Makna Lagu Jawa Yang Berjudul Lir-Lir

Makna Lagu Jawa Yang Berjudul Lir-Lir
 
Ilir-ilir

Ilir-ilir, Ilir-ilir, tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar
Cah angon, cah angon, penekna blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira
Dodotira, dodotira kumitir bedah ing pingggir
Dondomana, jlumatana, kanggo seba mengko sore
Mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane
Ya suraka, surak hiya


Bagi masyarakat Jawa tembang ini bukan sekedar tembang dolanan biasa. Terkandung makna mendalam dalam tembang sederhana ini. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang menciptakan tembang ini. Karena tembang ini sudah ada sejak ratusan tahun silam. Dilihat dari kedekatan Sunan Kalijaga dengan budaya Jawa dan fakta bahwa beliaulah pencipta beberapa kesenian Jawa yang digunakan sebagai media syiar agama Islam, sebagian besar masyarakat Jawa berpendapat bahwa Sunan Kalijaga-lah yang merupakan pencipta tembang ini. Berikut makna yang terkandung dalam tembang tersebut :

Ilir-ilir, Ilir-ilir, tandure wus sumilir 
(Bangunlah, bangunlah, tanamannya telah bersemi.) 
Kanjeng Sunan mengingatkan agar masyarakat Islam segera bangun dan beraktivitas. Saatnya telah tiba, bagaikan tanaman yang telah siap dipanen, demikian pula rakyat di Jawa saat itu (setelah kejatuhan Majapahit) telah siap menerima petunjuk dan ajaran Islam dari para wali.

Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar 
(Warna hijau yang menyejukkan, bagaikan sepasang pengantin baru)
Hijau adalah warna kejayaan Islam, dan agama Islam disini digambarkan bagai pengantin baru yang menarik hati siapapun yang melihatnya dan membawa ketentraman bagi orang-orang sekitarnya. 

Cah angon, cah angon, penekna blimbing kuwi 
(Anak gembala, tolong panjatkan pohon belimbing itu.) 
Gembala disini adalah para pemimpin. Belimbing adalah buah bersegi lima, yang merupakan simbol lima rukun islam dan sholat lima waktu. Para pemimpin diperintahkan oleh Sunan Kalijaga untuk menjadi suri tauladan bagi rakyatnya dengan menjalankan ajaran Islam secara benar. Yaitu dengan menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima waktu.

Lunyu-lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira 
(Meskipun licin, tolong memanjatnya, untuk mencuci kain dodotmu.) 
Dodot, sejenis kain kebesaran orang Jawa yang hanya digunakan pada upacara atau saat-saat penting. Buah belimbing pada jaman dahulu, karena kandungan asamnya sering digunakan sebagai pencuci kain, terutama untuk merawat kain batik supaya tetap awet. Dengan kalimat ini Sunan Kalijaga memerintahkan masyarakat Islam untuk tetap senantiasa melaksanakan lima rukun Islam dan mendirikan sholat lima waktu walaupun banyak rintangannya (licin jalannya). Semuanya itu diperlukan untuk menjaga kehidupan beragama mereka. Karena menurut orang Jawa, agama itu seperti pakaian bagi jiwanya. Walaupun bukan sembarang pakaian biasa. 

Dodotira, dodotira kumitir bedah ing pingggir 
(Kain dodotmu, telah rusak dan robek di bagian pinggir)
Kemerosotan moral telah menyebabkan banyak orang meninggalkan ajaran agama mereka sehingga kehidupan beragama mereka digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek. 

Dondomana, jlumatana, kanggo seba mengko sore 
(Jahitlah, tisiklah untuk menghadap nanti sore) 
Seba artinya menghadap orang yang berkuasa (raja/gusti), oleh karena itu disebut ‘paseban’ yaitu tempat menghadap raja. Di sini Sunan Kalijaga memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan beragama yang telah rusak tadi dengan cara menjalankan ajaran agama Islam secara benar, untuk bekal menghadap Allah SWT di hari nanti. 

Mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane 
(Selagi rembulan masih purnama, selagi tempat masih luas dan lapang).
Selagi masih banyak waktu, selagi masih diberi kesempatan, perbaikilah kehidupan beragamamu. 

Ya suraka, surak hiya 
(Bersoraklah, berteriak-lah HIYA) 
Pada saatnya nanti, panggilan dari Yang Maha Kuasa sampai, sewajarnyalah bagi mereka yang telah menjalankan kehidupan beragama-nya dengan baik untuk menjawabnya dengan gembira. 

Demikianlah petunjuk dari Sunan Kalijaga beberapa abad yang silam, yang sampai saat ini pun masih tetap terasa relevansinya. Semoga petunjuk dari salah seorang Waliyullah ini membuat kita semakin tafakur dan tawadu dalam menjalankan ibadah kita dalam kehidupan sehari-hari. Amin

0 komentar:

Poskan Komentar