Coastal Drifting Buoy : Wacana Solusi Minimnya Data Oseanografi Pesisir Indonesia

ISU POKOK:
  1. Indetifikasi dan pemahaman karakteristik proses teluk dan perairan pantai secara in-situ dan real time jarang dilakukan di indonesia.
  2. Tidak tersedianya data yang memadai yang sifatnya internal sehingga masih sangat tergantung terhadap data yang disediakan oleh negara, lembaga dan organisasi internasional seperti NOAA, CSIRO, ARGOS dan lain-lain.
  3. Potensi perairan pesisir dan teluk yang sangat besar namun sayangnya pemahaman tentang karakteristik dan perilaku oseanografi pada daerah tersebut masih minim.
  4. Daerah pesisir merupakan salah satu daerah yang rawan bencana alam dan kecelakaan, oleh karena itu diperlukan sebuah sistem yang mampu memantau secara real time kondisi daerah tersebut serta mampu memberikan prediksi tentang keadaan yang akan terjadi secara baik.

SOLUSI:

  1. Meningkatkan pemahaman tentang perilaku oseanografi perairan pantai
  2. Membuat sistem pengukuran real-time dan insitu yang memuat data arah dan pergerakannya karena deskripsi menyeluruh dari sebuah sistem dinamik seperti pesisir dan teluk serta laut harus memuat dua informasi yaitu keadaan (state) dan kinetik (Rossby T, 2007).
  3. Pengelolaan dan pemanfaatan yang seimbang dan berkesinambungan dengan didukung oleh sistem pemantauan in-situ real time serta sistem prediksi yang baik.

Isu perubahan iklim akibat pemanasan global dan pengelolaan lingkungan telah hangat dibicarakan dan tetap akan menjadi isu yang sangat menarik untuk ditelaah dimasa yang akan datang. Laut penyusun terbesar dari bumi menjadi perhatian utama dalam isu tersebut. Ada beberapa isu yang menjadi perhatian dari laut dan semuanya hampir berkaitan dengan pola karakteristik dan pengelolaan dari laut tersebut.

Pesisir sebagai salah satu wilayah laut merupakan salah satu daerah yang memiliki karakteristik yang sangat unik, terutama dipengaruhi oleh wilayah dan pengelolaan atau pemanfaatannya. Informasi mengenai bagaimana pola dan karakteristik pesisir di indonesia sangat jarang ditemui, padahal mengenal daerah pesisir, baik pola dan karakteristiknya tidak bisa dilakukan dengan insidentil dan bersifat parsial. Untuk mengenal daerah pesisir diperlukan pengenalan secara menyeluruh baik secara global maupun secara lokal.

Tuntutan kebutuhan data dan informasi semakin meningkat dalam mendukung berbagai aspek dalam pembangunan nasional, tidak terkecuali pembangunan kelautan, pesisir dan pulau-pulau kecil. Perencanaan beserta program implementasinya akan dapat diimplementasikan secara tepat bila didukung oleh ketersediaan data dan informasi yang transparan pada cakupan yang paling kecil.

Selama ini kajian karakteristik daerah pesisir dilakukan secara insidentil melalui kegiatan-kegiatan dari berbagai instansi pemerintah dan LSM yang ada, kajian dilakukan dengan pengambilan data in-situ dan pengenalan karakteristik yang lebih luas secara spasial dilakukan dengan menggunakan citra dan data satelite dari berbagai instansi luar yang ada.

Ada beberapa kelemahan cara yang dilakukan diatas yaitu:

  1. Data yang dihasilkan bersifat insidentil tidak time-series, sehingga akan sangat susah untuk menjelaskan karakteristik suatu daerah berdasarkan data tersebut.
  2. Data citra yang didapatkan dari satellite pada dasarnya cukup baik menjelaskan karakteristik suatu daerah yang luas secara spasial tapi sayangnya cukup sulit mendapatkan data pembanding in-situ pada daerah-daerah tersebut.
  3. Citra atau data buoy tidak meliputi seluruh wilayah indonesia apalagi daerah pesisir indonesia, sehingga selama ini data tersebut biasanya digunakan untuk perairan lepas dan hampir dapat dikatakan tidak ada data untuk daerah pesisir dan perairan laut indonesia.
  4. Hampir semua data yang digunakan bersifat potensial (pada titik tertentu saja) dan tidak ada yang bersifat kinetik (pergerakan dan arah pada waktu tertentu), padahal untuk menjelaskan karakteristik suatu daerah secara ideal kedua energi tersebut adalah wajib untuk dilakukan.

Salah satu solusi yang dapat dilakukan terhadap masalah diatas yaitu dengan membuat dan melepaskan sebuah instrument yang mampu mencatat data real time baik data dan arah serta kecepatannya dan bergerak sesuai dengan pola laut atau pesisir itu sendiri. Instrument ini biasa disebut dengan COASTAL DRIFTING BUOY.

Drifting buoy (metode pengukuran Langrangian) di dunia bukanlah hal baru, metode pengukuran ini telah dikembangkan sejak tahun 1950-an dengan dimulai menggunakan benda apung yang disebut RAFOS float, metode ini menggunakan gelombang akustik (pinger) untuk penentuan posisi float (T, Rossby, 2007).

Sekarang teknologi ini telah berkembang dengan dimotori oleh group ARGO yang didanai (National Oceanic Atmospher Administration) sebuah lembaga penelitian kelautan dan atmosfer Amerika Serikat. Sejak periode september 2003 hingga agustus 2004 saja NOAA telah melepas 658 drifter yang tersebar hampir diseluruh dunia (R. Lumpkin dan Pazos M, 2007). Adapun umumnya drifter yang dilepaskan oleh ARGO dan NOAA ini adalah drifter tipe SVP (Survace Velocity Program) dengan berbagai macam sensor, penentuan posisi menggunakan GPS (Global Positioning System) dan sistem Transmisi menggunakan satellite frekuensi 401.650 MHZ.

Adapun peta penyebaran SVP drifter ARGO terakhir seperti terlihat pada Gambar 1. Pada peta tersebut sangat jelas terlihat bahwa perairan Indonesia (baik perairan lepas maupun pantai) tidak ditemui adanya drifter ARGO ini sehingga sangat sulit melakukan penelitian dan menjadikan data drifter ARGO sebagai data in-situ bagi penelitian dan identifikasi wilayah di Indonesia.

Coastal Drifting Buoy, Solusi Minimnya Data Oseanografi

Gambar 1. Peta penyebaran SVP drifter ARGO (sumber gambar:http://w3.jcommops.org/FTPRoot/Argo/Maps/status.png)

0 komentar:

Poskan Komentar