MEMBACA MAKANAN SEHARI-HARI

Ada anak Sekolah Dasar (SD) sedang membaca buku di perpustakaan. Asyik sekali, bahkan ada temannya yang ingin bertanya sesuatu pun tidak dianggapnya. Ia memilih fokus berlayar bersama buku yang sedang dibacanya. Saking terlalu fokusnya, bel tanda masuk pun tidak didengarnya. Itulah membaca. Jika kita menghayati, menyenangi, menjadikannya sebagai hobi, membaca seperti makanan yang lezat. Makanan yang tidak membuat bosan, walau ia santap setiap hari.
Lalu ada yang beralasan membaca itu membosankan, dan membuat kita mengantuk. Alasan itu berjawab karena kita belum terbiasa. Maka wajar, kita menganggapnya bosan dan membuat mata lelah. Ibaratnya ketika berada di lingkungan yang baru kita tempati. Rasanya tidak enak, risih. Tetapi karena setiap hari menempati lingkungan itu, kita menjadi terbiasa. Apalagi kita berusaha enjoy. Membaca pun demikian.
Bahkan ada seseorang yang sangat gemar membaca, sampai ia tidak bisa tidur. Akhirnya ia habiskan waktunya untuk membaca buku yang ia punyai. Lalu, apakah dengan demikian membaca hanya menghabiskan waktu dengan percuma? Jawabannya, tentu tidak. Membaca adalah aktivitas mulia. Karena membaca adalah sebuah anjuran. Tentunya sebagai manusia bisa menempatkan situasi. Membagi waktu antara membaca dan melakukan kewajiban.
Aktivitas membaca untuk sementara ini bagi masyarakat Indonesia masih menjadi aktivitas yang kerap diabaikan. Maka tidak mengherankan jika kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain sangat jauh berbeda. Membaca itu memupuk otak kita, oleh sebab itu membaca itu kebutuhan bagi otak kita. Jika tidak kita pupuk, seperti halnya tanaman akan mudah terserang hama yang mematikan.
Ada anekdot mengatakan demikian, “jalannya orang berduit itu berbeda dengan jalannya orang tak berdiut (miskin)”. Penulis pun memberanikan diri membuat anekdot demikian, “cara bertuturnya orang gemar membaca berbeda dengan bertuturnya orang tak gemar membaca”. Hal itu harus diakui. Orang yang gemar membaca bertuturnya cenderung sistematis dan jika berargumen selalu diselingi dengan referensi tepercaya. Tidak membual alias omong kosong. Tetapi bagi orang yang jauh dari bacaan, pandai ngomong, namun cenderung ‘tong kosong’.
Sayangnya hingga sekarang ini, kaum terdidik (pelajar) enggan menjadikan perpustakaan kota, daerah atau sekolah sebagai tempat paling nyaman. Mereka lebih memilih mengistirahatkan diri ke kantin, pacaran, atau bersendau gurau tidak jelas temanya dengan bergerombol di beberapa sudut tempat. Apakah itu salah? tentu tidak, tetapi akan lebih baik jika waktu luang yang kita punyai digunakan untuk mengasah otak.
Jika kondisi demikian (miskin membaca) semakin berlanjut. Mimpi untuk menyejajarkan diri dengan negara maju, seperti Jepang misalnya, perlu waktu yang sangat lama. Atau lebih kasar lagi, tidak mungkin menyejajarkan diri. Tidak dimungkiri mereka maju karena pendidikan, etos kerja yang tinggi, serta etos ‘membaca’ yang tinggi pula.
Sudah tak terhitung lagi, berapa orang menulis tentang kebiasaan orang Jepang di manapun tempat selalu membiasakan diri membaca. Mungkin penulis menjadi urutan keseribu orang yang menulis tentang hebatnya masyarakat Jepang dalam hal aktivitas membaca.
Sudah tak terhitung pula bukti sukses seseorang berkat aktivitas membacanya yang tergolong tinggi. Lalu apakah kita masih meremehkan budaya baca? Sedari dini, mari sisihkan uang jajan, penghasilan yang kita miliki untuk berburu bahan bacaan. Buku, majalah, browsing, koran, dan lainnya. Jika Anda telah menemukan nikmat dan manfaat dari membaca, ajak orang lain. Mengajak orang untuk melakukan hal baik itu merupakan perbuatan positif.
Dalam agama Islam sendiri, membaca menjadi poin tersendiri dalam amalan ibadah. Tercantum dalam Al Quran surat Al Alaq, berbunyi Iqra’ bismirabbikalladzi khalaq. Yang memiliki arti “Bacalah dengan atas nama Tuhanmu yang menciptakan’. Ayat tersebut menjadi bukti otentik sebagai penguat bahwa aktivitas membaca pun disebutkan di dalam kitab suci yang merupakan kalam Tuhan yang kudus. Ayo membaca, kita buka pintu dunia, kita jelajahi lebat hutan dunia, kita selami dalamnya lautan dan jejahi angkasa raya, kita buka lembar cakrawala.

0 komentar:

Poskan Komentar