DISTRIBUSI FREKUENSI

Hasil pengukuran yang kita peroleh disebut dengan data mentah. Besarnya hasil pengukuran yang kita peroleh biasanya bervariasi. Apabila kita perhatikan data mentah tersebut, sangatlah sulit bagi kita untuk menarik kesimpulan yang berarti. Untuk memperoleh gambaran yang baik mengenai data tersebut, data mentah tersebut perlu di olah terlebih dahulu.

Pada saat kita dihadapkan pada sekumpulan data yang banyak, seringkali membantu untuk mengatur dan merangkum data tersebut dengan membuat tabel yang berisi daftar nilai data yang mungkin berbeda (baik secara individu atau berdasarkan pengelompokkan) bersama dengan frekuensi yang sesuai, yang mewakili berapa kali nilai-nilai tersebut terjadi. Daftar sebaran nilai data tersebut dinamakan dengan Daftar Frekuensi atau Sebaran Frekuensi (Distribusi Frekuensi).

Dengan demikian, distribusi frekuensi adalah daftar nilai data (bisa nilai individual atau nilai data yang sudah dikelompokkan ke dalam selang interval tertentu) yang disertai dengan nilai frekuensi yang sesuai.

Pengelompokkan data ke dalam beberapa kelas dimaksudkan agar ciri-ciri penting data tersebut dapat segera terlihat. Daftar frekuensi ini akan memberikan gambaran yang khas tentang bagaimana keragaman data. Sifat keragaman data sangat penting untuk diketahui, karena dalam pengujian-pengujian statistik selanjutnya kita harus selalu memperhatikan sifat dari keragaman data. Tanpa memperhatikan sifat keragaman data, penarikan suatu kesimpulan pada umumnya tidaklah sah.

Sebagai contoh, perhatikan contoh data pada Tabel 1. Tabel tersebut adalah daftar nilai ujian Matakuliah Statistik dari 80 Mahasiswa (Sudjana, 19xx).

Tabel 1. Daftar Nilai Ujian Matakuliah Statistik

79 49 48 74 81 98 87 80
80 84 90 70 91 93 82 78
70 71 92 38 56 81 74 73
68 72 85 51 65 93 83 86
90 35 83 73 74 43 86 88
92 93 76 71 90 72 67 75
80 91 61 72 97 91 88 81
70 74 99 95 80 59 71 77
63 60 83 82 60 67 89 63
76 63 88 70 66 88 79 75

Sangatlah sulit untuk menarik suatu kesimpulan dari daftar data tersebut. Secara sepintas, kita belum bisa menentukan berapa nilai ujian terkecil atau terbesar. Demikian pula, kita belum bisa mengetahui dengan tepat, berapa nilai ujian yang paling banyak atau berapa banyak mahasiswa yang mendapatkan nilai tertentu. Dengan demikian, kita harus mengolah data tersebut terlebih dulu agar dapat memberikan gambaran atau keterangan yang lebih baik.

Bandingkan dengan tabel yang sudah disusun dalam bentuk daftar frekuensi (Tabel 2a dan Tabel 2b). Tabel 2a merupakan daftar frekuensi dari data tunggal dan Tabel 2b merupakan daftar frekuensi yang disusun dari data yang sudah di kelompokkan pada kelas yang sesuai dengan selangnya. Kita bisa memperoleh beberapa informasi atau karakteristik dari data nilai ujian mahasiswa.

Tabel 2a.

No Nilai Ujian Frekuensi
xi fi
1 35 1
2 36 0
3 37 0
4 38 1
: : :
16 70 4
17 71 3
: : 1
42 98 1
43 99 1
Total 80

Pada Tabel 2a, kita bisa mengetahui bahwa ada 80 mahasiswa yang mengikuti ujian, nilai ujian terkecil adalah 35 dan tertinggi adalah 99. Nilai 70 merupakan nilai yang paling banyak diperoleh oleh mahasiswa, yaitu ada 4 orang, atau kita juga bisa mengatakan ada 4 mahasiswa yang memperoleh nilai 70, tidak ada satu pun mahasiswa yang mendapatkan nilai 36, atau hanya satu orang mahasiswa yang mendapatkan nilai 35.

Tabel 2b.

Kelas ke- Nilai Ujian Frekuensi fi
1 31 – 40 2
2 41 – 50 3
3 51 – 60 5
4 61 – 70 13
5 71 – 80 24
6 81 – 90 21
7 91 – 100 12
Jumlah 80

Tabel 2b merupakan daftar frekuensi dari data yang sudah dikelompokkan. Daftar ini merupakan daftar frekuensi yang sering digunakan. Kita sering kali mengelompokkan data contoh ke dalam selang-selang tertentu agar memperoleh gambaran yang lebih baik mengenai karakteristik dari data. Dari daftar tersebut, kita bisa mengetahui bahwa mahasiswa yang mengikuti ujian ada 80, selang kelas nilai yang paling banyak diperoleh oleh mahasiswa adalah sekitar 71 sampai 80, yaitu ada 24 orang, dan seterusnya. Hanya saja perlu diingat bahwa dengan cara ini kita bisa kehilangan identitas dari data aslinya. Sebagai contoh, kita bisa mengetahui bahwa ada 2 orang yang mendapatkan nilai antara 31 sampai 40. Meskipun demikian, kita tidak akan tahu dengan persis, berapa nilai sebenarnya dari 2 orang mahasiswa tersebut, apakah 31 apakah 32 atau 36 dst.

Ada beberapa istilah yang harus dipahami terlebih dahulu dalam menyusun daftar frekuensi.

Tabel 3.

Kelas ke- Selang Nilai Ujian Batas Kelas Nilai Kelas (xi) Frekuensi (fi)
1 31 – 40 30.5 – 40.5 35.5 2
2 41 – 50 40.5 – 50.5 45.5 3
3 51 – 60 50.5 – 60.5 55.5 5
4 61 – 70 60.5 – 70.5 65.5 13
5 71 – 80 70.5 – 80.5 75.5 24
6 81 – 90 80.5 – 90.5 85.5 21
7 91 – 100 90.5 – 100.5 95.5 12
Jumlah 80

Range : Selisih antara nilai tertinggi dan terendah. Pada contoh ujian di atas, Range = 99 – 35 = 64

Batas bawah kelas: Nilai terkecil yang berada pada setiap kelas. (Contoh: Pada Tabel 3 di atas, batas bawah kelasnya adalah 31, 41, 51, 61, …, 91)

Batas atas kelas: Nilai terbesar yang berada pada setiap kelas. (Contoh: Pada Tabel 3 di atas, batas bawah kelasnya adalah 40, 50, 60, …, 100)

Batas kelas (Class boundary): Nilai yang digunakan untuk memisahkan antar kelas, tapi tanpa adanya jarak antara batas atas kelas dengan batas bawah kelas berikutnya. Contoh: Pada kelas ke-1, batas kelas terkecilnya yaitu 30.5 dan terbesar 40.5. Pada kelas ke-2, batas kelasnya yaitu 40.5 dan 50.5. Nilai pada batas atas kelas ke-1 (40.5) sama dengan dan merupakan nilai batas bawah bagi kelas ke-2 (40.5). Batas kelas selalu dinyatakan dengan jumlah digit satu desimal lebih banyak daripada data pengamatan asalnya. Hal ini dilakukan untuk menjamin tidak ada nilai pengamatan yang jatuh tepat pada batas kelasnya, sehingga menghindarkan keraguan pada kelas mana data tersebut harus ditempatkan. Contoh: bila batas kelas di buat seperti ini:

Kelas ke-1 : 30 – 40

Kelas ke-2 : 40 – 50:

dst.

Apabila ada nilai ujian dengan angka 40, apakah harus ditempatkan pada kelas-1 ataukah kelas ke-2?

Panjang/lebar kelas (selang kelas): Selisih antara dua nilai batas bawah kelas yang berurutan atau selisih antara dua nilai batas atas kelas yang berurutan atau selisih antara nilai terbesar dan terkecil batas kelas bagi kelas yang bersangkutan. Biasanya lebar kelas tersebut memiliki lebar yang sama. Contoh:

lebar kelas = 41 – 31 = 10 (selisih antara 2 batas bawah kelas yang berurutan) atau

lebar kelas = 50 – 40 = 10 (selisih antara 2 batas atas kelas yang berurutan) atau

lebar kelas = 40.5 – 30.5 = 10. (selisih antara nilai terbesar dan terkecil batas kelas pada kelas ke-1)

Nilai tengah kelas: Nilai kelas merupakan nilai tengah dari kelas yang bersangkutan yang diperoleh dengan formula berikut: ½ (batas atas kelas+batas bawah kelas). Nilai ini yang dijadikan pewakil dari selang kelas tertentu untuk perhitungan analisis statistik selanjutnya. Contoh: Nilai kelas ke-1 adalah ½(31+40) = 35.5

Banyak kelas: Sudah jelas! Pada tabel ada 7 kelas.

Frekuensi kelas: Banyaknya kejadian (nilai) yang muncul pada selang kelas tertentu. Contoh, pada kelas ke-1, frekuensinya = 2. Nilai frekuensi = 2 karena pada selang antara 30.5 – 40.5, hanya ada 2 angka yang muncul, yaitu nilai ujian 31 dan 38.

Teknik pembuatan Tabel Distribusi Frekuensi (TDF)

Distribusi frekuensi dibuat dengan alasan berikut:

  • kumpulan data yang besar dapat diringkas
  • kita dapat memperoleh beberapa gambaran mengenai karakteristik data, dan
  • merupakan dasar dalam pembuatan grafik penting (seperti histogram).

Banyak software (teknologi komputasi ) yang bisa digunakan untuk membuat tabel distribusi frekuensi secara otomatis. Meskipun demikian, di sini tetap akan diuraikan mengenai prosedur dasar dalam membuat tabel distribusi frekuensi.

Langkah-langkah dalam menyusun tabel distribusi frekuensi:

  • Urutkan data, biasanya diurutkan dari nilai yang paling kecil
    • Tujuannya agar range data diketahui dan mempermudah penghitungan frekuensi tiap kelas!
  • Tentukan range (rentang atau jangkauan)
    • Range = nilai maksimum – nilai minimum
  • Tentukan banyak kelas yang diinginkan. Jangan terlalu banyak/sedikit, berkisar antara 5 dan 20, tergantung dari banyak dan sebaran datanya.
    • Aturan Sturges:
    • Banyak kelas = 1 + 3.3 log n, dimana n = banyaknya data
  • Tentukan panjang/lebar kelas interval (p)
    • Panjang kelas (p) = [rentang]/[banyak kelas]
  • Tentukan nilai ujung bawah kelas interval pertama

Pada saat menyusun TDF, pastikan bahwa kelas tidak tumpang tindih sehingga setiap nilai-nilai pengamatan harus masuk tepat ke dalam satu kelas. Pastikan juga bahwa tidak akan ada data pengamatan yang tertinggal (tidak dapat dimasukkan ke dalam kelas tertentu). Cobalah untuk menggunakan lebar yang sama untuk semua kelas, meskipun kadang-kadang tidak mungkin untuk menghindari interval terbuka, seperti ” ≥ 91 ” (91 atau lebih). Mungkin juga ada kelas tertentu dengan frekuensi nol.

Contoh:

Kita gunakan prosedur di atas untuk menyusun tabel distribusi frekuensi nilai ujian mahasiswa (Tabel 1).

Berikut adalah nilai ujian yang sudah diurutkan:

35  38  43  48  49  51  56  59  60  60
61  63  63  63  65  66  67  67  68  70
70  70  70  71  71  71  72  72  72  73
73  74  74  74  74  75  75  76  76  77
78  79  79  80  80  80  80  81  81  81
82  82  83  83  83  84  85  86  86  87
88  88  88  88  89  90  90  90  91  91
91  92  92  93  93  93  95  97  98  99

2. Range:
   [nilai tertinggi – nilai terendah] = 99 – 35 = 64

3. Banyak Kelas:
   Tentukan banyak kelas yang diinginkan.
   Apabila kita lihat nilai Range = 64, mungkin banyak kelas
   sekitar 6 atau 7.
   Sebagai latihan, kita gunakan aturan Sturges.
   banyak kelas = 1 + 3.3 x log(n)
                = 1 + 3.3 x log(80)
                = 7.28 ≈ 7

4. Panjang Kelas:
   Panjang Kelas = [range]/[banyak kelas]
                 = 64/7
                 = 9.14 ≈ 10
                   (untuk memudahkan dalam penyusunan TDF)

5. Tentukan nilai batas bawah kelas pada kelas pertama.
   Nilai ujian terkecil = 35
   Penentuan nilai batas bawah kelas bebas saja,
   asalkan nilai terkecil masih masuk ke dalam kelas tersebut.
   Misalkan: apabila nilai batas bawah yang kita pilih adalah 26,
   maka interval kelas pertama: 26 – 35, nilai 35 tepat jatuh
   di batas atas kelas ke-1. Namun apabila kita pilih
   nilai batas bawah kelas 20 atau 25, jelas nilai terkecil, 35,
   tidak akan masuk ke dalam kelas tersebut.
   Namun untuk kemudahan dalam penyusunan dan pembacaan TDF,
   tentunya juga untuk keindahan, he2.. lebih baik kita memilih
   batas bawah 30 atau 31.  Ok, saya tertarik dengan angka 31,
   sehingga batas bawahnya adalah 31.

Dari prosedur di atas, kita dapat info sebagai berikut:
Banyak kelas       : 7
Panjang kelas      : 10
Batas bawah kelas  : 31
Selanjutnya kita susun TDF:
Form TDF:
------------------------------------------------------------
 Kelas ke- | Nilai Ujian | Batas Kelas | Turus | Frekuensi
------------------------------------------------------------
     1        31 -
     2        41 -
     3        51 -
     :        :  -
     6        81 -
     7        91 -
------------------------------------------------------------
  Jumlah
------------------------------------------------------------
Tabel berikut merupakan tabel yang sudah dilengkapi
Kelas ke- Nilai Ujian Batas Kelas Frekuensi (fi)
1 31 – 40 30.5 – 40.5 2
2 41 – 50 40.5 – 50.5 3
3 51 – 60 50.5 – 60.5 5
4 61 – 70 60.5 – 70.5 13
5 71 – 80 70.5 – 80.5 24
6 81 – 90 80.5 – 90.5 21
7 91 – 100 90.5 – 100.5 12
Jumlah 80
atau dalam bentuk yang lebih ringkas:
Kelas ke- Nilai Ujian Frekuensi (fi)
1 31 – 40 2
2 41 – 50 3
3 51 – 60 5
4 61 – 70 13
5 71 – 80 24
6 81 – 90 21
7 91 – 100 12
Jumlah 80

Distribusi Frekuensi Relatif dan Kumulatif

Variasi penting dari distribusi frekuensi dasar adalah dengan menggunakan nilai frekuensi relatifnya, yang disusun dengan membagi frekuensi setiap kelas dengan total dari semua frekuensi (banyaknya data). Sebuah distribusi frekuensi relatif mencakup batas-batas kelas yang sama seperti TDF, tetapi frekuensi yang digunakan bukan frekuensi aktual melainkan frekuensi relatif. Frekuensi relatif kadang-kadang dinyatakan sebagai persen.

Frekuensi relatif = \dfrac{{{f_i}}}{{\sum {f_i}}} \times 100\%  = \dfrac{{{f_i}}}{n} \times 100\%

Contoh: frekuensi relatif kelas ke-1:

fi = 2; n = 80

Frekuensi relatif = 2/80 x 100% = 2.5%

Kelas ke- Nilai Ujian Frekuensi relatif (%)
1 31 – 40 2.50
2 41 – 50 3.75
3 51 – 60 6.25
4 61 – 70 16.25
5 71 – 80 30.00
6 81 – 90 26.25
7 91 – 100 15.00
Jumlah 100.00

Distribusi Frekuensi kumulatif

Variasi lain dari distribusi frekuensi standar adalah frekuensi kumulatif. Frekuensi kumulatif untuk suatu kelas adalah nilai frekuensi untuk kelas tersebut ditambah dengan jumlah frekuensi semua kelas sebelumnya.

Perhatikan bahwa kolom frekuensi selain label headernya diganti dengan frekuensi kumulatif kurang dari, batas-batas kelas diganti dengan “kurang dari” ekspresi yang menggambarkan kisaran nilai-nilai baru.

Nilai Ujian Frekuensi kumulatif kurang dari
kurang dari 30.5 0
kurang dari 40.5 2
kurang dari 50.5 5
kurang dari 60.5 10
kurang dari 70.5 23
kurang dari 80.5 47
kurang dari 90.5 68
kurang dari 100.5 80

atau kadang disusun dalam bentuk seperti ini:

Nilai Ujian Frekuensi kumulatif kurang dari
kurang dari 41 2
kurang dari 51 5
kurang dari 61 10
kurang dari 71 23
kurang dari 81 47
kurang dari 91 68
kurang dari 101 80

Variasi lain adalah Frekuensi kumulatif lebih dari. Prinsipnya hampir sama dengan prosedur di atas.

Histogram

Histogram adalah merupakan bagian dari grafik batang di mana skala horisontal mewakili nilai-nilai data kelas dan skala vertikal mewakili nilai frekuensinya. Tinggi batang sesuai dengan nilai frekuensinya, dan batang satu dengan lainnya saling berdempetan, tidak ada jarak/ gap diantara batang. Kita dapat membuat histogram setelah tabel distribusi frekuensi data pengamatan dibuat.

Poligon Frekuensi:

Poligon Frekuensi menggunakan segmen garis yang terhubung ke titik yang terletak tepat di atas nilai-nilai titik tengah kelas. Ketinggian dari titik-titik sesuai dengan frekuensi kelas, dan segmen garis diperluas ke kanan dan kiri sehingga grafik dimulai dan berakhir pada sumbu horisontal.

Ogive

Ogive adalah grafik garis yang menggambarkan frekuensi kumulatif, seperti daftar distribusi frekuensi kumulatif. Perhatikan bahwa batas-batas kelas dihubungkan oleh segmen garis yang dimulai dari batas bawah kelas pertama dan berakhir pada batas atas dari kelas terakhir. Ogive berguna untuk menentukan jumlah nilai di bawah nilai tertentu. Sebagai contoh, pada gambar berikut menunjukkan bahwa 68 mahasiswa mendapatkan nilai kurang dari 90.5.

TABULASI DATA

Sebelum melakukan analisa data, dilakukan terlebih dahulu tahapan pra analisa data berupa penyuntingan, verifikasi, dan tabulasi data. Pasca pengumpulan data di lapangan merupakan proses memasuki tahapan pra analisa. Tabulasi data biasanya memang tidak dimasukkan dalam prosedur analisa data riset, karena belum mengungkapkan hubungan data hasil riset. Namun sedikitnya tabulasi data ini dapat menyajikan pra analisa berupa ukuran deskriptif masing-masing variabel pengamatan. Tahapan awal pra analisa, data hasil survey yang telah dicek oleh supervisor lapangan di-entry pada program komputer. Dahulu sebelum program komputer berkembang, data hasil survey dikumpulkan dan dianalisa secara manual. Tentunya ini akan merepotkan untuk survey yang melibatkan banyak responden.

Proses entry atau pengetikan/pemasukan data secara sederhana dapat menggunakan program MS Excel atau langsung pada program aplikasi statistik seperti SPSS, Minitab, STATA, atau Lisrel. Namun khusus program aplikasi statistik tersebut, data harus dikodifikasi (data coding) secara numerik terlebih dahulu agar dapat dianalisa. Gambar berikut menampilkan tahapan yang perlu dilakukan proses pra analisa:

Hal penting yang perlu diperhatikan, yakni terjadinya kesalahan saat pengetikan atau mengkodifikasi jawaban yang berdampak pada kesalahan fatal pada analisa data. Seperti dalam skala likert: “1 - 5” = “sangat tidak puas – sangat puas”, jangan terbalik mengkodifikasikan “sangat tidak puas” = “5”. Beberapa perusahaan riset pemasaran atau lembaga survey umumnya menggunakan program khusus data entry, coding, dan tabulation dalam satu kesatuan. Sehingga mempermudah proses pra analisa sekaligus meminimalisasi terjadinya kesalahan pengetikan dan memasukkan data. Program khusus tersebut seperti Quantum, QPS, atau CS-Pro dapat di-setting tampilan layarnya nampak seperti kuesioner asli. Apabila program tersebut sudah di-setting sebelumnya, peng-entry-an data dapat dilakukan terpisah oleh siapapun meski bukan periset semula.

Pengontrolan data setelah supervisor lapangan adalah Data Entry Officers, yakni penyuntingan dan pengecekan apabila terdapat satu dua jawaban kuesioner yang tidak terisi, tidak lengkap, atau tidak terbaca. Apabila hal itu terjadi, dapat dilakukan konfirmasi secepatnya kepada interviewer bersangkutan melalui supervisor lapangan. Namun pengontrolan ini hanya ditoleransikan bagi kesalahan kecil tanpa perlu konfirmasi ulang terhadap responden yang terkait. Sementara untuk kesalahan besar dapat dilakukan penolakan (“reject”) atas kuesioner yang telah dikumpulkan.

Adakalanya terjadi satu-dua jawaban kuesioner kosong tidak terisi dan periset sendiri kesulitan untuk mengkonfirmasi ulang responden, interviewer, atau supervisor bersangkutan. Kebijakan penolakan dapat ditoleransi apabila kurang dari 5 % dari seluruh sampel responden. Kekosongan atau kehilangan nilai data ini dapat disiasati pada program SPSS dengan replace missing value (RMV). Dengan RMV, data yang hilang tadi akan diganti dengan pendekatan statistik, seperti pendekatan rata-rata, median, interpolasi linier, atau interpolasi trend. Barulah, setelah penyuntingan dan pengecekkan data dilakukan sesuai ambang toleransi kesalahan dan acuan jumlah sampel bersih. Data mentah yang telah disunting dan dicek disebut raw data yang adakalanya klien atau pihak pengguna memintanya sebagai bukti lapangan dan lampiran laporan akhir riset.

Aplikasi Statistika dalam Penelitian Kuantitatif

Distribusi Frekuensi

Teknik ini mungkin merupakan teknik yang paling mudah dan paling banyak digunakan untuk mendeskripsikan data. Distribusi frekuensi mengindikasikan jumlah dan persentase responden, obyek yang masuk ke dalam kategori yang ada.

Teknik ini biasanya digunakan untuk memberikan informasi awal dalam penelitian tentang obyek atau responden.

Cross-Tabulations

Bila distribusi frekuensi digunakan untuk memberikan informasi yang menggambarkan keseluruhan sampel atau populasi yang diteliti, cross-tabulation adalah sebuah teknik visual yang memungkinkan peneliti menguji relasi antar variabel.

Kedua teknik yang telah disebutkan di atas digunakan untuk menggambarkan data yang dikumpulkan selama penelitian, ini hanya merupakan awal tugas peneliti. Tugas berikutnya adalah menjelaskan temuan-temuan ini dan dapat membuat sebuah generalisasi tentang populasi yang lebih besar. Maka digunakanlah inferential statistics.

Korelasi

Metode ini menggambarkan secara kuantitatif asosiasi ataupun relasi satu variabel interval dengan variabel interval lainnya. Sebagai contoh kita dapat lihat relasi hipotetikal antara lamanya waktu belajar dengan nilai ujian tinggi.

Korelasi diukur dengan suatu koefisien (r) yang mengindikasikan seberapa banyak relasi antar dua variabel. Daerah nilai yang mungkin adalah +1.00 sampai -1.00. Dengan +1.00 menyatakan hubungan yang sangat erat, sedangkan -1.00 menyatakan hubungan negatif yang erat.

Berikut ini adalah panduan untuk nilai korelasi tersebut :

+ atau - 0.80 hingga 1.00    korelasi sangat tinggi
        0.60 hingga 0.79    korelasi tinggi
        0.40 hingga 0.59    korelasi moderat
        0.20 hingga 0.39    korelasi rendah
        0.01 hingga 0.19    korelasi sangat rendah

Satu hal yang perlu diingat adalah "korelasi tidak menyatakan hubungan sebab-akibat". Dari contoh di atas, korelasi hanya menyatakan bahwa ada relasi antara lamanya waktu belajar dengan nilai ujian tinggi, namun bukan "lamanya waktu belajar menyebabkan nilai ujian tinggi".

Regresi

Regresi digunakan ketika periset ingin memprediksi hasil atas variabel-variabel tertentu dengan menggunakan variabel lain. Dalam bentuknya yang paling sederhana yang hanya melibatkan dua buah variabel, yaitu variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent), misalnya lama waktu belajar dengan nilai ujian. Regresi sederhana berusaha memprakirakan nilai ujian dengan lamanya waktu belajar.

Analisis regresi mengindikasikan kepentingan relatif satu atau lebih variabel dalam memprediksi variabel lainnya.

t-test

Teknik t-test digunakan bila periset ingin mengevaluasi perbedaan antara efek. Sebagai contoh, periset mungkin tertarik dalam perbedaan kepuasan kerja untuk orang-orang yang berbeda tingkat pendidikannya. Teknik analisis yang banyak digunakan adalah membandingkan dua kelompok, misalnya mereka yang mendapat pendidikan universitas dengan mereka yang tidak, dengan menggunakan mean kelompok sebagai dasar perbandingan. t-test akan mengindikasikan apakah perbedaan antara kedua kelompok tersebut signifikan secara statistika.

F-test

F-test menguji apakah populasi tempat sampel diambil memiliki korelasi multiple (R) nol atau apakah terdapat sebuah relasi yang signifikan antara variabel-variabel independen dengan variabel-variabel dependen.

Analisis Validitas

Untuk melakukan analisis validitas dapat digunakan metode Pearson Product Moment (bila sampel normal, 30) ataupun metode Spearman Rank Correlation (bila sampel kecil, 30).

Analisis Reliabilitas Internal

Untuk analisis reliabilitas internal dapat digunakan metode Cronbach's Alpha. Jika koefisien yang didapat 0.60, maka instrumen penelitian tersebut reliabel.

Tipe Data

Setiap data memiliki tipe data, apakah merupakan angka bulat ( integer ), angka biasa ( real ), atau berupa karakter ( char ), dan sebagainya.

Ada 2 kategori dari tipe data yaitu:

1. Tipe dasar

1. Bilangan bulat ( integer )

- Bilangan atau angka yang tidak memiliki titik desimal atau pecahan, seperti 10, +225, -10,+25.

- Tipe dituliskan sebagai integer atau int

- Jangkauan nilai bergantung pada implementasi perangkat keras komputer, misalnya dari -11 s/d +12; untuk algoritma tidak kita batasi.

- Operasi aritmetik: tamabah+, kurang-, kali*, bagi/, sisa hasil bagi%

- Operasi pembanding:lebih kecil=, sama=, tidak sama>< .

2. Bilangan biasa ( real )

- Bilangan atau angka yang bisa memiliki titik desimal atau pecahan, dan ditulis sebagai : 235.45, +13.99, -87.76 atau dalam notasi ilmiah seperti : 1.245E+03, 7.45E-02, dsb.

- Tipe dituliskan sebagai : real

- Jangkauan nilai : bergantung pada implementasi perangkat keras komputer, misalnya dari -2.9E-39 s/d +1.7E+38, untuk algoritma tidak dibatasi.

- Operasi aritmatik dan pembandingan juga berlaku bagi bilangan biasa.

3. Bilangan tetap ( const ).

- Bilangan tetap ( const ) adalah tipe bilangan, tidak bernilai bulat maupun tidak, yang nilainya tidak berubah selama algoritma dilaksanakana.

- Tipe dituliskan sebagai const .

- Jangkauan nilai meliputi semua bilangan yang mungkin.

4. Karakter ( character )

- Karakter adalah data tunggal yang mewakili semua huruf, simbol baca, dan juga simbol angka yang tidak dapat dioprasikan secara matematis, misalnya: ’A’, ’B’, .....,’Z’, ’?’,’!’, dst.

- Tipe dituliskan sebagai char

- Jangkauan nilai meliputi semua karakter dalam kode ASCII, atau yang tertera pada setiap tombol keyboard.

- Operasi pembanding dapat dilakukan dan dievaluasi menurut urutan kode ASCII, sehingga huruf ’A’ (Hex 41) sebenarnya lebih kecil dari huruf ’a’ (Hex 61).

5. Logik ( logikal )

- Tipe data logik adalah tipe data yang dipergunakan untuk memberi nilai pada hasil pembandingan, atau kombinasi pembandingan.

- Tipe dituliskan sebagai boolean

- Jangkauan nilai ada dua : true dan false

2. Tipe bentukan

1. Array ( larik )

- Array adalah tipe data bentukan, yang merupakan wadah untuk menampung beberapa nilai data yang sejenis. Kumpulan bilangan bulat adalah array integer, kumpulan bilangan tidak bulat adalah array real.

- Cara menefinisikan ada 2 macam, yaitu:

* Nilai_ujian : array [ 1..10] of integer, atau * Int nilai­_ujian[10];

- Kedua definisi diatas menunjukkan bahwa nilai_ujian adalah kumpulan dari 10 nilai bertipe bilangan bulat.

2. String

- String adalah tipe data bentukan yang merupakan deretan karakter yang membentuk satu kata atau satu kalimat, yang biasanya diapit oleh dua tanda kutip.

- Sebagai contoh: nama, alamat, dan judul adalah tipe string.

- Cara mendefinisikannya adalah:

* string nama, alamat; atau * nama,alamat : string;

3. Record ( rekaman )

- Record adalah tipe data bentukan yang merupakan wadah untuk menampung elemen data yang tipenya tidak perlu sama dengan tujuan mewakili satu jenis objek.

- Sebagai contoh, mahasiswa sebagai satu jenis objek memiliki beberapa elemen data seperti : nomer_stb, nama, umur, dll.

- Cara mendefinisikan record mahasiswa tersebut adalah sebagai berikut:

Type dataMhs : record

nomer_stb : integer,

Nama_mhs : string,

Umur : integer,

2. Variabel

Variabel adalah nama yang mewakili suatu elemen data seperti : jenkel untuk jenis kelamin, t4lahir untuk tempat lahir, dan sebagainya. Ada aturan tertentu yang wajib diikuti dalam pemberian nama variable, antara lain:

* Harus dimulai dengan abjad, tidak boleh dengan angka atau symbol. * Tidak boleh ada spasi diantaranya * Jangan menggunakan simbol yang bisa membingungkan seperti titik dua, titik koma, koma, dan sebagainya. * Sebaiknya memiliki arti yang sesuai dengan elemen data. * Sebaiknya tidak terlalu panjang.

Contoh variabel yang benar : Nama, Alamat, Nilai_ujian

Contoh variabel yang salah : 4XYZ, IP rata, Var;=xy,45

STANDAR DEVIASI DENGAN EXCEL

Standar deviasi atau yang lebih dikenal dengan simpangan baku adalah akar kuadrat dari varian (nilai – rata-rata nilai). Bilangan tersebut dipergunakan untuk mengetahui nilai ekstrim suatu data. Penggunaan standar deviasi biasa digunakan bersama nilai rata-rata.

Untuk rekan – rekan yang ingin menghitung nilai standar deviasi, dapat juga menghitung cepat dengan excel. Silakan download tabel siap pakai di bawah ini.

download standar-deviasi odt

download standar deviasi excel

Tabel sudah dilengkapi rumus hitung nilai max,nilai min, nilai rata-rata, jumlah dan nilai standar deviasi. Untuk memakainya anda dapat download dengan klik kanan kemudian save target. Format file excel, untuk menggunakannya silakan isikan nilai anda sesuai kolom yang tersedia.

Langkah dan Susunan Pembuatan PTK beserta Proposalnya ( Penelitian Tindakan Kelas )

Pada tingkat yang paling sederhana, yaitu pada penelitian kelas: mencari tahu bagaimana siswa Anda belajar bahwa pada hari apa Anda mencoba untuk mengajar mereka dan memodifikasi kelas berikutnya yang sesuai dengan karakteristik belajar mereka. Sebagai langkah pertama, penelitian kelas membantu guru menjadi pengamat yang cerdik dalam situasi kelas yang sedang belajar.
Penelitian Tindakan Kelas lebih dari sekedar mengajar menggunakan teknik dan trik, meskipun ide standar akan lebih mengartikan " Efek dari Investigasi sistematis dari teknik pengajaran kita terhadap siswa akan bertujuan meningkatkan instuksi kita pada siswa tersebut". Hal tersebut terdiri dari dua aspek yang dapat kita lihat: repertoar teknik untuk mendapatkan informasi dari siswa tentang belajar mereka dan upaya untuk mengatur informasi yang menjadi gambaran yang lebih besar dari teori pembelajaran praktis. PTK atau action research mulai berkembang sejak perang dunia ke dua, saat ini PTK sedang berkembang dengan pesatnya di negara-negara maju seperti Inggris, Amerika, Australia, dan Canada. Para ahli penelitian pendidikan akhir-akhir ini menaruh perhatian yang cukup besar terhadap PTK. Menurut Stephen Kemmis seperti dikutip D. Hopkins dalam bukunya yang berjudul A Teacher’s Guide to Classroom Research, menyatakan bahwa action research adalah: a from of self-reflektif inquiry undertaken by participants in a social (including education) situation in order to improve the rationality and of (a) their own social or educational practices justice (b) their understanding of these practices, and (c) the situastions in which practices are carried out. Secara singkat PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tinakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki dimana praktek-praktek pembelajaran dilaksanakan. Untuk petunjuk lengkap dan bagian-bagian dari PTK itu sendiri dapat di lihat dan copy di bawah ini yang terdiri dari : 1. Pembuatan Proposal PTK 2. Pembuatan Laporan PTK Jika anda memerlukan contoh PTK silahkan dopwnload disini : download : Contoh PTK / Kumpulan Contoh PTK Sekolah Dasar/ Contoh- contoh PTK
PEMBUATAN PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
PROF. DR. H. A. FATCHAN, MPd, MSi WAYAN DASNA, PhD, M.Ed Lembaga Penelitian UNIVERSITAS NEGERI MALANG PENELITIAN TINDAKAN KELAS (CLASSROM ACTION RESEARCH) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- CATATAN KHUSUS: PERTAMA: PENELITIAN TINDAKAN KELAS MERUPAKAN PENELITIAN YANG BERTUJUAN UTAMA UNTUK MEMECAHKAN MASALAH DI KELAS YANG BAPAK IBU GURU AJAR, BUKAN DIKELAS YANG DIAJAR OLEH ORANG LAIN. KEDUA: PENELITIAN TINDAKAN KELAS BUKAN UNTUK MENGUJI TEORI, TETAPI SUATU PENELITIAN UNTUK MEMECAHKAN MASALAH PEMBELAJARN DI KELAS, JADI TIDAK MEMERLUKAN HIPOTESIS KERJA, TAPI HIPOTESIS TINDAKAN. KETIGA: PENELITIAN TINDAKAN KELAS JUGA BUKAN PENELITIAN YANG MEMBANGUN TEORI (GROUNDED THEORY), TETAPI SUATU PENELITIAN UNTUK MEMECAHKAN MASALAH PEMBELAJARN DI KELAS ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- FORMAT PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS -Halaman Judul -Halaman Pengesahan (yang ditandatangani oleh Ketua Peneliti dan Kepala Sekolah) A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah 2. Rumusan Masalah 3. Kerangka Konseptual 4. Hipotesis Tindakan 5. Tujuan Penelitian 6. Signifikansi Penelitian B. KAJIAN PUSTAKA C. METODE/PROSEDUR PENELITIAN 1. Pemilihan Setting Penelitian 2. Rancangan Penelitian 3. Langkah-langkah Penelitian 4. Teknik Pengumpulan Data 5. Teknik Analisis Data Daftar Pustaka Lampiran-lampiran - RPP - Lembar Observasi - Tes/asesmen PENJELASAN KOMPONEN SISTEMATIKA PROPOSAL PTK Bagaimana Menyusun Proposal PTK? Sebelum melakukan PTK, guru diharapkan dapat menyusun proposal PTK yang digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan penelitian. Penyusunan proposal sangat diperlukan bila guru ingin memperoleh bantuan dana untuk melaksanakan penelitian kepada penyandang dana. Kualitas proposal akan menentukan apakah proposal tersebut didanai atau tidak. Setelah proposal penelitian disetujui untuk didanai, peneliti membuat desain operasional (DO) yang telah mendeskripsikan rencana penelitian lebih operasional. DO sudah harus dilengkapi dengan perangkat pembelajaran yang akan digunakan seperti RPP, alat evaluasi, lembar kerja, bahan ajar, dan hal lain yang diperlukan untuk menerapkan tindakan. Bila penelitian telah memperoleh data, DO dapat dilengkapi dengan hasil penelitian dan pembahasan, serta bagian Penutup sehingga menjadi laporan penelitian. Bila guru melaksanakan PTK swadana dapat langsung membuat DO tanpa harus membuat proposal terlebih fdahulu. Berikut disajikan unsur-unsur minimal yang harus ada pada proposal PTK. Sistematika Usulan Penelitian Tindakan Kelas (Proposal PTK) 1. JUDUL PENELITIAN 1) Mencerminkan permasalahan pokok yang akan dipecahkan, sedapat mungkin mengandung unsur variabel utama yang diteliti. 2) Judul harus deklaratif, singkat, spesifik, jelas (8-15 kata) dan memberi gambaran mengenai penelitian yang diusulkan. 3) Pada judul harus tampak masalah yang akan diteliti dan tindakan (metode pembelajaran) yang diterapkan untuk memecahkan masalah. -Contohnya: 1) Penggunaan metode Pembelajaran Peta Konsep untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas 9 di SMP Negeri 8 Malang pada materi IPA-Biologi”. 2) Penggunaan metode Pengamatan Lapangan untuk Meningkatkan aktivitas dan kreativitas anak kelas 11 SMAN ............ 3) Penggunaan Media Foto Berwarna untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa SDN ....................... pata materi Sumber Daya Alam 4) Penerapan Metode Tim Game Tournament untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Aktivitas Siswa pada Mata Pelajaran PKn SMAN...... 2. PENDAHULUAN/ LATAR BELAKANG MASALAH 1) Berisi latar belakang dan identifikasi permasalahan, yang pada pokoknya menguraikan konteks permasalahan, uraikan dan jelaskan berbagai masalah yang dijumpai di kelas yang akan dipakai sebagai subjek PTK (sebaiknya lebih dari 3 masalah yang disajikan di sini) 2) Semua masalah yang disajikan dalam latar belakang masalah sebaiknya diyakinkan dengan angka-angka (misalnya: 19 dari 40 siswa kelas 8 SMP..........., nilai ulangan pada materi Pasar pada matapelajaran IPS Ekonomi dibawah 50), jika perlu diyakinkan dengan menampilkan tabel-tabel persentase. 3) Akan lebih baik kalau di sini juga dijelaskan beberapa temuan hasil penelitian sebelumnya/ terdahulu, secara singkat yang terkait dengan penelitian yang akan saudara teliti. 4) Dari berbagai masalah yang telah diuraikan di atas, pilihlah salah satu atau dua masalah yang dianggap penting untuk dipecahkan/ diberikan solusinya 5) Pentingnya masalah itu diteliti dan manfaat yang diharapkan dari temuan penelitian jika pelaksanaannya telah selesai. 3. RUMUSAN MASALAH 1) Perumusan masalah berupa kalimat-kalimat naratif, baik berupa pertanyaan maupun pernyataan problematis. 2) Rumusan masalah harus menampakkan masalah yang akan diteliti dan tindakan (metode pembelajaran) yang diterapkan untuk memecahkan masalah. 3) Rumusan masalah harus sejalan dengan judul penelitian. 4) Pada dasarnya judul penelitian yang diangkat berasal dari rumusan masalah yang ada disini. 5) Jumlah masalah yang diteliti boleh sebanyak: 1 atau 2 rumusan masalah, atau lebih. Tetapi jangan memecahkan banyak masalah dalam sekali PTK. Karena masalah-masalah tersebut dapat digunakan untuk PTK selanjutnya. 6) Biasanya dikemukakan beberapa butir permasalahan yang secara eksplisit menggambarkan tahap-tahap diagnosis masalah, terapi yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah dan gambaran keberhasilan atau keefektifan tindakan yang diambil. -Contohnya: 1) Apakah penggunaan metode Pembelajaran Peta Konsep dapat Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas 9 di SMP Negeri 8 Malang pada materi IPA-Biologi? 2) Bagaimana implementasi metode Pengamatan Lapangan untuk Meningkatkan aktivitas dan kreativitas anak kelas 11 SMAN ............? 3) Apakah penggunaan Media Foto Berwarna dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa SDN ....................... pata materi Sumber Daya Alam? 4) Apakah Penerapan Metode Tim Game Tournament untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Aktivitas Siswa pada Mata Pelajaran PKn SMAN......? 4. TUJUAN PENELITIAN 1) Tujuan penelitian dirumuskan dalam bentuk bukan kalimat tanya. 2) Berisi sasaran hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini sesuai dengan fokus permasalahan yang telah dirumuskan 3) Rumusan tujuan harus sejalan dengan rumusan masalah dan judul penelitian. -Contohnya: 1) Penerapan metode Pembelajaran Peta Konsep untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas 9 di SMP Negeri 8 Malang pada materi IPA-Biologi. 2) Implementasi metode Pengamatan Lapangan untuk Meningkatkan aktivitas dan kreativitas anak kelas 11 SMAN ............ 3) Penggunaan Media Foto Berwarna untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa SDN ....................... pata materi Sumber Daya Alam 4) Penerapan Metode Tim Game Tournament untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Aktivitas Siswa pada Mata Pelajaran PKn SMAN...... 5. DEFINISI OPERASIONAL 1) Berisi penegasan beberapa istilah penting (variabel-variabel) yang digunakan dalam judul dan atau dalam rumusan masalah. 2) Beberapa istilah itu diuraikan dan dijelaskan sejalan dengan pengertian yang diinginkan, yang sesungguhnya, atau yang ada dilapangan seperti yang dimau dalam penelitian ini. 3) Dalam definisi operasional bukan uraian tentang konsep dari pendapat orang lain, tetapi uraian tentang istilah sesungguhnya yang ada di lapangan/sekolah yang akan diteliti. 6. MANFAAT PENELITIAN 1) Pada bagian ini peneliti memberikan gambaran yang jelas dan realistik mengenai kegunaan atau manfaat hasil penelitian. 2) Manfaat yang diuraikan dapat dikaitkan dengan peneliti, guru dan atau siswa, pengambil keputusan atau kebijakan, dan sebagainya. 7. KAJIAN PUSTAKA ATAU KERANGKA KONSEPTUAL Pertama: 1) Berisi sejumlah teori yang relevan yang dijadikan sebagai kerangka acuan dalam kegiatan penelitian atau pemandu kegiatan penelitian. 2) Kerangka acuan ini analog dengan kerangka teori dalam penelitian kuantitatif. 3) Menguraikan secara perspektif tentang Konsep variabel-variabel yang diteiliti yang telah ditulis dalam rumusan masalah. Misal: Konsep Hasil Belajar; Konsep Media Pembelajaran Foto Berwarna, dsb 4) Terkait dengan butir 3) sebaiknya peneliti mengutip minimal tiga pendapat dari para ahli pada setiap konsep itu. Selanjutnya, peneliti membuat statement sendiri, dimana statement peneliti itu berdasarkan atas kajian dari beberapa ahli tersebut. Jadi peneliti tidak hanya sekedar “menjejer” atau “copy paste” tulisan orang lain. Kedua: 1) Berisi sejumlah paparan hasil penelitian terdahulu yang sejenis, baik hasil penelitiannya sendiri atau hasil penelitian orang lain. 2) Setidaknya membaca sebanyak 3 (tiga) judul hasil penelitian terdahulu yang seharusnya dirujuk oleh peneliti. 3) Menguraikan secara perspektif tentang hasil-hasil penelitian terdahulu tersebut. Uraikan tentang: apa judulnya, dimana dilakukan, kapan, siapa subjek penelitiannya, dan apa hasil penelitiannya. Semuanya dijelaskan dalam kajian pustaka ini. 4) Selanjutnya, peneliti membuat statement sendiri, dimana statement peneliti itu berdasarkan atas kajian dari beberapa hasil penelitian tersebut. Apa yang diduga berbeda dan apa kesamaannya dengan penelitian terdahulu tersebut, uraiakan di kajian pustaka ini. Jadi peneliti tidak hanya sekedar “menjejer” atau “copy paste” hasil penelitian orang lain tersebut. 8. HIPOTESIS TINDAKAN (JIKA DIPERLUKAN) 1) Kalimat hipotesis tindakan harus sejalan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian 2) Hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas, tidak wajib/ tidak harus ada. 3) Peneliti boleh mencantumkan hipotesis tindakan atau tidak mencantumkannya dalam suatu proposal penelitian. 4) Hipotesis tindakan tidak dimaksudkan untuk menguji ada tidaknya perbedaan atau hubungan sebagaimana hipotesis dalam penelitian kuantitatif. 5) Hipotesis tindakan memuat usulan tindakan untuk menghasilkan perbaikan yang diinginkan. 9. METODE PENELITIAN Metode atau prosedur penelitian menguraikan secara rinci: 1) Setting, daerah, atau lokasi penelitian (misalnya: penelitian dilakukan di SMAN 50 Malang), 2) Subyek yang terlibat sebagai peneliti, kolaborator, atau partisipan (misalnya: penelitian dilakukan pada materi Pasar siswa kelas 11 SMAN 50 Malang), 3) Instrumen atau alat-alat dan teknik pemantauan atau monitoring dalam proses pengumpulan data (misalnya cheklist pengamatan dan soal untuk tes hasil belajar), 4) Teknik Pengumpulan Data: pengumpulan data bisa dilakukan dengan observasi, tes, dan dokumentasi. Observasi ketika peneliti melakukan aksi/pelaksanaan PTK, tes ketika penelitian memberikan soal untuk tes akhir tindakan/pelajaran, dan dokumentasi ketika peneliti mencari data pendukung di kantor Sekolah, Diknas, atau di TU sekolah, dsb. 5) Analisis data: analisis data dalam PTK sebaiknya cukup berupa tabel persentase dan perbandingan peningkatan antartabel (gain-score) hasil siklus pertama dengan siklus kedua, siklus 2 dengan 3, dan seterusnya. 6) Langkah-langkah yang ditempuh melalui tahap-tahap atau siklus penelitian tindakan, dengan penjelasan sebagai berikut. SIKLUS, TAHAPAN, DAN PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS
START IDENTIFIKASI PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH DAN ALTERNATIF PEMECAHANNYA
PERENCANAAN ACTION (OBSERVASI PERBAIKAN UNTUK PERENCANAAN BARU REFLEKSI PENJELASAN MASING-MASING KOMPONEN SIKLUS Masing-masing siklus dalam penelitian tindakan kelas saling mempunyai keterkaitan, sehingga siklus tersebut merupakan kesatuan yang utuh menyeluruh. Beberapa ahli berpendapat hasil yang afdol pada pelaksanaan PTK minimal sebanyak tiga kali putaran siklus. Karena ketika pada putaran siklus yang ketiga pada umumnya semua problem telah dapat dipecahkan. Membuat rencana penelitian sebagai peneliti guru terlebih dahulu melakukan identifikasi masalah yang selama ini terjadi dan dialami ketika mereka mengajar di berbagai kelas yang ada. Semua permasalahan yang dialami dan atau pernah dialami dicatat atau ditulis. Selanjutnya, dipilih satu atau dua permasalahan yang paling urgen, kemudian diberikan beberapa alternatif pemecahannya melalui metode pembelajaran yang menurut bapak-ibu guru tepat. Metode yang digunakan itu seharusnya yang bapak-ibu kuasai. Pemecahan masalah tersebut selanjutnya dituangkan dalan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Semua itu dituangkan dalam tulisan yang dinamai proposal penelitian. Berdasarkan proposal penelitian dan rancangan pembelajaran yang ada di RPP bapak-ibu melaksanakan action dan dilakukan pengamatan (observasi) oleh ibu-bapak sendiri dan atau dengan sejawat guru lainnya. Berdasarkan pelaksanaan tersebut dilakukan refleksi (perenungan) bisa dilakukan sendiri dan atau lebih baik dilakukan bersama sejawat guru yang membantu pengamatan. Selanjutnya, berdasarkan hasil refleksi dilakukan perencanaan lagi untuk pelaksnaan siklus berikutnya. 1. MELAKUKAN IDENTIFIKASI PERMASALAHAN (RIIL), PENYEBAB MASALAH, DAN ALTERNATIF PEMECAHANNYA Dalam melakukan perencanaan dan membuat rencana penelitian (biasanya disebut proposal penelitian) seorang guru (sebagai peneliti) terlebih dahulu melakukan identifikasi masalah yang selama ini terjadi dan dialami oleh guru ketika mereka mengajar di kelas (di macam-macam kelas, IPS, IPA, dan atau Bahasa, di kelas satu, kelas dua, dan atau kelas tiga). Semua permasalahan nyata yang dialami dan atau pernah dialami oleh para guru itu dicatat atau ditulis. Selanjutnya, dipilih satu atau dua permasalahan yang paling urgen (paling penting dan mendesak). 2. MELAKUKAN PERENCANAAN Membuat rencana penelitian (biasanya disebut proposal penelitian) seorang guru sebagai peneliti terlebih dahulu melakukan identifikasi masalah yang selama ini terjadi dan dialami oleh guru ketika mereka mengajar di kelas (di macam-macam kelas, IPS, IPA, dan atau Bahasa, di kelas satu, kelas dua, dan atau kelas tiga). Semua permasalahan nyata yang dialami dan atau pernah dialami oleh para guru itu dicatat atau ditulis. Selanjutnya, dipilih satu atau dua permasalahan yang paling urgen (paling penting dan mendesak). Kemudian, dicanangkan dan diberikan beberapa alternatif pemecahannya melalui pendekatan atau metode pembelajaran. Metode pembelajaran apa yang menurut bapak-ibu guru yang tepat untuk memecahkan permasalahan yang mendesak itu. Metode yang digunakan itu seharusnya yang bapak-ibu kuasai. Pemecahan masalah tersebut selanjutnya bapak-ibu tuangkan dalan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Semua yang diuraikan di atas dituangkan dalam tulisan yang dinamai proposal penelitian. Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika kita akan melakukan perencanaan penelitian tindakan kelas, terutama mengidentifikasi dan mementukan masalah penelitian, sebagai berikut. 1) Permasalahan yang diidentifikasi harus merupakan masalah riil guru. Untuk itu perlu disertai data empirik, yaitu data yang berupa angka-angka, persentase, jumlah, dan sejenisnya. Bukan hanya data kualitatif seperti sebagiab besar, sebagian kecil, kebanyakan, dan sejenisnya; 2) Bersifat prblematik (dapat dipemecahkan & mendesak); 3) Masalah yg dipecahkan bermanfaat jelas; 4) Feasible & researchable; 5) Perumusan masalah berbentuk kesenjangan atau kalimat tanya; 6) Mengidentifikasi penyebab masalah; 7) Berbagai alternatif pemecahannya (brainstorming dengan guru lain/kolaboratif); dan 8) Siap di-action-kan. 3. MELAKSANAKAN TINDAKAN/ ACTION DAN (DAN OBSERVASI) Berdasarkan proposal penelitian dan rancangan pembelajaran yang ada di RPP itulah bapak-ibu melaksanakan penelitian tindakan kelas (action). Selama melaksanakan penelitian tindakan kelas (action) dilakukan pengamatan (observasi) oleh ibu-bapak sendiri. Untuk melakukan pengamatan itu sebaiknya bapak-ibu dibantu oleh teman sejawat guru lainnya. Sehingga pengamatan dapat dilakukan secara objektif. Dalam pelaksanaan aksi atau pelaksanaan tindakan (action di kelas) perlu disiapkan hal-hal berikut. 1) Bagaimana organisasi kelas 2) siapa yang melakukan observasi dan yang mencatat atau yang mengambil data di lapangan (di dalam kelas) selama action. 3) Siapa yang mengamati dan bagaimana bentuk alat (instrumen) untuk observasi 4) Dalam hal pelaksanaan PTK siswa harus dilibatkan 4. REFLEKSI 1. Kegiatan mengulas secara kritis tentang perubahan yang terjadi pada: siswa, guru, suasana kelas, dan seterusnya terjadi pada: siswa, guru, suasana kelas, dan seterusnya; 2. Dengan menggunakan pertanyaan: how, why, & what extent; 3. Mencatat kekurangan/kelemahan yang ada; dan 4. Berbagai hal tersebut sebagai bahan untuk perbaikan rencana baru. Berdasarkan pelaksanaan (action) dan hasil pengamatan bapak-ibu guru melakukan refleksi (perenungan) bisa dilakukan sendiri dan atau lebih baik dilakukan bersama sejawat guru yang membantu pengamatan. Berdasarkan hasil refleksi inilah bapak-ibu guru melakukan perencanaan lagi untuk siklus berikutnya. Hal ini dilakukan bila dalam pelaksanaan siklus pertama itu hasilnya masih belum maksimal. Perencanaan berikutnya tentu dilakukan perubahan-perubahan atau pengembangan-pengembangan perencanaan termasuk perubahan atau pengembangan RPP. Yang perlu diperhatikan dan dilakukan pada waktu melakukan refleksi adalah hal-hal sebagai berikut. 1) Kegiatan mengulas secacar kritis tentang perubahan ygan terjadi pada baik pada siswa, guru, suasana kelas, dan sejenisnya. 2) Merefleksi dengan menggunakan pertanyaan: how, why, & what extent. 3) Mencatat kekurangan/kelamahan yang ada selama perencanaan, khususnya selama pelaksanaan tindakan (action) 4) Berbagai hal tersebut sebagai bahan untuk perbaikan rencana baru pada siklus berikutnya. Jika pelaksaan pada saat itu masih belum maksimal. PERBAIKAN RENCANA (BARU) Upaya perbaikan untuk perencanaan “baru” (untuk kegiatan siklus berikutnya), dilakukan atas dasar hasil catatan tindakan (action) dan refleksi. Perencanaan baru ini tentu dilakukan perubahan-perubahan atau pengembangan-pengembangan perencanaan metode pembelajarannya. Dan tentunya termasuk perubahan atau pengembangan RPP yang akan dilakukan pada siklus atau putaran berikutnya. AKHIR TINDAKAN 1) Biasanya setelah 3 kali putaran PTK sudah dianggap/bias diakhiri dan dilaporkan hasilnya 2) Aspek yang dilaporkan: (1) setting kondisi lokasi; (2) hasil pelaksanaan tiap siklus, hasil pengamatan (kemajuan yang dicapai), hasil refleksi (berbagai perbaikan yang dilakukan); pembahasan hasil terhadap keseluruhan siklus (missal, memaparkan table hasil antar siklus dan seterusnya) 3) Berbagai perubahan yang perlu dicatat: Siswa: -Hasil belajar (harian, tengah semester, semester) -Motivasi terhadap proses belajar mengajar -Aktivitasnya -Catatan portofolio -Perubahan sikap dan lain sebagainya Guru: -Peningkatan pengetahuan -Pengelolaan kelas -Kepercayaan diri -Peningkatan keterampilan mengajar -Kecekatan -Kemampuan proses belajar mengajar dan lain sebagainya 10. DAFTAR PUSTAKA 1) Yang ditulis dalam Daftar Pustaka harus dirujuk/terkutip di dalam naskah proposal, dan sebaliknya nama yang dikutip dalam naskah proposal harus ditulis dalam Daftar Pustaka. 2) Urutan penulisan Daftar Pustaka yang gunakan urutannya: nama penulis buku, tahun terbit, judul buku (ditulis/dicetak miring), kota tempat terbit, dan nama penerbit 3) Disusun dengan urutan secara abjad nama pengarang, 11. JADWAL PELAKSANAAN PENELITIAN 1) Berisi jadwal atau matrik kegiatan penelitian yang meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan dilapangan dan penyusunan laporan. 2) Jadwal pelaksanaan mengacu pada Metode Penelitian. 3) Jadwal penelitian dibuat sejak pembuatan proposal sampai dengan pembuatan laporan penelitian (selama 6 sampai 10 bulan) 4) Dengan demikian, yang realistik seorang guru atau sekelompok guru hanya mampu melakukan PTK satu atau dua kali dalam satu tahun. 12. PERSONALIA Semua tim peneliti yang melaksanakan penelitian di lapangan harus tercantum semua, kecuali kalau guru melaksanakan PTK sendiri. 13. RENCANA BIAYA PENELITIAN Berisi rincian biaya penelitian yang mengacu pada kegiatan penelitian yang diuraikan dalam Metode Penelitian. Rekapitulasi biaya penelitian antara lain: untuk transport, uang lelah/honorarium, bahan habis, penyusunan instrumen, sewa peralatan dan sebagainya. Bila penelitian tersebut swadana, bagian ini tidak perlu dilengkapi. 14. LAMPIRAN-LAMPIRAN 1) RPP 2) Instrumen penelitian 3) CV para peneliti, dll
PEMBUATAN LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
OLEH PROF. DR. H. A. FATCHAN, MPd, MSi I WAYAN DASNA, PhD, MS.Ed Lembaga Penelitian UNIVERSITAS NEGERI MALANG MEMBUAT LAPORAN HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS (CLASSROM ACTION RESEARCH) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- CATATAN KHUSUS: PERTAMA: DALAM LAPORAN PENELITIAN PTK, PENELITI TINGGAL MENYALIN PROPOSAL PTK MENJADI = BAB I: PENDAHULUAN; BAB II: KAJIAN PUSTAKA; DAN BAB III: METODE PENELITIAN; YANG DITAMBAHI DENGAN BAB IV: HASIL DAN PEMBAHAHASAN dan; BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN KEDUA: PENELITI HARUS MEMBUAT ABSTRAK HASIL PENELITIAN YANG DITULIS PADA LEMBAR DEPAN SETELAH COVER LAPORAN HASIL PENELITIAN ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- FORMAT LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS Cover/Halaman Judul Halaman Pengesahan (yang ditandatangani oleh Ketua Peneliti dan Kepala Sekolah) Kata Pengantar Abstrak Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah 2. Rumusan Masalah 3. Tujuan Penelitian 4. Kerangka Konseptual/ Definisi Operasional 5. Hipotesis Tindakan BAB II KAJIAN PUSTAKA 1. BERBAGAI KONSEP TENTANG VARIABEL YANG DITELITI (dapat dilihat di rumusan masalah dan/atau judul) 2. BEBERAPA TEMUAN PENELITIAN TERDAHULU BAB III METODE/PROSEDUR PENELITIAN 1. Pemilihan Setting Penelitian 2. Rancangan Penelitian 3. Langkah-langkah Penelitian 4. Teknik Pengumpulan Data 5. Teknik Analisis Data BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Setting daerah penelitian 2. Sajian data penelitian 1) siklus I, 2) siklus II, dst) 3. Analisis Data 4. Temuan Penelitian atau Pengujian Hipotesis Tindakan 5. Pembahasan Implementasi Tindakan BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan 2. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN - RPP - Lembar Observasi - Tes/asesmen - Data (mentah)/ Foto Kegiatan Pelaksanaan PTK
PENJELASAN KOMPONEN DALAM SISTEMATIKA LAPORAN PTK
Cover/Halaman Judul Isinya: Tulis judul, nama para peneliti (kalau tim semua disebutkan baik ketua maupun anggota), lambang sekolah/lambang tutwuri handayai, nama sekolah dan Depdiknas Kab/kota dimana penelitian itu dilakukan. (semua tulisan diformat tengah/center) Halaman Pengesahan Isinya: Tulis judul, nama para peneliti (kalau tim semua disebutkan baik ketua maupun anggota), tempat penelitian, waktu penelitian berapa bulan, dana penelitian berapa besarnya, tandatangan oleh Ketua Peneliti sebelah kanan dan mengetahui serta ditandatangani Kepala Sekolah disebelah kiri dan/Diknas yang disertai stempel) Kata Pengantar Isinya: Ucapan terimakasih dari berbagai fihak, judul penelitian yang telah diselesaikan, singkatan hasil penelitian ini, dan mohon koreksi perbaikan dari para pihak. Abstrak Khusus abstrak ditulis satu spasi. Isinya: Tulis judul, nama para peneliti (kalau tim, semua disebutkan baik ketua maupun anggota), singkatan latarbelakang masalah (satu paragraf), metode penelitian, tujuan/rumusan masalah penelitian, subjek penelitian, cara pengumpulan data, dan teknik analisis data. Selanjutnya, ringkasan/simpulan hasil penelitian serta beberapa sarannya. Kemudian dibawahnya ditulis kata-kata kunci yang terkait dengan judul penelitiannya. Daftar Isi Isinya: Tulis nama semua bab dan sub-bab yang ada di dalam naskah laporan hasil penelitian saudara dan beri nomor halamanya Daftar Tabel Isinya: Tulis nama semua Tabel yang ada di dalam naskah laporan hasil penelitian saudara dan beri nomor halamannya Daftar Gambar Isinya: Tulis nama semua Gambar yang ada di dalam naskah laporan hasil penelitian saudara dan beri nomor halamannya BAB I PENDAHULUAN (sama dengan proposal penelitian) 1. LATAR BELAKANG MASALAH 1) Berisi latar belakang dan identifikasi permasalahan, yang pada pokoknya menguraikan konteks permasalahan, uraikan dan jelaskan berbagai masalah yang dijumpai di kelas yang akan dipakai sebagai subjek PTK (sebaiknya lebih dari 3 masalah yang disajikan di sini) 2) Semua masalah yang disajikan dalam latar belakang masalah sebaiknya diyakinkan dengan angka-angka (misalnya: 19 dari 40 siswa kelas 8 SMP..........., nilai ulangan pada materi Pasar pada matapelajaran IPS Ekonomi dibawah 50), jika perlu diyakinkan dengan menampilkan tabel-tabel persentase. 3) Akan lebih baik kalau di sini juga dijelaskan beberapa temuan hasil penelitian sebelumnya/ terdahulu, secara singkat yang terkait dengan penelitian yang akan saudara teliti. 4) Dari berbagai masalah yang telah diuraikan di atas, pilihlah salah satu atau dua masalah yang dianggap penting untuk dipecahkan/ diberikan solusinya 5) Pentingnya masalah itu diteliti dan manfaat yang diharapkan dari temuan penelitian jika pelaksanaannya telah selesai. 2. RUMUSAN MASALAH 1) Perumusan masalah berupa kalimat-kalimat naratif, baik berupa pertanyaan maupun pernyataan problematis. 2) Rumusan masalah harus menampakkan masalah yang akan diteliti dan tindakan (metode pembelajaran) yang diterapkan untuk memecahkan masalah. 3) Rumusan masalah harus sejalan dengan judul penelitian. 4) Pada dasarnya judul penelitian yang diangkat berasal dari rumusan masalah yang ada disini. 5) Jumlah masalah yang diteliti boleh sebanyak: 1 atau 2 rumusan masalah, atau lebih. Tetapi jangan memecahkan banyak masalah dalam sekali PTK. Karena masalah-masalah tersebut dapat digunakan untuk PTK selanjutnya. 6) Biasanya dikemukakan beberapa butir permasalahan yang secara eksplisit menggambarkan tahap-tahap diagnosis masalah, terapi yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah dan gambaran keberhasilan atau keefektifan tindakan yang diambil. 3. TUJUAN PENELITIAN 1) Tujuan penelitian dirumuskan dalam bentuk bukan kalimat tanya. 2) Berisi sasaran hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini sesuai dengan fokus permasalahan yang telah dirumuskan 3) Rumusan tujuan harus sejalan dengan rumusan masalah dan judul penelitian. 4. HOPOTESIS TINDAKAN (JIKA DIPERLUKAN) 1) Kalimat hipotesis tindakan harus sejalan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian 2) Hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas, tidak wajib/ tidak harus ada. 3) Peneliti boleh mencantumkan hipotesis tindakan atau tidak mencantumkannya dalam suatu proposal penelitian. 4) Hipotesis tindakan tidak dimaksudkan untuk menguji ada tidaknya perbedaan atau hubungan sebagaimana hipotesis dalam penelitian kuantitatif. 5) Hipotesis tindakan memuat usulan tindakan untuk menghasilkan perbaikan yang diinginkan. 5. DEFINISI OPERASIONAL 1) Berisi penegasan beberapa istilah penting (variabel-variabel) yang digunakan dalam judul dan atau dalam rumusan masalah. 2) Beberapa istilah itu diuraikan dan dijelaskan sejalan dengan pengertian yang diinginkan, yang sesungguhnya, atau yang ada dilapangan seperti yang dimau dalam penelitian ini. 3) Dalam definisi operasional bukan uraian tentang konsep dari pendapat orang lain, tetapi uraian tentang istilah sesungguhnya yang ada di lapangan/sekolah yang akan diteliti. 6. MANFAAT PENELITIAN 1) Pada bagian ini peneliti memberikan gambaran yang jelas dan realistik mengenai kegunaan atau manfaat hasil penelitian. 2) Manfaat yang diuraikan dapat dikaitkan dengan peneliti, guru dan atau siswa, pengambil keputusan atau kebijakan, dan sebagainya. BAB II KAJIAN PUSTAKA (sama dengan proposal penelitian) Pertama: 1) Berisi sejumlah teori yang relevan yang dijadikan sebagai kerangka acuan dalam kegiatan penelitian atau pemandu kegiatan penelitian. 2) Kerangka acuan ini analog dengan kerangka teori dalam penelitian kuantitatif. 3) Menguraikan secara perspektif tentang Konsep variabel-variabel yang diteiliti yang telah ditulis dalam rumusan masalah. Misal: Konsep Hasil Belajar; Konsep Media Pembelajaran Foto Berwarna, dsb 4) Terkait dengan butir 3) sebaiknya peneliti mengutip minimal tiga pendapat dari para ahli pada setiap konsep itu. Selanjutnya, peneliti membuat statement sendiri, dimana statement peneliti itu berdasarkan atas kajian dari beberapa ahli tersebut. Jadi peneliti tidak hanya sekedar “menjejer” atau “copy paste” tulisan orang lain. Kedua: 1) Berisi sejumlah paparan hasil penelitian terdahulu yang sejenis, baik hasil penelitiannya sendiri atau hasil penelitian orang lain. 2) Setidaknya membaca sebanyak 3 (tiga) judul hasil penelitian terdahulu yang seharusnya dirujuk oleh peneliti. 3) Menguraikan secara perspektif tentang hasil-hasil penelitian terdahulu tersebut. Uraikan tentang: apa judulnya, dimana dilakukan, kapan, siapa subjek penelitiannya, dan apa hasil penelitiannya. Semuanya dijelaskan dalam kajian pustaka ini. 4) Selanjutnya, peneliti membuat statement sendiri, dimana statement peneliti itu berdasarkan atas kajian dari beberapa hasil penelitian tersebut. Apa yang diduga berbeda dan apa kesamaannya dengan penelitian terdahulu tersebut, uraiakan di kajian pustaka ini. Jadi peneliti tidak hanya sekedar “menjejer” atau “copy paste” hasil penelitian orang lain tersebut. BAB III METODE PENELITIAN (sama dengan proposal penelitian) Metode atau prosedur penelitian menguraikan secara rinci: 1) Setting, daerah, atau lokasi penelitian (misalnya: penelitian dilakukan di SMAN 50 Malang), 2) Subyek yang terlibat sebagai peneliti, kolaborator, atau partisipan (misalnya: penelitian dilakukan pada materi Pasar siswa kelas 11 SMAN 50 Malang), 3) Instrumen atau alat-alat dan teknik pemantauan atau monitoring dalam proses pengumpulan data (misalnya cheklist pengamatan dan soal untuk tes hasil belajar), 4) Teknik Pengumpulan Data: pengumpulan data bisa dilakukan dengan observasi, tes, dan dokumentasi. Observasi ketika peneliti melakukan aksi/pelaksanaan PTK, tes ketika penelitian memberikan soal untuk tes akhir tindakan/pelajaran, dan dokumentasi ketika peneliti mencari data pendukung di kantor Sekolah, Diknas, atau di TU sekolah, dsb. 5) Analisis data: analisis data dalam PTK sebaiknya cukup berupa tabel persentase dan perbandingan peningkatan antartabel (gain-score) hasil siklus pertama dengan siklus kedua, siklus 2 dengan 3, dan seterusnya. 6) Langkah-langkah yang ditempuh melalui tahap-tahap atau siklus penelitian tindakan, dengan penjelasan sebagai berikut. SIKLUS, TAHAPAN, DAN PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS START IDENTIFIKASI PERMASALAHAN PENYEBAB MASALAH DAN ALTERNATIF PEMECAHANNYA PERENCANAAN ACTION (OBSERVASI PERBAIKAN UNTUK PERENCANAAN BARU REFLEKSI PENJELASAN MASING-MASING KOMPONEN SIKLUS Masing-masing siklus dalam penelitian tindakan kelas saling mempunyai keterkaitan, sehingga siklus tersebut merupakan kesatuan yang utuh menyeluruh. Beberapa ahli berpendapat hasil yang afdol pada pelaksanaan PTK minimal sebanyak tiga kali putaran siklus. Karena ketika pada putaran siklus yang ketiga pada umumnya semua problem telah dapat dipecahkan. Membuat rencana penelitian sebagai peneliti guru terlebih dahulu melakukan identifikasi masalah yang selama ini terjadi dan dialami ketika mereka mengajar di berbagai kelas yang ada. Semua permasalahan yang dialami dan atau pernah dialami dicatat atau ditulis. Selanjutnya, dipilih satu atau dua permasalahan yang paling urgen, kemudian diberikan beberapa alternatif pemecahannya melalui metode pembelajaran yang menurut bapak-ibu guru tepat. Metode yang digunakan itu seharusnya yang bapak-ibu kuasai. Pemecahan masalah tersebut selanjutnya dituangkan dalan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Semua itu dituangkan dalam tulisan yang dinamai proposal penelitian. Berdasarkan proposal penelitian dan rancangan pembelajaran yang ada di RPP bapak-ibu melaksanakan action dan dilakukan pengamatan (observasi) oleh ibu-bapak sendiri dan atau dengan sejawat guru lainnya. Berdasarkan pelaksanaan tersebut dilakukan refleksi (perenungan) bisa dilakukan sendiri dan atau lebih baik dilakukan bersama sejawat guru yang membantu pengamatan. Selanjutnya, berdasarkan hasil refleksi dilakukan perencanaan lagi untuk pelaksnaan siklus berikutnya. 1. MELAKUKAN IDENTIFIKASI PERMASALAHAN (RIIL), PENYEBAB MASALAH, DAN ALTERNATIF PEMECAHANNYA Dalam melakukan perencanaan dan membuat rencana penelitian (biasanya disebut proposal penelitian) seorang guru (sebagai peneliti) terlebih dahulu melakukan identifikasi masalah yang selama ini terjadi dan dialami oleh guru ketika mereka mengajar di kelas (di macam-macam kelas, IPS, IPA, dan atau Bahasa, di kelas satu, kelas dua, dan atau kelas tiga). Semua permasalahan nyata yang dialami dan atau pernah dialami oleh para guru itu dicatat atau ditulis. Selanjutnya, dipilih satu atau dua permasalahan yang paling urgen (paling penting dan mendesak). 2. MELAKUKAN PERENCANAAN Membuat rencana penelitian (biasanya disebut proposal penelitian) seorang guru sebagai peneliti terlebih dahulu melakukan identifikasi masalah yang selama ini terjadi dan dialami oleh guru ketika mereka mengajar di kelas (di macam-macam kelas, IPS, IPA, dan atau Bahasa, di kelas satu, kelas dua, dan atau kelas tiga). Semua permasalahan nyata yang dialami dan atau pernah dialami oleh para guru itu dicatat atau ditulis. Selanjutnya, dipilih satu atau dua permasalahan yang paling urgen (paling penting dan mendesak). Kemudian, dicanangkan dan diberikan beberapa alternatif pemecahannya melalui pendekatan atau metode pembelajaran. Metode pembelajaran apa yang menurut bapak-ibu guru yang tepat untuk memecahkan permasalahan yang mendesak itu. Metode yang digunakan itu seharusnya yang bapak-ibu kuasai. Pemecahan masalah tersebut selanjutnya bapak-ibu tuangkan dalan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Semua yang diuraikan di atas dituangkan dalam tulisan yang dinamai proposal penelitian. Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika kita akan melakukan perencanaan penelitian tindakan kelas, terutama mengidentifikasi dan mementukan masalah penelitian, sebagai berikut. 1) Permasalahan yang diidentifikasi harus merupakan masalah riil guru. Untuk itu perlu disertai data empirik, yaitu data yang berupa angka-angka, persentase, jumlah, dan sejenisnya. Bukan hanya data kualitatif seperti sebagiab besar, sebagian kecil, kebanyakan, dan sejenisnya; 2) Bersifat prblematik (dapat dipemecahkan & mendesak); 3) Masalah yg dipecahkan bermanfaat jelas; 4) Feasible & researchable; 5) Perumusan masalah berbentuk kesenjangan atau kalimat tanya; 6) Mengidentifikasi penyebab masalah; 7) Berbagai alternatif pemecahannya (brainstorming dengan guru lain/kolaboratif); dan 8) Siap di-action-kan. 3. MELAKSANAKAN TINDAKAN/ ACTION DAN (DAN OBSERVASI) Berdasarkan proposal penelitian dan rancangan pembelajaran yang ada di RPP itulah bapak-ibu melaksanakan penelitian tindakan kelas (action). Selama melaksanakan penelitian tindakan kelas (action) dilakukan pengamatan (observasi) oleh ibu-bapak sendiri. Untuk melakukan pengamatan itu sebaiknya bapak-ibu dibantu oleh teman sejawat guru lainnya. Sehingga pengamatan dapat dilakukan secara objektif. Dalam pelaksanaan aksi atau pelaksanaan tindakan (action di kelas) perlu disiapkan hal-hal berikut. 1) Bagaimana organisasi kelas 2) siapa yang melakukan observasi dan yang mencatat atau yang mengambil data di lapangan (di dalam kelas) selama action. 3) Siapa yang mengamati dan bagaimana bentuk alat (instrumen) untuk observasi 4) Dalam hal pelaksanaan PTK siswa harus dilibatkan 4. REFLEKSI 1. Kegiatan mengulas secara kritis tentang perubahan yang terjadi pada: siswa, guru, suasana kelas, dan seterusnya terjadi pada: siswa, guru, suasana kelas, dan seterusnya; 2. Dengan menggunakan pertanyaan: how, why, & what extent; 3. Mencatat kekurangan/kelemahan yang ada; dan 4. Berbagai hal tersebut sebagai bahan untuk perbaikan rencana baru. Berdasarkan pelaksanaan (action) dan hasil pengamatan bapak-ibu guru melakukan refleksi (perenungan) bisa dilakukan sendiri dan atau lebih baik dilakukan bersama sejawat guru yang membantu pengamatan. Berdasarkan hasil refleksi inilah bapak-ibu guru melakukan perencanaan lagi untuk siklus berikutnya. Hal ini dilakukan bila dalam pelaksanaan siklus pertama itu hasilnya masih belum maksimal. Perencanaan berikutnya tentu dilakukan perubahan-perubahan atau pengembangan-pengembangan perencanaan termasuk perubahan atau pengembangan RPP. Yang perlu diperhatikan dan dilakukan pada waktu melakukan refleksi adalah hal-hal sebagai berikut. 1) Kegiatan mengulas secacar kritis tentang perubahan ygan terjadi pada baik pada siswa, guru, suasana kelas, dan sejenisnya. 2) Merefleksi dengan menggunakan pertanyaan: how, why, & what extent. 3) Mencatat kekurangan/kelamahan yang ada selama perencanaan, khususnya selama pelaksanaan tindakan (action) 4) Berbagai hal tersebut sebagai bahan untuk perbaikan rencana baru pada siklus berikutnya. Jika pelaksaan pada saat itu masih belum maksimal. PERBAIKAN RENCANA (BARU) Upaya perbaikan untuk perencanaan “baru” (untuk kegiatan siklus berikutnya), dilakukan atas dasar hasil catatan tindakan (action) dan refleksi. Perencanaan baru ini tentu dilakukan perubahan-perubahan atau pengembangan-pengembangan perencanaan metode pembelajarannya. Dan tentunya termasuk perubahan atau pengembangan RPP yang akan dilakukan pada siklus atau putaran berikutnya. AKHIR TINDAKAN 1) Biasanya setelah 3 kali putaran PTK sudah dianggap/bias diakhiri dan dilaporkan hasilnya 2) Aspek yang dilaporkan: (1) setting kondisi lokasi; (2) hasil pelaksanaan tiap siklus, hasil pengamatan (kemajuan yang dicapai), hasil refleksi (berbagai perbaikan yang dilakukan); pembahasan hasil terhadap keseluruhan siklus (missal, memaparkan table hasil antar siklus dan seterusnya) 3) Berbagai perubahan yang perlu dicatat: Siswa: -Hasil belajar (harian, tengah semester, semester) -Motivasi terhadap proses belajar mengajar -Aktivitasnya -Catatan portofolio -Perubahan sikap dan lain sebagainya Guru: -Peningkatan pengetahuan -Pengelolaan kelas -Kepercayaan diri -Peningkatan keterampilan mengajar -Kecekatan -Kemampuan proses belajar mengajar dan lain sebagainya BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berisi tentang: 1. Setting daerah/lokasi penelitian yang berisi tentang uraian secara rinci dan kronologis tentang kondisi daerah/lokasi penelitian 2. Sajian data penelitian Hasil penelitian berisi paparan tentang uraian penelitian yang sejalan dengan tujuan penelitian. Pada dasarnya uraian hasil penelitian berisi menjawab pertanyaan penelitian atau menjawab tujuan penelitian berdasarkan banyaknya siklus yang diterapkan/di action-kan: SIKLUS I: 1 Paparkan data hasil penelitian pada setiap siklus yang dilakukan. Paparkan hasil pengamatan (termasuk kemajuan yg dicapai). Paparan dalam bentuk Tabel persentase dan dibawahnya diberikan komentar tentang angka (persentase) yang ekstrim-ekstrim saja. Tabel persentase tersebut, misalnya tentang: Siswa: -hasil belajar (harian, tengah semerter, semesteran) -motivasi terhadap PBM -aktivitasnya -catatan portofolio -perubahan sikap, dls Guru: -peningkatan pengetahuan -pengelolaa kelasnya -kepercayaan diri -peningkatan keterampilan mengajar -kecekatan mengajar -kemampuan PBM, dls 2 Paparkan hasil refleksi, dengan guru/siapa saja refleksi dilakukan, dan uraikan/ jelaskan di sini. Termasuk berbagai perbaikan yg disarankan untuk dilakukan pada siklus berikutnya. Berbagai perubahan yang perlu dilakukan pada siklus selanjutnya. SIKLUS II: Pada dasarnya uraian pada siklus dua sama dengan siklus pertama, namun perlu dijelaskan apa saja perkembangan/ perubahan pembelajaran yang dilakukan pada siklus dua ini, isinya sebagai berikut. 1 Paparkan data hasil penelitian pada setiap siklus yang dilakukan. Paparkan hasil pengamatan (termasuk kemajuan yg dicapai). Paparan dalam bentuk Tabel persentase dan dibawahnya diberikan komentar tentang angka (persentase) yang ekstrim-ekstrim saja. Tabel persentase tersebut, misalnya tentang: Siswa: -hasil belajar (harian, tengah semerter, semesteran) -motivasi terhadap PBM -aktivitasnya -catatan portofolio -perubahan sikap, dls Guru: -peningkatan pengetahuan -pengelolaa kelasnya -kepercayaan diri -peningkatan keterampilan mengajar -kecekatan mengajar -kemampuan PBM, dls 2 Paparkan hasil refleksi, dengan guru/siapa saja refleksi dilakukan, dan uraikan/ jelaskan di sini. Termasuk berbagai perbaikan yg disarankan untuk dilakukan pada siklus berikutnya. Berbagai perubahan yang perlu dilakukan pada siklus selanjutnya, dan begitu seterusnya. Jika pada siklus dua dirasa sudah cukup maka laporan pemaparan data cukup sampai disini. 3. Analisis Data Temuan Penelitian Isi sub-bab analisis data yaitu: 1) Sandingkan dan bandingkan data (Tabel persentase) pada siklus pertama dan siklus dua. 2) Jika dilakukan 3 siklus, maka bandingkan dan sandingkan ketiga data (Tabel %) yang ada tersebut 3) Berikan penjelasan/uraian seberapa besar peningkatan yang terjadi antarsiklus tersebut (siklus 1, 2, dan 3) dan berikanlah komentar-komentar saudara sebagai peneliti 4.Temuan Penelitian atau Pengujian Hipotesis Tindakan Isinya: -Berdasarkan analisis data yang telah dipaparkan pada sub-bab di atas, maka jelaskan apakah temuan penelitian saudara sejalan dengan tujuan penelitian yang telah saudara tulis didepan atau tidak. -Dengan kata lain, saudara juga menguji hipotesis tindakan yang telah saudara sebutkan di atas (di Bab I, bila saudara menggunakan sub-bab hipotesis tindakan). -Dengan begitu, uraian sub-bab ini sebenarnya menjawab tujuan penelitian suadara. Jika ada dua tujuan, maka ada dua temuan. Jika ada tiga tujuan, maka ada tiga temuan penelitian. 5.Pembahasan Hasil Penelitian Pembahasan hasil penelitian, rambu-rambu penulisan pembahasan hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) Pembahasan hasil dilakukan terhadap keseluruhan siklus; (2) Misalnya dengan memaparkan tabel hasil antarsiklus dan berbagai pengalaman keuntungan dan keutamaan temuan yang dialami pada waktu pelaksanaan (action) semuanya dijelaskan di sini; (3) Temuan penelitian hendaknya didiskusikan/didialogkan dengan berbagai kajian teori dan temuan penelitian sebelumnya yang telah dipaparkan di bab tiga tentan kajian pustaka. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1) Kesimpulan pada dasarnya menjawab secara singkat tujuan penelitian. Jika tujuan penelitiannya 2 kesimpulannya ya dua, Jika tujuan penelitiannya 1 kesimpulannya ya simpulannya satu. Dan begitu seterusnya 2) Paparkan kesimpulan biasanya berupa beberapa simpulan yang sejalan atau berurutan dengan rumusan masalah/tujuan penelitian. Saran Isinya yaitu paparkan beberapa saran sejalan dengan temuan penelitian. Saran bisa ditujukan kepada penelitian lanjutan apa, aktivitas belajar siswa, guru, sekolah, dan komponen sekolah/pendidikan lainnya yang terkait dengan temuan penelitian. DAFTAR PUSTAKA 1) Yang ditulis dalam Daftar Pustaka harus dirujuk/terkutip di dalam naskah proposal, dan sebaliknya nama yang dikutip dalam naskah proposal harus ditulis dalam Daftar Pustaka. 2) Urutan penulisan Daftar Pustaka yang gunakan urutannya: nama penulis buku, tahun terbit, judul buku (ditulis/dicetak miring), kota tempat terbit, dan nama penerbit 3) Disusun dengan urutan secara abjad nama pengarang, Contoh: Fatchan, Ach, 2009, Metode Penelitian Tindakan Kelas, Surabaya, Jenggala Pustaka Utama- Lemlit UM. Stringer, Ernie, 2004, Action Researh in Education, Columbus – New Jersey - Ohio, Merrill Prentice Hall. LAMPIRAN-LAMPIRAN 1.JADWAL PELAKSANAAN PENELITIAN 1) Berisi jadwal atau matrik kegiatan penelitian yang meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan dilapangan dan penyusunan laporan. 2) Jadwal pelaksanaan mengacu pada Metode Penelitian. 3) Jadwal penelitian dibuat sejak pembuatan proposal sampai dengan pembuatan laporan penelitian (selama 6 sampai 10 bulan) 4) Dengan demikian, yang realistik seorang guru atau sekelompok guru hanya mampu melakukan PTK satu atau dua kali dalam satu tahun. 2.PERSONALIA Semua tim peneliti yang melaksanakan penelitian di lapangan harus tercantum semua, kecuali kalau guru melaksanakan PTK sendiri. 3.RINCIAN BIAYA PENELITIAN Berisi rincian biaya penelitian yang mengacu pada kegiatan penelitian yang diuraikan dalam Metode Penelitian. Rekapitulasi biaya penelitian antara lain: untuk transport, uang lelah/honorarium, bahan habis, penyusunan instrumen, sewa peralatan dan sebagainya. Bila penelitian tersebut swadana, bagian ini tidak perlu dilengkapi. 3.RPP 4.INSTRUMEN PENELITIAN 5.CV PARA PENELITI 6.FOTO DOKUMENTASI, DLL

Tips Membangun Otak Anak dengan Musik

Para peneliti percaya bahwa pelatihan musik benar-benar menciptakan jalur baru di otak.
Musik memiliki pengaruh kuat terhadap emosi kita. Orang tua kita tahu bahwa lagu ninabobo tenang dan lembut dapat menenangkan bayi yang rewel, paduan suara yang megah dapat membuat kita merasakan kegembiraan. Tahukah Anda, bahwa musik juga dapat mempengaruhi cara kita berpikir ? Kita lihat bahasan lebih lanjutnya. Dalam beberapa tahun terakhir, telah ada banyak penelitian tentang bagaimana otak berkembang. Bayi dilahirkan dengan miliaran sel otak. Selama tahun-tahun pertama kehidupan bayi, sel-sel otak membentuk hubungan dengan sel otak lainnya. Seiring waktu, hubungan tersebut kita gunakan secara teratur agar menjadi lebih kuat. Anak-anak yang tumbuh dengan mendengarkan musik mengembangkan hubungan antar sel otak yang kuat yang berhubungan dengan musik . Beberapa jalur musik sebenarnya mempengaruhi cara kita berpikir. Mendengarkan musik klasik dapat meningkatkan penalaran spasial seseorang, setidaknya untuk waktu yang singkat. Dan belajar untuk memainkan alat musik mungkin memiliki efek lebih lama pada keterampilan berpikir tertentu. Apakah Musik Membuat kita lebih "pintar"? Tidak persis begitu, musik tampak sebagai pemikiran utama bagi beberapa jenis berpikir. Setelah mendengarkan musik klasik, orang dewasa dapat melakukan tugas-tugas spasial tertentu lebih cepat, seperti menyusun jigsaw puzzle dan sebagainya. Mengapa hal ini terjadi? Jalur musik klasik di dalam otak kita mirip dengan jalur kita gunakan untuk penalaran spasial. Ketika kita mendengarkan musik klasik, jalur spasial telah "diaktifkan" dan siap untuk digunakan. Utamanya, hal ini membuat lebih mudah untuk bekerja dengan teka-teki dengan lebih cepat. Tetapi efeknya hanya berlangsung dalam waktu singkat. Meningkatkannya keterampilan spasial memudar sekitar satu jam setelah kita berhenti mendengarkan musik. Belajar memainkan alat musik juga dapat memiliki efek yang tahan lama pada penalaran spasial,. Itulah sebabnya, dalam beberapa penelitian, anak-anak yang mengambil pelajaran piano selama enam bulan meningkatkan kemampuan mereka untuk bekerja dengan teka-teki dan memecahkan tugas-tugas spasial lainnya sebanyak 30 persen lebih akurat. Mengapa memainkan alat musik membuat perbedaan semacam itu? Para peneliti percaya bahwa pelatihan musik menciptakan jalur-jalur baru di otak. Kenapa harus Musik Klasik? Musik yang kebanyakan orang menyebutnya " Musik klasik" - karya-karya komposer seperti Bach, Beethoven, atau Mozart - berbeda dari musik seperti rock dan lagu-lagu kebangsaan suatu negara. Musik klasik memiliki struktur musik yang lebih kompleks. Bayi yang berusia 3 bulan bisa memilih struktur dan bahkan mengakui pilihan musik klasik adalah yang mereka suka. Peneliti berpikir, kompleksitas musik klasik adalah apa yang memnjadi penyebab utama pada otak untuk memecahkan masalah spasial dengan lebih cepat. Jadi mendengarkan musik klasik mungkin memiliki efek yang berbeda pada otak dibandingkan mendengarkan jenis musik lain. Ini tidak berarti bahwa jenis musik lainnya tidak begitu baik didengar. Mendengarkan segala jenis musik membantu membangun jalur yang berhubungan dengan musik di otak. Dan musik dapat memiliki efek positif pada suasana hati kita yang dapat membuat belajar lebih mudah. Apa Yang Dapat Anda Lakukan? Orang tua dan para penyedia perawat bagi anak-anak ( baby sister) dapat membantu mengasuh anak-anak untuk mencintai musik dimulai pada masa bayi. Berikut adalah beberapa tips-nya:
  1. Mainkan musik untuk bayi Anda. Paparan bayi Anda banyak pilihan musik yang berbeda dari berbagai gaya. Jika Anda memainkan alat musik, praktek ketika bayi Anda berada di dekatnya. Tapi tetap volume moderat. Musik yang keras dapat merusak pendengaran bayi.
  2. Biasakan bernyanyi untuk bayi Anda. Tidak peduli seberapa baik Anda menyanyi! Mendengar suara Anda membantu bayi Anda mulai belajar bahasa. Bayi menyukai pola dan irama lagu. Dan bahkan bayi muda dapat mengenali melodi tertentu ketika mereka sudah mendengar mereka.
  3. Bernyanyilah bersama dengan anak Anda. Sebagai anak-anak tumbuh, mereka menikmati bernyanyi dengan Anda. Dan pengaturan kata-kata untuk musik benar-benar membantu otak belajar mereka lebih cepat dan mempertahankan mereka lagi. Itulah mengapa kita mengingat lirik lagu kami menyanyikan sebagai anak-anak, bahkan jika kita tidak mendengar mereka bertahun-tahun.
  4. Biasakan anak Anda berlatih bermain musik sejak dini. Jika Anda ingin anak Anda untuk belajar instrumen, Anda tidak perlu menunggu sampai sekolah dasar untuk memulai pelajaran. otak anak-anak muda mengembangkan dilengkapi untuk belajar musik. Sebagian besar empat-dan lima-year-olds menikmati membuat musik dan dapat mempelajari dasar-dasar dari beberapa instrumen. Dan mulai awal pelajaran membantu anak-anak membangun cinta seumur hidup dari musik.
  5. Dorong sekolah anak Anda untuk mengajar musik. Bernyanyi membantu menstimulasi otak, setidaknya sebentar. Seiring waktu, musik pendidikan sebagai bagian dari sekolah dapat membantu membangun keterampilan seperti koordinasi dan kreativitas. Dan musik membantu anak Anda belajar menjadi orang baik-bulat.
Nah, sekarang, tidak ada salahnya jika Anda sebagai guru, khususnya guru tingkat Sekolah Dasar untuk menerapkan tips-tips diatas. Guru adalah orang tua siswa setelah Ayah dan Ibu mereka, ajaklah siswa Anda untuk mengenal, belajar, dan memainkan musik, walaupun hanya bernyanyi bersama, kami rasa itu akan sangat mensimultan jaringan kompleksitas otak mereka. Sekian, terima kasih,, SEMOGA BERMANFAAT......... Copyrigh with Permission © 2010 by Education For Our Country™ Resource : Fagen, J., Prigot, J., Carroll, M., Pioli, L., Stein, A., & Franco, A. (1997). Auditory context and memory retrieval in young infants. Child Development, 68, 1057-1066. Rauscher, F. H., Shaw, G. L., Levine, L. J., Wright, E. L., Dennis, W. R., & Newcomb, R. L. (1997). Music training causes long-term enhancement of preschool children's spatial-temporal reasoning. Neurological Research, 19, 2-8. Viadero, D. (1998). Music on the Mind. Education Week, April 8, 1998. Wallace, W. T. (1994). Memory for music: Effect of melody on recall of text. Journal of Experimental Psychology: Learning, Memory, & Cognition, 20, 1471-1485. Reprinted with permission from the University of Georgia. Bales, D. (1998). Building Baby's Brain: The Role of Music. Athens, GA: University of Georgia, College of Family and Consumer Sciences.-www.educationoasis.com

Model Pembelajaran Simulasi Sosial

Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya pura- pura atau berbuat seolah- olah. Kata simulation artinya tiruan atau perbuatan yang pura- pura. Dengan demikian, simulasi dalam metode pembelajaran dimaksudkan sebagai cara untuk menjelaskan sesuatu (bahan pelajaran) melalui perbuatan yang bersifat pura- pura atau melalui proses tingkah laku lak imitasi. Atau bermain peran mengenai tingkah laku yang dilakukan seolah- olah dalam keadaan yang sebenarnya. (Ismail SM, 2008:24) Simulasi merupakan suatu metode pembelajaran praktek interaktif yang melibatkan penciptaan situasi atau ruang belajar dalam suatu program pelatihan.Tujuan dari simulasi adalah untuk memunculkan pengalaman pembelajaran selama mengikuti program pelatihan. Metode ini mirip dengan permainan peran, tetapi dalam simulasi, peserta peserta lebih banyak berperan sebagai dirinya sendiri saat melakukan kegiatan. Misalnya: sebelum melakukan praktek penerbangan, seorang siswa sekolah penerbangan melakukan simulasi penerbangan terlebih dahulu (belum benar-benar terbang) Metode simulasi telah diterapkan dalam pendidikan lebih dari tiga puluh tahun. Pelopornya adalah Sarene Boocock dan Harold Guetzkow. Walaupun model simulasi bukan dari disiplin ilmu pendidikan, tetapi merupakan penerapan dari prinsip sibernetik, suatu cabang dari psikologi sibernetik yaitu suatu study perbandingan antara mekanisme kontrol manusia (biologis) dengan sistem elektro mekanik, seperti komputer. Jadi, berdasarkan teori sibernetika ahli psikologi menganalogikan mekanisme kerja manusia seperti mekanisme mesin elektronik. Menganggap siswa (pembelajar) sebagai suatu sistem yang dapat mengendalikan umpan balik sendiri (self regulated feedback) (Hamzah B Uno,2007:28). Sistem kendali umpan balik ini, baik manusia maupun mesin mempunyai tiga fungsi, yaitu (1) menghasilkan gerakan/ tindakan sistem terhadap target yang diinginkan, (2)membandingkan dampak dari tindakannya tersebut, (3) memanfaatkan kesalahan (error) untuk mengarahkan kembali ke jalur yang seharusnya. Prosedur Pembelajaran Proses simulasi tergantung pada peran guru /fasilitator. Ada empat prinsip yang harus dipegang oleh fasilitator/guru. Pertama adalah penjelasan. Untuk melakukan simulasi, pemain harus benar- benar memahimi aturan mainnya, oleh karena itu sebelum permainan dimulai, guru/ fasilitator harus menjelaskan tentang aturan permainan dalam simulasi. Kedua adalah mengawasi (refeereing). Simulasi dirancang untuk tujuan tertentu dengan aturan dan prosedur permainan tertentu. Oleh karena itu, fasilitator harus mengawasi jalannya permainan agar dapat berjalan sesuai dengan ketentuan. Ketiga adalah melatih (Coaching). Dalam simulasi, pemain akan melakukan kesalahan. Oleh karena itu, fasilitator harus memberikan bimbingan, saran dan petunjuk agar pemain tidak mengulangi kesalahan yang sama. Keempat adalah diskusi. Dalam simulasi, refleksi menjadi bagian yang penting. Oleh karena itu, setelah simulasi selesai, fasilitator harus mendiskusikan beberapa hal antara lain: kesulitan- kesulitan, hikmah yang bisa diambil, bagaimana memperbaiki kekurangan simulasi dan sebagainya. (Hamzah B Uno,2007:29) Dalam permainan simulasi, yang harus dilakukan oleh guru adalah, (1)Mempersiapkan siswa yang menjadi pemeran simulasi, (2)Menyusun skenario dengan memperkenalkan siswa terhadap aturan, peran, prosedur, pemberi skor (nilai), tujuan permainan dan lain- lain. Guru menunjuk siswa untuk memegang peran- peran tertentu dan menguji cobakan simulasi untuk memastikan bahwa seluruh siswa memahami aturan main simulasi tersebut., (3) Melaksanakan simulasi, siswa berpartisipasi dalam permainan simulasi dan guru melakukan peranannya sebagimana mestinya.( (Hamzah B Uno,2007:30) Dalam simulasi, pemain/peserta akan mengalami kesalahan. Oleh karena itu guru/fasilitator harus memberikan saran, petunjuk atau arahan sehingga memungkinkan mereka tidak melakukan kesalahan yang, sama. Dan keempat adalah diskusi. Kaitannya dengan kelompok model pembelajaran, simulasi diarahkan pada model pembelajaran sosial. Simulasi sosial adalah simulasi yang dimaksudkan mengajak peserta melalui suatu pengalaman yang berkaitan dengan persoalan-persoalan sosial. Menurut pengalaman sejumlah guru, metode simulasi dalam konteks model pemblajaran sosial sangat efektif digunakan jika guru menghendaki agar siswa menemukan makna diri (jati diri) di dalam dunia sosial dan memecahkan dilema dengan bantuan kelompok. Jenis model pembelajaran sosial misalnya melalui bermain peran dan atau simulasi. Dalam bermain peran, siswa belajar menggunakan konsep peran, menyadari adanya peran-peran yang berbeda dan memikirkan perilaku dirinya dan perilaku orang lain. Fungsi model pembelajaran sosial adalah (1) untuk menggali perasaan siswa, (2) memperoleh inspirasi dan pemahaman yang berpengaruh terhadap sikap, nilai dan persepsi, (3) mengembangkan keterampilan dan sikap dalam memecahkan masalah, dan (4) mendalami mata pelajaran dengan berbagai cara. Aplikasi Permainan simulasi dapat merangsang berbagai bentuk belajar, seperti belajar tentang persaingan (kompetisi), kerja sama, empati, sistem sosial, konsep, keterampilan, kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan dan lain-lain. Namun demikian, model simulasi agak berbeda dengan model-model lain. Model ini agak rumit, tergantung pada pengembangan simulasi yang tepat, baik yang melibatkan peneliti, pengembang, (sistem analis, programer dan lain-lain), perusahaan komersial, guru atau kelompok guru dan lain-lain. Dewasa ini, dengan semakin majunya teknologi komunikasi dan informasi, seperti komputer dan multimedia, telah banyak permainan simulasi dihasilkan untuk berbagai kebutuhan yang mencakup berbagai topik dari berbagai disiplin ilmu (mata pelajaran)

Kumpulan Website Media Pembelajaran Online

Di beberapa website ini, berbahasa inggris dan selebihnya berbahasa Malaysia, karena sepengetahuan saya, di Indonesia belum ada media pembelajaran yang bentuknya online seperti layaknya website-website di bawah ini. Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, itulah kata pepatah, kita dapat menggunakan media pembelajaran online ini sebagai media dalam hal pembelajaran materi yang kita ajarkan, namun kita juga dapat sambil belajar berbahasa Inggris untuk anak didik kita. Nah, sekarang mari kita lihat beberapa penjelasan tentang website yang menyediakan media pembelajran online. Selamat memcoba .......
1. IXL, Math Grades Pre-K to 8 ( www.ixl.com ) Dalam website ini, kita akan menemukan banyak sekali media pembelajaran, khususnya media pembelajaran matematika. Didalam website ini banyak menyediakan berbagai materi tentang matematika, baik matematika dasar maupun matematika untuk anak usia Sekolah Dasar, hanya saja website ini berbahasa Inggris, namun tidak ada salahnya mencoba, dan sambil mengajarkan kepada anak didik kita tentang berbagai bentuk bangun serta istilah matemtaika dalam bahasa Inggris. Anda diharapkan terlebih dahulu membuka dan mempelajari website ini sebelum anda menunjukkannya kepada anak murid anda, karena anda akan dikenalkan kepada bahasa-bahasa matematika Inggris. Jangan heran, matematika dalam bahasa inggris memang seperti itu. Maka tidak ada salahnya anda belajar dan mencoba mengenalkannya kepada anak didik anda. 2. National Geographic ( for Kids ) - www.nationalgeographic.com Website yang satu ini menyediakan berbagai macam fenomena tentang alam. Anda dapat menggunakan website ini ketika anda dan siswa anda hendak belajar tentang SAINS. Di web ini tersedia beberapa Media Pembelajaran SAINS berupa game, video, cerita hewan, dan masih banyak lagi yang bisa anda temukan disini. Selamat mencoba. 3. Primary Games - www.primarygames.com Satu lagi website yang menyediakan media online dan yang paling penting gratis, kita dapat menikmatinya tanpa harus membayar, namun untuk akses yang lebih jauh dan lebih baik anda perlu merogo kocek untuk mendapatkannya. Di web ini anda dapat menemukan banyak sekali game pembelajaran dan media lainnya sebagai bahan anda untuk mengajar. Anda juga dapat mendownloadnya di area Download di website ini. 4. Pendidikan Anaku Sayang. Website ini berasal dari negeri Jiran Malaysia, walaupun negara kita dan malaysia lagi berkecamuh tentang bermacam-macam hal, tidak ada salahnya kita mengintip sedikit tentang game pendidikan yang ada di negeri ini. Bahasa yang digunakan ada yang berbahasa Inggris dan ada pula yang berbahasa Malaysia, namun untuk memahaminya tidaklah sulit, seperti halnya film " Ipin dan Upin" yang sering tayang dilayar kaca.