Kerak Bumi yang Terus Bergerak
Luangkan waktu sebentar saja. Perhatikan peta dunia yang ada. Lihatlah topografi pantai barat Afrika, dan lihat pula pantai timur Amerika Latin. Perhatikan sekali lagi. Kalau dipertemukan keduanya, pantai timur Amerika Latin itu akan pas dengan pantai barat Afrika. Memang, pada mulanya kedua benua yang kini sangat berjauhan itu ratusan juta tahun yang lalu masih bersatu. Bagaimana lempeng berukuran dunia itu pecah-pecah, saling menjauh atau saling mendekat lalu bertumbukan, telah membawa pengaruh yang luar biasa terhadap keadaan bumi kita. Bagaimana lempeng berukuran benua itu bergerak, mari kita simak tulisan ini.
Revolusi ilmu kebumian muncul pada saat ilmuwan ahli bumi mendukung sebuah teori, yang sekarang dikenal sebagai teori Tektonik Lempeng. Pada mulanya ahli meteorologi Jerman, Alfred Wegener mencoba menjawab teka-teki kehanyutan benua. Dari tahun 1912 hingga meninggalnya tahun 1930, Wegener terus mencoba mencari jawaban atas teorinya. Menurutnya, semua benua itu berasal dari satu massa daratan raksasa yang bernama Pangaea, kemudian berbagai kekuatan dari dalam bumi telah memecahkannya menjadi pecahan-pecahan yang mirip mainan puzzle, memencar ke kedudukannya seperti sekarang, dan bentuk puzzle benua itu terus bergerak.
Pada dasarnya, teori Tektonik Lempeng adalah bahwa bumi yang padat ini terdiri dari banyak lempengan yang pecah-pecah, yang merupakan pembalut keras bumi, yang terus bergerak: mendorong, menjauh, berpapasan, menggilas, menindih tiada hentinya. Lempengan ini sedikitnya ada delapan lempeng yang besar, dan delapan lagi lempeng berukuran kecil, yang semuanya terus bergerak berarak-arak tiada hentinya hingga kini.
Teori ini semakin banyak diyakini setelah data dari berbagai dunia dianalisis, yang meyakinkan bahwa telah terjadi pergerakan lempeng sejagat. Misalnya, pada saat batuan kuno di kepulauan Inggris diukur kemagnetannya, tercatat penyimpangan sejauh 300 dari kutub magnet sekarang. Pertanyaan timbul, apakah kutub magnet bumi yang telah berpindah sejauh itu, ataukah kepulauan Inggris yang telah bergeser dari waktu ke waktu hingga pada posisinya seperti sekarang?
Dengan bantuan komputer, peta topografi dasar samudra terus dianalisis. Paparan Benua Amerika Selatan dan Afrika, ternyata mendekati sempurna bila kedua garis paparan benua keduanya disatukan. Para ahli gempa menemukan 80% sumber gempa di seluruh dunia terdapat pada jalur sempit, dekat palung samudra, serta rangkaian kepulauan vulkanik berbentuk busur.
Data dari berbagai sumber itu kemudian diformulasikan kembali oleh Harry Hess dari Universitas Princenton. Teori kehanyutan benua dari Wegener dapat diterima oleh Hess dengan beberapa catatan. Hess berpendapat bahwa benua itu tidak hanyut tak tentu arah seperti balok es yang terapung, melainkan benua itu tertanam kuat pada basal dasar samudra. Ibarat kayu yang membeku dalam es, dan yang bergerak adalah esnya.
Titik perhatian beralih ke dasar samudra. Teori Hess mengemukakan, dasar samudra terus-menerus didesak ke atas dari astenosfer yang panas pada pematang samudra. Terjadilah apa yang dikenal sebagai pemekaran dasar samudra, dengan kecepatan luncuran 1,5-10 cm. per tahun, atau sekira 100 km per 10 juta tahun.
Pemekaran dasar samudra ini karena adanya panas dari dalam bumi yang menimbulkan arus konveksi, arus yang mendesak naik, kemudian turun, seperti air dalam cerek yang dipanaskan. Menurut Hess, arus konveksi yang berlangsung di bawah lempengan litosfer cukup raksasa energinya untuk menyeret lempengan ini.
Bagian lempeng yang tertumpangi lempeng yang lain akan menekuk ke bawah dengan kemiringan sudut sekira 450, terus tenggelam ke dalam astenosfer, yang karena proses waktu yang berjuta-juta tahun, disertai pemanasan yang kuat dari dalam, bagian yang menekuk ini lama kelamaan akan pecah, hancur-lebur, dan menjadi bagian dalam bumi kembali. Bagian-bagian litosfer yang bergerak, retak, runtuh inilah yang merupakan wilayah paling labil, yang menjadi salah satu penyebab terjadinya gempa, dan jalan yang lebih memungkinkan bagi magma untuk naik mencapai permukaan bumi, membangun tubuhnya menjadi gunung api.
Teori Hess tentang pemekaran dasar samudra mendapat dukungan bukti dari mahasiswa tingkat sarjana di Inggris, Frederick J. Vine dan D. H. Matthews. Pendapat keduanya sebenarnya bukan hal yang baru. Vine dan Matthews berpendapat bahwa saat lava meluap dan memadat di retakan tengah samudra, lava basal mendapatkan perkutuban magnet sesuai dengan keadaan pada saat lava ini memadat.
Penelitian tentang kemagnetan mendukung teori pemekaran dasar samudra. Demikian juga penelitian yang terkenal tahun 1968 dengan kapal Glomar Challenger, semakin banyaknya bukti-bukti yang meyakinkan, bahwa kosep Tektonik Lempeng itu sudah terbukti. Teori Tektonik Lempeng ini terus disempurnakan dengan semakin banyaknya bukti dan analisis baru, sehingga semakin diterima, karena dapat menjawab berbagai gejala geologis, apakah itu kejadian gunung api, gempa bumi, sesar, atau pegunungan lipatan yang menjulang tinggi.
Bila dua lempeng benua dan lempengan samudra saling bertemu, saling menekan, mendorong, pada umumnya lempeng samudra akan menekuk ke dalam astenosfer, kemudian meleleh. Bahan lelehan terus ditekan kembali ke atas dengan kekuatan yang luar biasa, sehingga ada bagian yang mencapai permukaan, dan terbentuklah gunung api, dan daerah ini pun merupakan pusat gempa.

0 komentar:

Poskan Komentar