iklim dan membuat kepunahan banyak species, kebakaran hutan, pemutihan karang, penularan penyakit, makin ganasnya badai, hingga pencairan es di kutub hingga permukaan air laut naik dan menenggelakan banyak pulau. Sebagai biang kerok meroketnya gas CO2 di dalam atmosfer bumi adalah akibat meningkatnya kegiatan industri yang berbahan bakar fosil seperti batubara, minyak bumi dan gas. Amerika Serikat dan Cina merupakan penyumbang gas karbondioksida terbesar saat ini.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Celakanya Indonesia saat ini telah menempati peringkat ketiga setelah AS dan Cina sebagai negara penyumbang gas CO2 terbesar. Sumbangan gas CO2 dari Indonesia ini bukan karena kegiatan industri saja, tetapi juga karena kebakaran hutan yang marak terjadi delapan tahun ini. Kebakaran hutan yang terjadi tahun 1997-1998 melepaskan gas CO2 sebagai gas emisi rumah kaca sebesar hampir tiga giga ton karbon ke atmosfer, atau setara dengan 13-40 persen total emisi karbon dunia yang dihasilkan dari bahan bakar fosil pertahun. Ini sangat mempengaruhi perubahan iklim dan pemanasan global saat ini. Kebakaran hebat seperti ini terjadi lagi pada tahun 2006 yang mencoreng muka Indonesia karena menyebarnya asap ke negara tetangga.

Prinsip rumah kaca pada atmosfer bumi sederhananya adalah sinar matahari ditangkap oleh tanah dan air, diubah menjadi panas dan dilepaskan kembali ke atmosfer sebagai radiasi inframerah untuk menghangatkan bumi. Seperti dinding-dinding kaca dari sebuah rumah kaca, gas-gas atmosfer terutama karbondioksida, uap air dan metana, menjebak sebagian besar dari panas yang membumbung dan menahannya di atmosfer yang lebih rendah. Tanpa efek rumah kaca ini, temperatur bumi rata-rata akan berkisar di –18oC, bukan 14.5oC seperti sekarang.

­Sebelum revolusi industri, atmosfer bumi mengandung sekitar 280 ppm (part per million/ bagian per sejuta) CO­2. Itu merupakan jumlah yang baik. Oleh karena struktur CO2 menjebak panas dekat permukaan planet yang justru tanpanya akan memancar balik keluar angkasa. Peradaban tumbuh besar dalam suatu dunia yang angka temperaturnya ditentukan oleh banyaknya kandungan CO2 tersebut. Itu setara dengan suatu suhu rata-rata global sekitar 14.5oC. Sekali kita membakar batubara, minyak bumi dan gas untuk meyokong kehidupan, angka 280 itu mulai naik. Saat diukur pada tahun 1950an, CO2 dalam atmosfer telah mencapai angka 315 ppm. Sekarang nilai itu ada di 380 ppm dan meningkat hingga 2 ppm pertahun. Itu sepertinya tidak banyak, tetapi berlebih yang dijebak oleh CO2, beberapa watt permeter persegi permukaan bumi cukup untuk menghangatkan planet secara nyata. Kita telah menaikkan suhu lebih dari setengah derajat celcius. Mustahil memperkirakan secara persis akibat dari peningkatan CO2 di atmosfer. Namun, pemanasan yang sudah kita lihat sejauh ini mulai mencairkan hampir segala sesuatu yang membeku di muka bumi. Ia telah mengubah musim dan pola curah hujan dan kenaikan muka air laut.

Molekul-molekul CO2 akan menetap di dalam atmosfer hingga 200 tahun, maka jika hasil pembakaran bahan bakar fosil (emisi) dikurangi hari ini, bumi akan terus memanas, meski mungkin agak lambat. Jika emisi dipertahankan pada laju saat ini, tingkat CO2 akan tetap mencapai 525 ppm, hampir dua kali lipat tingkat pra-industri. Selambat-lambatnya pada 2100, bumi akan memanas beberapa derajat. Perilaku manusia sperti sekarang mendorong tingkat CO2 melampaui 800 ppm, memicu kenaikan temperatur hingga 5oC bisa jadi mengalahkan kemampuan beradaptasi banyak species.

Sumber-sumber energi yang memajukan masyarakat industri modern telah menyamai krisis-krisis perubahan iklim pula. Bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batubara dan gas akan bertanggung jawab atas 80% dari tambahan CO2 yang kini menahan lebih banyak panas dalam atmosfer. Sebagian besar daari sisa CO2 berasal dari perubahan penggunaan lahan, terutama di hutan-hutan tropis, termasuk budidaya ladang berpindah dan pemanenan kayu. Hutan dirusak untuk pengalihan perkebunan monokultur seperti sawit, tebu, jagung, kedelai dan pembalakan liar justru menjadi pemicu bertambahnya titik panas dari tahun ke tahun. Hutan semestinya berfungsi sebagai pengikat karbon bukan sebagai penyumbang karbon.

Titik ApiMari kita tengok apa yang sedang terjadi di Indonesia. Iminng-iming karena hasil sawit, kertas dan pembalakan liar yang menggiurkan, membuat pembukaan hutan menjadi marak dengan jalan pintas dan relatif murah; yaitu dengan cara membakar. Sebagai contoh, dalam 20 tahun terakhir, luasan hutan alam di Provinsi Riau telah berkurang sekitar 56,8 persen. Jika dirata-rata, setiap tahunnya Riau kehilangan sekitar 182.140 hektare hutan alam, atau 15.178 hektare setiap bulannya. Menurut data WWF, hingga akhir tahun 2005 hutan yang tersisa di Riau tinggal 2.743.198 hektare atau hanya 33 persen dari luas daratannya.

Memang, jika kebakaran selalu terjadi setiap tahun, sudah seharusnya Pemerintah Indonesia bisa memecahkan permasalahannya untuk kemudian dicari solusinya. Sebut saja penegakan hokum untuk menjerat para pelaku pembakar lahan dan penanggung jawabnya. Sederat aturan diimplementasikan dalam kehidupan nyata, seperti UU No. 41/1999 tentang kehutanan dan UU No. 23/1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup. Izin usaha perkebunan dan hutan tanaman industri (HTI) yang mengonversi hutan alam harus diperketat dan diawasi.

Dengan memelihara hutan, berarti mencegah terlepasnya karbon ke atmosfer karena hutan berfungsi sebagai pengikat senyawa karbon yang merupakan salah satu gas rumah kaca penyebab utama pemanasan global. REDD merupakan skema pengurangan emisi dari deforestasi di negara berkembang, suatu scenario konvensi PBB untuk menangkal pemanasan global. REDD diusulkan sebagai medium untuk memperbaiki kondisi huatan alam yang merupakan dapur karbon alamiah paling efektif.

Selain hutan, para ilmuwan juga telah memikirkan bagaimana cara mengurangi emisi karbon ini. Para ilmuwan memperingatkan bahwa emisi karbon saat ini seharusnya dikurangi hingga setidaknya setengah selama 50 tahun berikutnya untuk menghindari bencana-bencana pemanasan global dimasa depan. Setiap strategi dibawah ini, selambatnya pada 2057, akan mereduksi emisi karbon tahunan hingga semiliar metrik ton.

Efisiensi dan Konservasi

  1. Memperbaiki ekonomi bahan bakar pada dua miliar mobil dari 12 km/liter ke 25 km/liter
  2. Mengurangi kilometer setiap tahun per mobil dari 16.000 ke 8.000
  3. Meningkatkan efisiensi pendinginan, pencahayanna dan peralatan rumah tangga hingga 25 persen
  4. Memperbaiki efisiensi pembagkit listrik tenaga batubara dari 40% ke 60%

Tangkap dan Simpan Karbon

  1. Memperkenalkan system untuk menangkap CO2 dan menyimpannya didalam tanah di 800 pembangkit bertenaga batubara
  2. Menggunakan system tangkapan di pembangkit hydrogen, penghasil bahan bakar untuk semiliar mobil
  3. Menggunakan system tangkapan di pembangkit bahan bakar sintetis turunan batubara, penghasil 30 juta barel sehari

Bahan Bakar Rendah Karbon

  1. Mengganti 1.400 pembangkit bertenaga batubara dengan gas alam
  2. Melenyapkan batubara dengan menaikkan produksi tenaga nuklir hingga tiga kali kapasitas saat ini.

Sumber Daya Terbarukan

  1. Meningkatkan kapasitas tenaga angin sampai 25 kali
  2. Meningkatkan tenaga surya hingga 700 kali kapasitas saat ini
  3. Meningkatkan tenaga angin hingga 50 kali kapasitas saat ini untuk emmbuat hydrogen
  4. Meningkatkan produksi bahan bakar nabati etanol sampai 50 kali kapasitas saat ini. Dibutuhkan sekitar seperenam drai lahan garapan dunia
  5. Menghentikan semua deforestasi
  6. Memperluas pengolahan lahan konservasi ke semua lahan garapan (pembajakan biasa melepaskan karbon dengan mempercepat dekomposisi bahan organic)

Membongkar El Nino dengan Syaraf Tiruan

Hingga kini ilmuwan terbaik sekalipun belum mengetahui apa sesungguhnya penggerak El Nino. Di tengah kebuntuan, sebuah tim dari ITB berusaha membongkarnya dengan artificial neuron system atau sistem syaraf tiruan. Bumi dipotret dari ruang angkasa

Bagai penyakit serius yang belum ketahuan penyebabnya, begitulah gambaran ‘fisik’ El Nino. Semula fenomena global yang berpusat di wilayah tengah hingga timur ekuatorial Samudera Pasifik ini dianggap biasa-biasa saja. Namun setelah gempurannya pada 1982-1983 menyebabkan penderitaan di berbagai tempat di dunia akibat gelombang cuaca ekstrim yang disebabkannya, para ilmuwan pun segera berkumpul untuk mencari tahu. Namun tak semudah membalik tangan, gejala alam yang biasa menghantui setiap ada pergantian musim seperti pada bulan-bulan September-Oktober ini ternyata sulit ditelusuri.

Meski berbagai metoda telah dikerahkan dan milyaran dollar diinvestasikan dalam bentuk peralatan pencacah, misterinya belum juga bisa terkuak. Padahal seluruhnya sudah yang terbaik. Peralatan tersebut tak kurang dari satelit khusus, pelampung (buoys) dengan instrumen pencacah data fisis otomatis yang sinyalnya dikirim lewat satelit, instrumen penganalisis muka laut, komputer besar, dan termometer canggih yag dikenal sebagai bathythermographs.

Penelitian dikendalikan sepenuhnya oleh gabungan peneliti atmosfer seluruh dunia (termasuk dari Indonesia) dalam tim yang dikenal sebagai WCRP TOGA.

Kesulitan utama dalam memecahkan teka-teka El Nino ini, seperti dijelaskan para ahli, adalah karena ‘kuncinya’ terpendam di dalam Samudera Pasifik yang begitu dalam dan luas, dan belum pernah ada peralatan yang sanggup menguaknya.

Namun para ahli tak kekurangan akal. Untuk memprediksi kehadiran El Nino, untuk sementara, mereka bisa mengakalinya dengan menera gejala-gejala fisik alam yang biasa menyertainya. Itu adalah perubahan tekanan udara di Darwin yang mewakili wilayah Pasifik barat dan di Tahiti yang mewakili wilayah Pasifik timur. Jika indeks kedua tekanan ini bergerak negatif, bisa dipastikan El Nino tengah mengintai. Begitu pula sebaliknya.

Tetapi itu tak berarti para ilmuwan menyerah begitu saja. Apa yang kini tengah dilakukan sebuah tim peneliti di Institut Teknologi Bandung boleh dibilang adalah salah-satu upaya terobosan alternatif. Berbekal time-series (serial tahunan) data iklim Indonesia dan seperangkat komputer canggih, mereka kini tengah berupaya menguaknya. Lebih dari semua itu adalah program komputer yang menjadi penuntun pencarian ini, yakni ANFIS atau Adaptive Neuro Fuzzy Influence Systems, sebuah ‘perkawinan’ antara sistem syaraf tiruan dengan logika samar dua bidang yang amat erat kaitannya dengan ilmu matematika dan fisika terapan.

“ANFIS dibuat secara khusus untuk menganalisis gejala-gejala fisik yang tidak jelas. Semula program ini sendiri biasa digunakan untuk menganalisis masalah-masalah otomatisasi dalam bidang industri. Ketika dicobakan untuk membedah perkara El Nino, hasilnya ternyata cukup menggembirakan,” demikian ujar salah seorang anggota tim, Drs. Zadrach L. Dupe, kepada Angkasa medio September lalu. “Di dunia sendiri baru kami yang melakukannya,” lanjutnya tentang tim yang digerakkan oleh ilmuwan ITB, Observatorium Bosscha, Universitas Gajah Mada, dan Badan Geofisika dan Meteorologi itu.

Lebih lanjut Zadrach mengungkap, input yang diolah oleh ANFIS adalah data iklim Indonesia selama sekian ratus tahun ke belakang. Data tersebut dipecah-pecah menurut parameternya, lalu disusun ulang, untuk selanjutnya dicari koneksitasnya terhadap aktivitas bintik matahari salah satu fenomena alam yang diyakini bertanggung-jawab atas sejumlah gejala alam di Bumi, termasuk di dalamnya fenomena El Nino.

Mengapa bintik matahari?

Terpilihnya bintik matahari sendiri, dikemukakan, berangkat dari hipotesa bahwa bagaimana pun tak ada sumber energi lain yang bisa ‘menggerakkan dan menghidupi’ Bumi selain matahari. Nah, dari pusat tata surya kita ini tak ada fenomena lain selain bintik matahari yang kemunculannya bersifat pereodik. Sifat ini amat penting menjadi pertimbangan ilmiah mengingat kemunculan El Nino yang juga sama-sama pereodik. Jika bintik matahari muncul tiap yang sebelas tahun sekali, El Nino kira-kira menggeliat setiap empat-lima tahun.

“Disinilah peran ANFIS. Walau masih tahap pengembangan ini kami bisa memanfaatkannya untuk menelusuri kaitannya. Pada prinsipnya yang harus kami lakukan adalah membuat model harmonis sederhana dari kedua data (bintik matahari dan El Nino) serial, lalu mencari korelasinya,” ujar Zadrach Dupe.

“Ini adalah upaya ilmiah kedua, karena yang pertama kandas. Ketika itu nilai korelasi yang didapat hanya 0,1 – 0,18. Kecil sekali alias tak diperoleh kaitan antara satu dengan yang lain,” akunya.

Hasilnya berbeda banyak dengan upaya yang kedua. Setelah setahun ‘mencari-cari dan merekayasa metoda’ kerja keras tim ANFIS ternyata berbuah hasil yang mengagumkan. Mereka mendapatkan korelasi yang begitu tinggi, yakni sekitar 0,8. Jauh lebih tinggi dari persyaratan koneksitas yang hanya perlu nilai 0,5. Artinya, kedua fenomena memang memiliki keterkaitan atau bisa diartikan pula bahwa gejala El Nino kemungkinan besar memang dipengaruhi secara nyata oleh gejala bintik matahari. Namun memang keterkaitan apa persisnya yang terjalin, masih perlu penelitian lebih lanjut.

Keberhasilan tersebut jelasnya, bisa dikatakan, fenomena El Nino tak serta-merta terbongkar dengan didapatkannya korelasi yang begitu besar antara bintik matahari dengan kejadian El Nino. Masih terlampau dini bertanya tentang keterkaitan itu. Lalu apa sesungguhnya bintik matahari itu?

Seperti dijelaskan dalam Perjalanan Mengenal Astronomi (UPT Onservatorium Bosscha ITB, 1995), bintik matahari adalah bagian dari matahari, berwarna hitam, dan merupakan daerah yang relatif lebih dingin daripada daerah sekitarnya. Jika berdiri sendiri, ia akan bersinar terang karena suhunya cukup tinggi, yakni sekitar 3.000° sampai 4.000° Kalvin. Dengan lebar sekitar 800 sampai 800.000 kilometer, Ia bagaikan magnet raksasa karena tak ada satupun di tatasurya ini yang mampu mengalahkannya. Dibanding yang dimiliki Bumi sekalipun, medan magnetnya 1.000 kali lebih besar.

Kebanyakan bintik matahari berjalan melintasi permukaan matahari dalam pasangan dan berbaris satu per satu. Fenomena ini pertama kali diamati oleh Galileo Galilei pada tahun 1610, dan pada tahun 1850 diketahui bahwa ia berlangsung berkala, yakni setiap 11 tahun. Pereodisitasnya ini disimak dari berbaliknya urutan kutub-kutubnya. Sama dengan El Nino, bintik matahari pun masih menyimpan banyak misteri.

(sumber:http://www.angkasa-online.com/10/01/fenom/fenom1.htm)

CUACA DAN IKLIM

Cuaca (weather) dan iklim (climate) dinyatakan dengan besaran unsur fisika atmosfer yang selanjutnya disebut unsur cuaca atau unsur iklim yang terdiri dari penerimaan radiasi matahari (kerapatan flukas pada permukaan datar di permukaan bumi), lama penyinaran matahari, suhu udara, kelembaban udara, tekanan udara, kecepatan dan arah angin, penutupan awan, presipitasi (embun, hujan, salju) dan evaporasi/evapotranspirasi.

Cuaca adalah kondisi sesaat dari keadaan atmosfer, serta perubahan dalam jangka pendek (kurang dari satu jam hingga 24 jam) di suatu tempat tertentu di bumi. Nilai cuaca dapat dinyatakan dalam bentuk kualitatif (tanpa besaran angka) dan kuantitaif.

Nilai unsur-unsur cuaca saat demi saat selama 24 jam di suatu tempat akan menunjukkan pola siklus yang disebut perubahan cuaca diurnal (pukul 00:00 hingga 24:00). Nilai tiap unsur cuaca tersebut dapat dirata-ratakan dan menghasilkan cuaca pada tanggal tersebut.

Cuaca dicatat terus menerus pada jam-jam pengamatan tertentu secara rutin, menghasilkan suatu seri data cuaca yang selanjutnya dapat diolah secara statistika mejadi data iklim. Jadi dapat disimpulkan bahwa iklim adalah nilai statistika dari cuaca jangka panjang di wilayah luas.

Data cuaca terdiri dari data discontinue karena mudah kembali bernilai nol (0) dan data continue karena tidak mudah turun mencapai nol. Data unsur cuaca yang sifatnya diskontinyu antara lain penerimaan radiasi matahari dan lama penyinarannya, presipitasi (curah hujan, embun, dan salju) dan penguapan. Penyajian dan analisisnya dalam bentuk nilai akumulasi sedangkan penyajian grafiknya dalam bentuk kurva histogram. Data cuaca yang bersifat kontinyu antara lain: suhu, kelembaban dan tekanan udara serta kecepatan angin. Analisis dan penyajiannya dalam bentuk angka rata-rata atau angka sesaat (instantaneous) sedangkan grafiknya dalam bentuk garis/kurva.

iklim adalah sintesis atau kesimpulan atau rata-rata perubahan unsur-unsur cuaca (hari demi hari dan bulan demi bulan) dalam jangka panjang di suatu tempat atau pada suatu wilayah.Sintesis tersebut dapat diartikan pula sebagai nilai statistik yang meliputi antara lain nilai rata-rata, maksimum, minimum, frekuensi kejadian, atau peluang kejadian dari cuaca. Iklim dapat pula diartikan sebagai pola kebiasaan serta perubahan cuaca di sutau tempat atau wilayah.

Mengingat iklim adalah sifat cuaca dalam jangka waktu panjang pada tempat tertentu atau daerah yang luas, maka data cuaca yang digunakan hendaklah mewakili keadaan atmosfer seluas mungkin di tempat atau wilayah yang bersangkutan. Demikian pula datanya haruslah murni dan terhindar dari gangguan lokal. Pada prinsipnya data iklim harus terbentuk dari data cuaca yang dapat mewakili (representative) secara benar keadaan atmosfer suatu tempat atau wilayah luas dan dalam jangka waktu sepanjang mungkin. Orgainsasi Meteorologi Sedunia (World Meteorological Organization, WMO) merekomendasikan jangka waktu minimum 30 tahun.

Iklim Viking (10)

Pada saat makan siang di rumah Poulsen yang putih dengan rangka rumah dari kayu, kami memecahkan misteri aksen Prancisnya: Agathe Devisme, pasangannya, adalah orang Prancis. Sambil menikmati makanan campuran yang dia persiapkan—udang dan lele au gratin, mattak atau kulit paus mentah, juga kue apel dengan rasa wortel liar—pikiranku melayang kepada makan malam yang lebih hambar beberapa malam yang lalu di Qaqortoq, pada sebuah gala tahunan yang dihadiri oleh hampir semua keluarga petani di Pantai Pisang. Setelah makan malam, seorang lelaki Inuit berambut putih mulai memainkan akordion dan semua orang di dalam aula, sekitar 450 orang, bergandengan tangan, mengayun bersama-sama saat mereka menyanyikan lagu syukur tradisional Greenland: Musim panas, musim panas, betapa indahnya Sungguh luar biasa baiknya. Es telah mencair, Es telah mencair... Meninggalkan keluarga Poulsen, Hoegh dan aku kembali menyusuri fjord dengan fon – angin di atas lempengan es – berhembus di buritan kami. Hoegh cukup merasa puas, ujarnya sebelum ini, bila pertanian Greenland mencapai titik di mana mereka bisa menumbuhkan sebagian besar pakan ternaknya sendiri untuk domba dan sapi di musim dingin; sebagian besar pertanian, yang tidak mampu memberi makan penduduknya sendiri, kini mengimpor lebih dari setengah pakan ternaknya dari Eropa. Malam itu di rumah Hoegh, kami berdiri menatap kebunnya dari balik jendela. Fon berhembus semakin galak. Hujan menyapu datar, merebahkan kelembak dan lobak cinanya; pepohonan merunduk bagaikan pemuja di hadapan dewa kuno yang keras kepala. ”Sial!” Ujar Hoegh perlahan. ”Cuacanya sangat keras di sini. Akan selalu keras.”

Iklim Viking (9)

Pada pagi hari bulan Juli yang indah, aku dan Hoegh melaju dengan kecepatan 25 knot di fjord yang ditempati Erik the Red 1.000 tahun lalu. Tujuan kami adalah Ipiutaq, populasinya tiga orang. Kalista Poulsen menunggu kami di sana, di atas gundukan batu di bawah pertaniannya di pantai utara dari fjord tersebut. Bahkan dengan menggunakan pakaian terusan abu-abu yang kumal, Poulsen lebih terlihat seperti ilmuwan daripada petani: Tubuhnya ramping, mengenakan kaca-mata, dan berbicara dalam bahasa Inggris dengan aksen yang Perancis. Buyutnya adalah seorang angakkoq—dukun—salah satu yang terakhir di Greenland yang telah membunuh banyak orang dalam sejumlah pertikaian sebelum akhirnya masuk ke dalam Kristen setelah mendapatkan visi Yesus. Kami berjalan melintasi ladang rumput timothy (Phleum pratense) dan gandum hitam (Lolium perenne) milik Poulsen yang subur. Dibandingkan dengan tebing fjord yang kelabu, tanaman untuk pakan ternak tersebut hampir terlihat berkilauan. Di bulan September, Poulsen akan membeli dombanya yang pertama, ternak yang dikembangbiakkan oleh hampir semua peternak Greenland, kebanyakan untuk diambil dagingnya. Dia membeli pertanian itu di tahun 2005, saat dunia luar pertama kali mendengar Greenland yang lebih hangat dan jinak. Dari sudut pandang Poulsen, janji itu sepertinya sangat jauh dari kenyataan. ”Ini adalah daerah peperanganku,” ujarnya saat kami berjalan susah payah melewati lahan berlumpur penuh batuan besar yang dia bersihkan untuk dijadikan lahan pertanian dengan sebuah backhoe dan traktor bajak yang besar, yang didatangkan dengan sebuah pesawat terbang militer tua. Saat aku bertanya kepada Poulsen apakah dia menganggap pemanasan global bakal membuat kehidupannya atau anaknya lebih mudah, ekspresinya berubah getir. Dia menatapku penuh arti saat menyalakan sebatang rokok, yang perlahan-lahan mengusir kerumunan nyamuk. ”Tahun lalu kami hampir mengalami bencana,” ujarnya. ”Cuaca sedemikian kering sehingga panen hanya setengah dari biasanya. Kurasa kami tidak bisa mengandalkan cuaca akan terus normal. Jika cuaca semakin hangat, kami harus menyiram lebih banyak, berinvestasi dalam sistem irigasi. Di musim dingin kami tidak mendapatkan hujan salju yang normal; turun hujan lalu membeku. Itu tidak baik untuk rerumputan. Semua lahanku akan hancur dalam cuaca dingin.”

Iklim Viking (8)

”Kami memerlukan ekonomi yang lebih kuat,” ujar Kleist, ”dan kami harus menggunakan kesempatan yang dibawa minyak kepada bangsa ini. Ahli lingkungan hidup di seluruh dunia menyarankan agar kami tidak mengeksploitasi cadangan minyak. Namun kami tidak berada di dalam situasi di mana kami bisa dengan mudahnya mengganti sumber pendapatan dari perikanan yang terus turun sementara saat ini kami tidak memiliki sumber pendapatan lainnya yang sebesar minyak.” Sesungguhnya ada sumber daya lain dengan potensi yang sangat besar, tetapi sama mengkhawatirkannya. Greenland Minerals and Energy Ltd., sebuah perusahaan Australia, telah menemukan persediaan logam langka yang terbesar di dunia di dataran di atas kota Narsaq, Greenland selatan. Barang tambang langka itu sangat dibutuhkan dalam sejumlah besar teknologi ramah lingkungan—aki untuk mobil hibrid, turbin angin, dan bohlam lampu fluorescent yang padat—dan Cina kini mengendalikan lebih dari 95% dari pasokan dunia akan logam tersebut. Pengembangan cadangan di Narsaq pasti akan mengubah pasar global secara fundamental dan mentransformasi ekonomi Greenland. John Mair, manajer umum Greenland Minerals and Energy mengatakan bahwa cadangan Narsaq bisa menopang operasi tambang skala besar selama lebih dari 50 tahun, mempekerjakan ratusan orang di kota yang telah terguncang akibat runtuhnya industri ikan kod. Perusahaannya kini sedang mempekerjakan lusinan pegawai yang sedang menelaah lokasi tersebut. Namun ada rintangan besar dalam mengembangkan industri tersebut: bijih logam tersebut ternyata dilapisi uranium dan pemerintah Greenland telah melarang sepenuhnya penambangan uranium. ”Kami belum mengubah peraturan itu dan tidak berencana untuk mengubahnya,” ujar Kleist. Sepertinya tidak ada jalan yang mudah untk mewujudkan Greenland yang lebih hijau. Secara bergurau, penduduk Greenland menyebut daerah di sekeliling Narsaq dan Qaqortoq dengan Sineriak Nanaaneqarfik atau Pantai Pisang. Hari ini anak-cucu pemburu Inuit membuka lahan di tempat itu, di sepanjang fjords yang digunakan bangsa Viking untuk bercocok tanam. Jika Greenland ingin menjadi hijau di mana-mana, inilah tempatnya. Namun begitu tiba di tempat itu, Kenneth Hoegh si ahli agronomi memperingatkan diriku untuk melupakan apa yang aku baca tentang melimpahnya lahan pertanian di Greenland. ”Panen di Kutub Utara,” begitu tertulis di salah satu tajuk berita; ”Di Greenland, Kentang Tumbuh Subur,” tulis tajuk lainnya. Kentang memang tumbuh di Greenland sekarang ini. Namun belum terlalu banyak.

Iklim Viking (7)

Pondasi ekonomi Greenland di masa depan berada di balik Pulau Disko, tepat di belakang cakrawala dari lahan pemancingan Mathaeussen yang spektakuler. Di sana ada cadangan minyak. Lautan di lepas pantai bagian barat-tengah kini biasanya terbebas dari es hampir setengah tahun lamanya, satu bulan lebih lama dibandingkan 25 tahun yang lalu. Dengan kemudahan beroperasi di perairan Greenland, ExxonMobil, Chevron, dan perusahaan minyak lainnya telah mendapatkan surat izin eksplorasi. Cairn Energy, sebuah perusahaan dari Skotlandia, berencana untuk mengebor sumur eksplorasinya yang pertama pada tahun ini. ”Kami telah menerbitkan 13 surat izin meliputi daerah seluas 130.000 kilometer persegi di lepas pantai barat, sekitar tiga kali luas Denmark,” ujar Jorn Skov Nielsen, direktur Biro Pertambangan dan Perminyakan Greenland. Kami menghadiri konvensi perdagangan yang sedang tumbuh pesat di pusat konferensi di Nuuk pada sore hari Sabtu yang dibasuh hujan. Hembusan bau minyak dari contoh batu – bongkahan basal berukuran dan berbentuk setengah bola boling – dipamerkan di atas meja di dekat kami. ”Produksi mungkin akan dimulai dalam 10 tahun kalau kami beruntung,” ujar Nielsen. ”Kami telah mendapatkan perkiraan cadangan yang sangat menjanjikan di sebelah barat laut dan timur laut Greenland—sekitar 50 milyar barel minyak dan gas.” Dengan harga minyak yang kini melewati 80 dolar AS per barel, cadangan itu bisa menghasilkan pendapatan lebih dari empat trilyun dolar, rezeki nomplok yang bisa menopang kebebasan negara tersebut. Namun, sebagian penduduk Greenland melihat hal tersebut sebagai kemudharatan yang tertunda. Sofie Petersen adalah pendeta Gereja Luther yang kantornya—salah satu rumah kayu tua yang amsih tersisa di Nuuk—menghadap ke pelabuhan. Tepat di puncak bukit berdiri patung Hans Egede, seorang misionaris Luther romantis yang datang ke tempat ini di tahun 1721 mencari orang yang selamat dari pemukiman Norse. Dia tidak menemukan orang Norse satu pun juga tetapi mendirikan Nuuk, atau Godthab, begitulah sebutan orang Denmark, dan memulai kolonisasi Denmark atas Greenland dan konversi ke agama Kristen. Seperti hampir semua warga Greenland, Petersen memiliki nama keluarga Denmark meski dia sesungguhnya suku Inuit. ”Kurasa minyak akan merusak cara hidup kami,” ujarnya. ”Tentu saja semua orang perlu uang, tetapi apakah kita harus menjual jiwa kita? Apa yang terjadi bila kami menjadi jutawan, kami semua, dan kami tidak bisa menceritakan tentang Greenland yang kami kenal kepada anak cucu kami? Aku lebih memilih tidak punya banyak uang namun bisa memberikan lahan ini kepada anak cucu kami.” ”Persoalan minyak menimbulkan dilema besar karena masyarakat Kutub Utara adalah orang-orang yang paling terkena dampak perubahan iklim,” ujar Kuupik Kleist, perdana menteri Greenland yang baru dan populer. Kleist yang telah membuat rekaman beberapa CD adalah seorang lelaki dengan penampilan bak seorang profesor, bertubuh lebar, berusia 52 tahun dengan suara seraknya yang nyaring lagi merdu. Ironi bahwa negaranya akan menjadi produsen utama komoditas yang mempercepat melelehnya lembaran es tidak terabaikan dari perhatiannya.

Iklim Viking (6)

”Kehidupan tradisional Greenland mengandalkan kestabilan,” ujar Rysgaard. Selain dari Greenland selatan yang selalu disapu badai Atlantik, iklim negara itu, walaupun cukup dingin, jarang berubah drastis. Lapisan es raksasa dengan udara dingin yang padat memaksakan kestabilan di hampir seluruh penjuru negara. ”Di musim dingin kami bisa berburu atau memancing menggunakan kereta anjing di lautan es. Di musim panas kami bisa berburu menggunakan kayak. Apa yang terjadi sekarang adalah ketidaksabilan, kondisi yang khas Greenland selatan tengah bergerak ke utara.” Johannes Mathaeussen, nelayan ikan pecak suku Inuit yang berusia 47 tahun telah melihat perubahan itu dengan mata kepala sendiri. Mathaeussen tinggal di Ilulissat (bahasa Greenland untuk ”gunung es”), sebuah kota yang terletak sekitar 300 kilometer di utara lintang Arktika dengan penduduk 4.500 jiwa dan jumlah kereta anjing yang hampir sebanyak penduduknya. Pada suatu hari di akhir Juni, kami berlayar dari pelabuhan Ilulissat, melewati sebuah kapal pukat-udang yang besar. Kami menggunakan perahu terbuka Mathaeussen yang panjangnya 4,5 meter, sebuah perahu khas nelayan ikan pecak di daerah itu. Pemancingan di musim panas masih menghasilkan cukup banyak ikan, tetapi musim dingin mulai jadi masalah. ”Dua puluh tahun lalu, di musim dingin, kami masih bisa mengemudikan mobil di atas es menuju Pulau Disko,” ujar Mathaeussen, menunjuk ke sebuah pulau besar sekitar 15 kilometer dari bibir pantai. ”Selama 10 dari 12 tahun terakhir ini, teluk itu tidak pernah membeku lagi di musim dingin.” Sewaktu teluk masih membeku, Mathaeussen dan nelayan lainnya akan mengendarai kereta anjingnya lalu pergi memancing sekitar 15 kilometer dari fjord. ”Aku akan menghabiskan satu hari satu malam dan kembali dengan 100 atau 250 kilogram ikan pecak di keretaku. Kini memancing pada musim dingin di fjord sangat berbahaya bila kita membawa beban berat; esnya terlalu tipis.” Mathaeussen mengarahkan perahunya melewati ngarai es yang sudah runtuh, yang perlahan-lahan hanyut ke tengah laut. Gunung es terbesar menjulang 60 meter di hadapan kami dengan bagian bawahnya menyentuh dasar lautan sekitar 180 meter di bawah permukaan laut. Tiap gunung es memiliki topografinya sendiri yang berbentuk bukit, tebing, gua dan sungai putih mulus yang terbentuk oleh arus lelehan es. Semua gundukan es ini berasal dari Jakobshavn Isbrae, alias Sermeq Kujalleq, ’gletser selatan’, yang menguras 7 persen lembaran es Greenland dan melepaskan lebih banyak gunung es dibandingkan gletser lainnya di Belahan Utara Planet ini. (gunung es yang menenggelamkan Titanic mungkin berasal dari tempat ini). Pada 10 tahun terakhir, garis pantai Sermeq Kujalleq telah menyurut lebih dari 15 kilometer ke dalam fjord. Pantai itu telah menjadi pusat wisata yang terbesar di Greenland terbesar--19,375 orang datang untuk melihat dampak pemanasan global di tempat tersebut pada 2008. Namun turisme tetap menjadi sumber pendapatan kedua setelah perikanan; karena musimnya pendek, akomodasi terbatas, dan biaya perjalanan mahal.

Iklim Viking (5)

Pada pukul 7:30 orang-orang penuh berkumpul di atas dok. Banyak juga yang berada di atas atap-atap rumah kayu tua di sekeliling pelabuhan; beberapa menonton dari perahu kayak, mendayung cukup dekat untuk mengambang di atas lautan yang tenang dan berkilauan itu. Upacara dimulai dengan paduan suara menyanyikan lagu kebangsaan Greenland, ”Nunarput Utoqqarsuanngoravit—Engkau, Tanah Pusaka Kami.” Rosing menghadap khalayak dan memberi tanda lewat gerakan tubuh agar semua orang ikut bernyanyi. Hari itu, Kalaallisut, sebuah dialek Inuit, menjadi bahasa resmi Greenland, menggantikan bahasa Denmark. Kemudian, tak lama selewat pukul delapan pagi, ratu Denmark yang mengenakan pakaian tradisional Inuit untuk perempuan yang sudah menikah—sepatu merah setinggi betis dari kulit anjing laut atau kamiks, syal bermanik-manik, dan celana bulu anjing laut—memberikan piagam kedaulatan yang baru kepada Josef Tuusi Motzfeldt, ketua Parlemen Greenland. Para hadirin bersorak-sorai dan tembakan meriam di atas bukit membahana di atas pelabuhan mengirimkan gelombang udara yang menyapu tubuh kami bagaikan semburan adrenalin. Berdasarkan piagam itu, Denmark masih menangani kebijakan luar negeri Greenland; subsidi tahunan pun masih dilanjutkan. Namun Greenland kini memiliki kendali yang lebih besar untuk masalah dalam negerinya—dan khususnya atas sumber daya mineralnya yang besar. Tanpa sumber daya itu, tidak mungkin Greenland bisa mandiri secara ekonomi. Kini perikanan meliputi lebih dari 80 persen pendapatan ekspor Greenland; udang dan ikan pecak menjadi komoditi utama. Walaupun persediaan ikan pecak masih cukup besar, tetapi populasi udang telah menurun. Royal Greenland, perusahaan perikanan pelat merah kini terus menerus merugi. Penyebab turunnya populasi udang—di Greenland disebut sebagai ”emas merah muda”—tidaklah begitu jelas. Soren Rysgaard, direktur Pusat Penelitian Iklim Greenland di Nuuk, mengatakan iklim Greenland menjadi semakin tidak menentu disamping menjadi lebih hangat. Suhu laut yang semakin meningkat mungkin telah mengganggu jadwal bertelurnya larva udang dan tumbuhnya fitoplankton yang menjadi makanan utama larva tersebut; tidak ada yang mengetahui dengan persis. Para nelayan berharap ikan kod akan kembali begitu air laut menghangat. Namun setelah peningkatan kecil beberapa tahun lalu, populasi kod menurun kembali.