Tampilkan postingan dengan label IPS SD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPS SD. Tampilkan semua postingan

Temuan Fosil Tunjukkan Spesies Baru Manusia Prasejarah


Fosil tersebut setidaknya kombinasi dari tiga spesies: Homo rudolfensis, Homo habilis, Homo erectus.

manusia purbaBettmann/CORBIS
Penemuan fosil tengkorak KNM-ER 1802 baru-baru ini mengarah pada kesimpulan menarik sekaligus mengejutkan. Didapati bahwa struktur rahang fosil tersebut setidaknya kombinasi dari tiga spesies: Homo rudolfensis, Homo habilis, Homo erectus.
Selain itu beberapa fitur wajah seperti gigi dan tulang pipi, mempertegas keterkaitan fosil itu dengan beberapa spesies berbeda manusia jenis Homo yang hidup di daratan Afrika dalam rentang periode antara 1,7-2,5 juta tahun lalu.
Fosil yang dikenal sebagai Homo rudolfensis (kode KNM-ER 1470) berasal dari area gurun di bagian utara Kenya bernama Koobi Fora, dan diidentifikasi pertama kalinya di tahun 1972.
Menurut peneliti Meave Leakey dan rekan-rekannya, Homo rudolfensis juga sangat berbeda dibandingkan dengan fosil-fosil lain di waktu itu, dengan otak yang relatif besar dan wajah datar panjang. Selama empat dekade, tengkorak tersebut merupakan satu-satunya spesimen yang belum terkategorikan.
Serangkaian perdebatan mengenai evolusi manusia awal timbul seiring penelitian ini mencuat. Contohnya dari Tim White, ahli paleontologi di University of California Berkeley, yang sangat mempertanyakan dan menentang kesimpulan Leakey.
Namun Leakey membantah dengan mengatakan, "Saya tantang Tim (White) untuk mencari jika ada spesies primata lain yang memiliki kemiripan untuk sejumlah variasi hebat pada individu ini."
"Pemahaman tentang keragaman spesies Homo yang ada, akan membantu kita untuk menentukan apakah sejarah dari garis silsilah manusia modern Homo sapiens bentukan dari persaingan sengit antara beberapa hominin, atau merupakan suatu suksesi yang bergerak dari spesies yang satu ke spesies lainnya," imbuhnya.
(Gloria Samantha. Sumber: Nature, Huffington Post)

Mengajarkan Anak Cara Belajar, Bukan Menyuruh Anak Belajar

Sudah menjadi hal yang lazim apabila mendekati ujian sekolah baik UTS, UAS dan UKK banyak orang tua yang senewen, bahkan anak-anaknya pun kadang banyak yang stress hingga jatuh sakit (mendadak) yang akhirnya sang anak malah tidak ikut ujian karena tidak bisa hadir.

Menilik dari kejadian-kejadian tersebut, ternyata sekarang ini banyak orang tua yang berorientasi pada hasil, bukan pada proses. Walaupun banyak yang memperhatikan proses belajar, namun kadang-kadang proses tersebut adalah sesuatu yang ‘dipaksakan’.


Anak-anak kita adalah bersih, suci, kosong ketika lahir. Kitalah yang membentuk mereka. Kitalah yang memprosesnya agar berhasil. Ketika mereka belajar di sekolah, mereka mengikuti apa yang diajarkan oleh bapak ibu guru di kelas. Lalu bagaimana ketika mereka pulang sekolah? Apakah mereka tahu cara mengulang atau mengevaluasi pelajaran-pelajaran tadi? Tentu tidak, atau susah bukan?
Nah, sebaiknyalah, kita sebagai orang tua mengajarkan kepada anak kita BAGAIMANA CARA BELAJAR YANG EFEKTIF sejak pertama kali mereka masuk sekolah dasar, agar kedepannya nanti, belajar adalah sesuatu hal yang mudah, menyenangkan dan bukan beban.

Lalu apa saja yang harus diperhatikan ketika membimbing anak-anak belajar?

1. Logis

Bahwa apapun yang anak-anak pelajari itu harus bisa dicerna secara logis (masuk akal) oleh mereka. Apakah itu matematika, IPS, IPA, Kewarganegaraan atau lain-lain. Jangan mengharapkan mereka untuk menghafal apabila mereka belum mengerti logika apa yang mereka hapalkan. Itu hanya akan membebani otak mereka. Teruslah berusaha menjelaskan kepada mereka logika pelajaran yang sedang mereka pelajari itu. Gunakanlah bahasa anak-anak yang mudah dicerna. Ingatlah, apabila mereka belum mendapat logika dari suatu pelajaran, sudah dapat dipastikan, berulang kali belajarpun tetap akan sulit bagi mereka.

2. Skematik

Buku pelajaran saat ini tebal-tebal, kadang-kadang hal ini membuat saya merinding. Mungkinkah anak saya berjam-jam hanya untuk menghapal 5 topik saja? Konyol sekali rasanya. 

Lalu bagaimana solusinya? Mudah, pelajarilah MIND MAPPING. Untuk yang belum tahu apa itu mind mapping, coba cari bukunya di Gramedia atau silakan browsing di internet. 
Intinya, mind mapping ini adalah suatu cara untuk mengajarkan anak-anak membuat konklusi atas apa yang mereka pelajari secara sistematik dalam bentuk peta bergambar seperti jaringan otak. 

Setiap topik bahasan akan digambarkan kedalam beberapa cabang secara sistematik. Persis seperti neuron (inti otak) dan sinapsnya. Apa kelebihannya? Selesai belajar anak tidak akan perlu membuka-buka lagi buku diktatnya, tetapi cukup melihatnya dalam semenit/dua menit. Tepat, akurat dan efektif!

3. Repetisi atau pengulangan

Orang-orang yang cerdas memanfaatkan otaknya untuk ‘melihat’ bukan ‘memperhatikan’. Sudah bukan menjadi rahasia umum, bahwa sesuatu yang diulang-ulang (dilihat) itu akan mudah diingat. Maka ini berarti, ajarkanlah anak-anak belajar setiap hari!. Percayalah, dengan bantuan mind map yang setiap hari dibuka sebelum pelajaran hari esok dimulai, maka saat ujian, anak dapat dikatakan tidak perlu belajar keras. Mereka cukup mengulang dan mengkajinya saja.



Bahkan, waktu saya kuliah, saya tempel mind map saya di samping tempat tidur!… tiap sebelum tidur saya lihat (baca: bukan saya hapal), dan subhanallah, gambaran pelajaran itu otomatis nempel di otak…. Itulah hebatnya otak kita…

4. Latihan

Apa-apa yang sudah dipelajari tidak akan terbukti apabila belum dicoba. Oleh karena itu rajin-rajinlah kita sebagai orang tua membekali mereka dengan bermacam-macam buku atau soal latihan. Biasakanlah mereka mengerjakan soal - soal latihan, agar ujian bagi mereka hanyalah suatu pengulangan




5. Terakhir yang sangat penting adalah, kompensasi

Bersikaplah rasional dalam membimbing anak belajar. JANGAN KAKU. Beri kelonggaran waktu bagi mereka, bagi waktu main, ibadah dan belajar secara seimbang. Apabila telah belajar, berilah reward dengan boleh mengerjakan apapun kesukaan mereka. Dengan begitu mereka dapat belajar tanggung jawab dan kita tidak melupakan jati diri mereka, bahwa mereka adalah ANAK-ANAK.


PUZZLE SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN INOVATIF MATA PELAJARAN IPS

    
Proses belajar mengajar IPS di sekolah umumnya dianggap tidak menarik, akibatnya banyak anak-anak sekolah yang kurang tertarik untuk mendalami mata pelajaran IPS. Selain itu memang ada anggapan bahwa mata pelajaran IPS tidak begitu penting sehingga siswa dalam proses belajar mengajar tidak begitu serius dalam mengikutinya. Beberapa indikator yang menunjukan bahwa mata pelajaran IPS tidak menarik atau penting adalah nilai-nilai pelajaran IPS tidak begitu tinggi, serta program Ilmu Sosial di SMA dianggap sebagai program nomor dua setelah Ilmu Alam. Oleh karena itu untuk mempercepat pemahaman serta menghindarkan pemahaman yang keliru diperlukan pendekatan-pendekatan dan media-media pembelajaran yang tepat, sesuai dengan tingkat kematangan kejiwaan peserta didik. Pendekatan yang dianjurkan dalam KTSP adalah pendekatan kontekstual termasuk dalam media pembelajarannya. Media pembelajaran tidak hanya mencakup media elektronik melainkan bisa berupa media sederhana yang bisa disiapkan oleh guru. Salah satu media pembelajaran yang bisa digunakan adalah media puzzle.   Media puzzle bersifat sederhana, mudah dibuat dan digunakan serta dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar IPS.

A. PENDAHULUAN
Konsep peningkatan mutu pendidikan merupakan titik pusat manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah. Konsep peningkatan mutu berbasis sekolah ini menekankan kemandirian dan kreativitas sekolah. Adapun peningkatan mutu ini tidak hanya dilihat dari hasil yang dicapai oleh siswa saja, tetapi dimulai dari proses pembelajarannya.

Menurut Umaedi (1999:10), proses dan hasil pendidikan itu saling berhubungan. Kita tidak dapat menghasilkan mutu pendidikan kalau tidak disertai dengan upaya peningkatan proses pembelajaran. Jadi, proses pembelajaran mendapat penekanan yang lebih besar daripada hasil pembelajaran.
Di Sekolah Dasar, pembelajaran IPS mencakup tiga mata pelajaran, yaitu geografi, sejarah, dan ekonomi. Khusus pada mata pelajaran Geografi banyak sekali menyajikan peta, yang semuanya itu harus dikuasai oleh para murid. Guru yang mengajar selama ini sering menyuruh murid untuk menghafal nama-nama negara yang terdapat di dalam peta dan menemutunjukkan letak negara di dalam peta. Namun, kegiatan ini tidak membuahkan hasil yang efektif. Sebagian para siswa masih banyak yang kurang mengingat dan tidak bisa menemutunjukkan keberadaan negara di dalam peta, sehingga pembelajaran IPS selama ini masih menemukan kendala. Untuk itulah, penulis merasa perlu mencari alternatif lain guna mengefektifkan pembelajaran IPS, khususnya pada pokok bahasan Memahami Peta Benua Afrika di kelas VI, yaitu dengan permainan jigsaw puzzle.
Guru adalah orang yang bertanggung jawab secara langsung dalam menciptakan pembelajaran efektif dan diharuskan pula meningkatkan prestasi belajar murid. Implementasi dari hal ini dilaksanakan dalam proses pembelajaran sehari-hari di kelas melalui berbagai kegiatan.
Munandar (1999:115) berpendapat bahwa “lingkungan sekolah berperanan dalam mengembangkan kreativitas anak.” Hal ini dapat dilakukan apabila guru juga kreatif untuk mengembangkan kegiatan belajar. Salah satu kegiatan belajar yang bisa memupuk kreativitas murid adalah dengan mengadakan permainan, antara lain: jigsaw puzzle.
Jigsaw puzzle adalah jenis permainan teki-teki menyusun potongan-potongan gambar. Caranya sederhana sekali, siswa dihadapkan peta buta (benua Afrika), kemudian mereka diberi potongan-potongan negara yang akan ditempatkan di dalam peta. Potongan negara-negara ini disesuaikan dengan mal yang telah disediakan sehingga membentuk sebuah peta benua Afrika. Jenis permainan ini umumnya sangat disukai oleh anak-anak, selain dapat menyenangkan murid, jenis permainan ini mengajak mereka untuk berpikir kreatif.
Pemilihan jenis permainan di atas mengingat usia murid SD termasuk dalam masa kanak-kanak berlangsung antara usia 6 sampai 12 tahun, di mana pada masa ini anak-anak cenderung suka bermain dan mulai mengenal lingkungan yang lebih luas misalnya sekolah, lingkungan tempat tinggal, dan mulai mengenal permainan yang begitu banyak model dan ragamnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Santoso (2002:46), “anak perlu diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk bermain bersama-sama teman-temannya agar anak terampil, sehat, dapat mengembangkan imajinasi atau khayalan, melatih berpikir anak bahkan berbicara.”
Dari paparan di atas, penulis akan menjelaskan secara detail (rinci) mengenai pelaksanaan kegiatan dengan permainan jigsaw puzzle dalam memahami peta benua Afrika, berikut dengan persiapan dan hasil yang telah diperoleh di lapangan.

B. PELAKSANAAN KEGIATAN
1. Persiapan
Persiapan yang perlu dilakukan sebelum pembelajaran dimulai, antara lain sebagai berikut:
  • Guru mempersiapkan peta buta Benua Afrika di atas kertas kartun tebal (kartun padi) berukuran 21 cm x 30 cm (kerta A4), seperti pada gambar berikut ini.
eropa-2
  • Guru menggunting potongan negara-negara berikut nama-nama negaranya yang terdapat di dalam peta Benua Afrika sesuai dengan batas-batas (letaknya).
  • Guru membuat lima potongan Benua Afrika, yaitu: Afrika Utara, Afrika Selatan, Afrika Barat, Afrika Timur, dan Afrika Tengah di kertas kartun yang berukuran 40 cm x 60 cm.
2. Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan dilakukan dalam bentuk siklus spriral, artinya diawali dengan menyajikan peta buta dan kembali lagi seperti pada awal kegiatan. Tahap-tahap kegiatan dapat dilakukan sebagai berikut:
Tahap I:
  • Siswa diberi peta buta Benua Afrika berikut potongan negara-negara secara berkelompok.
  • Anggota setiap kelompok maksimal 7 orang dan minimal 5 orang.
  • Siswa disuruh memasangkan potongan negara-negara sesuai dengan mal yang telah disediakan.
  • Waktu yang disediakan kurang lebih 20 menit.
  • Siswa berhenti mengerjakan kegiatan ini jika waktu yang telah disediakan berakhir.
  • Guru memeriksa hasil pekerjaan siswa, bagi siswa yang sudah benar menyusunnya diberi nilai, dan bagi yang belum selesai diberi bimbingan untuk menyelesaikannya.
Tahap II:
  • Guru menempelkan mal benua Afrika di papan tulis.
  • Siswa menempelkan lima potongan Benua Afrika secara bergiliran.
  • Siswa menyebutkan negara-negara dari kelima Benua Afrika.
  • Guru menilai hasil pekerjaan siswa.
  • Waktu pelaksanaan kurang lebih 20 Menit.
Tahap III:
  • Guru menempelkan peta buta Benua Afrika di papan tulis.
  • Siswa menemutunjukkan negara-negara yang terdapat di dalam peta buta secara bergiliran.
  • Kegiatan ini berlangsung selama 20 menit.
3. Penutup Kegiatan
Kegiatan ini ditutup dengan kegiatan evaluasi. Pada kegiatan ini siswa kembali lagi diberikan peta buta secara individual, kemudian masing-masing siswa menuliskan nama-nama negara yang terdapat di dalam peta buta tersebut. Waktu kegiatan dilakukan kurang lebih 15 menit.
Hasil pekerjaan siswa akan dinilai. Siswa yang telah benar menuliskan nama-nama negara sebanyak 65% maka dinyatakan berhasil. Jika siswa menjawab kurang dari 65% maka mereka harus diberi remedial, yaitu dengan memberikan tugas pekerjaan rumah.

C. HASIL KEGIATAN
Dari hasil pelaksanaan penulis di lapangan, kegiatan ini banyak memberi manfaat sebagai beirkut:
  1. Umumnya siswa tertarik dengan kegiatan permainan ini.
  2. Suasana kelas tercipta dengan gairah.
  3. Di kelas terjadi interaksi antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru.
  4. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan daripada guru.
  5. Siswa kreatif dalam melakukan kegiatan.
  6. Siswa termotivasi untuk melakukan kegiatan.
  7. Siswa mampu bekerja sama dalam kelompoknya.
  8. Waktu yang digunakan lebih efektif dan efisien.
Selain manfaat di atas, pelaksanaan kegiatan ini mempunyai beberapa kendala sebagai berikut:
  • Biaya yang diperlukan untuk membuat alat peraga cukup besar.
  • Suasana kelas menjadi ramai (sedikit ribut).
C. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan
Dari beberapa paparan di atas dapat penulis simpulkan bahwa permainan jigsaw puzzle dapat mempermudahkan siswa untuk memahami dan menemutunjukkan nama-nama negara pada peta. Kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Selain itu, kegiatan ini dapat memacu kreatitivitas siswa, dan mengajak siswa berpikir dan aktif dalam proses pembelajaran.
2. Saran
Dari pelaksanaan uji coba di lapangan, kegiatan ini sangat memerlukan kreativitas guru dan dukungan dari kepala sekolah. Untuk itu, penulis menyarankan kiranya:
  • Guru-guru yang akan mengajar mata pelajaran IPS, khususnya dalam mengajarkan peta dunia kepada murid, dapat menerapkan permainan jigsaw puzzle ini kepada para murid.
  • Kepada kepala sekolah, hendaknya dapat memberikan sarana dan prasarana serta membantu biaya dalam menerapkan kegiatan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Garis-Garis Besar Program Pengajaran Mata Pelajaran IPS untuk Sekolah Dasar. Jakarta.
_______. 2002. Petunjuk Teknis Mata Pelajaran IPS untuk SD. Jakarta.
Munandar, Utami. 1999. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.
Santoso, Soegeng. 2002. Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Citra Pendidikan Indonesia.
Umaedi. 1999. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikdasmen.

Pembelajaran IPS SD





Model pembelajaran pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) bagi murid sekolah dasar hendaknya sesuai dengan kebutuhan anak usia sekolah dasar yaitu antara 6 - 12 tahun, dimana anak-anak pada usia ini bagaikan kertas putih yang akan di tulis tinta oleh para pengajarnya yang akan berguna bagi mereka untuk dapat diterapkan dalam kehidupan mereka namun mudah untuk dimengerti oleh mereka karena pola pikir mereka yang masih sederhana yang hanya memikirkan hal-hal pada saat ini saja dan belum memikirkan untuk masa yang akan datang sehingga perlu untuk diterapkan model pembelajaran atau teknik yang dapat memungkinkan mereka untuk memahami hal ini.

Peranan pengajaran IPS begitu unik karena harus mendidik dan mempersiapkan para murid agar dapat hidup di dunianya dan memahami dunianya dimana di perlukan kualitas personal dan kualitas sosial yang merupakan hal penting,menurut A.K. Ellis (1991), bahwa alasan diajarkannya mata pelajaran IPS di sekolah adalah sebagai berikut :

1. IPS memberikan tempat bagi siswa untuk belajar dan mempraktekkan demokrasi
2. IPS dirancang untuk membantu siswa memahami "dunianya"
3. IPS adalah sarana untuk mengembangkan diri siswa secara positif
4. IPS membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan mendasar tentang sejarah, geografi, dan ilmu-ilmu sosial lainnya
5. IPS meningkatkan kepekaan sosial siswa terhadap masalah-masalah sosial.




Berbagai cara dan teknik dikaji untuk memungkinkan konsep-konsep abstrak dapat dipahami murid, Bruner (1978) memberikan pemecahan berbentuk jembatan bailey untuk menkongkritkan yang abstrak itu dengan enactive, iconic, dan simbolic melalui percontohan dengan gerak tubuh ,gambar, bagan, grafik, gerak tubuh, peta, grafik, lambang, atau elaborasi dalam kata yang dapat dipahami murid. Oleh karena itu mata pelajaran IPS menjelaskan dari hal-hal yang kongkrit kepada hal yang abstrak dengan pola pendekatan lingkungan yang semakin meluas, memulai yang mudah ke yang sukar, dari sempit ke yang luas dan dari yang dekat ke yang jauh: Individu, Keluarga,Tetangga, RT/RW, Desa, Kelurahan, Kabuapten/Kota, Propinsi, Negara, Negara Tetangga, Dunia.

Anak bukanlah replika orang dewasa dalam format kecil yang dapat dimanipulasi sebagai tenaga buruh yang murah, melainkan anak adalah entitas yang unik dan memiliki berbagai potensi yang masih latent yang memerlukan proses dan sentuhan-sentuhan tertentu dalam pengembangannya. Mereka memulai dari egosentrisme dan berkembang dengan kesadaran akan ruang dan waktu yang semakin meluas dan mencoba serta berusaha melakukan aktivitas yang berbentuk intervensi dalam dunianya. Oleh karena itu pendidikan IPS adalah salah satu upaya yang akan membawa kesadaran ruang, waktu, dan lingkungan bagi anak (Farris and Cooper , 1994 : 46).

Ada sejumlah pengertian kurikulum menurut para ahli, namun pada umumnya kurikulum terkait dengan pengalaman yang harus dikuasai dan rencana serta target yang perlu di capai. Dalam standar kompetensi kelulusan dikemukakan bahwa kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SD dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi, dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta menanamkan kebiasaan berpikir dan berperilaku ilmiah yang kritis, kreatif, dan mandiri. Bahan kajian ilmu pengetahuan sosial, antara lain, ilmu bumi, sejarah, ekonomi, kesehatan, dan sebagainya dimaksudkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis peserta didik terhadap kondisi sosial masyarakat. Kurikulum di kembangkan berdasarkan atas :

1. berpusat dari potensi, perkembangan, kebutuhan, kepentingan murid dan lingkungannya
2. beragam dan terpadu
3. tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
4. relevan dengan kebutuhan kehidupan
5. menyeluruh dan berkesinambungan
6. belajar sepanjang hayat
7. seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
ruang lingkup pelajaran IPS meliputi aspek-aspek berikut :
1. Manusia, Tempat, dan Lingkungan
2. Waktu, Keberlanjutan, dan Perubahan
3. Sistem Sosial dan Budaya
4. Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan

Setiap kegiatan pembelajaran memerlukan persiapan yang berbeda-beda, tidak ada satu persiapan yang bisa digunakan untuk segala situasi, setiap topik dan setiap kompetensi yang akan di capai memerlukan persiapan yang berbeda-beda. Perencanaan pengajaran IPS diartikan sebagai proses penyusunan materi pelajaran, penggunaan media, penggunaan pendekatan dan metode, dan penilaian pengajaran IPS dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Perencanaan pembelajaran bisa dibuat dalam bentuk Unit pelajaran atau satuan pelajaran. Model satuan pelajaran adalah bagian dari persiapan pembelajaran dalam unit yang terkecil. Rencana pembelajaran mengandung tiga komponen yaitu :
(1) Tujuan pengajaran,
(2) materi pelajaran/bahan ajar, pendekatan dan metode mengajar, media pengajaran dan pengalaman mengajar; dan
(3) evaluasi keberhasilan. Tidak ada format baku dalam penyusunan persiapan mengajar. Oleh karena itu guru diharapkan dapat mengembangkan format-format baru. Sesuai dengan tahapan pegembangan anak, karakteristik cara anak belajar, konsep belajar dan pembelajaran bermakna, maka kegiatan pembelajaran bagi anak kelas awal SD sebaiknya dilakukan denagn pembelajaran tematik.
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajari.
Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang ,mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahami.

Untuk melatih tingkat kognitif yang levelnya lebih tinggi dapat digunakan pembelajaran dengan inquiry. Pembelajaran dengan inquiry adalah pengajaran yang membantu siswa untuk menguji pertanyaan-pertanyaan, issu-issu, atau masalah yang dihadapi siswa sekaligus menjadi perhatian guru. Pembelajaran cooperative learning merupakan model pembelajaran dimana secara teknik menggunakan asas kerjasama dalam sebuah kelompok belajar. Teknik pembelajaran ini diterapkan dalam kelas diman siswa dalam satu kelas di bagi dalam kelompok kecil 4 - 6 orang atau lebih saling berpasangan untuk bertukar pendapat serta saling membantu satu sama lain dalam rangka mencapai kompetensi yang telah ditentukan.

Media pembelajaran adalah sarana yang membantu para pengajar. Pengajar juga perlu sadar bahwa tidak semua anak senang dengan peragaan media. Jenis media yang bisa dikembangkan dalam pembelajaran materi IPS diantaranya :

1. Hal-hal yang bersifat visual, seperti bagan, matrik, gambar, flip chart, flanel, data dll
2. Suara (audio) baik suara guru ataupun suara kaset
3. Suara yang disertai visualisasi (audio-visual) seperti tayangan televisi, film, video, dsb
4. Hal-hal yang bersifat materil, seperti model-model, benda contoh dll
5. Gerak, sikap, dan perilaku seperti simulasi, bermain peran dll
6. Barang cetakan seperti buku, surat kabar, majalah, jurnal, dan brosur.
7. Peristiwa atau cerita kasus yang mengandung dilema moral.


contoh permainan interaktif untuk siswa SD bisa dibuka di situs http://www.duniabelajar.com

AKTUALISASI INSAN ADIRAGA

kartun

Definisi

Yang dimaksud dengan insan Indonesia cerdas adalah insan yang cerdas secara komprehensif yang meliputi spiritual,cerdas emosional,cerdas intelektual dan cerdas kinestesis. Sedangkan aktualisasi insan adiraga adalah,beraktualisasi diri melalui olah raga untuk mewujudkan insan yang sehat, bugar, berdaya tahan, sigap, terampil dan trengginas.

·        Penerapan dalam pembelajaran

Pembelajaran merupakan upaya untuk membelajarkan siswa yang bisa direncanakan dan tidak direncanakan.Pembelajaran juga merupakan rekayasa terhadap murid untuk mengembangkan potensi siswa.Dalam hal ini, guru harus mampu menerapkan dan memilih setrategi pembelajaran yang sesuai.

Untuk mencetak generasi insane adiraga, maka di setiap lembaga pendidikan (PAUD,TK/RA,SD/MI,SMP/MTs,SMA/MA) mewajibkan adanya mata pelajaran jasmani, olah raga  kesehatan. Karena hal ini bertujuan untuk meningkatkan potensi fisik serta menanamkan sportivitas dan kesadaran akan hidup sehat. Agar bisa mewujudkan insan yang sehat bugar  maka di setiap lembaga pendidikan perlu menerapkan program senam kebugaran jasmani setiap pagi sebelum kegiatan  pembelajaran dimulai. Hal ini bertujuan untuk memberikan penyegaran, semangat beraktifitas belajar dan menjadikan insan yang sehat dan bugar.

·        Cara Evaluasi

Untuk mengevaluasi siswa dalam setiap aspek yaitu efektif, motorik dan pesikomotorik. Disediakan pula berbagai kegiatan untuk mengevaluasinya. Di antaranya penilaian pengetahuan , penilaian berpenampilan dan bersikap.

-       1.    Penilaian Pengetahuan

Berupa lembar soal yang berisi  pilihan ganda dan jawaban singkat atau esay yang bertujuan untuk mengukur pengetahuan peserta didik.

-         2.  Penilaian Keterampilan 

Penilaian aspek psikomotor di berikan dalam dua bentuk penilaian terhadap kesempurnaan/keterampilan sikap/cara melakukan suatu gerakan (penilaian proses) dan penilaian prestasi dari gerakan tersebut (Diambil banyaknya melakukan gerakan)

-          3. Penilaian Sikap

Penilaian aspek afektif (sikap) dilakukan dengan pengamatan selama mengikuti kegiatan pembelajaran dan di luar jam pembelajaran.

Aspek-aspek Yang dinilai meliputi :
  •       Disiplin
  •       Jujur
  •       Kerjasama
  •       Tanggung Jawab
  •       Sportivitas
  •       Mematuhi peraturan/ ketentuan yang berlaku
  •            Partisipasi dalam mengikuti pembelajaran pendidikan kesehatan jasmani

·        Tindak Lanjut

Pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, pendidikan jasmani kesehatan dan olah raga yang diajarkan di sekolah memiliki peranan yang sangat penting. Yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani kesehatan dan olah raga yang terpilih dilakukan secara sistematis. Pembekalan pengalaman belajar itu, diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan perkembangan psikis yang lebih baik sekaligus membentuk pola hidup sehat dan bugar sepanjang hayat. Melalui proses pembelajaran yang di lakukan diharapkan siswa terampil berolah raga.

Cerdas Emosional

Tugas :Ahmad Syaifuddin Hasan
I. Definisi
    Kata ”cerdas” menurut Goleman mengandung dua arti, pertama cerdas pikiran dan kedua cerdas emosional. Cerdas pikiran  dimaksudkan adalah pikiran pada suatu model pemahaman yang lazimnya kita sadari dengan karakter bijaksana, mampu bertindak hati-hati dan merefleksi. Sedangkan cerdas secara emosional dimaksudkan adalah pikiran emosional yang merupakan satu sistem pemahaman yang impulsif dan berpengaruh besar, terkadang tidak logis. Kedua pikiran tersebut, pikiran emosional dan pikiran rasional bekerja dalam keselarasan, saling melengkapi dalam mencapai pemahaman walaupun dengan cara-cara yang amat berbeda, dan berfungsi secara bersama mengarahkan kita menjalani kehidupan duniawi. Namun apabila kecerdasan emosi mengalahkan kecerdasan rasio, hal ini dapat mengakibatkan kita mempunyai kecenderungan tragis.

II. Penerapan Dalam Proses Pembelajaran
     Dalam menghadapi masalah emosional siswa yang cukup kompleks pada tiap jenjang pendidikan dari umur 7-9 tahun, memang tidaklah mudah bagi guru untuk secara optimal memberikan latihan-latihan dalam mengembangkan kecerdasan emosional siswa. Sehingga di sini perlunya perhatian  guru yang lebih luas terhadap kecerdasan emosional siswa dan kesadaran diri untuk meningkatkan ketrampilannya dalam melatih kecerdasan emosional siswa.
Dalam mengajar, sebaiknya guru menghilangkan sikap diskriminasi terhadap siswa tertentu, artinya guru tidak memihak salah satu murid tertentu atau sekelompok siswa putera. Hal yang demikian akan memunculkan sikap antagonisme dan kecemburuan  siswa terhadap siswa lawan jenisnya.
Dalam memberikan hukuman siswa dengan memberikan tugas yang berlipat-lipat, alangkah baiknya bila guru melihat kondisi  kejiwaan dan kemampuan berpikirnya. Hal ini bila diabaikan justru yang terjadi adalah siswa yang kurang mampu dalam berpikir akan membuatnya semakin takut dan enggan untuk sekolah. 
Sebaliknya bagi siswa yang berkemampuan lebih dalam berfikir, ia akan semakin semangat dan tertantang dalam belajar. Begitu pula dalam memberikan hukuman, sebaiknya guru memberikannya sebagai alternatif terakhir disertai dengan sikap empati. Artinya setelah guru memberikan hukuman pada siswa, guru bersikap seperti semula dan tidak membenci siswa setelah siswa melakukan kesalahan.Langkah guru dengan melakukan pendekatan secara individual atau pendampingan, merupakan langkah yang tepat dan adanya ketanggapan guru terhadap masalah perasaan siswa. Jadi, dalam belajar di sini adanya keseimbangan antara perasaan dan pikiran. Demikian pula kedekatan guru dengan siswa perlu dipertahankan selama tidak menggangu dalam proses belajar-mengajar. Sebab hubungan guru dan siswa yang akrab dan harmonis akan memunculkan semangat belajar dan siswa  akan lebih mencontoh segala perilaku gurunya sebagai orang terdekatnya. Untuk itulah perlunya guru agar lebih berhati-hati dalam bertindak dan berbicara, karena guru adalah tokoh panutan bagi siswa-siswanya sampai dewasa kelak.  Pemberian hukuman dengan jalan musyawarah bersama siswa di sekolah ini sangatlah tepat dan sebaiknya dijalankan terus, karena disamping untuk memilih jalan yang terbaik menurut kesepakatan bersama. Musyawarah juga melatih siswa untuk mengambil suatu keputusan yang diambil secara bersama dan tidak mementingkan kepentingannya sendiri. Jadi disini siswa dilatih untuk tidak bersikap egois.

III. Bagaimana cara mengevaluasi
      Penelitian tentang EQ dengan menggunakan instrumen BarOn EQ-i membagi EQ ke dalam lima skala: Skala intrapersonal: penghargaan diri, emosional kesadaran diri, ketegasan, kebebasan, aktualisasi diri; Skala interpersonal: empati, pertanggungjawaban sosial, hubungan interpersonal; Skala kemampuan penyesuaian diri: tes kenyataan, flexibilitas, pemecahan masalah; Skala manajemen stress: daya tahan stress, kontrol impuls (gerak hati); Skala suasana hati umum: optimisme, kebahagiaan (Stein dan Book, dalam Armansyah, 2002). Spiritual Quotient (SQ) adalah aspek konteks nilai sebagai suatu bagian dari proses berpikir/berkecerdasan dalam hidup yang bermakna Zohar dan Marshal, dalam Armansyah, 2002). Indikasi-indikasi kecerdasan spiritual ini dalam pandangan Danah Zohar dan Ian Marshal meliputi kemampuan untuk menghayati nilai dan makna-makna, memiliki kesadaran diri, fleksibel dan adaptif, cenderung untuk memandang sesuatu secara holistik, serta berkecenderungan untuk mencari jawaban-jawaban fundamental atas situasi-situasi hidupnya, dan lain-lain.

IV. Tindak Lanjut
       Konsep kecerdasan emosional anak menurut Perspektif guru  adalah bahwa dalam hal mendidik siswasiswinya, mereka lebih mementingkan aspek afektif siswa disamping aspek-aspek siswa lainnya, seperti aspek kognitif dan aspek psikomotorik. Perhatian guru 
terhadap aspek afektif siswa tersebut dituangkan kedalam bentuk kebijaksanaankebijaksanaan sekolah, seperti kegiatan intra sekolah atau kegiatan belajarmengajar dan  dalam kegiatan ekstra kokurikuler. Lebih khususnya lagi pada proses pembelajaran, seperti pada penerapan hukuman terhadap siswa yang melanggar peraturan sekolah ataupun siswa yang berbuat tidak sesuai dengan tata krama sosial dan berbuat asosial. Dalam memberikan hukuman guru lebih menggunakan dengan hukuman yang tidak menyentuh fisik siswa dengan pertimbangan kondisi kejiwaan siswa, sehingga  siswa dapat termotivasi dalam 
belajar dan berperilaku yang lebih baik.   Cara guru melatih kecerdasan emosional siswa disesuaikan dengan masalah emosional yang dihadapai, baik yang bersifat persuasif (insidental) maupun yang bersifat kuratif (klasikal). Adapun secara umum guru dalam menghadapi masalah emosinal siswa adalah dengan cara; menegur, mengancam, memberi hukuman, memberikan nasihat dan cerita, serta melakukan pendekatan secara individual (pendampingan). Disamping itu pula guru mengambil tindakan secara khusus terhadap kelas satu, seperti dalam menghadapi masalah kemandirian siswa dan juga masalah ketakutan dan kecemasan siswa dengan memberikan kebijakan khusus pada orang tua siswa, memberikan permainan dan mengelilingi lingkungan sekolah, dengan tujuan untuk menghilangkan rasa cemas serta takut pada siswa. Demikian pula dalam melatih kemandirian siswa, guru memberikan  secara khusus pada siswa dengan mengecek tingkat kemandirian siswa serta memberi petunjuk pada siswa tentang aktivitas-aktivitas yang harus dilakukan siswa.    

Pengertian IPS

1. Menurut Sumantri

            IPS merupakan suatu program pendidikan dan bukan sub-disiplin ilmu tersendiri, sehingga tidak akan ditemukan baik dalam nomenklatur filsafat ilmu, disiplin ilmu-ilmu sosial (social science), maupun ilmu pendidikan.

Penjelasan: Dalam hal ini, Sumantri berpendapat bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial itu sendiri merupakan kumpulan ilmu-ilmu sosial yang dipilih dan disesuaikan bagi penggunaan program pendidikan di sekolah atau kelompok belajar lainnya yang sederajat.

2.  2.  Menurut Mulyono Tj.
 IPS merupakan suatu pendekatan interdisipliner (Inter-disciplinary Approach) dari pelajaran Ilmu-ilmu Sosial. IPS merupakan integrasi dari berbagai cabang Ilmu-ilmu Sosial, seperti sosiologi, antropologi budaya, psikologi sosial, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik, dan sebagainya.

Penjelasan: Menurut Mulyono Tj., IPS merupakan cara pandang terhadap pelajaran ilmu-ilmu sosial dengan menggunakan lebih dari satu pendekatan seperti sosiologi, antropologi budaya, psikologi sosial, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik, dan sebagainya sehingga diperlukan penguasan pendekatan ilmu-ilmu tersebut dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan social.

3.  3. Social Science Education Council (SSEC) dan    National Council  for Social Studies (NCSS),
menyebut IPS sebagai “Social Science Education” dan “Social Studies”, seta mendefinisikan IPS, sebagai berikut:

Social studies is the integrated study of the science and humanities to promote civic competence. Whitin the school program, social studies provides coordinated, systematic study drawing upon such disciplines as anthropology, economics, geography, history, law, philosophy, political science, psychology, religion, and sociology, as well as appropriate content from the humanities, mathematics, and natural sciences. The primary purpose of social studies is to help young people develop the ability to make informed and reasoned decisions for the public good as citizen of a culturally diverse, democratic society in an interdependent world.

Dengan kata lain, IPS mengikuti cara pandang yang bersifat terpadu dari sejumlah mata pelajaran seperti geografi, ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, sejarah, antropologi, psikologi, sosiologi, dan sebagainya. Tujuan utama dari IPS adalah untuk membantu pemuda mengembangkan kemampuannya untuk membuat suatu keputusan beralasan dan dspst diinformasikan kepada masyarakat luas demi kepentingan publik sebagai warga Negara yang memiliki keberagaman budaya serta dalam kehidupan bermasyarakat di seluruh penjuru dunia.
Penjelasan: Pendapat yang dikemukakan oleh SSEC hampir sama dengan yang diungkapkan oleh Mulyono Tj. SSEC menambahkan mengenai tujuan IPS, yakni merupakan suatu pengetahuan yang dapat membantu kita untuk dapat berinteraksi dengan orang lain, dapat menyampaikan informasi, dapat membuat suatu keputusan dengan baik, dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang memiliki budaya yang beragam, serta dapat menjadi masyarakat yang bersikap demokratis terhadap kepentingan publik.

4.   4. Saidiharjo
 Menegaskan bahwa IPS merupakan hasil kombinasi atau hasil pemfusian atau perpaduan dari sejumlah mata pelajaran seperti: geografi, ekonomi, sejarah, sosiologi, antropologi, politik.

Penjelasan: Kalau Mulyono menekankan pada pendekatan untuk mengapikasikan IPS, Saidiharjo lebih menitikberatkan IPS menjadi semcam kajian atau kumpulan dari beberapa mata pelajaran yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan social.

5.5. Dr. Nursid Sumaatmadja,
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah suatu mata pelajaran yang kajiannya fokus pada seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial.

Penjelasan: Dengan kata lan, IPS ini merupakan suatu mata pelajaran yang bersumber dari kehidupan sosial di dunia sehingga mengajarkan kita agar lebih mengetahui mengenai kehidupan sosial apa yang telah terjadi, yang akan terjadi, maupun yang seharusnya terjadi.


Kesimpulan:

Berdasarkan pendapat yang telah dikemukakan oleh para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah suatu program pendidikan maupun kumpulan beberapa mata pelajaran yang terkait dengan kehidupan sosial yang berkumpul menjadi satu dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi budaya, psikologi sosial, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik, dan sebagainya dan dapat dikaji berdasarkan seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial.

HAKIKAT PENDIDIKAN IPS SD



Nama              : SHILVIA AYU RHOMANTIKA
Kelas               : Regular 2008
Pokjar             : Jenu

A. hakikat dan sejarah IPS
Seperti diketahui  IPS  lahir  di  Amerika pada tahun 1960  dengan nama social studies. Pada awal kelahirannya pengajaran IPS ini lebih banyak berpusat pada guru ( teacher centered) tetapi pada tahun 1970 lebih menekankan pada keterampilan proses  ( process skill ) dan berpusat pada siswa (CBSA).
Di Indonesia, pengorganisasian materi IPS di SD sangat berbeda dengan IPS  di  SMP, apalagi  di tingkat SMA. IPS di SD pengorganisasian materinya dipadukan (intregrated) dengan menganut pendekatan lingkungan yang semakin luas, sedangkan di tingkat SMP menganut pendekatan yang di pertautkan dan dipadukan, sedangkan IPS di tingkat SMA menggunakan pendekatan yang dipertautkan dan dipisahkan (separate) atau monodisipliner yakni mengajarkan konsep-konsep esensial dari masing-masing disiplin ilmu social secara terpisah.
IPS di sekolah dasar merupakan program pendidikan yang mengintegrasikan secara interdisipliner konsep-konsep ilmu social dan humoniora untuk tujuan pendidikan kewarganegaraan.
Itulah sebabnya hakikat pengajaran IPS adalah bagaimana mengajarkan konsep-konsep ilmu social, fakta social, generalisasi dan teori-teori social secara menarik, intregratif, komunikatif, kontekstual dan berpusat pada siswa.
B. Pengertian IPS
IPS adalah terjemahan dari social studies di dunia pendidikan dasadanmenengah di Amerika Serikat. Oleh sebab itu untuk memahami pengertian IPS perlu dikemukakan pengertian tentang social studies.
Edgar B. Wesley, menjelaskan pengertian social studies adalah “ those  portions or  aspects of social sciences  that  have  been  selected  and  adapted  for  use  in  the  school  or  in  other instructional sitiational”. Di katakan pula bahwa“ the  social  studies  are  the  social  sciences simplified  for paedagogical  purpose”, sedangkan Leonard S.Kenwothe mengatakan bahwa“ social studies the study of people carried on in other to help students understand themselves and other sin a varieties of societies indefferent place  and at different times as individual and group seek to meet theeedthrough  many institutions a those human  beings  search  for  satisfying  a personal  philosophy  and  the  good  society”.
Dan John Jarolimek memberikan definisi“the  social  studies  have  been  defined  as  those  partion  of the  social  sciences  selected  for  instructional  purpose”, di sebut juga bahwa ilmu-ilmu social (social science) yang mendukung social studies adalah“History, sociology,  political science , social psychology, philosophy, antropologi  and economic”(John Jarolimek, 1971).
C. Perbedaan IPS denganilmu-ilmu social
Menurut Jerome S. Bruner, struktur ilmu menyangkut saling berhubungan antara ide-ide dasar dari disiplin ilmu yang bersangkutan dan memiliki dua dimensi, yaitu (1) Dimensi Konsepsional, meliputi konsep-konsep tertentu, prinsip-prinsip, generalisasi, pengertian, dan ide-ide yang mendasari dari disiplin ilmu tersebut, (2) Dimensi metodologis ,meliputi pengorganisasian, metode penelitian, pendekatan yang ditentukan oleh disiplin ilmu yang bersangkutan.
Perbedaan IIS dengan IPS:

Perbedaan
IIS
IPS
Level
Diberikan  di perguruan tinggi / universitas
Diberikan di tingkat sekolah
Scope dan size
Jauhlebihluas
Sempit
Level of difficulty
Menyelidiki anekaragam human relationship yang seba kompleks dan sering kali berhubungan dengan hal yang abstrak dan data-data, konsep-konsep, generalisasi yang serba sulit
Konsep dan generalisasi perlu disederhanakan agar lebih mudah dipahami oleh murid-murid
Purpose
Menetapkan kebenaran ilmiah sebagai  focus tujuannya
Mengarah pada penampakan BASK (behavior, atitud, skills, dan knowledge)
Approach
Bersifat disipliner sesuai dengan kehidupan
Bersifatinterdisipliner
Kerangka kerja
Diarahkan pada pengembangan teori dan prinsip-prinsip ilmiah
Diarahkan pada arti praktisnya dalam mencari dalam mencari alternative pemecahan masalah dan menyusun pengembangan kehidupan ke taraf yang lebih tinggi

D. TujuanPendidikan IPS

Sedang kan tujuan mempelajari  IPS adalah membentuk dan mengembangkan pribadi warganegara yang baik (good citizens). Namun secara khusus, tujuanp pengajaran IPS dapat dikelompokkan menjadi  4 komponen : 
  1. memberikan kepada siswa pengetahuan (knowledge) tetang pengalaman manusia dalam kehidupan masyarakat pada masa lalu, masa sekarang, dan masa mendatang; 
  2. menolong siswa untuk mengembangkanketrampilan (skills) untukmencari, mengolah dan memproses informasi; 
  3. menolong siswa untuk mengembangkan nilai/sikap (value) demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat; 
  4. menyediakan kesempatan pada siswa untuk mengambil bagian atau berperan serta dalam kehidupan social  (social participation).

Menurut Martorella (1994), menyatakan bahwa warga Negara yang dihasilkan oleh pendidikan IPS akan memiliki sifat sebagai “ warga Negara yang reflektif”, mampu atau terampil, dan peduli “reflective, competent, and concerned citizen".


1. Karakteristik Pendidikan IPS di Sekolah Dasar

Untuk membahas karakteristik IPS, dapat dilihat dari berbagai pandangan. Berikut ini dikemukakan karakteristik IPS dilihat dari materi dan strategi penyampaiannya.

A. Materi IPS

Ada 5 macam sumber materi IPS antara lain:
· Segala sesuatu atau apa saja yang ada dan terjadi di sekitar anak sejak dari keluarga, sekolah, desa, kecamatan sampai lingkungan yang luas negara dan dunia dengan berbagai permasalahannya.
· Kegiatan manusia misalnya: mata pencaharian, pendidikan, keagamaan, produksi, komunikasi, transportasi.
· Lingkungan geografi dan budaya meliputi segala aspek geografi dan antropologi yang terdapat sejak dari lingkungan anak yang terdekat sampai yang terjauh.
· Kehidupan masa lampau, perkembangan kehidupan manusia, sejarah yang dimulai dari sejarah lingkungan terdekat sampai yang terjauh, tentang tokoh-tokoh dan kejadian-kejadian yang besar.
· Anak sebagai sumber materi meliputi berbagai segi, dari makanan, pakaian, permainan, keluarga.

B. Strategi Penyampaian Pengajaran IPS
Strategi penyampaian pengajaran IPS, sebagaian besar adalah didasarkan pada suatu tradisi, yaitu materi disusun dalam urutan: anak (diri sendiri), keluarga, masyarakat/tetangga, kota, region, negara, dan dunia. Tipe kurikulum seperti ini disebut “The Wedining Horizon or Expanding Enviroment Curriculum” (Mukminan, 1996:5).
Sebutan Masa Sekolah Dasar, merupakan periode keserasian bersekolah, artinya
anak sudah matang untuk besekolah. Adapun kriteria keserasian bersekolah adalah sebagai berikut.
· Anak harus dapat bekerjasama dalam kelompok dengan teman-teman sebaya, tidak boleh tergantung pada ibu, ayah atau anggota keluarga lain yang dikenalnya.
· Anak memiliki kemampuan sineik-analitik, artinya dapat mengenal bagian-bagian dari keseluruhannya, dan dapat menyatukan kembali bagian-bagian tersebut.
· Secara jasmaniah anak sudah mencapai bentuk anak sekolah.
Menurut Preston (dalam Oemar Hamalik. 1992 : 42-44), anak mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
· Anak merespon (menaruh perhatian) terhadap bermacam-macam aspek dari dunia sekitarnya.Anak secara spontan menaruh perhatian terhadap kejadian-kejadian-peristiwa, benda-benda yang ada disekitarnya. Mereka memiliki minat yang laus dan tersebar di sekitar lingkungnnya.
· Anak adalah seorang penyelidik, anak memiliki dorongan untuk menyelidiki dan menemukan sendiri hal-hal yang ingin mereka ketahui.
· Anak ingin berbuat, ciri khas anak adalah selalu ingin berbuat sesuatu, mereka ingin aktif, belajar, dan berbuat
· Anak mempunyai minat yang kuat terhadap hal-hal yang kecil atau terperinci yang seringkali kurang penting/bermakna
· Anak kaya akan imaginasi, dorongan ini dapat dikembangkan dalam pengalaman-pengalaman seni yang dilaksanakan dalam pembelajaran IPS sehingga dapat memahami orang-orang di sekitarnya. Misalnya pula dapat dikembangkan dengan merumuskan hipotesis dan memecahkan masalah.
Berkaitan dengan atmosfir di sekolah, ada sejumlah karakteristik yang dapat diidentifikasi pada siswa SD berdasarkan kelas-kelas yang terdapat di SD.
A. Karakteristik pada Masa Kelas Rendah SD (Kelas 1,2, dan 3)
a. Ada hubungan kuat antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah
b. Suka memuji diri sendiri
c. Apabila tidak dapat menyelesaikan sesuatu, hal itu dianggapnya tidak penting
d. Suka membandingkan dirinya dengan anak lain dalam hal yang menguntungkan dirinya
e. Suka meremehkan orang lain
B. Karakteristik pada Masa Kelas Tinggi SD (Kelas 4,5, dan 6).
a. Perhatianya tertuju pada kehidupan praktis sehari-hari
b. Ingin tahu, ingin belajar, dan realistis
c. Timbul minat pada pelajaran-pelajaran khusus
d. Anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah.
Menurut Jean Piagiet, usia siswa SD (7-12 tahun) ada pada stadium operasional konkrit. Oleh karena itu guru harus mampu merancang pembelajaran yang dapat membangkitkan siswa, misalnya penggalan waktu belajar tidak terlalu panjang, peristiwa belajar harus bervariasi, dan yang tidak kalah pentingnya sajian harus dibuat menarik bagi siswa.

2. Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar

Untuk memperoleh pengalaman yang lebih luas tentang ilmu pengetahuan sosial (IPS) dapat dijelaskan bahwa IPS ialah suatu program pendidikan yang merupakan suatu keseluruhan yang pada pokoknya mempersoalkan manusia dalam lingkungan alamnya, fisik maupun sosialnya yang bahannya diambil dari berbagai ilmu sosial seperti geografi, sejarah, antropologi, sosiologi, ilmu politik dan psikologi sosial. Dari pengertian tersebut diatas tampak jelas bahwa IPS itu terdiri dari himpunan pengetahuan tentang kehidupan manusia dan dari bahan realitas kehidupan sehari-hari didalam masyarakat.
Saya berpendapat bahwa pembelajaran IPS adalah merupakan suatu program pengajaran yang materinya berasal dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan juga bahan dari masyarakat setempat yang tidak tergolong pada salah satu disiplin ilmu sosial yang diorganisir dan disajikan secara ilmiah dan pendagogis untuk kebutuhan serta disesuaikan tingkat perkembangan peserta didik.
Pendidikan IPS di Sekolah Dasar adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari kehidupan sosial berdasarkan pada kajian geografi, ekonomi, antropologi, tatanegara dan sejarah.
Penerapan pembelajaran IPS pada jenjang pendidikan sekolah dasar tidak hanya berorientasi pada pengembangan sosial tetapi juga berorientasi pada pengembangan keterampilan berfikir kritis, dan kecakapan-kecakapan dasar siswa yang berpihak pada kenyataan kehidupan sosial kemasyarakatan sehari-hari serta memenuhi kebutuhan sosial siswa di masyarakat ( Kurikulum 1994).

Hakikat IPS, adalah telaah tentang manusia dan dunianya. Manusia sebagai makhluk sosial selalu hidup bersama dengan sesamanya. Dengan kemajuan teknologi pula sekarang ini orang dapat berkomunikasi dengan cepat di manapun mereka berada melalui handphone dan internet. Kemajuan Iptek menyebabkan cepatnya komunikasi antara orang yang satu dengan lainnya, antara negara satu dengan negara lainnya. Dengan demikian maka arus informasi akan semakin cepat pula mengalirnya. Oleh karena itu diyakini bahwa “orang yang menguasai informasi itulah yang akan menguasai dunia”.