Salju Everest tercemar arsenik

Salju Everest tercemar arsenik

Senyawa beracun arsenik dan kadmium ditemukan di salju Everest dalam jumlah yang lebih tinggi dari batas toleransi manusia. Demikian hasil penelitian yang dilakukan oleh Samantha Langley-Turnbaugh dari University of Southern Maine di Gorham.
Penelitian dimulai ketika murid-murid Langley-Turnbaugh mendaki Everest pada tahun 2006, mengumpulkan sampel tanah dan salju di setiap 300 meter di ketinggian antara 5.334 meter dan 7.772 meter.
Penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel salju mengandung arsenik dan kadmium dalam jumlah tinggi. Sementara itu, dari sampel tanah yang dikumpulkan, ia juga mendapati arsenik yang tinggi, tapi kandungan kadmium yang masih dapat ditoleransi.
"Hal ini harus jadi perhatian," kata Langley-Turnbaugh. Banyak warga di gunung menggantungkan salju yang mencair sebagai sumber air minum. "Jika salju terkontaminasi arsenik dan kadmium, itu sangat berbahaya," jelasnya.
Polutan itu juga berpotensi terhirup karena angin meniup debu dan tanah yang terkontaminasi ke udara. "Warga di Everest sering kali menggunakan ventilator sebab banyak debu," kata Langley-Turnbaugh. Angin juga menyebabkan konsentrasi arsenik dan kadmium meningkat seiring semakin tingginya tempat. Angin mengumpulkan polutan ketika membawa debu dan meletakkannya di gunung.
Salah satu faktor penyebab kontaminasi tersebut diperkirakan merupakan efek proses industri di Asia.
Langley-Turnbaugh mengakui kalau informasi tentang polusi yang terjadi di Everest sangat sedikit. Pasalnya, penelitian sulit dilakukan sebab untuk mengambil sampel sebab para peneliti harus mendakinya lebih dulu.
Teks oleh Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com
Migrasi Dahsyat (3) Meskipun baru merupakan hipotesis, Dennis Jørgensen memperkirakan bahwa seleksi alam—dalam hal ini, kematian ular petualang pemberani—mungkin menyebabkan ular derik yang dulu suka bermigrasi berubah menjadi kawanan ular yang "betah di rumah". Keragaman hayati menyiratkan lebih dari sekadar jumlah spesies secara keseluruhan. Keragaman ekosistem, perilaku, dan proses juga penting, yang ikut berperan dalam kekayaan dan keindahan, kesuburan dan kelenturan, serta keterhubungan dengan komunitas makhluk hidup di Bumi. Hilangnya migrasi jarak jauh yang dilakukan oleh sejumlah spesies merupakan penyusutan yang memprihatinkan. Joel Berger menyampaikan hal ini dengan merujuk kepada spesies yang bermigrasi di seluruh dunia dan sesosok makhluk yang sangat berarti baginya: pronghorn (Antilocapra americana), spesies satwa berkuku satu-satunya yang ada di Amerika Utara. Kecepatannya yang luar biasa (mamalia darat tercepat di seluruh benua Amerika), melebihi kebutuhannya untuk menghindari pemangsa Amerika Utara, mungkin mencerminkan adaptasi untuk menyelamatkan diri dari cheetah Amerika yang hidup di zaman Pleistosen, yang sekarang sudah punah. Namun, selain bergerak dengan cepat, pronghorn juga bergerak menempuh jarak jauh. Satu populasi bermigrasi ratusan kilometer melintasi Great Plains dari bagian utara-tengah Montana ke bagian selatan Saskatchewan dan Alberta. Populasi lain mengikuti rute sempit dari tempat merumput musim panas di Taman Nasional Grand Teton, menyeberangi daerah aliran sungai di hulu Sungai Gros Ventre, dan turun ke dataran di bagian selatan Pinedale, Wyoming, di Cekungan Sungai Green. Di situ pronghorn berbaur dengan ribuan pronghorn lainnya yang tiba dari bagian lain Wyoming; di situ mereka berupaya menjauhkan diri dari kepala sumur gas alam dan tim pengeboran, dan menunggu selama bulan-bulan musim dingin. Pronghorn Grand Teton dikenal karena tidak menentunya jalur migrasi mereka dan beratnya hambatan di tiga titik kritis, yang dikenal sebagai Trappers Point, Red Hill, dan Funnel. Jika pronghorn tidak berhasil melewati ketiga rintangan ini saat melakukan migrasi musim semi, mereka tidak akan dapat mencapai padang rumput musim panas yang subur di Taman Nasional Grand Teton; jika mereka juga tidak berhasil melewatinya pada musim gugur, meninggalkan kawasan selatan menuju dataran yang diembus angin, besar kemungkinan mereka akan mati karena berusaha melewati musim dingin di daerah Jackson Hole atau terperangkap sampai mati di padang bersalju tebal di daerah aliran sungai. Pada suatu hari yang cerah di bulan November, dengan ditemani seorang ahli biologi bernama Renee Seidler, saya melihat-lihat daerah yang penuh rintangan itu. Seidler, terutama meneliti masalah habitat di ladang gas yang sedang marak antara Pinedale dan Rock Springs, kawasan yang dihuni oleh sekitar 20.000 pronghorn pada setiap musim dingin. Di bukit kecil di Trappers Point, kami menatap ke bawah ke pertumbuhan dan perdagangan modern di sepanjang Highway 191: sebaran komunitas kecil yang dikenal sebagai Cora Junction. Ada kira-kira 50 rumah, mobil trailer, dan bangunan lain. Kira-kira di sinilah, kata Seidler, sambil menunjuk ke celah semak tumbuhan antara bukit kecil dan perumahan, tempat yang sering dilewati oleh sebagian besar pronghorn. Kami berkendara ke arah utara di jalan desa sejauh 30 kilometer, menyusuri dataran rendah di hulu Sungai Green yang ditumbuhi pohon dedalu, melacak rute migrasi. Pronghorn, yang mengandalkan pandangan jarak jauh dan kecepatan agar aman dari terkaman pemangsa, tidak menyukai dataran rendah berpohon dedalu, begitu Seidler menjelaskan. Mereka juga tidak menyukai hutan lebat, sehingga bergerak melintasi dataran tinggi terbuka antara sungai dan hutan, agar dapat melihat ke sekitarnya dan lari. Kemudian, kami tiba di sebuah tempat yang di kedua sisi sungainya terdapat bukit berhutan, berbentuk V tumpul, menghamparkan lorong berupa lahan terbuka yang lebarnya hanya 150 meter. "Itulah Funnel," kata Seidler. Funnel adalah lahan milik pribadi, yang dibelah oleh jalan kendaraan, dikelilingi pagar dari balok kayu silang-menyilang, dengan gerbang melengkung yang biasanya milik orang kaya yang punya dua atau tiga rumah, di hulu Sungai Green. Jika masih ada lagi pagar halaman, masih ada lagi rumah, masih ada lagi satu atau dua ekor anjing yang menyalak, segalanya bisa jadi kacau. Sama seperti di Trappers Point, demikian pula di Funnel; kegiatan manusia yang semakin merambah luas semakin memperparah keadaan bagi pronghorn di Grand Teton—ancaman untuk semakin mempersempit jalan migrasi mereka. Ilmuwan konservasi seperti Berger, bersama beberapa ahli biologi dan pengelola lahan di lingkungan National Park Service dan berbagai badan lainnya, sekarang berjuang untuk melestarikan perilaku migrasi ini, bukan hanya melestarikan spesies dan habitat. Bridger-Teton National Forest telah mengakui jalur migrasi pronghorn Grand Teton, yang sebagian besar melintasi lahan hutan nasional, sebagai koridor migrasi pertama yang dilindungi oleh pemerintah federal. Namun, baik Forest Service maupun Park Service tidak mampu mengendalikan hal-hal yang terjadi di lahan milik pribadi di ketiga kawasan yang sarat rintangan itu, maupun di kawasan Bureau of Land Management di dalam wilayah ladang pengeboran di sebelah selatan Pinedale. Dan dalam hal spesies tertentu lainnya yang bermigrasi, tantangannya semakin rumit—jarak migrasi yang jauh lebih panjang, lebih banyaknya wilayah yurisdiksi, lebih banyaknya perbatasan, dan lebih banyaknya bahaya di sepanjang jalan. Andaikan, Anda seekor burung sandhill crane (Grus canadensis canadensis), yang mengawali migrasi musim semi dari barat daya Texas. Anda mungkin terbang melintasi sudut New Mexico dan Oklahoma, lalu Kansas, Nebraska, South Dakota, North Dakota (sebagian besar negara-negara bagian ini memperbolehkan perburuan burung sandhill), melintasi perbatasan Kanada menuju Saskatchewan, menyudut ke barat laut melintasi Alberta dan British Columbia, menyeberangi Yukon Territory, lalu lebarnya kawasan Alaska, dan akhirnya menyeberangi Selat Bering menuju lahan perkembangbiakan musim panas di timur laut Rusia. Ini perjalanan sejauh kira-kira 8.000 kilometer. Karena perlu beristirahat sejenak dan memulihkan diri, mungkin Anda berhenti di Sungai Platte di Nebraska. Jika begitu, Anda akan menemukan teman. Sekitar 500.000 ekor burung sandhill yang bermigrasi ke utara singgah di sini setiap tahun. Di situ mereka singgah selama dua atau tiga pekan, mungkin juga empat pekan. Sebagian berangkat melanjutkan perjalanan tatkala kawanan lain tiba, sehingga rata-rata jumlah burung crane antara Maret dan April berkisar sekitar 300.000 ekor. Pada malam hari, mereka bertengger di bagian dangkal Sungai Platte yang airnya mengalir dengan tenang, setinggi tulang kering di dalam air yang sejuk, atau di beting berpasir, yang memberi mereka peringatan jika ada pemangsa yang mungkin menyembur keluar. Setiap pagi mereka terjaga dalam alunan air yang luas dan gemulai, lalu terbang ke padang di dekat situ, menghabiskan waktu dengan asyik menyantap bulir jagung yang luput dari terkaman mesin pemanen, serta cacing tanah dan satwa invertebrata lainnya. Selama masa singgah ini pun satwa yang bermigrasi tidak tergiur oleh godaan sebagaimana yang didefinisikan oleh Hugh Dingle; ini adalah bagian dari keseluruhan proses migrasi, yang terus diulangi secara turun temurun oleh burung sandhill crane. Selama masa singgah ini, berat badan burung lesser sandhill yang semula 2,75 kilogram bertambah dengan sekitar 0,7 kilogram lemak. Mereka membutuhkan lemak itu antara Nebraska dan Rusia. Karena itulah mereka memerlukan habitat persinggahan—sungai dangkal, beting, keamanan, jagung, dan satwa invertebrata—untuk menuntaskan daur tahunan mereka yang berat itu. Saya berdiri memandang habitat itu, pada suatu pagi menjelang akhir Maret, dan mengamati kawanan burung sandhill crane yang secara bergelombang terbang meninggalkan sungai. Setiap kelompok terbang serampangan meninggalkan air, semakin lama semakin anggun tatkala sayap mereka menangkap lebih banyak udara, membentuk formasi, dan terbang menuju santapan harian mereka. Sementara itu, mereka saling memanggil dengan getaran berderit-derit yang khas. Kira-kira ada 60.000 ekor burung sandhill yang terlihat dari bidang pandang teropong saya. Ini adalah pemandangan kawanan burung yang jumlahnya luar biasa. Saya juga pernah menyaksikan burung crane yang baru datang mendarat, pada suatu senja, ketika mereka tiba kembali menjelang senja dan bertengger di beting untuk bermalam. Namun, bagi saya, kawanan burung yang terbang meninggalkan sungai terasa jauh lebih mengesankan—karena, tampaknya, burung di saat fajar terbang dengan mengemban suatu tujuan, bukan sekadar pulang untuk beristirahat. Mereka bertujuan menggemukkan diri untuk menempuh sepenggal jarak yang panjang dalam perjalanan mereka, perjalanan yang membawa mereka ke lahan perkembangbiakan yang aman dan subur. Upaya mereka yang luar biasa, kegigihan mereka untuk tidak tergiur oleh godaan, menghasilkan generasi baru burung sandhill crane, meneruskan dan meremajakan spesiesnya. Saya hampir saja menuliskan "mengabadikan spesiesnya", namun tidak, kita tidak dapat yakin akan hal ini. Tidak ada makhluk hidup yang abadi. Yang saya saksikan adalah kearifan dan keteguhan evolusi, yang terbang di atas Sungai Platte. Seandainya saja manusia memiliki kearifan dan keteguhan hati yang sama, menurut saya, mungkin kita bisa lebih lama membiarkan mereka terus melakukan perjalanan migrasi tersebut.
Migrasi Dahsyat (2) Dingle, ahli biologi evolusi yang meneliti serangga, menawarkan definisi yang lebih ruwet daripada yang dikemukakan Berger, dengan menyebutkan lima sifat (kegigihan, keteguhan mempertahankan arah, daya tahan untuk tidak tergoda, perilaku khusus bergerak-berhenti, energi cadangan) yang membedakan migrasi dari bentuk pergerakan lainnya. Misalnya, kumbang akan menjadi peka pada cahaya biru (dari langit) ketika tiba waktunya untuk berangkat menempuh perjalanan dahsyat, dan peka terhadap cahaya kuning (yang dipantulkan daun muda yang lunak) ketika sudah tepat waktunya untuk mendarat. Burung biasanya menggemukkan diri dengan makan banyak-banyak sebelum memulai penerbangan migrasi jarak jauh. Nilai definisinya, menurut Dingle, adalah bahwa definisi itu memusatkan perhatian pada fenomena wildebeest dan burung sandhill crane yang sama dengan fenomena kumbang, sehingga membantu para peneliti memahami bahwa evolusi oleh seleksi alamlah yang berhasil mempertahankan semua satwa itu. Migrasi ular derik di Great Plains di Kanada bagian barat adalah kasus yang aneh, tetapi sangat menarik. Seorang ahli biologi Kanada yang masih muda, Dennis Jørgensen, yang sekarang bekerja di World Wildlife Fund, meneliti pergerakan ular derik prairi (Crotalus viridis viridis) di pinggiran daerah Medicine Hat, Alberta, di dekat batas utara daerah huniannya, dan mendapati kawanan ular derik yang bermigrasi dengan penuh semangat setiap musim semi dan musim gugur. Rata-rata jarak tempuh pulang-pergi ular derik ini sekitar 8 kilometer, meskipun sebuah penelitian sebelumnya mendapati bahwa ular derik Kanada bisa bermigrasi hingga sejauh 53 kilometer. Sebaliknya, di Arizona, ular derik tidak bermigrasi sejauh itu, karena memang tidak perlu begitu. Alasan yang masuk akal bagi migrasi ular derik Kanada berkaitan dengan suhu di musim dingin (selalu berat untuk reptil) dan langkanya tempat hunian yang benar-benar nyaman untuk bisa tidur panjang di musim dingin. "Tidak banyak tempat hunian yang bisa menunjang keselamatan di musim dingin di kawasan ini," kata Jørgensen. Tempat hunian yang ideal harus berada jauh di bawah tanah, bagian bumi yang hangat, tetapi bisa diakses dari permukaan melalui saluran alami. Tempat seperti ini hanya ada sedikit dan berjauhan jaraknya. "Karena itulah terdapat banyak sekali kawanan ular di tempat hunian bersama ini." Bayangkan seribuan ular berbelit-belit, menumpuk dengan nyaman bersama-sama. Ketika suhu permukaan menghangat hingga mencapai ambang suhu yang nyaman, mereka pun bermunculan. Untuk beberapa lama mereka berjemur di bawah sinar matahari. Tetapi, kawanan ular derik ini lapar. Apa tugas mereka berikutnya? Saling melepaskan diri, mencari makanan, dan kawin. Maka, mereka pun bermigrasi dengan cara menyebar—ke semua arah yang memungkinkan dan menjauhi tempat hunian tadi. Jørgensen menggunakan radio transistor kecil, yang ditanamkan lewat pembedahan, untuk memetakan pola ini, melacak rute setiap ekor dari kelompok 28 ekor ular derik antara tahun 2004 dan 2005. Belum lama ini, pada suatu hari yang terik di musim panas, dia mengajak saya kembali ke salah satu tempat hunian, di tepi Sungai Saskatchewan Selatan yang landai. Tepian sungai yang landai itu membuka rekahan yang berada jauh di bawah tanah, tempat yang dihuni oleh sekitar 60 ekor ular derik prairi pada musim dingin. Dari tepi sungai, kami berbelok menuju dataran tinggi dan mulai menelusuri rute migrasi salah seekor ular yang ditelitinya, seekor ular betina gesit yang diberi label E. Tidak jauh di bagian atas landaian itu tampak tiga bongkah batu bulat yang diselimuti lumut, dan di bawahnya ada lubang. Ular E tiba di sini pada tanggal 8 Mei, kata Jørgensen; ular itu beristirahat, berjemur, dan berangkat lagi pada tanggal 27 Mei. Dia mendaki lereng yang terjal ini (kami mulai mendaki) di antara tumbuhan sage (Artemisia) dan lumpur abu-abu yang gembur, lalu merayap kembali menuruni lereng (kami mengikuti rute si ular), melintasi jalan tanah, melintasi ngarai sempit lembap yang dipenuhi semak bunga kuning dan buah beri hijau (kami melaluinya sambil membabatnya), lalu mendaki lagi. Setelah kembali ke atas, kami membungkuk di antara kawat berduri menuju sudut ladang yang diairi dengan selang yang menyiram ladang dengan cara berputar. Setelah seharian bergerak gesit melintasi dua ladang yang disirami dengan selang berputar, "nyonya E" yang pemberani itu berlindung di pagar yang aman, tempat melilitnya tanaman merambat yang lebat. Pada akhir Juni, si ular menempuh jarak 200 meter per hari, masih menyusuri pagar, di antara timbunan bebatuan, rumput ilalang, dan lubang tikus. Di situlah saya dan Jørgensen berhenti sejenak untuk beristirahat. Kami menelusuri perjalanan delapan hari si ular hanya dalam waktu empat jam, sambil mandi keringat. Di daerah inilah E menghabiskan sebagian besar musim panasnya pada tahun itu, kawin sekurang-kurangnya satu kali dan mengisi perutnya penuh-penuh dengan menyantap binatang pengerat untuk persiapan migrasi pulang, menghabiskan musim dingin sekali lagi di tempat huniannya, dan bunting. Daerah itu merupakan habitat yang cocok untuk kawin, tetapi penuh risiko, kata Jørgensen, karena banyak mesin pertanian yang setiap saat bisa memotong-motong ular seperti mengiris ketimun, lalu lintas jalan pertanian yang bisa melindasnya sampai pipih seperti sabuk kulit buaya. Perubahan yang terjadi di kawasan ini tidak menguntungkan bagi migrasi jarak jauh yang dilakukan ular derik. Pada saat itu, seakan hendak mewujudkan berbagai perubahan yang memenuhi memori seorang manusia, Aldo Pederzolli tiba dengan mengendarai kendaraan ladang beroda empat. Pederzolli adalah petani pemilik ladang yang kami datangi dan yang dengan ramah menyambut baik penelitian Jørgensen. Dia lelaki bugar berusia 80 tahun. Setelah diperkenalkan kepada saya dan mendengar alasan kunjungan saya, dia berkata, "Wah, saya memang penggemar ular derik." Ini bukan ironi. Kalau banyak ular berkeliaran, katanya lagi, kami tidak usah merisaukan tikus tanah. Ketika dia masih muda, begitu Pederzolli mengingat-ingat, dia sering melihat ular derik gemuk, sebesar kepalan tangan, ketika menyemaikan benih di lahan yang masih kosong. Sekarang tidak terlihat lagi ular derik sebesar itu. Dulu ada tempat hunian di dekat sungai, ujarnya dengan wajah murung, dan kawanan ular itu bermigrasi sepuluh kilometer melalui lahan prairi terbuka yang dihuni oleh banyak tikus tanah. Sekarang migrasi seperti itu tidak terjadi lagi.
Migrasi Dahsyat (1)
gallery
Apa yang membuat migrasi satwa tampak seperti tontonan menakjubkan yang memanjakan mata dan menggugah benak? Apakah semata-mata karena banyaknya satwa liar yang bergerak bersama-sama? Apakah karena begitu kecilnya peluang mereka untuk berhasil? Apakah ketepatan navigasinya yang mengagumkan?
Oleh DAVID QUAMMEN Foto oleh JOEL SARTORE
Ada alasan lain mengapa perjalanan jarak jauh yang dilakukan wildebeest, burung sandhill crane, penyu belimbing, dan berbagai spesies lainnya begitu mengagumkan. Seorang ahli biologi memandang migrasi satwa sebagai sesuatu yang amat memukau. Seorang yang bukan ilmuwan, dengan risiko dituduh menyamakan para hewan dengan perilaku manusia, mungkin berkata: Ya, mereka memiliki tujuan yang lebih besar. Migrasi satwa adalah fenomena yang jauh lebih hebat dan lebih berpola daripada sekadar pergerakan satwa. Migrasi merupakan perjalanan bersama yang manfaatnya baru dirasakan di kemudian hari. Migrasi menyiratkan kegigihan yang direncanakan terlebih dahulu dan penuh keberanian, yang dinyatakan sebagai naluri turun-temurun. Seorang ahli biologi bernama Hugh Dingle, yang berusaha keras memahami hakikat migrasi ini, mengenali lima ciri khas semua migrasi, dalam berbagai tingkat dan kombinasi. Migrasi adalah pergerakan yang memakan waktu lama yang mengalihkan satwa ke luar habitat yang sudah dikenalnya dengan baik; pergerakannya cenderung lurus, tidak berbelok-belok; migrasi berlangsung dengan persiapan yang ditunjukkan oleh perilaku tertentu (seperti makan berlebihan) dan kedatangan, migrasi memerlukan tersedianya tenaga khusus. Dan satu lagi: Satwa yang bermigrasi berupaya untuk dengan penuh semangat memerhatikan misi yang lebih besar, yang membuat mereka tidak tergiur oleh godaan dan tidak terpengaruh oleh tantangan yang menyebabkan satwa lain bergerak keluar dari barisan. Seekor burung laut arktika (arctic tern) dalam perjalanan dari Tierra del Fuego ke Alaska, misalnya, tidak akan menggubris ikan haring harum di Teluk Monterey. Mengapa? "Satwa yang sedang bermigrasi tidak memedulikan rangsangan indrawi dari sumber daya yang biasanya segera ditanggapi dalam situasi yang berbeda," begitulah penjelasan sederhana, namun cermat, yang dikemukakan Dingle. Intinya: Satwa yang sedang bermigrasi bergerak dengan sangat cepat untuk segera tiba di tujuan. Dengan kata lain yang tidak terlalu ilmiah, mungkin bisa dikatakan bahwa burung laut arktika itu tidak menggubris godaan karena saat itu dia termotivasi oleh naluri yang, oleh kita manusia, dianggap sungguh mengagumkan: tujuan yang lebih besar. Burung arctic tern itu merasa bahwa dia bisa makan nanti. Bisa istirahat nanti. Bisa kawin nanti. Tetapi, saat ini fokus perhatiannya yang tak tergoyahkan adalah perjalanan migrasi itu. Mencapai pesisir pantai berkerikil di Arktika, tempat berkumpulnya sesama burung arctic tern lainnya, memenuhi tujuannya yang lebih besar itu, sebagaimana yang ditetapkan oleh evolusi: menemukan tempat, waktu, dan keadaan yang tepat untuk bertelur dan membesarkan anak. Namun, prosesnya rumit dan beragam. Setiap ahli biologi juga mendefinisikannya secara berbeda, antara lain bergantung pada jenis satwa yang mereka teliti. Joel Berger, yang meneliti pronghorn Amerika dan satwa darat besar lainnya, lebih menyukai definisi yang menurutnya sederhana dan praktis, yang cocok dengan satwa yang ditelitinya: "Pergerakan dari daerah hunian musiman ke daerah hunian lain dan kembali lagi." Pada umumnya, pergerakan bolak-balik menurut musim ini dilakukan untuk mencari sumber daya yang tidak sepanjang tahun tersedia di suatu daerah hunian. Tetapi, pergerakan vertikal oleh zooplankton di laut—ke atas di malam hari untuk mencari makanan, ke bawah di siang hari untuk menghindari pemangsa—dapat juga dianggap sebagai migrasi. Demikian pula pergerakan kumbang kecil. Setelah melahap habis daun muda di sebatang tanaman, anak-anaknya terbang menuju tanaman lain, dan tak seekor pun yang kembali ke tanaman semula.
Apa yang terlihat seperti gulungan kabel yang kasar sesungguhnya adalah hutan karang lautan dalam di Teluk Suruga. Setiap untaian dipenuhi dengan polip yang menjulurkan tentakel kecilnya ke arus air untuk mengambil makanan yang mengambang.
Ikan kepe-kepe besi tempa berhenti sejenak sementara ikan wrasse membersihkan kulitnya. Orang Jepang telah lama tertarik dengan kemiripan antara motif ikan kepe-kepe hitam-putih dengan pola pada kimono seorang samurai.

Tiga Laut Jepang

Perairan di lepas pantai bervariasi mulai dari dingin, sedang, hingga tropis. Kehidupan lautnya pun sama luar biasanya.

Dalam perairan dangkal lepas pantai Hokkaido, seekor pemburu berduri merangkak di atas pasir vulkanik yang berkilauan menggunakan sirip dadanya yang tajam. Hanya jenis betina dari ikan air dingin ini yang memiliki moncong khas seperti hidung Pinokio.

Manado at dawn

manado at dawn
Gunung Klabat di kala fajar

Pesta Budaya Tabuik

Pesta Budaya Tabuik

Tabuik adalah salah satu bentuk pesta budaya rakyat, yang diadakan oleh masyarakat Kota Pariaman, Sumatera Barat Pesta budaya ini diadakan sekali setahun pada tanggal 1 - 14 Muharram, yang bermaksud untuk memperingati kematian Hasan dan Hosen, cucu Nabi.

Taman Alun Kapuas

Taman Alun Kapuas

Satu-satunya tempat umum masyarakat di Pontianak, Taman Alun Kapuas. Dipotret sesaat setelah matahari terbenam.

Ditemukan: plastik yang bisa memperbaiki diri

Ditemukan: plastik yang bisa memperbaiki diri

Peneliti temukan material plastik yang bisa memperbaiki dirinya sendiri dari retakan. Material plastik tersebut memiliki "sistem syaraf" dari serat optik untuk mendeteksi retakan. Hasil pengujian mendapati kalau kekuatan plastik bisa kembali sebanyak 96 persen.
Plastik ini dipakai untuk alat-alat yang sulit untuk dijangkau oleh manusia untuk perbaikan. Dalam laporan tersebut, contoh-contoh alat yang disebut adalah bagian dalam satelit atau kincir angin.
Untuk bekerja, material plastik tersebut menggunakan jaringan sinar inframerah berkekuatan 1 Watt yang memindai adanya retakan. Ketika ada retakan, plastik di sekitarnya akan memanaskan dirinya sehingga lebih kuat 11 kali. Hasilnya penyebaran retakan bisa dicegah.
Penelitian yang didanai oleh U.S. National Science Foundation dan diterbitkan dalam Journal of Applied Physics sebulan lalu tersebut menyebutkan kalau produk dengan material ini sudah akan ada paling tidak dua tahun lagi.
Polimer yang bisa mengingat bentuk merupakan plastik penting untuk mempertahankan bentuk. Teknologi ini juga sedang dikembangkan oleh perusahaan peranti lunak Microsoft untuk membuat layar sentuh generasi baru.

Gurun Sahara akan jadi sumber energi bagi dunia

Gurun Sahara akan jadi sumber energi bagi dunia

Proyek yang dilakukan oleh universitas di Algeria dan Jepang akan membuat Gurun Sahara jadi sumber energi surya. Ambisi mereka: separuh dunia akan ditenagai sumber energi itu pada tahun 2050.
Proyek bernama Sahara Solar Breeder tersebut dimulai dengan membangun pabrik untuk mengubah silika yang ada di pasir menjadi silokon dengan kualitas yang memadai untuk pembuatan panel surya. Pusat tenaga listrik akan dibuat menggunakan panel surya tersebut. Awalnya, listrik yang dihasilkan akan dipakai untuk menghasilkan jumlah silikon yang lebih banyak.
Hideomi Koinuma dari University of Tokyo sekaligus pemimpin tim Jepang mengatakan kalau belum pernah ada yang memanfaatkan pasir gurun untuk membuat silikon berkualitas tinggi. "Penggunaan pasir itu adalah pilihan tepat dan kualitasnya akan cukup baik," katanya.
Listrik yang dihasilkan akan didistribusikan sebagai arus satu arah menggunakan superkonduktor temperatur tinggi. Koinuma menjelaskan kalau cara ini lebih efisien ketimbang menyalurkan listrik dengan arus bolak-balik. Ia membayangkan sebuah jaringan listrik bertegangan tinggi yang bisa menyalurkan listrik 100GW sejauh 500 kilometer. "Meskipun jaringan ini butuh pendingin super, harganya masih bisa kompetitif," jelas Koinuma. Sebuah superkonduktor temperatur tinggi bisa beroperasi pada suhu 240 derajat Celcius.
Beberapa tantangan yang bakal dihadapi oleh tim adalah badai pasir, penggunaan nitrogen cair untuk mendinginkan kabel, serta mengubur pasir di dalam kabel untuk meminimalkan perubahan temperatur. Penelitian awal yang dilakukan bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah ini serta menggambarkan kalau proyek ini bisa dilakukan. Selanjutnya, proyek ini akan melatih insinyur-insinyur serta peneliti dari Afrika untuk penelitian dan pengembangan.
Sumber: PhysOrg.com

Teka-teki dalam pembentukan gua sudah terjawab

Teka-teki dalam pembentukan gua sudah terjawab

Alex Pangestu/NGI

Sebuah jawaban atas teka-teki dalam proses pembentukan gua sudah terjawab lewat sebuah analisis matematis.
Selama lebih dari seabad para ilmuwan telah menemukan dan memercayai mekanisme dasar pembentukan gua, yakni sebuah patahan kecil terbentuk pada batuan dan air masuk ke dalamnya. Air yang masuk mengandung karbon dioksida membentuk asam lemah yang melarutkan kalsium karbonat pada batuan.
Masalahnya, mekanisme tersebut menyisakan teka-teki--bagaimana pelarutan bisa berlangsung begitu cepat sehingga terjadi penetrasi yang begitu dalam dan membentuk sistem gua? Asal tahu saja, sistem Mammoth Cave di Kentucky bisa mencapai 580 kilometer.
Baru-baru ini, teka-teki itu terpecahkan lewat analisis matematis. Piotr Szymczak, fisikawan dari Warsaw University, dan rekannya, Anthony Ladd, insinyur kimia dari University of Florida in Gainesville menguraikan analisisnya di Earth and Planetary Science Letters.
Analisis itu menguraikan bahwa aliran air dalam batuan selalu memiliki ketidakstabilan matematis. Singkatnya, ketika patahan mulai terbentuk, air terkonsentrasi untuk mengalir ke dalam saluran tersebut, memperbesarnya dan mengorbankan saluran lain.
"Mekanisme yang disebut channeling ini mempercepat pelarutan. Itulah yang membuat air bisa melakukan penetrasibegitu dalam. Kebanyakan dari model matematika yang menguraikan pembentukan gua tidak memiliki mekanisme ini sama sekali," tutur Szymczak.
Analisis baru yang dikemukakan Szymczak bisa menjelaskan alasan mengapa pembentukan gua di wilayah bendungan kadang lebih cepat dari yang diharapkan. Model tersebut juga bisa membantu menjelaskan cara air merembes di celah batuan.
Teks oleh Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com

10 cara jadikan rumah ramah lingkungan

10 cara jadikan rumah ramah lingkungan

Darryl Virgiawan Tanod/Fotokita.net

Peduli terhadap perubahan iklim bukan berarti kita harus kembali hidup di zaman batu. Ada beberapa langkah cerdas dengan pilihan yang bebas dari keruwetan agar kita dapat berpartisipasi mencegah kerusakan lingkungan, sekaligus meremajakan tubuh, rumah, dan bumi secara bersamaan. Berikut ini adalah 10 cara sederhana yang dapat kita lakukan untuk menghijaukan rumah.
1. Pilih perabot rumah yang ramah lingkungan
Sebelum membeli perabot rumah yang berbahan kayu, periksa apakah bahan yang digunakannya berasal dari hutan yang dikelola untuk industri. Ini dapat mengurangi dampak negatif hilangnya hutan yang berfungsi sebagai penyerap karbon dioksida, pencegah tanah longsor, dan penyedia habitat bagi berbagai tumbuhan serta hewan.
Selain itu, perabot rumah yang tahan lama juga dapat dipilih karena akan mengehemat pengeluaran di masa depan dan membantu mengurangi tumpukan sampah di tempat pembuangan.
Membeli perabot antik, jika memungkinkan, juga menjadi alternatif tersendiri. Karena selain mengurangi volume sampah, gaya yang terdapat pada barang antik tak lekang oleh zaman.
2. Kurangi penggunaan bahan kimia
Bahan kimia buatan manusia memang ampuh membantu membasmi serangga dan membuat perabotan berkilau. Namun sebenarnya, kita juga pelan-pelan dibunuhnya.
Sebuah penelitian baru-baru ini menemukan 200 senyawa industri, polutan dan bahan kimia lainnya dalam tali pusat bayi yang baru lahir. Dari jumlah tersebut, tujuh di antaranya adalah bahan pestisida berbahaya yang sebagian sudah dilarang penggunaannya di Amerika lebih dari 30 tahun lalu.
Jadi, buang semua racun itu dan beralihlah ke bahan kimia alami, non-racun, dan sama efektifnya dalam membasmi hama pengganggu. Bahan kimia alami mungkin saja sudah kita miliki di dapur. Cobalah temukan informasi lebih banyak soal penggunaannya.
3. Bantai si vampir energi
Alat-alat rumah tangga elektronik, merekalah para vampir energi. Taring buas mereka yang selalu menancap tajam ke colokan listrik, siang dan malam sepanjang hari, tetap menyedot listrik meskipun kita sudah mematikannya. Beberapa perangkat yang tetap memangsa listrik hingga mencapai 1.000 kilowatt jam setahun di setiap rumah tangga adalah pemanggang roti, penyeduh kopi, pengering rambut, komputer, printer, dan pengisi ulang (charger) baterai ponsel.
Langkah mudah dan praktis untuk membantai si vampir energi ini adalah dengan menggunakan colokan yang dilengkapi dengan pembatas arus listrik dan surge protector (pelindung dari naik-turun tegangan listrik secara drastis dan tiba-tiba). Dengan perangkat ini, kita tak perlu memeriksa dan mencabut setiap perangkat yang masih terhubung ke colokan listrik. Saat hendak beristirahat atau bepergian kita hanya tinggal menekan tombol pemutus arusnya ke posisi off.
4. Mulailah mandiri energi
Meski belum menjadi pilihan populer, namun Indonesia kaya akan sumber energi alternatif yang bisa jadi pilihan seperti angin, sinar matahari, mikrohidro hingga panas bumi. Keempat sumber energi itu jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan pembangkit listrik tenaga uap yang menggunakan batu bara sebagai sumber energi. Sebagai catatan, batu bara adalah salah satu penyumbang besar emisi gas rumah kaca. Dan karena energi terbarukan seperti sinar matahari dan angin dapat dimanfaatkan secara gratis, maka beralih ke sumber energi ini dapat mengurangi tagihan listrik.
5. Lakukan 3 R
Mulai mengaplikasikan 3 R - reduce, reuse, recycle - dalam kehidupan sehari-hari. Caranya, kurangi (reduce) konsumsi personal kita dari barang-barang yang tidak bisa digunakan kembali (reuse). Akan tetapi, menggunakan kembali sebuah produk adalah sebuah tindakan yang lebih bersahabat dengan lingkungan dibanding mendaur ulang (recycle). Sedangkan langkah daur ulang dengan memilah sampah yang bisa diproses kembali menjadi produk baru merupakan tindakan yang mudah untuk membantu menjaga lingkungan.
6. Beli bahan pangan lokal
Tahukah Anda kalau kembang kol adalah sayur yang sering menempuh perjalanan keliling dunia? Dan tomat merupakan salah satu buah yang sering naik pesawat terbang? Belum lagi buah-buahan lainnya yang juga diimpor dari negara lain. Tanpa kita sadari, perjalanan buah dan sayur-mayur itu telah menyumbang polusi dan emisi gas urmah kaca selama perjalanannya.
Oleh karena itu, membeli buah dan sayur-mayur lokal yang ditanam para petani setempat akan mengurangi food miles (jarak yang harus ditempuh dari kebun sampai ke piring Anda) yang berarti akan mengurangi polusi dan emisi gas rumah kaca yang dikeluarkan alat trasnportasi selama perjalanan. Selain itu, dengan membeli buah dan sayur-mayur lokal Anda akan mendapatkannya dalam kondisi yang lebih segar bukan?
7. Beralihlah ke internet
Beralih ke internet dapat membantu menyelamatkan hutan dari deforestrasi. Sebab, lebih dari 34 juta acre (setara 157.964 hektar) pohon ditebang setiap tahun untuk berbagai kebutuhan termasuk memproduksi kertas serta mengakibatkan emisi karbon yang dilepas ke atmosfir naik hingga 25%. Maka, beralihlah ke internet untuk mengurangi tumpukan surat, katalog maupun kertas-kertas lainnya.
8. Tolak kantong plastik
Kita sudah sangat terbiasa menerima kantong plastik saat berbelanja di toko, supermarket atau pasar tradisional. Padahal kantong plastik yang beredar saat ini sebagian besar berbahan dasar minyak tanah sehingga sulit terurai secara alami. Perlu waktu ratusan tahun agar sebuah kantong plastik dapat terurai. Kantong plastik yang dibuang ke laut juga seringkali membuat hewan laut mati tersedak karena mengiranya sebagai potongan makanan.
Di Indonesia saat ini sudah mualai tersedia produk kantong plastik yang dapat terurai secara alami dalam waktu dua tahun. Namun, mengingat waktu penguraian itu masih terlalu lama sehingga masih berpotensi menimbulkan tumpukan sampah plastik yang menggunung, sebaiknya kita mulai menjauhkan diri dari kantong plastik. Dengan membawa tas kanvas yang dapat digunakan kembali ketika berbelanja ke toko atau supermarket dan menggunakannya untuk membawa belanjaan, maka kita sudah berpartisipasi dalam mengurangi sampah plastik.
9. Carilah logo bintang
Sebuah rumah rata-rata menghasilkan emisi gas rumah kaca dua kali lebih banyak dibandingkan mobil. Sumbernya adalah perangkat elektronik yang boros energi dan belum memenuhi standar ramah lingkungan seperti energy star yang berlogo bintang. Dengan membeli perangkat elektronik berlogo bintang tersebut berarti kita sudah ikut berperan mengurangi emisi gas rumah kaca sambil memangkas sepertiga total tagihan listrik.
10. Gunakan lampu pijar hemat energi
Kalau Anda ingin berperan serta menjaga bumi melalui satu langkah mudah, gunakan lampu compact fluorescent light bulbs (CFLs). Lampu CFL umumnya dapat digunakan pada dudukan lampu bohlam namun menggunakan sumber pencahayaan yang berasal dari pendaran fluor saat dialiri arus listrik, mirip seperti lampu neon. Sedangkan lampu bohlam menggunakan kawat filamen yang berpijar saat dialiri arus listrik sebagai sumber cahayanya.
Produk lampu CFL ini sudah banyak beredar di pasar dengan berbagai merek, variasi serta beragam pilihan daya. Meski harganya lebih mahal dari lampu bohlam, lampu ini memiliki masa pakai hingga 10 kali lebih lama. Lampu CFL juga 75% lebih hemat energi sehingga mengganti satu lampu bohlam saja dapat mereduksi 227 kg emisi karbon dioksida dalam setahun. Sementara mengganti 17 lampu bohlam dengan lampu CFL memberi efek yang setara dengan mengurangi satu mobil dari jalan raya dalam setahun.
Sumber: Live Science

Pendekatan ekohidrologi untuk menangani krisis air

Pengembangan dan aplikasi ilmu ekohidrologi dan ekoteknologi terbukti bisa memecahkan persoalan manajemen air perkotaan dengan biaya yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan membangun infrastuktur pengolahan air dengan teknologi tinggi.

“Meski masih dalam skala kecil, kami sudah mengaplikasikan ekoteknologi berupa penggunaan lahan basah buatan di Pesantren Cililin, dekat kawasan Waduk Saguling, Jawa Barat,” ungkap Dr. Gadis Sri Haryani, Kepala Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di sela-sela acara SWITCH-in-Asia Regional Partnership Workshop di Hotel Grand Kemang, Jakarta, Selasa (8/12).

Di pesantren tersebut, Gadis menambahkan, air wudhu dari para santri dialirkan ke lahan basah buatan yang ditanami tetumbuhan yang berfungsi sebagai “filter” untuk menyerap dan menetralisir kuman dan pencemar lainnya. “Semacam bioremediasi,” jelas Gadis.

Ekohidrologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi proses hidrologi dan dinamika biologi dan/atau ekologi dalam kondisi spasial (ruang) dan temporal (waktu). Pendekatan ekohidrologi memandang persoalan air sebagai “sumber daya”, bukan hanya sebagai “air”.

Hingga akhir abad ke-20, hidrologi klasik masih berjalan terpisah dengan pendekatan ekologi. Pada 1990-an, dengan difasilitasi oleh dua badan di bawah UNESCO (badan PBB yang mengurusi masalah pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya) lahirlah integrasi ekologi dan hidrologi atau disingkat ekohidrologi.

Sementara itu, dalam kesempatan workshop, Gadis mengatakan bahwa kebutuhan air untuk penduduk kota besar, terutama di Asia bakal terus meningkat seiring pesatnya pertumbuhan penduduk di kawasan ini. “Perlu ada perubahan mendasar dalam pola pengelolaan air, karena pertumbuhan penduduk bukan hanya menyebabkan meningkatnya kebutuhan jumlah air melainkan juga berpengaruh terhadap kualitas air yang terancam pencemaran dan polusi,” papar Gadis.

Program SWITCH (Sustainable Water Management Improves Tomorrow’s Cities Health) yang didirikan IHE-UNESCO sejak 2006 dan berkedudukan di Delft, Belanda merupakan bagian dari upaya mengubah pola pengelolaan air, salah satunya dengan cara mengubah perilaku dan pola pikir manusia pengguna air.

Hubert Gijzen, Direktur dan Perwakilan Kantor UNESCO di Jakarta yang juga profesor di IHE-UNESCO mengatakan bahwa upaya mengubah sikap dan perilaku pengguna air merupakan langkah awal untuk mengatasi rumitnya permasalahan air khususnya di perkotaan. “Hanya mengandalkan pendekatan teknologi saja sudah terbukti gagal dan lebih banyak memakan biaya. Dengan program SWITCH, kita melihat persoalan air secara menyeluruh,” ujar Hubert.

Partnership workshop ini dihadiri oleh 75 peserta dari 18 negara di Asia, di mana wakil dari tiap negara akan memaparkan pandangan, temuan, teknologi, dan program yang telah dimulai di negaranya sebagai bahan studi banding bagi negara lain.

Pengungsi iklim

Pernah dengar istilah pengungsi iklim? Pengungsi iklim adalah populasi manusia yang akan terusir dari tempat tinggalnya akibat dampak perubahan iklim. Seperti diketahui, melelehnya lapisan es terbesar dunia membawa dampak yang jauh lebih besar bukan hanya bagi populasi hewan penghuni kutub, namun juga manusia yang hidup di belahan dunia yang berdekatan.

Menurut International Institute for Environment and Development (IIED), setidaknya 634 juta orang yang tinggal di sepanjang garis pantai dengan posisi 10 meter di bawah permukaan air laut, mereka menyebutnya Zona Pesisir Elevasi Rendah, akan terpaksa mengungsi akibat pelelehan es di dua lapisan es—Antartika dan Greenland. Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh National Snow and Ice Data Center dan the National Center for Atmospheric Research terhadap laju reduksi lapisan es mengindikasikan bahwa pada 2050 seluruh lapisan es dunia akan sirna.

Salah satu negara yang paling rentan adalah China dengan jumlah 144 juta pengungsi iklim potensial. Selanjutnya India (63 juta) dan Bangladesh (62 juta). Bagaimana dengan Indonesia?

Agak mengejutkan, Indonesia termasuk dalam daftar lima besar, 42 juta. Negara lain yang masuk dalam sepuluh besar di antaranya Jepang (30 juta), Mesir (26 juta), dan AS (23 juta).

Jika benar menjadi kenyataan, ini merupakan perpindahan manusia paling masif yang pernah terjadi. Beberapa pengungsi bisa dengan mudah berpindah ke daerah yang lebih tinggi di negara mereka. Lainnya, bukan tidak mungkin mesti bermigrasi ke negara lain karena sudah begitu padatnya daerah dataran tinggi di negara mereka, seperti Bangladesh sebagai contoh.

Jika mendengar angka tahun 2050 mungkin sebagian besar dari kita akan santai-santai saja karena kedengarannya sepertinya masih sangat jauh di masa depan. Namun, waktu itu seperti terbang (tempus fugit) dan tanpa sadar, kita sudah berada pada masa depan yang “jauh” itu. Jika sudah begitu, apa lagi yang bisa dilakukan?

Kemauan politik-ekonomi dari negara-negara penghasil emisi terbesar merupakan cara paling rasional untuk meredam laju perubahan iklim global. Sementara, kita mungkin bisa memulai dengan hidup lebih bersahabat dengan lingkungan. Itu kalau kita tidak mau jadi pengungsi iklim 30-40 tahun mendatang.

Mendesak, rencana tata ruang berkelanjutan untuk konservasi Papua

Mulai hari ini (12/11) hingga Sabtu (14/11) diselenggarakan konferensi bertajuk International Biodiversity Conference atau Konferensi Internasional tentang Keanekaragaman Hayati, mengenai pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua.

Konferensi ini menghadirkan sekitar seratusan orang peserta termasuk pakar dan ilmuan dunia dan nasional, penggiat lingkungan, pemerintah daerah Provinsi Papua dan Papua Barat, pemerintah pusat, LSM, pengusaha, dan perwakilan masyarakat adat. Konferensi ini dilaksanakan guna berbagi pengalaman dan menghimpun masukan dalam upaya mengintegrasikan aktivitas pembangunan dengan konservasi keanekaragaman hayati dan pengelolaan sumber daya alam dalam kerangka pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua.

Papua, bagian paling timur Indonesia, saat ini terdiri dari dua provinsi, Papua dan Papua Barat dengan total kawasan seluas sekitar 421.981 kilometer persegi dengan penduduk sekitar 2 juta jiwa pada tahun 2004 (BPS, 2006).

“Tekanan dan ancaman bagi keanekaragaman hayati di Papua meningkat sejalan dengan keberadaan Papua sebagai target para investor untuk industri-industri perkebunan-kehutanan berskala besar. Ditambah lagi dengan permintaan permbangunan infrastruktur yang juga meningkat,” kata Abraham. O. Atururi Gubernur Papua Barat.

Abraham menambahkan, kegagalan pengelolaan hutan dan keanekaragaman hayati yang telah terjadi di Sumatra dan Papua sebaiknya tidak terulang lagi di Tanah Papua.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Papua Barnabas Suebu merinci lima strategi kunci untuk mencapai pembangunan berkelanjutan di Propinsi Papua, yaitu: 1) Setidaknya 50 persen dari hutan konversi dipelihara untuk pengelolaan hutan yang berkelanjutan; 2) Hutan primer dengan nilai konservasi tinggi tidak boleh dialokasikan untuk pembangunan kebun kelapa sawit dan pemanfaatan lainnya; 3) Meningkatkan upaya efisiensi dan produktivitas lahan yang ada termasuk lahan perkebunan kelapa sawit yang ada; 4) Mempromosikan dan mengembangkan industri-industri berbasis energi terbarukan dalam kerangka kebijakan yang sama sekali tidak menggunakan energi fosil; 5) Mempromosikan pengembangan usaha-usaha kecil dan menengah pada bidang pertanian, kehutanan dan perikanan sebagai mesin penggerak ekonomi di kampong-kampung.

Dengan luasan hutan sekitar 42 juta hektare yang dimiliki Papua, Gubernur Suebu juga menunjukkan posisi signifikan bagi Papua dalam upaya memitigasi perubahan iklim global, termasuk keinginan provinsi tersebut untuk mempresentasikan rencana pembangunan rendah karbon (low-carbon development plan) dalam Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di Kopenhagen pada Desember 2009.

Dalam sambutannya, Prof DR. Emil Salim sebagai Dewan Penasehat Presiden mengatakan bahwa lebih dari 50 persen keanekaragaman hayati Indonesia ditemukan di Papua, dengan rata-rata spesies endemik yang tinggi. Tanah Papua juga memiliki ekosistem yang lengkap dari ekosistem terumbu karang dan mangrove hingga ekosistem savana, hutan dataran rendah, tinggi, dan pegunungan.

Benja Mambai, DIrektur WWF-Indonesia untuk Program Sahul menekankan pentingnya konsistensi dalam menerapkan rencana tata ruang berkelanjutan di Papua “untuk merefleksikan nilai ekologi, sosial, dan budaya yang dimiliki Papua,” ujarnya.

Konferensi ini diharapkan dapat menghimpun masukan dari berbagai pihak mengenai konservasi, pemanfaatan keanekaragaman hayati dan sumber daya alam dalam pembangunan ekonomi dan sosial, serta nilai budaya masyarakat asli di Tanah Papua.***

Peta tutupan hutan global bisa jadi petunjuk level karbon dunia

Untuk pertama kalinya, para ilmuwan, dengan menggunakan data satelit NASA, meluncurkan peta yang menggambarkan secara detail ketinggian hutan-hutan di seluruh dunia. Data ini bisa digunakan sebagai petunjuk jumlah karbon yang disimpan (carbon stock) dalam hutan-hutan dunia, dan seberapa cepat siklus karbon di ekosistem kembali ke atmosfer.

Menurut paparan yang disampaikan Michael Lefsky dari Colorado State University dalam jurnal Geophysical Research Letters, peta baru ini memperlihatkan hutan-hutan tertinggi terkonsentrasi di Pasifik Barat Laut di Amerika Utara, dan sebagian Asia Tenggara. Sementara hutan-hutan yang rendah ditemukan di Kanada utara dan Eurasia.

Selain menunjukkan hutan-hutan berdasarkan tinggi pohonnya, ke depannya peta yang merupakan kombinasi dari satelit ICESat, Terra, dan Aqua ini bisa digunakan sebagai alat untuk memperkirakan jumlah karbon yang terikat dalam hutan-hutan di Bumi, dan mencari jawaban ke mana 2 miliar ton karbon “hilang” dari atmosfer setiap tahunnya.

Manusia melepas sekitar 7 miliar ton karbon per tahun, kebanyakan dalam bentuk karbon dioksida. Sebanyak 3 miliar ton dari jumlah itu berakhir di atmosfer, dan 2 miliar ton di lautan. Belum diketahui ke mana sisanya yang 2 miliar ton. Sementara ini diduga karbon yang hilang tersebut tersimpan sebagai biomassa.

“Yang kita butuhkan adalah peta biomassa yang ada di atas tanah, dan peta ini bisa membantu kita,” kata Richard Houghton, pakar ilmu ekosistem terestrial. (Sumber: NASA)

Seekor lebah euglossine menggeliat keluar dari lubang yang khusus diperuntukkan bagi spesiesnya. Dalam upayanya itu, si lebah tanpa sadar membawa sekantong serbuk sari Untuk menipu kupu-kupu, Epidendrum Panama (bawah) meniru tampilan milkweed, pangan kegemaran serangga itu.

Anggrek Lihai

Bagaimana cara sebuah tumbuhan menyebarkan gen miliknya, jika ia terjebak di satu tempat? Caranya: dengan mengelabui binatang, termasuk kita, agar jatuh cinta kepadanya.

Meski anggrek ember tampil indah mirip pita ulang tahun, aromanyalah yang memikat lebah penyerbuk. Holtikulturis Smithsonian Tom Mirenda mengatakan bahwa bagi lebah, wangi bunga tersebut sama lezatnya seperti "lima jenis makanan penutup yang tengah dipanggang sekaligus."