Tampilkan postingan dengan label sosiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosiologi. Tampilkan semua postingan

Perubahan Sosial Budaya Masyarakat

Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan.
Perubahan sosial budaya terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya komunikasi; cara dan pola pikir masyarakat; faktor internal lain seperti perubahan jumlah penduduk, penemuan baru, terjadinya konflik atau revolusi; dan faktor eksternal seperti bencana alam dan perubahan iklim, peperangan, dan pengaruhkebudayaan masyarakat lain.
Ada pula beberapa faktor yang menghambat terjadinya perubahan, misalnya kurang intensifnya hubungan komunikasi dengan masyarakat lain; perkembangan IPTEK yang lambat; sifat masyarakat yang sangat tradisional; ada kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan kuat dalam masyarakat; prasangka negatif terhadap hal-hal yang baru; rasa takut jika terjadi kegoyahan pada masyarakat bila terjadi perubahan; hambatan ideologis; dan pengaruh adat atau kebiasaan.

kedatangan orang asing yang berbeda kebudayaan dapat mendorong terjadinya perubahan
Setiap masyarakat dalam kehidupannya pasti mengalami perubahan-perubahan. Berdasarkan sifatnya, perubahan yang terjadi bukan hanya menuju ke arah kemajuan, namun dapat juga menuju ke arah kemunduran. Perubahan sosial yang terjadi memang telah ada sejak zaman dahulu. Ada kalanya perubahan-perubahan yang terjadi berlangsung demikian cepatnya, sehingga membingungkan manusia yang menghadapinya. Berikut ini beberapa ilmuwan yang mengungkapkan tentang batasan-batasan perubahan sosial. Gillin dan Gillin menyatakan bahwa perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan kondisi geografis, kebudayaan, dinamika dan komposisi penduduk, ideologi, ataupun karena adanya penemuan-penemuan baru di dalam masyarakat.
Samuel Koenig menjelaskan bahwa perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia. Modifikasi-modifikasi tersebut terjadi karena sebab-sebab intern atau sebab-sebab ekstern. Selo Soemardjan menjelaskan bahwa perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang memengaruhi  istem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial adalah perubahan unsur-unsur atau struktur sosial dan perilaku manusia dalam masyarakat dari keadaan tertentu ke keadaan yang lain.

A. Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial Budaya dan Penyebabnya

Perubahan sosial budaya dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk berikut ini.

1. Perubahan Lambat dan Perubahan Cepat

Perubahan lambat disebut juga evolusi. Perubahan tersebut terjadi karena usaha-usaha masyarakat dalam menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan dan kondisi-kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Contoh perubahan evolusi adalah perubahan pada struktur masyarakat. Suatu masyarakat pada masa tertentu bentuknya sangat sederhana, namun karena masyarakat mengalami perkembangan, maka bentuk yang sederhana tersebut akan berubah menjadi kompleks. Perubahan cepat disebut juga dengan revolusi, yaitu perubahan sosial mengenai unsur-unsur kehidupan atau lembaga-lembaga kemasyarakatan yang berlangsung relatif cepat. Seringkali perubahan revolusi diawali oleh munculnya konflik atau ketegangan dalam masyarakat, ketegangan-ketegangan tersebut sulit dihindari bahkan semakin berkembang dan tidak dapat dikendalikan. Terjadinya proses revolusi memerlukan persyaratan tertentu. Berikut ini beberapa persyaratan yang mendukung terciptanya revolusi.
a. Ada keinginan umum untuk mengadakan suatu perubahan.
b. Adanya seorang pemimpin atau sekelompok orang yang mampu memimpin masyarakat tersebut.
c. Harus bisa memanfaatkan momentum untuk melaksanakan revolusi.
d. Harus ada tujuan gerakan yang jelas dan dapat ditunjukkan kepada rakyat.
e. Kemampuan pemimpin dalam menampung, merumuskan, serta menegaskan rasa tidak puas masyarakat dan keinginan-keinginan yang diharapkan untuk dijadikan program dan arah gerakan revolusi.
Contoh perubahan secara revolusi adalah gerakan Revolusi Islam Iran pada tahun 1978-1979 yang berhasil menjatuhkan pemerintahan Syah Mohammad Reza Pahlevi yang otoriter dan mengubah sistem pemerintahan monarki menjadi sistem Republik Islam dengan Ayatullah Khomeini sebagai pemimpinnya.

2. Perubahan Kecil dan Perubahan Besar

Perubahan kecil adalah perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau pengaruh yang berarti bagi masyarakat. Contoh perubahan kecil adalah perubahan mode rambut atau perubahan mode pakaian. Sebaliknya, perubahan besar adalah perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang membawa pengaruh langsung atau pengaruh berarti bagi masyarakat. Contoh perubahan besar adalah dampak ledakan penduduk dan dampak industrialisasi bagi pola kehidupan masyarakat.

3. Perubahan yang Dikehendaki atau Direncanakan dan Perubahan yang Tidak Dikehendaki atau Tidak Direncanakan

Perubahan yang dikehendaki atau yang direncanakan merupakan perubahan yang telah diperkirakan atau direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak melakukan perubahan di masyarakat. Pihak-pihak tersebut dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat untuk memimpin satu atau lebih lembaga-lembaga kemasyarakatan yang bertujuan untuk mengubah suatu sistem sosial. Contoh perubahan yang dikehendaki adalah pelaksanaan pembangunan atau perubahan tatanan pemerintahan, misalnya perubahan tata pemerintahan Orde Baru menjadi tata pemerintahan Orde Reformasi. Perubahan yang tidak dikehendaki atau yang tidak direncanakan merupakan perubahan yang terjadi di luar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan.
Contoh perubahan yang tidak dikehendaki atau tidak direncanakan adalah munculnya berbagai peristiwa kerusuhan menjelang masa peralihan tatanan Orde Lama ke Orde Baru dan peralihan tatanan Orde Baru ke Orde Reformasi.

4. Sebab-Sebab Perubahan Sosial Budaya

Perubahan sosial dan kebudayaan di masyarakat dapat terjadi karena adanya sebab-sebab yang berasal dari masyarakat sendiri atau yang berasal dari luar masyarakat.
a . Sebab-Sebab yang Berasal dari Dalam Masyarakat (Sebab Intern)
Berikut ini sebab-sebab perubahan sosial yang bersumber dari dalam masyarakat (sebab intern)
1) Dinamika penduduk, yaitu pertambahan dan penurunan jumlah penduduk.
2) Adanya penemuan-penemuan baru yang berkembang di masyarakat, baik penemuan yang bersifat baru (discovery) ataupun penemuan baru yang bersifat menyempurnakan dari bentuk penemuan lama (invention).
3) Munculnya berbagai bentuk pertentangan (conflict) dalam masyarakat.
4) Terjadinya pemberontakan atau revolusi sehingga mampu menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar. Misalnya, Revolusi Rusia (Oktober 1917) yang mampu menggulingkan pemerintahan kekaisaran dan mengubahnya menjadi sistem diktator proletariat yang dilandaskan pada doktrin Marxis. Revolusi tersebut menyebabkan perubahan yang mendasar, baik dari tatanan negara hingga tatanan dalam keluarga.
b . Sebab-Sebab yang Berasal dari Luar Masyarakat (Sebab Ekstern)
Perubahan sosial dan kebudayaan juga dapat terjadi karena adanya sebab-sebab yang berasal dari luar masyarakat (sebab ekstern). Berikut ini sebab-sebab yang berasal dari luar masyarakat.
1) Adanya pengaruh bencana alam. Kondisi ini terkadang memaksa masyarakat suatu daerah untuk mengungsi meninggalkan tanah kelahirannya. Apabila masyarakat tersebut mendiami tempat tinggal yang baru, maka mereka harus menyesuaikan diri dengan keadaan alam dan lingkungan yang baru tersebut. Hal ini kemungkinan besar juga dapat memengaruhi perubahan pada struktur dan pola kelembagaannya.
2) Adanya peperangan, baik perang saudara maupun perang antarnegara dapat me-nyebabkan perubahan, karena pihak yang menang biasanya akan dapat memaksakan ideologi dan kebudayaannya kepada pihak yang kalah.
3) Adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain. Bertemunya dua kebudayaan yang berbeda akan menghasilkan perubahan. Jika pengaruh suatu kebudayaan dapat diterima tanpa paksaan, maka disebut demonstration effect. Jika pengaruh suatu kebudayaan saling menolak, maka disebut cultural animosity. Jika suatu kebudayaan mempunyai taraf yang lebih tinggi dari kebudayaan lain, maka akan muncul proses imitasi yang lambat laun unsur-unsur kebudayaan asli dapat bergeser atau diganti oleh unsur-unsur kebudayaan baru tersebut.

B. Faktor Pendorong dan Penghambat Perubahan Sosial Budaya

1. Faktor-Faktor Pendorong Perubahan

a. Adanya Kontak dengan Kebudayaan Lain
Kontak dengan kebudayaan lain dapat menyebabkan manusia saling berinteraksi dan mampu menghimpun penemuan-penemuan baru yang telah dihasilkan. Penemuan-penemuan baru tersebut dapat berasal dari kebudayaan asing atau merupakan perpaduan antara budaya asing dengan budaya sendiri. Proses tersebut dapat mendorong pertumbuhan suatu kebudayaan dan memperkaya kebudayaan yang ada.
b . Sistem Pendidikan Formal yang Maju
Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia, terutama membuka pikiran dan mem-biasakan berpola pikir ilmiah, rasional, dan objektif. Hal ini akan memberikan kemampuan manusia untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya dapat memenuhi perkembangan zaman atau tidak.
c . Sikap Menghargai Hasil Karya Orang Lain
Penghargaan terhadap hasil karya seseorang akan mendorong seseorang untuk berkarya lebih baik lagi, sehingga masyarakat akan semakin terpacu untuk menghasilkan karya-karya lain.
d . Toleransi terhadap Perbuatan yang Menyimpang 
Penyimpangan sosial sejauh tidak melanggar hukum atau merupakan tindak pidana, dapat merupakan cikal bakal terjadinya perubahan sosial budaya.Untuk itu, toleransi dapat diberikan agarsemakin tercipta hal-hal baru yang kreatif.
e . Sistem Terbuka Masyarakat ( Open Stratification )
Sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertikal atau horizontal yang lebih luas kepada anggota masyarakat. Masyarakat tidak lagi mempermasalahkan status sosial dalam menjalin hubungan dengan sesamanya. Hal ini membuka kesempatan kepada para individu untuk dapat mengembangkan kemampuan dirinya.
f . Heterogenitas Penduduk
Di dalam masyarakat heterogen yang mempunyai latar belakang budaya, ras, dan ideologi yang berbeda akan mudah terjadi pertentangan yang dapat menimbulkan kegoncangan sosial. Keadaan demikian merupakan pendorong terjadinya perubahan-perubahan baru dalam masyarakat dalam upayanya untuk mencapai keselarasan sosial.
g . Orientasi ke Masa Depan
Pemikiran yang selalu berorientasi ke masa depan akan membuat masyarakat selalu berpikir maju dan mendorong terciptanya penemuan-penemuan baru yang disesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman.
h. Ketidakpuasan Masyarakat terhadap Bidang-Bidang Tertentu
Ketidakpuasan yang berlangsung lama di kehidupan masyarakat dapat menimbulkan reaksi berupa perlawanan, pertentangan, dan gerakan revolusi untuk mengubahnya.
i . Nilai Bahwa Manusia Harus Senantiasa Berikhtiar untuk Memperbaiki Hidupnya
Ikhtiar harus selalu dilakukan manusia dalam upaya memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas dengan menggunakan sumber daya yang terbatas.

2. Faktor-Faktor Penghambat Perubahan

a. Kurangnya Hubungan dengan Masyarakat Lain
Kehidupan terasing menyebabkan suatu masyarakat tidak mengetahui perkembangan-perkembangan yang telah terjadi. Hal ini menyebabkan pola-pola pemikiran dan kehidupan masyarakat menjadi statis.
b . Terlambatnya Perkembangan Ilmu Pengetahuan 
Kondisi ini dapat dikarenakan kehidupan masyarakat yang terasing dan tertutup, contohnya masyarakat pedalaman. Tapi mungkin juga karena masyarakat itu lama berada di bawah pengaruh masyarakat lain (terjajah).
c . Sikap Masyarakat yang Masih Sangat Tradisional 
Sikap yang mengagung-agungkan tradisi dan masa lampau dapat membuat terlena dan sulit menerima kemajuan dan perubahan zaman. Lebih parah lagi jika masyarakat yang bersangkutan didominasi oleh golongan konservatif (kolot).
d . Rasa Takut Terjadinya Kegoyahan pada Integritas Kebudayaan
Integrasi kebudayaan seringkali berjalan tidak sempurna, kondisi seperti ini dikhawatirkan akan menggoyahkan pola kehidupan atau kebudayaan yang telah ada. Beberapa golongan masyarakat berupaya menghindari risiko ini dan tetap mempertahankan diri pada pola kehidupan atau kebudayaan yang telah ada.
e . Adanya Kepentingan-Kepentingan yang Telah Tertanam dengan Kuat ( Vested Interest Interest)
Organisasi sosial yang mengenal sistem lapisan strata akan menghambat terjadinya perubahan. Golongan masyarakat yang mempunyai kedudukan lebih tinggi tentunya akan mempertahankan statusnya tersebut. Kondisi inilah yang menyebabkan terhambatnya proses perubahan.
f . Adanya Sikap Tertutup dan Prasangka Terhadap Hal Baru (Asing)
Sikap yang demikian banyak dijumpai dalam masyarakat yang pernah dijajah oleh bangsa lain, misalnya oleh bangsa Barat. Mereka mencurigai semua hal yang berasal dari Barat karena belum bisa melupakan pengalaman pahit selama masa penjajahan, sehingga mereka cenderung menutup diri dari pengaruh-pengaruh asing.
g . Hambatan-Hambatan yang Bersifat Ideologis
Setiap usaha perubahan pada unsur-unsur kebudayaan rohaniah, biasanya diartikan sebagai usaha yang berlawanan dengan ideologi
masyarakat yang sudah menjadi dasar integrasi masyarakat tersebut.
h. Adat atau Kebiasaan yang Telah Mengakar 
Adat atau kebiasaan merupakan pola-pola perilaku bagi anggota masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Adakalanya adat dan kebiasaan begitu kuatnya sehingga sulit untuk diubah. Hal ini merupakan bentuk halangan terhadap perkembangan dan perubahan kebudayaan. Misalnya, memotong padi dengan mesin dapat mempercepat proses pemanenan, namun karena adat dan kebiasaan masyarakat masih banyak yang menggunakan sabit atau ani-ani, maka mesin pemotong padi tidak akan digunakan.
i . Nilai Bahwa Hidup ini pada Hakikatnya
Buruk dan Tidak Mungkin Diperbaiki Pandangan tersebut adalah pandangan pesimistis. Masyarakat cenderung menerima kehidupan apa adanya dengan dalih suatu kehidupan telah diatur oleh Yang Mahakuasa. Pola pikir semacam ini tentu saja tidak akan memacu pekembangan kehidupan manusia.

C. Perilaku Masyarakat sebagai Akibat Adanya Perubahan Sosial Budaya

Perubahan sosial budaya akan mengubah adat, kebiasaan, cara pandang, bahkan ideologi suatu masyarakat. Telah dijelaskan di depan bahwa perubahan sosial budaya dapat mengarah pada hal-hal positif (kemajuan) dan hal-hal negatif (kemunduran). Hal ini tentu saja memengaruhi pola dan perilaku masyarakatnya. Berikut ini hal-hal positif atau bentuk kemajuan akibat adanya perubahan sosial budaya.
1. Memunculkan ide-ide budaya baru yang sesuai dengan perkembangan zaman.
2. Membentuk pola pikir masyarakat yang lebih ilmiah dan rasional.
3. Terciptanya penemuan-penemuan baru yang dapat membantu aktivitas manusia.
4. Munculnya tatanan kehidupan masyarakat baru yang lebih modern dan ideal.
Berikut ini hal-hal negatif atau bentuk kemunduran akibat adanya perubahan sosial budaya.
1. Tergesernya bentuk-bentuk budaya nasional oleh budaya asing yang terkadang tidak sesuai dengan kaidah budaya-budaya nasional.
2. Adanya beberapa kelompok masyarakat yang mengalami ketertinggalan kemajuan budaya dan kemajuan zaman, baik dari sisi pola pikir ataupun dari sisi pola kehidupannya (cultural lag atau kesenjangan budaya).
3. Munculnya bentuk-bentuk penyimpangan sosial baru yang makin kompleks.
4. Lunturnya kaidah-kaidah atau norma budaya lama, misalnya lunturnya kesadaran bergotong-royong di dalam kehidupan masyarakat kota.

D. Sikap Kritis terhadap Pengaruh Perubahan Sosial dan Budaya



Apapun bentuk perubahan sosial budaya akan menghasilkan suatu bentuk, pola, dan kondisi kehidupan masyarakat yang baru. Kalian sebagai pelajar tentu harus bisa menentukan sikap terhadap dampak perubahan sosial budaya yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.  Sikap apriori yang berlebihan tentu saja tidak perlu kalian kedepankan, mengingat sikap tersebut merupakan salah satu penyebab terhambatnya proses perubahan sosial budaya yang berujung pada terhambatnya proses perkembangan masyarakat dan modernisasi. Demikian juga dengan sikap menerima setiap perubahan tanpa terkecuali. Sikap tersebut cenderung akan membuat kita meniru (imitasi) terhadap setiap perubahan sosial budaya yang terjadi, meskipun perubahan tersebut mengarah pada perubahan yang bersifat negatif. Kalian diharapkan mampu memiliki dan mengembangkan sikap kritis terhadap proses perubahan sosial budaya yang terjadi di masyarakat. Perubahan sosial budaya yang bersifat positif dapat kita terima untuk memperkaya khazanah kebudayaan bangsa kita, sebaliknya perubahan sosial budaya yang bersifat negatif harus kita saring dan kita cegah perkembangannya dalam kehidupan masyarakat kita. Dalam pelaksanaannya, kalian harus mampu mengikuti perkembangan zaman dengan memperluas pengetahuan dan teknologi yang semakin berkembang. Namun di sisi lain, nilai-nilai dan norma kehidupan bangsa yang luhur harus dapat terus kalian jaga dan lestarikan.





Pengetahuan Sejarah Alternatif Dibutuhkan di Indonesia


Pengetahuan Sejarah Alternatif Dibutuhkan di Indonesia
Pengetahuan sejarah alternatif dirasakan perlu disediakan di Indonesia.  Sejarah alternatif mendorong masyarakat Indonesia untuk lebih kreatif dalam menilai dan menciptakan sesuatu.

Sejarawan Baskara T. Wardaya menjelaskan pengetahuan sejarah masyarakat Indonesia cenderung mengacu pada "perspekstif Jakarta". "Pemahaman sejarah hanya berdasarkan pada teks-teks formal yang begitu saja tersodor dan tertulis di buku," katanya.

Menurut Baskara, penyodoran pengetahuan sejarah dalam teks buku membuat orang menjadi tidak kritis. "Orang hanya menghafal sejarah bukan memahami dan mengetahuinya  secara sungguh-sungguh," paparnya saat menjadi pembicara seminar "Sejarah Alternatif" di Kampus Sanata Dharma Yogyakarta, Rabu (24/8).

Sumber alternatif untuk sejarah ini dilakukan dengan menelisik sejarah lebih dalam lewat  kisah-kisah dan kesaksian langsung para saksi, buku - buku teks, film dokumenter, serta seni pertunjukan. Kendala narasumber bisa disiati dengan mempelajari relasi sosial serta cara berpikir masyarakat di sekitarnya.

Baskara menganggap pengetahuan sejarah alternatif ini penting karena sejarah Indonesia terdampak  globalisasi saat ini. Ketersediaan berbagai teknologi informasi modern rawan membawa arus modernisasi sehingga memungkinkan masyarakat melupakan sejarah.

Hingga saat ini,sejarah alternatif masih terbatas pada rintisan semata. Hal ini disebabkan karena ada berbagai kendala seperti masalah biaya, mentalitas, serta tekanan dari berbagai pihak. Bahkan pemerintah pun belum sepenuhnya peduli karena masih mempertahankan sikap resistensinya. "Seringkali forum diskusi sejarah diawasi oleh petugas keamanan atau kelompok keagamaan," tambahnya.

Indonesia sangat berpotensi dalam hal pengembangan sejarah alternatif. Indonesia adalah negara plural dengan beragam kebudayaan. Justru dengan pengembangan sejarah alternatif ini, kebudayaan Indonesia semakin kaya.

Solusi Kota



Mengapa kota jadi obat mujarab bagi masalah pertumbuhan planet kita?
Oleh Robert Kunzig
Foto oleh Chia Ming Chien
Pada masa Jack the Ripper, masa sulit bagi London, di kota itu hiduplah seorang stenografer santun bernama Ebenezer Howard. Dia layak disebut karena memiliki dampak yang besar dan melekat pada cara kita memahami kota.
Howard berkepala botak, berkumis tebal hingga menutupi mulut, berkacamata bingkai kawat, dan pikirannya selalu sibuk mencari jawaban. Ia menyurati istrinya pada 1885 bahwa yang diperlukan keluarganya adalah rumah dengan “taman yang indah, mungkin lapangan tenis rumput.”  Beberapa tahun kemudian, setelah memiliki empat anak dalam enam tahun di rumah kontrakan yang sumpek, Howard pulih dari depresi berkepanjangan dan memiliki skema untuk mengosongkan London.

London pada tahun 1880-an sedang ber­kembang pesat. Akan tetapi, kota ini juga dijejali orang yang jauh lebih melarat daripada Howard. Daerah kumuh yang disatroni Ripper untuk men­cari korban benar-benar memprihatinkan. “Setiap kamar di perumahan busuk dan bau ini menampung satu keluarga, sering juga dua,” tulis Andrew Mearns, menteri pejuang rakyat. “Inspektur kebersihan pernah melaporkan me­nemukan ayah, ibu, tiga anak, dan empat babi di ruang bawah tanah!… Di tempat lain ada janda miskin, tiga anaknya, dan seorang anak yang sudah meninggal tiga belas hari. Warga zaman Victoria itu menyebut daerah kumuh seperti itu sebagai sarang, atau koloni hewan yang beranak-pinak. 

Perencanaan kota abad ke-20 berkembang dari pandangan ngeri tentang kota abad ke-19 tersebut. Anehnya, ini dimulai dengan Ebenezer Howard. Dalam buku tipis yang di­terbitkan sendiri pada 1898, pria yang se­hari-harinya mencatat gagasan orang lain itu memaparkan visinya sendiri tentang per­mukim­an manusia yang semestinya—visi yang begitu meyakinkan sehingga setengah abad kemudian Lewis Mumford, kritikus besar arsitektur berkebangsaan Amerika, berkata bahwa buku itu “merupakan fondasi bagi daur baru peradaban kota.”

Howard berargumen bahwa arus urbanisasi harus dihentikan, dengan cara menjauhkan orang dari metropolis bak kanker itu ke “kota-kota taman” baru yang berswadaya. Pen­duduk pulau-pulau kecil berbahagia ini akan merasakan “perpaduan serasi” antara kota dan desa. Mereka tinggal di rumah dan taman indah di pusat kota, berjalan kaki untuk bekerja di pabrik di pinggiran kota, dan mendapat makan­an dari pertanian di sabuk hijau luar—yang juga akan mencegah kota meluas ke daerah pedesaan. Pada 1907, saat menyambut 500 penutur bahasa Esperanto ke Letchworth, kota taman pertama, Howard meramalkan dengan berani (dalam bahasa Esperanto) bahwa baik bahasa baru itu maupun utopia barunya akan segera tersebar luas ke seluruh dunia.

Dia benar bahwa manusia menginginkan ruang hidup yang lebih besar, tetapi salah tentang masa depan kota: Arus urbanisasi-lah yang kemudian tersebar ke seluruh dunia. Di negara maju dan Amerika Latin, arus ini hampir memuncak; lebih dari 70 persen warga di sana tinggal di wilayah perkotaan. Di sebagian besar Asia dan Afrika orang masih mengalir ke kota. Kota besar kini semakin besar dan semakin banyak. Pada abad ke-19 London adalah satu-satunya kota yang berpenduduk lebih dari lima juta jiwa; sekarang ada 54 kota, sebagian besar berada di Asia.

Sekarang urbanisasi dianggap hal baik. Pen­dapat pakar bergeser jauh dalam satu-dua dasa­warsa terakhir. Meskipun daerah kumuh yang memprihatinkan seperti di London masa Victoria kini tersebar luas, dan rasa takut ala warga Victoria terhadap kota tetap ada, kanker sudah bukan lagi perumpamaan yang tepat. Sebaliknya: Dengan populasi Bumi yang sedang menuju angka sembilan atau sepuluh miliar, tampaknya kota padat adalah obatnya—harapan terbaik untuk mengentaskan orang dari kemiskinan tanpa menghancurkan bumi.

Pada suatu malam Maret lalu, ekonom Harvard Edward Glaeser tampil di London School of Economics untuk mempromosikan sudut pandangnya, serta buku barunya, Triumph of the City. “Tak ada negara urbanisasi yang miskin; tak ada negara pedesaan yang kaya,” katanya. Nama-nama negara, yang masing-masing dipetakan berdasarkan PDB dan laju urbanisasi, ditampilkan di layar di belakangnya.

Mahatma Gandhi keliru, kata Glaeser—masa depan India bukan terletak di desa, melainkan di Bangalore. Gambar Dharavi, daerah kumuh terbesar di Mumbai, dan gambar favela di Rio de Janeiro ditayangkan; bagi Glaeser, itu contoh kegairahan kota, bukan penyakit. Katanya, orang miskin berduyun-duyun ke kota karena di situlah uang berada, dan kota berproduksi lebih tinggi karena “ketiadaan jarak antara manusia” mengurangi biaya pemindahan barang, orang, dan gagasan. 

Contoh kota yang hidup bagi Glaeser adalah Wall Street, terutama lantai bursa, tempat para jutawan meninggalkan kantor besar untuk be­kerja dalam kolam informasi terbuka. “Mereka lebih menghargai pengetahuan daripada ruang—dan itulah intisari kota modern,” kata­nya. Kota yang sukses “memberi ganjaran lebih besar bagi orang cerdas” dengan cara me­­mungkinkan orang saling belajar dari se­samanya. Di kota yang rata-rata pendidikan warga­­nya tinggi, orang tak berpendidikan pun memiliki pendapatan lebih tinggi; itulah bukti “limpahan modal manusia.”

Limpahan paling efektif terjadi jika orangnya berdekatan. Belum ada teknologi—tidak tele­pon, Internet, atau konferensi video—yang dapat melahirkan pertemuan kebetulan yang ber­manfaat, seperti yang telah dilahirkan oleh kota sejak Forum Romawi mulai ada. Teknologi juga tidak bisa menyampaikan petunjuk non­verbal kontekstual yang membantu kita me­nyampaikan gagasan kompleks—misalnya, me­lihat mata mengantuk para pendengar untuk mengetahui bahwa kita berbicara terlalu cepat.

Mudah dipahami mengapa para ekonom me­rangkul kota sebagai mesin kemakmuran. Di­perlukan waktu lebih lama bagi kaum pencinta lingkungan, yang menganggap pondok Henry David Thoreau di hutan sebagai contoh ideal. Dengan meningkatkan pendapatan, kota juga meningkatkan konsumsi dan polusi. Jika yang paling Anda hargai adalah alam, kota tampak seperti tumpukan kerusakan yang terpusat—sampai Anda mempertimbangkan alternatifnya, yaitu menyebarkan kerusakan. Menurut Stewart Brand, pendiri Whole Earth Catalog dan kini penganjur urbanisasi, dari su­dut pandang ekologi, etika kembali-ke-desa akan membawa petaka. Kota memungkinkan se­tengah umat manusia tinggal di sekitar 4 persen lahan tanam, menyisakan lebih banyak tempat untuk pedesaan terbuka.

Per kapita, penghuni kota juga menimbulkan efek negatif lebih kecil dalam beberapa segi lain, David Owen menjelaskannya dalam Green Metropolis. Jalan, gorong-gorong, dan kabel listrik mereka lebih pendek dan me­makai sumber daya lebih kecil. Apartemen me­merlukan energi lebih sedikit untuk pemanasan, pendinginan, dan penerangan daripada rumah. Hal yang terpenting, orang di kota padat lebih jarang mengemudi. Di kota seperti New York, penggunaan energi dan emisi karbon per kapita jauh lebih rendah daripada rata-rata negara.

Kota di negara berkembang lebih padat lagi dan menggunakan sumber daya jauh lebih se­dikit. Tetapi, itu terutama karena konsumsi orang miskin tidak banyak. Warganya tidak me­miliki air bersih, toilet, atau pemungutan sampah. Mungkin demikian pula nasib satu mi­liar penghuni kota lain di negara berkembang. Dan kota seperti inilah, menurut proyeksi PBB, yang akan menyerap sebagian besar kenaikan populasi dunia antara sekarang dan tahun 2050—lebih dari dua miliar orang. Cara pemerintah kota-kota ini menanggapinya akan berdampak kepada kita semua.

Banyak pemerintah kota bertindak seperti Inggris saat menanggapi pertumbuhan London pada abad ke-19: dengan berusaha meng­hentikannya. Survei PBB melaporkan bahwa 72 persen negara berkembang menjalani ke­bijakan yang dirancang untuk memperlambat laju migrasi ke kota. Namun, orang keliru jika meng­anggap urbanisasi sebagai hal buruk, bukan sebagai bagian perkembangan yang tak terhindarkan, kata Satterthwaite, penasihat bagi pemerintah dan himpunan penghuni daerah kumuh di seluruh dunia. “Saya tidak takut pada pertumbuhan cepat,” katanya. “Saya bertemu banyak wali kota Afrika yang berkata, ‘Terlalu banyak orang yang pindah ke sini!’ Saya katakan, ‘Tidak, masalahnya adalah ketidakmampuan Anda mengatur mereka.’”

Tidak ada model sempurna untuk mengelola urbanisasi yang cepat, tetapi ada beberapa contoh yang memberi harapan. Salah satunya Seoul, ibu kota Korea Selatan.
Antara 1960 dan 2000 populasi Seoul me­lambung dari tiga juta kurang menjadi sepuluh juta jiwa, dan Korea Selatan berubah dari salah satu negara termiskin di dunia, dengan PDB per kapita di bawah $100, menjadi lebih kaya daripada beberapa negara di Eropa. Kecepatan perubahan itu kentara. Saat mengemudi ke Seoul melalui jalan raya yang menyusuri tepi Sungai Han, kita melewati lautan blok apartemen beton yang seragam dan meresahkan, masing-masing memajang angka besar untuk membedakannya dengan kembarannya. Namun, belum lama ini banyak orang Korea tinggal di gubuk. Blok apartemen mungkin tampak muram dari luar, kata perencana kota Yeong-Hee Jang kepada saya, tetapi kehidupan di dalamnya “begitu hangat dan nyaman.”

Setiap kota adalah perpaduan unik antara yang terencana dan yang tidak, antara fitur yang sengaja dirancang pemerintah dan yang muncul secara organik seiring waktu dari pilihan yang dibuat oleh warganya. Seoul direncanakan sejak awal. Para pendeta yang memilih lokasinya pada 1394 untuk Raja Taejo, pendiri dinasti Choson, mengikuti prinsip fengsui kuno. Me­reka menempatkan istana raja di tempat yang menguntungkan, dengan Sungai Han di depan dan gunung besar di belakang untuk me­lindunginya dari angin utara. Selama lima abad, sebagian besar kota itu tetap berada di dalam tembok enam belas kilometer, yang dibangun bawahan Taejo selama enam bulan. Inilah kota cendekia terpencil yang berpenduduk be­berapa ratus ribu jiwa. Kemudian, abad ke-20 pun meng­­hancurkannya.

Perang Dunia II, lalu Perang Korea, yang berakhir pada 1953, mendatangkan lebih dari sejuta pengungsi ke kota yang rusak parah akibat bom itu. Tidak banyak yang tersisa di Seoul. Akan tetapi, untuk pertama kalinya kota itu dipenuhi kumpulan orang yang tangguh. Mereka bertekad memperbaiki nasib. Dari masa inilah, ledakan penduduk Korea Selatan—yang dipicu oleh perbaikan gizi dan kesehatan masyarakat yang cepat—menyamai tempat lain.

Semua energi itu ternyata ditata oleh seorang diktator (fakta yang mungkin dirasa tidak nyaman). Ketika Park Chung-Hee mengambil alih kekuasaan dalam kudeta militer pada 1961, pemerintahnya menyalurkan modal asing ke perusahaan-perusahaan Korea yang mem­produksi benda yang dibeli orang asing. Yang penting dalam proses ini, proses yang menciptakan konglomerat seperti Samsung dan Hyundai, adalah pria dan wanita yang mengalir ke Seoul untuk bekerja di pabrik-pabrik baru dan menuntut ilmu di universitas. “Urbanisasi tidak bisa dipahami terpisah dari perkembangan ekonomi,” kata ekonom Kyung-Hwan Kim dari Sogang University. Kota yang sedang tumbuh itu memungkinkan terjadinya ledakan ekonomi, yang membiayai pembangunan prasarana yang membantu kota itu menyerap populasi negara yang meningkat.

Banyak bangunan yang musnah dalam kesibukan membuldoser dan membangun gedung tinggi. Jika Anda tinggal di Seoul lama, di sebelah utara Sungai Han, pada tahun 1970-an dan 1980-an, Anda menyaksikan Seoul-baru bangkit dari sawah hijau di tepi selatan, di wilayah yang disebut Kangnam. Anda me­nyaksikan kelas menengah dan atas kota yang tumbuh itu meninggalkan gang berkelok dan rumah adat—hanok kayu elok, dengan halaman dan atap genting melekuk indah—ke gedung steril dan kisi-kisi jalan yang ramah-mobil. “Seoul kehilangan warnanya,” kata Choo Chin Woo, wartawan investigasi di berita mingguan SisaIN. Lebih buruk lagi, kaum miskin biasanya tersingkirkan saat hunian sementara mereka dikembangkan menjadi gedung-gedung yang tak mampu mereka beli.

Tetapi, seiring tahun-tahun berlalu, semakin besar persentase populasi yang mampu membeli tempat tinggal dalam ledakan permukiman. Sekarang setengah penduduk di Seoul memiliki apartemen. Orang Korea senang memanaskan udara rumah hingga 25 derajat, kata perencana kota Yeong-Hee Jang, dan dalam apartemen yang diperlengkapi dengan baik, hal itu ter­jangkau oleh mereka. 

Seoul zaman sekarang adalah salah satu kota terpadat di dunia. Di sana ada jutaan mobil, tetapi juga sistem kereta bawah tanah yang baik. Di distrik-distrik baru pun, jalanannya tampak berwarna-warni bagi orang Barat. Semua se­marak dengan perdagangan dan dipadati pe­jalan kaki, yang masing-masing memiliki jejak karbon kurang dari setengah jejak karbon warga New York. Kehidupan semakin membaik bagi orang Korea seiring negara itu berubah dari 28 persen perkotaan pada 1961 menjadi 83 persen kini. Harapan hidup meningkat dari 51 tahun menjadi 79—setahun lebih tua daripada orang Amerika. Anak lelaki Korea masa kini ber­tubuh 15 sentimeter lebih jangkung daripada dulu.

Pengalaman Korea Selatan ini tidak mudah ditiru, tetapi membuktikan bahwa negara miskin dapat mengalami urbanisasi dengan sukses dan sangat cepat. 

Rasa takut terhadap urbanisasi selama ini merugikan kota, negara, juga bumi. Ironisnya, Korea Selatan belum berhasil menyingkirkan pe­mikiran bahwa ibu kotanya yang besar itu adalah tumor yang menyedot nyawa dari daerah lain di negara itu. Sekarang pemerintah sedang membangun ibu kota kedua 120 kilo­­meter di sebelah selatan. Mulai 2012 pe­merintah berencana memindahkan setengah ke­menteriannya ke sana dan menyebarkan lem­baga-lembaga negara ke seluruh negeri, dengan harapan menyebarluaskan kekayaan Seoul. Pada 1971, ketika populasi kota melejit melebihi lima juta jiwa, Park mengikuti saran dari buku Ebenezer Howard. Ia mengelilingi kota itu dengan sabuk hijau lebar untuk meng­hentikan perkembangan lebih jauh, persis seperti yang dilakukan London pada 1947.

Kedua sabuk hijau ini memang memper­tahan­­­kan ruang terbuka, tetapi tidak meng­henti­kan pertumbuhan kota; orang kini pulang-pergi dari pinggiran kota yang melompati batasan sabuk itu. “Sabuk hijau menyebabkan orang ter­­dorong semakin jauh keluar, kadang-kadang terlalu jauh,” kata Peter Hall, perencana dan sejara­wan di University College London. Brasília, ibu kota terencana di Brasil, dirancang untuk 500.000 jiwa; sekarang dua juta jiwa tambahan tinggal di luar danau dan taman yang semestinya menghentikan perluasan kota itu. Tampaknya, usaha menghentikan pertumbuhan kota malah memperparah perluasannya. 

Perluasan kini merupakan masalah utama bagi perencana kota masa kini, sebagaimana anti­­tesisnya, kepadatan, seabad yang lalu. London tidak lagi dikutuk sebagai tumor. Per­luasan daerah pinggiran ke luar didorong oleh kebijakan lain pemerintah, seperti sub­sidi untuk jalan raya dan kepemilikan rumah. Didorong pula oleh satu lagi penentu nasib kota—pilihan yang dibuat oleh warga per­orangan. Ebenezer Howard memang benar soal itu: Banyak orang ingin punya rumah bagus dengan taman.

Perluasan bukan hanya fenomena di Barat. Dengan merujuk citra satelit, peta tua, dan data sensus, Shlomo Angel, dosen perencanaan kota di New York University dan Princeton, melacak perubahan bentuk dan kepadatan penduduk di 120 kota antara 1990 dan 2000. Di negara berkembang pun, kebanyakan kota meluas lebih cepat daripada orang masuk ke sana; kepadatan kota rata-rata turun 2 persen setiap tahun. Se­belum 2030, area pembangunan kota dapat berlipat tiga. Apa yang mendorong perluasan itu? Peningkatan pendapatan dan trans­portasi murah. “Saat pendapatan naik, orang punya uang untuk membeli ruang lebih luas,” Angel menjelaskan. Dengan transportasi murah, me­reka mampu membayar perjalanan lebih jauh antara rumah dan kantor.

Tetapi, jenis rumah yang dihuni dan trans­portasi yang digunakan juga berpengaruh. Pada abad ke-20, kota-kota Amerika dirancang-ulang berdasarkan mobil. Perluasan berdasarkan mobil ini melahap lahan pertanian, energi, dan sumber daya lain. Sekarang ini, para perencana di AS ingin pusat kota dihuni kembali dan suburbia dipadatkan, dengan cara membangun alun-alun yang dapat dijelajahi dengan jalan kaki, misalnya, di lapangan parkir di mal-mal gagal. Sementara di China dan India, saat orang masih membanjir ke kota, penjualan mobil sedang laris. “Jauh lebih baik bagi bumi,” tulis Edward Glaeser, jika negara-negara itu me­miliki “kota-kota padat yang dibangun ber­dasarkan lift, daripada wilayah-wilayah meluas yang di­bangun berdasarkan mobil.”

Kota berkembang niscaya akan meluas, kata Angel. Di antara anarki yang merajalela di banyak kota sekarang dan utopianisme yang mencirikan perencanaan kota, ada jenis pe­rencanaan sederhana yang dapat membuat per­bedaan besar. Perencanaan ini mengharuskan kita memandang ke depan berpuluh tahun, kata Angel, dan menghemat lahan, sebelum kota tumbuh di atasnya, untuk dibuat taman dan kisi-kisi koridor angkutan umum yang padat. Ini dimulai dengan memandang kota yang tumbuh sebagai pemusatan energi manusia yang dapat ditata dan dimanfaatkan.

Dengan jalan perdagangan yang tenang dan rumah-rumah Seni dan Kerajinan, Letchworth di Inggris, sekarang terasa seperti kota ta­man yang terlupakan oleh waktu. Sebagian be­sar warga kotanya bekerja di London atau Cam­bridge. Namun, kota itu memiliki aspek penting yang dipandang banyak perencana masa kini sebagai kunci kelestarian: Kota ini tidak dirancang berdasarkan mobil. Howard tak menghiraukan ciptaan baru di masanya itu. Dari mana pun di Letchworth orang dapat berjalan kaki ke pusat kota untuk berbelanja atau naik kereta api ke London. 

Lima puluh lima kilometer ke selatan, London tetap tak tergantikan. Sekarang ada de­lapan juta orang yang tinggal di sana. Semua upaya untuk mengatur labirin jalannya telah gagal—siapa pun yang pernah naik taksi di London pasti berpendapat begitu. “London tidak direncanakan sama sekali!” seru Peter Hall suatu sore saat kami melangkah ke jalan di depan British Academy. Tetapi, kota itu me­lakukan dua hal bijak saat mengembang keluar pada abad ke-19 dan 20, kata Hall. London mem­­pertahankan taman-taman semi-liar yang luas, seperti Hampstead Heath, tempat warga dapat bercengkerama dengan alam. Lebih penting lagi, London memperluas jalur kereta api di atas dan bawah tanah. “Perbaiki transportasi,” kata Hall. “Lalu biarkan semua berjalan apa adanya.”

Setelah berkata demikian, ia menghilang ke bawah tanah untuk pulang, meninggalkan saya di trotoar ramai dengan karunia besar: beberapa jam untuk dilewatkan di London. Ebenezer Howard pun tentu memahami perasaan itu, se­­tidaknya ketika masih muda. Saat pulang se­telah beberapa tahun di AS, ia menulis, “Aku sering dikuasai pe­rasaan suka cita yang aneh pada saat seperti itu... Jalan ramai—pertanda kemakmuran, kekacauan dan kesemrawutan menarik bagiku, dan membuatku gembira.

Macam/Jenis & Pengertian Penyimpangan Sosial, Individual dan Kolektif - Pelajaran Sosiologi IPS


A. Arti Definisi / Pengertian Penyimpangan Sosial (social deviation)
1. Menurut Robert M. Z. Lawang penyimpangan perilaku adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sitem itu untuk memperbaiki perilaku menyimpang.
2. Menurut James W. Van Der Zanden perilaku menyimpang yaitu perilaku yang bagi sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang tercela dan di luar batas toleransi.
3. Menurut Lemert penyimpangan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu penyimpangan primer dan penyimpangan sekunder. Penyimpangan primer adalah suatu bentuk perilaku menyimpang yang bersifat sementara dan tidak dilakukan terus-menerus sehingga masih dapat ditolerir masyarakat seperti melanggar rambu lalu lintas, buang sampah sembarangan, dll. Sedangkan penyimpangan sekunder yakni perilaku menyimpang yang tidak mendapat toleransi dari masyarakat dan umumnya dilakukan berulang kali seperti merampok, menjambret, memakai narkoba, menjadi pelacur, dan lain-lain.
B. Macam-Macam / Jenis-Jenis Penyimpangan Individual (individual deviation)
Penyimpangan individual atau personal adalah suatu perilaku pada seseorang dengan melakukan pelanggaran terhadap suatu norma pada kebudayaan yang telah mapan akibat sikap perilaku yang jahat atau terjadinya gangguan jiwa pada seseorang.
Tingkatan bentuk penyimpangan seseorang pada norma yang berlaku :
  1. Bandel atau tidak patuh dan taat perkataan orang tua untuk perbaikan diri sendiri serta tetap melakukan perbuatan yang tidak disukai orangtua dan mungkin anggota keluarga lainnya.
  2. Tidak mengindahkan perkataan orang-orang di sekitarnya yang memiliki wewenang seperti guru, kepala sekolah, ketua rt rw, pemuka agama, pemuka adat, dan lain sebagainya.
  3. Melakukan pelanggaran terhadap norma yang berlaku di lingkungannya.
  4. Melakukan tindak kejahatan atau kerusuhan dengan tidak peduli terhadap peraturan atau norma yang berlaku secara umum dalam lingkungan bermasyarakat sehingga menimbulkan keresahan. ketidakamanan, ketidaknyamanan atau bahkan merugikan, menyakiti, dll.

Macam-macam bentuk penyimpangan indivisual :
  1. Penyalahgunaan Narkoba.
  2. Pelacuran.
  3. Penyimpangan seksual (homo, lesbian, biseksual, pedofil, sodomi, zina, seks bebas, transeksual).
  4. Tindak Kriminal / Kejahatan (perampokan, pencurian, pembunuhan, pengrusakan, pemerkosaan, dan lain sebagainya).
  5. Gaya Hidup (wanita bepakaian minimalis di tempat umum, pria beranting, suka berbohong, dsb).

C. Macam-Macam / Jenis-Jenis Penyimpangan Bersama-Sama / Kolektif (group deviation)
Penyimpangan Kolektif adalah suatu perilaku yang menyimpang yang dilakukan oleh kelompok orang secara bersama-sama dengan melanggar norma-norma yang berlaku dalam masyarakat sehingga menimbulkan keresahan, ketidakamanan, ketidaknyamanan serta tindak kriminalitas lainnya.
Bentuk penyimpangan sosial tersebut dapat dihasilkan dari adanya pergaulan atau pertemanan sekelompok orang yang menimbulkan solidaritas antar anggotanya sehingga mau tidak mau terkadang harus ikut dalam tindak kenakalan atau kejahatan kelompok.
Bentuk penyimpangan kolektif :

1. Tindak Kenakalan
Suatu kelompok yang didonimasi oleh orang-orang yang nakal umumnya suka melakukan sesuatu hal yang dianggap berani dan keren walaupun bagi masyarakat umum tindakan trsebut adalah bodoh, tidak berguna dan mengganggu. Contoh penyimpangan kenakalan bersama yaitu seperti aksi kebut-kebutan di jalan, mendirikan genk yang suka onar, mengoda dan mengganggu cewek yang melintas, corat-coret tembok orang dan lain sebagainya.

2. Tawuran / Perkelahian Antar Kelompok
Pertemuan antara dua atau lebih kelompok yang sama-sama nakal atau kurang berpendidikan mampu menimbulkan perkelahian di antara mereka di tempat umum sehingga orang lain yang tidak bersalah banyak menjadi korban. COntoh : tawuran anak sma 70 dengan anak sma 6, tawuran penduduk berlan dan matraman, dan sebagainya.

3. Tindak Kejahatan Berkelompok / Komplotan
Kelompok jenis ini suka melakukan tindak kejahatan baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terbuka. Jenis penyimpangan ini bisa bertindak sadis dalam melakukan tindak kejahatannya dengan tidak segan melukai hingga membunuh korbannya. Contoh : Perampok, perompak, bajing loncat, penjajah, grup koruptor, sindikat curanmor dan lain-lain.

4. Penyimpangan Budaya
Penyimpangan kebudayaan adalah suatu bentuk ketidakmampuan seseorang menyerap budaya yang berlaku sehingga bertentangan dengan budaya yang ada di masyarakat. Contoh : merayakan hari-hari besar negara lain di lingkungan tempat tinggal sekitar sendirian, syarat mas kawin yang tinggi, membuat batas atau hijab antara laki-laki dengan wanita pada acara resepsi pernikahan, dsb.


Pengertian dari penyimpangan sosial: Bentuk Perilaku yang dilakukan oleh seseorang yang tidak sesuai dengan norma dan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Menurut Bruce J. Cohen, ukuran yang menjadi dasar adanya penyimpangan bukan baik atau buruk, benar atau salah menurut pengertian umum, melainkan berdasarkan ukuran norma dan nilai sosial suatu masyarakat. 

 Bentuk-bentuk penyimpangan sosial

• Bentuk pentimpangan menurut pelakunya:
o Penyimpangan Individu: penyimpangan yang dilakukan oleh Individu yang berlawanan dengan Norma. Penyimpangan ini biasanya dilakukan di lingkungan keluarga.
o Penyimpangan kelompok: dilakukan oleh kelompok orang yang tunduk pada norma kelompoknya yang bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. Contoh kelompok yang melakukan penyimpangan adalah kelompok pengedar narkotika.
• Bentuk penyimpangan menurut Sifatnya:
o Penyimpangan bersifat positif: Penyimpangan ini terarah pada nilai sosial yang berlaku dan dianggap ideal dalam masyarakat dan mempunyai dampak yang bersifat positif. Cara yang dilakukan seolah-olah menyimpang dari norma padahal tidak. Contohnya adalah: Bermunculan Wanita karier yang sejalan dengan emansipasi wanita.
o Penyimpangan bersifat negatif: Penyimpangan ini berwujud dalam tindakan yang mengarah pada nilai-nolai sosial yang dipandang rendah dan dianggap tercela dalam masayarakat. Contohnya: pemerkosaan, pencurian, pembunuhan, perjudian dan pemakaian narkotika.

• Bentuk penyimpangan menurut Lemert (1951).
o Penyimpangan Primer: merupakan penyimpangan sosial yang bersifat sementara dan biasanya tidak diulangi lagi. Seseorang yang melakukan penyimpangan ini masih diterima di masyarakat. Contoh: orang yang melanggar lalu lintas dengan tidak membawa SIM dan perbuatannya itu tidak diulangi lagi.
o Penyimpangan Sekunder:merupakan penyimpangan sosial yang nyata dan dilakukan secara berulang-ulang bahkan menjadi kebiasaan dan menunjukkan ciri khas suatu kelompok. Seseorang yang melakukan penyimpangan ini biasanya tidak akan diterima lagi di masyarakat. Contoh: Pemabuk yang seringa mabuk-mabukan dipasar, di diskotik dll.

Latar Belakang/sebab-sebab terjadinya penyimpangan Sosial :

 Proses sosialisasi yang tidak sempurna atau tidak berhasil karena seseorang mengalami kesulitan dalam hal komunikasi ketika bersosialisasi. Artinya individu tersebut tidak mampu mendalami norma- norma masyarakat yang berlaku.
 Penyimpangan juga dapat terjadi apabila seseorang sejak masih kecil mengamati bahkan meniru perilaku menyimpang yang dilakukan oleh orang-orang dewasa.
 Terbentuknya perilaku menyimpang juga merupakan hasil sosialisasi nilai sub kebudayaan menyimpang yang di pengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor ekonomi dan faktor agama. Contoh karena kekurangan biaya seorang pelajar mencuri dan seseorang yang tidak memiliki dasar agama hidupnya tanpa arah dan tujuan.
 Pertentangan antar agen sosialisasi
Pesan-pesan yang disampaikan antara agen sosialisasi yang satu dengan agen sosialisasi yang lain kadang bertentangan, misalnya : orang tua mengajarkan merokok itu tidak baik, sementara iklan rokok begitu menarik, dan anak memiliki kelompok teman sebaya yang pada umumnya merokok, sehingga jika ia mengikuti pesan orang tuanya ia akan menyimpang dari norma kelompoknya, lama-lama anak tersebut akan menjadi perokok 

 Pertentangan antara norma kelompok dengan norma masyarakat
Kelompok masyarakat tertentu memiliki norma yang bertentangan dengan norma masyarakat pada umumnya. Contoh : masyarakat yang hidup di daerah kumuh sibuk dengan usahanya memenuhi kebutuhannya, kebanyakan mereka menganggap pengucapan kata-kata kotor, membuang sampah sembarangan, membunyikan radio dengan keras merupakan hal biasa. Namun hal tersebut bagi masyarakat umum merupakan hal yang menyimpamg.

Faktor-faktor Penyebab Penyimpangan Sosial

 Faktor dari dalam adalah intelegensi atau tingkat kecerdasan, usia, jenis kelamin dan kedudukan seseorang dalam keluarga. Misalnya: seseorang yang tidak normal dan pertambahan usia.
 Faktor dari luar adalah kehidupan rumah tangga atau keluarga, pendidikan di sekolah, pergaulan dan media massa. Misalnya: seorang anak yang sering melihat orang tuanya bertengkar dapat melarikan diri pada obat-obatan atau narkoba. Pergaulan individu yang berhubungan teman-temannya, media massa, media cetak, media elektronik.

Jenis-jenis penyimpangan sosial terdiri dari 5 jenis:

 Tawuran atau perkelahian antar pelajar. Perkelahian termasuk jenis kenakalan remaja akibat kompleksnya kehidupan kota yang disebabkan karena masalah sepele.
 Penyalahgunaan narotika,obat-obat terlarang dan minuman keras. Penyalahgunaan narkotika adalah penggunaan narkotika tanpa izin dengan tujuan hanya untuk memperoleh kenikmatan. Penyimpangan sosial yang timbul adalah pembunuhan, pemerkosaan pencurian, perampokan.
 Hubungan seks diluar nikah, pelacuran dan HIV/AIDS merupakan penyimpangan sosial karena menyimpang norma sosial maupun agama.
 Tindak kriminal adalah tindak kejahatan atau tindakan yang merugikan orang lain dan melanggar norma hukum, norma sosial dan norma agama. Misalnya: mencuri,menodong, menjambret membunuh,dll. Disebabkan karena masalah kesulitan ekonomi. Dan merupakan profesi atau pekerjaanya karena sulit mencari pekerjaan yang halal
 Penyimpangan seksual. Dianggap menyimpang karena melanggar norma- norma yang berlaku.

Pencegahan penyimpangan sosial. Antara lain:

 Keluarga. Merupakan awal proses sosialisasi dan pembentukan kepribadian seorang anak. Kepribadian seorang anak akan terbentuk dengan baik apabila ia lahir dan tumbuh berkembang dalam lingkungan keluarga yang baik begitu sebaliknya.
 Lingkungan tempat tinggal dan teman sepermain. Lingkungan tempat tinggal juga dapat mempengaruhi kepribadian seseorang untuk melakukan penyimpangan sosial. Seseorang yang tinggal dalam lingkungan tempat tinggal yang baik,warganya taat dalm melakukan ibadah agama dan melakukan perbuatan2 yang baik maka keadaan ini akan mempengaruhi kepribadian seseorang menjadi baik sehingga terhindar dari penyimpangan sosial begitu sebaliknya.
 Media Massa baik cetak maupun elektronik merupakan suatu wadah sosialisasi yang dapat mempengaruhi seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Langkah pencegahan agar tidak terpengaruh akibat media massa adalah apbila kamu ingin menonton acara di televisi pilih acara yang bernilai positif dan menghindari tayangan yang dapat membawa pengaruh tidak baik.

Teori mengenai penyimpangan sosial.

Teori Differential Association. Menurut pandangan teori ini, penyimpangan sosial bersumber pada pergaulan yang berbeda yang terjadi melalui proses alih budaya.
Teori Labeling. Menurut teori ini seseorang menjadi menyimpang karena proses Labeling, penberian julukan, cap, etiket dan merek yang diberikan masyarakat secara menyimpang sehingga menyebabkan seseorang melakukan penyimpangan sosial. 
Teori Merton. Teori penyimpangan ini bersumber dari struktur sosial. Menurut Merton terjadinya perilaku menyimpang itu sebagai bentuk adabtasi terhadap situasi tertentu.
Teori Fungsi Durkheim. Bahwa kesadaran moral semua anggota masyarakat tidak mungkin terjadi karena setiap orang berbeda satu sama lainnya tergantung faktor keturunan, lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Menurut Durkheim kejahatan itu perlu, agar moralitas dan hukum itu berkembang secara formal. 
Teori konflik. Karl Mark, mengemukakan bahwa kejahatan erat terkait dengan perkembangan kapitalisme. Menurtu teori ini apa yang merupakan perilaku menyimpang hanya dalam pandangan kelas yang berkuasa untuk melindungi kepentingan mereka. Dengan demikian, peradilan pidana pun lebih memihak pada kepentingan mereka. Oleh sebab itu, orang yang dianggap melakukan kejahatan dan terkena hukuman pidana umumnya berasal dari kalangan rakyat miskin.