PUZZLE SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN INOVATIF MATA PELAJARAN IPS

    
Proses belajar mengajar IPS di sekolah umumnya dianggap tidak menarik, akibatnya banyak anak-anak sekolah yang kurang tertarik untuk mendalami mata pelajaran IPS. Selain itu memang ada anggapan bahwa mata pelajaran IPS tidak begitu penting sehingga siswa dalam proses belajar mengajar tidak begitu serius dalam mengikutinya. Beberapa indikator yang menunjukan bahwa mata pelajaran IPS tidak menarik atau penting adalah nilai-nilai pelajaran IPS tidak begitu tinggi, serta program Ilmu Sosial di SMA dianggap sebagai program nomor dua setelah Ilmu Alam. Oleh karena itu untuk mempercepat pemahaman serta menghindarkan pemahaman yang keliru diperlukan pendekatan-pendekatan dan media-media pembelajaran yang tepat, sesuai dengan tingkat kematangan kejiwaan peserta didik. Pendekatan yang dianjurkan dalam KTSP adalah pendekatan kontekstual termasuk dalam media pembelajarannya. Media pembelajaran tidak hanya mencakup media elektronik melainkan bisa berupa media sederhana yang bisa disiapkan oleh guru. Salah satu media pembelajaran yang bisa digunakan adalah media puzzle.   Media puzzle bersifat sederhana, mudah dibuat dan digunakan serta dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar IPS.

A. PENDAHULUAN
Konsep peningkatan mutu pendidikan merupakan titik pusat manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah. Konsep peningkatan mutu berbasis sekolah ini menekankan kemandirian dan kreativitas sekolah. Adapun peningkatan mutu ini tidak hanya dilihat dari hasil yang dicapai oleh siswa saja, tetapi dimulai dari proses pembelajarannya.

Menurut Umaedi (1999:10), proses dan hasil pendidikan itu saling berhubungan. Kita tidak dapat menghasilkan mutu pendidikan kalau tidak disertai dengan upaya peningkatan proses pembelajaran. Jadi, proses pembelajaran mendapat penekanan yang lebih besar daripada hasil pembelajaran.
Di Sekolah Dasar, pembelajaran IPS mencakup tiga mata pelajaran, yaitu geografi, sejarah, dan ekonomi. Khusus pada mata pelajaran Geografi banyak sekali menyajikan peta, yang semuanya itu harus dikuasai oleh para murid. Guru yang mengajar selama ini sering menyuruh murid untuk menghafal nama-nama negara yang terdapat di dalam peta dan menemutunjukkan letak negara di dalam peta. Namun, kegiatan ini tidak membuahkan hasil yang efektif. Sebagian para siswa masih banyak yang kurang mengingat dan tidak bisa menemutunjukkan keberadaan negara di dalam peta, sehingga pembelajaran IPS selama ini masih menemukan kendala. Untuk itulah, penulis merasa perlu mencari alternatif lain guna mengefektifkan pembelajaran IPS, khususnya pada pokok bahasan Memahami Peta Benua Afrika di kelas VI, yaitu dengan permainan jigsaw puzzle.
Guru adalah orang yang bertanggung jawab secara langsung dalam menciptakan pembelajaran efektif dan diharuskan pula meningkatkan prestasi belajar murid. Implementasi dari hal ini dilaksanakan dalam proses pembelajaran sehari-hari di kelas melalui berbagai kegiatan.
Munandar (1999:115) berpendapat bahwa “lingkungan sekolah berperanan dalam mengembangkan kreativitas anak.” Hal ini dapat dilakukan apabila guru juga kreatif untuk mengembangkan kegiatan belajar. Salah satu kegiatan belajar yang bisa memupuk kreativitas murid adalah dengan mengadakan permainan, antara lain: jigsaw puzzle.
Jigsaw puzzle adalah jenis permainan teki-teki menyusun potongan-potongan gambar. Caranya sederhana sekali, siswa dihadapkan peta buta (benua Afrika), kemudian mereka diberi potongan-potongan negara yang akan ditempatkan di dalam peta. Potongan negara-negara ini disesuaikan dengan mal yang telah disediakan sehingga membentuk sebuah peta benua Afrika. Jenis permainan ini umumnya sangat disukai oleh anak-anak, selain dapat menyenangkan murid, jenis permainan ini mengajak mereka untuk berpikir kreatif.
Pemilihan jenis permainan di atas mengingat usia murid SD termasuk dalam masa kanak-kanak berlangsung antara usia 6 sampai 12 tahun, di mana pada masa ini anak-anak cenderung suka bermain dan mulai mengenal lingkungan yang lebih luas misalnya sekolah, lingkungan tempat tinggal, dan mulai mengenal permainan yang begitu banyak model dan ragamnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Santoso (2002:46), “anak perlu diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk bermain bersama-sama teman-temannya agar anak terampil, sehat, dapat mengembangkan imajinasi atau khayalan, melatih berpikir anak bahkan berbicara.”
Dari paparan di atas, penulis akan menjelaskan secara detail (rinci) mengenai pelaksanaan kegiatan dengan permainan jigsaw puzzle dalam memahami peta benua Afrika, berikut dengan persiapan dan hasil yang telah diperoleh di lapangan.

B. PELAKSANAAN KEGIATAN
1. Persiapan
Persiapan yang perlu dilakukan sebelum pembelajaran dimulai, antara lain sebagai berikut:
  • Guru mempersiapkan peta buta Benua Afrika di atas kertas kartun tebal (kartun padi) berukuran 21 cm x 30 cm (kerta A4), seperti pada gambar berikut ini.
eropa-2
  • Guru menggunting potongan negara-negara berikut nama-nama negaranya yang terdapat di dalam peta Benua Afrika sesuai dengan batas-batas (letaknya).
  • Guru membuat lima potongan Benua Afrika, yaitu: Afrika Utara, Afrika Selatan, Afrika Barat, Afrika Timur, dan Afrika Tengah di kertas kartun yang berukuran 40 cm x 60 cm.
2. Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan dilakukan dalam bentuk siklus spriral, artinya diawali dengan menyajikan peta buta dan kembali lagi seperti pada awal kegiatan. Tahap-tahap kegiatan dapat dilakukan sebagai berikut:
Tahap I:
  • Siswa diberi peta buta Benua Afrika berikut potongan negara-negara secara berkelompok.
  • Anggota setiap kelompok maksimal 7 orang dan minimal 5 orang.
  • Siswa disuruh memasangkan potongan negara-negara sesuai dengan mal yang telah disediakan.
  • Waktu yang disediakan kurang lebih 20 menit.
  • Siswa berhenti mengerjakan kegiatan ini jika waktu yang telah disediakan berakhir.
  • Guru memeriksa hasil pekerjaan siswa, bagi siswa yang sudah benar menyusunnya diberi nilai, dan bagi yang belum selesai diberi bimbingan untuk menyelesaikannya.
Tahap II:
  • Guru menempelkan mal benua Afrika di papan tulis.
  • Siswa menempelkan lima potongan Benua Afrika secara bergiliran.
  • Siswa menyebutkan negara-negara dari kelima Benua Afrika.
  • Guru menilai hasil pekerjaan siswa.
  • Waktu pelaksanaan kurang lebih 20 Menit.
Tahap III:
  • Guru menempelkan peta buta Benua Afrika di papan tulis.
  • Siswa menemutunjukkan negara-negara yang terdapat di dalam peta buta secara bergiliran.
  • Kegiatan ini berlangsung selama 20 menit.
3. Penutup Kegiatan
Kegiatan ini ditutup dengan kegiatan evaluasi. Pada kegiatan ini siswa kembali lagi diberikan peta buta secara individual, kemudian masing-masing siswa menuliskan nama-nama negara yang terdapat di dalam peta buta tersebut. Waktu kegiatan dilakukan kurang lebih 15 menit.
Hasil pekerjaan siswa akan dinilai. Siswa yang telah benar menuliskan nama-nama negara sebanyak 65% maka dinyatakan berhasil. Jika siswa menjawab kurang dari 65% maka mereka harus diberi remedial, yaitu dengan memberikan tugas pekerjaan rumah.

C. HASIL KEGIATAN
Dari hasil pelaksanaan penulis di lapangan, kegiatan ini banyak memberi manfaat sebagai beirkut:
  1. Umumnya siswa tertarik dengan kegiatan permainan ini.
  2. Suasana kelas tercipta dengan gairah.
  3. Di kelas terjadi interaksi antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru.
  4. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan daripada guru.
  5. Siswa kreatif dalam melakukan kegiatan.
  6. Siswa termotivasi untuk melakukan kegiatan.
  7. Siswa mampu bekerja sama dalam kelompoknya.
  8. Waktu yang digunakan lebih efektif dan efisien.
Selain manfaat di atas, pelaksanaan kegiatan ini mempunyai beberapa kendala sebagai berikut:
  • Biaya yang diperlukan untuk membuat alat peraga cukup besar.
  • Suasana kelas menjadi ramai (sedikit ribut).
C. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan
Dari beberapa paparan di atas dapat penulis simpulkan bahwa permainan jigsaw puzzle dapat mempermudahkan siswa untuk memahami dan menemutunjukkan nama-nama negara pada peta. Kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Selain itu, kegiatan ini dapat memacu kreatitivitas siswa, dan mengajak siswa berpikir dan aktif dalam proses pembelajaran.
2. Saran
Dari pelaksanaan uji coba di lapangan, kegiatan ini sangat memerlukan kreativitas guru dan dukungan dari kepala sekolah. Untuk itu, penulis menyarankan kiranya:
  • Guru-guru yang akan mengajar mata pelajaran IPS, khususnya dalam mengajarkan peta dunia kepada murid, dapat menerapkan permainan jigsaw puzzle ini kepada para murid.
  • Kepada kepala sekolah, hendaknya dapat memberikan sarana dan prasarana serta membantu biaya dalam menerapkan kegiatan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Garis-Garis Besar Program Pengajaran Mata Pelajaran IPS untuk Sekolah Dasar. Jakarta.
_______. 2002. Petunjuk Teknis Mata Pelajaran IPS untuk SD. Jakarta.
Munandar, Utami. 1999. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.
Santoso, Soegeng. 2002. Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Citra Pendidikan Indonesia.
Umaedi. 1999. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikdasmen.

2 komentar:

darti ndrianti mengatakan...

by: dartik indrianti , KPP:SENORI,, PGSD angk. 2011 UNIROW, Tuban..
saya setuju dengan artikel ibu,, puzzle dapat menjadi pembelajaran yang menyenangkan dan memancing kreativitas anak dan membawa anak untuk berfikir lebih kritis,,
namun bagi anak yang bisa dikatakan pola berfikirnya pas-pas an , apakah hal puzzle akan membuat anak semakin bingung??

alfonzho adonara mengatakan...

trimakasih atas sajian materinya,,,sangat membantu..

Poskan Komentar