MANUSIA PEMBELAJAR

Tidak ada satu lembaga pendidikan pun di dunia ini yang mampu menciptakan anak didik menjadi manusia seutuhnya, baik di Indonesia maupun di negara-negara maju lainnya. Lembaga pendidikan, sampai kapanpun hanya bisa menghasilkan anak didik sebatas manusia yang belum selesai. Belum selesai di sini artinya, untuk menjadi manusia yang benar-benar manusia maka manusia harus menjadi manusia pembelajar sepanjang hidupnya sehingga sekolah sebenarnya hanyalah salah satu bagian dari proses panjang tersebut, bukan satu-satunya proses.

Menjadi manusia pembelajar berarti kapan pun dan di manapun manusia bisa belajar dengan segala hal yang berada di sekitarnya. Dia bisa belajar pada hewan, benda mati maupun pada hal-hal yang bagi orang kebanyakan adalah sesuatu yang biasa. Dengan menyadari bahwa batas maksimal kemampuan dari lembaga pendidikan hanyalah sampai pada titik pembentukan manusia yang belum selesai, maka sudah selayaknya apabila semua unsur-unsur pendidikan termasuk iklim keilmuan yang hendak dibangun seharusnya mengarah pada penciptaan anak didik yang memiliki mental alami untuk senantiasa mau belajar.

Naluri ilmiah sebagai manusia pembelajar harus menembus batas ruang dan waktu sehingga tolok ukur sejati dari kesuksesan sebuah lembaga pendidikan terletak pada bagaimana anak didik yang dihasilkan memiliki semangat keilmuan untuk siap belajar pada hal-hal yang berada di luar jangkauan kurikulum sekolah. Mereka bisa belajar pada penggalan pengalaman hidup mereka sendiri, belajar dari peristiwa sehari-hari, dan juga mereka bisa belajar pada benda atau hewan ciptaan Tuhan yang tersebar di muka bumi ini. Bahkan yang tidak kalah pentingnya, mereka akan mampu menciptakan tradisi belajar tidak hanya ketika ada pekerjaan rumah (PR) saja, namun sepanjang hari dan sepanjang usianya mereka akan senantiasa terus belajar dan belajar.

Lantas, yang menjadi pertanyaan mendasar sekarang adalah kenapa belajar itu begitu penting dalam kehidupan manusia? Kemauan dan kemampuan untuk senantiasa belajar merupakan sebuah bentuk pengakuan diri bahwa sebenarnya manusia bukanlah siapa-siapa di hadapan sang pemilik ilmu. Semakin banyak yang diketahui pada dasarnya akan menunjukkan semakin sedikit ilmu yang dimiliki. Maka semakin mampu dan mau belajar, manusia akan semakin menyadari bahwa dirinya bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa yang layak untuk dibanggakan.

Kesadaran akan ketiadaan ini pada akhirnya akan mengantarkan pada pemahaman bahwa hidup ini (apapun kondisinya), sebenarnya sebuah anugerah yang harus dimaksimalkan untuk mengolah pikiran dan mengolah perasaan. Kemampuan olah pikir dan rasa dalam memandang kehidupan tidak akan datang dengan sendirinya tapi buah dari proses panjang untuk menjadi manusia pembelajar sepanjang hidup.

Kini, sebagai tenaga pendidik yang merupakan bagian dari elemen-elemen dasar pendidikan, kita tidak hanya berkewajiban menjadikan setiap anak didik untuk menjadi manusia pembelajar dalam kehidupan mereka di masa kini dan yang akan datang, namun kita sendiri juga harus menjadi manusia pembelajar terlebih dahulu. Kita tidak hanya mau dan siap untuk belajar dari buku-buku saja, melainkan juga harus mau belajar kepada anak didik sehingga dalam proses pembelajaran di kelas, kita tidak hanya mau mengajar tapi juga mau belajar.

0 komentar:

Poskan Komentar