DAMPAK HANCURNYA REAKTOR NUKLIR DI JEPANG

Badan Keselamatan Nuklir, otoritas yang menangani masalah nuklir di Jepang, mengatakan, setidaknya 160 orang diduga terpapar radiasi nuklir.

Pasca gempa besar dan terjangan tsunami dahsyat yang memorak-porandakan sejumlah wilayah di pantai timur, Jepang kini menghadapi ancaman baru, yaitu bocornya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Fukushima Daiichi yang dioperasikan Tokyo Electric Power Co (Tepco).

Badan Keselamatan Nuklir, otoritas yang menangani masalah nuklir di Jepang, mengatakan, setidaknya 160 orang diduga terpapar radiasi nuklir. Sementara itu, kantor berita Jiji tanpa mengutip sumber mengatakan, 19 orang telah terpapar radiasi nuklir.

Pihak Pemerintah Jepang sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait korban yang terpapar radiasi nuklir. Juru Bicara Pemerintah Jepang Edano mengatakan, radiasi yang disebabkan ledakan memang melampaui batas normal. Namun, hal tersebut tak memiliki ancaman langsung terhadap kesehatan manusia.

Warga pun mulai memeriksakan diri apakah mereka terpapar oleh radiasi nuklir. “Awalnya saya khawatir dengan gempa bumi. Namun, kini saya khawatir dengan radiasi. Saya tinggal di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Saya ke sini untuk memeriksakan diri, apakah saya baik-baik saja,” kata Kenji Koshiba, pekerja konstruksi di pusat gawat darurat di Koriyama.

Hingga saat ini, Pemerintah Jepang sebagaimana dilansir Reuters telah mengevakuasi 110.000 orang yang tinggal di wilayah dengan radius 20 kilometer dari lokasi PLTN. Edano mengatakan, pemerintah telah berupaya untuk mengurangi risiko radiasi nuklir. Pemerintah, tambahnya, fokus mengeluarkan udara dari reaktor nuklir yang rusak akibat gempa 8,9 magnitude yang disertai tsunami tersebut.

Selain itu, saat ini jutaan penduduk Jepang tak memiliki akses terhadap air bersih dan listrik. Sejak Jumat, mereka hanya bertahan hidup dengan mi instan. Hal ini juga dialami sejumlah tempat penampungan dan rumah sakit. “Saat ini tetap belum ada air atau listrik. Padahal, kami memiliki pasien yang perlu dirawat,” kata pejabat RS Sengen General Hospital, Ikuro Matsumoto.

Pemerintah Jepang telah mempersiapkan langkah antisipasi dini terhadap ancaman radiasi yang ditimbulkan. “Kehancuran parsial sangat mungkin terjadi. Kami memang tidak dapat secara langsung memeriksa bagian dalam reaktor, namun kami telah mengambil langkah-langkah dengan asumsi reaktor tersebut mengalami kehancuran parsial,” kata Edano kepada wartawan.

Belum ada informasi potensi tingkat radiasi yang ditimbulkan akibat kemungkinan terjadinya kerusakan parsial tersebut. Belum ada informasi pula terkait adanya peningkatan pengosongan wilayah di sekitar PLTN. Hingga saat ini, 170.000 orang pada wilayah dalam radius 20 kilometer telah dievakuasi. Pakar nuklir Rusia, Yaroslov Shtrombakh, mengatakan, kebocoran reaktor nuklir itu dipastikan tidak akan separah yang pernah terjadi di Chernobyl, Rusia, pada tahun 1986.

Sementara kelompok lingkungan Greenpeace sudah mengingatkan kerusakan akibat gempa pada dua pembangkit nuklir Jepang berarti negara itu berada di tengah krisis nuklir dengan konsekuensi yang mungkin mengerikan. ”Pembebasan sejumlah radiasi ke atmosfer membawa risiko kesehatan bagi masyarakat di daerah sekitarnya,” kata Kepala Kampanye Nuklir Greenpeace Internasional Jan Beranek, sebagaimana dilaporkan AFP.

”Fakta bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima bocor atau dengan terpaksa sengaja melepaskan gas yang terkontaminasi dari reaktor ke atmosfer menandakan bahwa semua proteksi fisik yang seharusnya mampu mengisolasi aktivitas radioaktif dari lingkungan telah gagal. Perlu peringatan berapa banyak lagi hingga orang mampu memahami bahwa reaktor nuklir secara inheren berbahaya?” kata Beranek.

”Kami diberi tahu oleh industri nuklir bahwa hal-hal seperti ini tidak dapat terjadi dengan reaktor modern, tetapi saat ini Jepang berada di tengah krisis nuklir dengan konsekuensi potensial yang mengerikan. Sementara fokus segera saat ini adalah untuk meminimalkan pelepasan radiasi dan menjaga masyarakat setempat tetap aman, ini merupakan satu peringatan akan risiko yang melekat pada pembangkit nuklir, yang selamanya akan selalu rentan terhadap kombinasi berpotensi mematikan akibat kesalahan manusia, kegagalan desain dan bencana alam,” katanya.

Hancurnya reaktor nuklir Jepang dampaknya, Jepang yang biasa gemerlap pun mengalami krisis listrik. Alhasil, Jepang berencana melakukan pemadaman listrik bergilir. “Di bagian timur negara ini cenderung menghadapi masalah kekurangan listrik setelah gempa bumi lalu,” ujar Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri Banri Kaieda dalam jumpa pers seperti dilansir dari AFP, Minggu (13/3).

Wilayah timur ini dilayani perusahaan listrik Tokyo Electric Power (Tepco) dan Tohoku Electric Power. Dalam kasus Tepco, akan dibagi untuk melayani 5 blok dan setiap wilayah akan digilir pemadaman setiap 3 jam sehari, demikian dikatakan Badan Energi dan Sumber Daya Alam. “Jadwal pemadaman diharapkan akan berlanjut beberapa minggu,” ujar Kepala Badan Energi dan Sumber Daya Alam Tetsuhiro Hosono. Hosono menambahkan Tepco diharapkan akan memenuhi 25 persen pasokan listrik dari total suplai energinya per tahun.

Untuk Tohoku Electric Power Co, yang melayani bagian utara Pulau Honshu, skala pasokan listrik diharapkan tergantung seberapa cepat wilayah dan industrinya bisa dibangun kembali. Prospek langsung untuk industri tenaga atom Jepang merupakan perhatian utama menyusul kebocoran radioaktif dan ledakan di pabrik pada hari Sabtu. Industri nuklir Jepang menyediakan sekitar 30 persen dari kebutuhan listrik Jepang. Secara keseluruhan, 11 dari sekitar 50 reaktor nuklir di Jepang, terletak di wilayah yang terkena dampak terburuk, ditutup setelah gempa. *

0 komentar:

Poskan Komentar