Pemanasan Global

Hutan

Menanggapi isu yang sedang hangat saat ini yaitu tentang pemanasan global, saya tercengang setelah membaca Majalah National Geographic Indonesia edisi Oktober 2007. Ternyata bumi memang sedang memanas lebih cepat dari yang semestinya karena adanya pemanasan global yang disebabkan oleh bertambahnya gas CO­2 secara tajam didalam atmosfer bumi. Pemanasan global adalah naiknya suhu permukaan bumi yang disebabkan peningkatan karbondioksida (CO2) dan gas-gas lain atau gas rumah kaca yang menyelimuti bumi dan memerangkap panas. Kebaikan suhu ini mengubah iklim dan membuat kepunahan banyak species, kebakaran hutan, pemutihan karang, penularan penyakit, makin ganasnya badai, hingga pencairan es di kutub hingga permukaan air laut naik dan menenggelakan banyak pulau. Sebagai biang kerok meroketnya gas CO2 di dalam atmosfer bumi adalah akibat meningkatnya kegiatan industri yang berbahan bakar fosil seperti batubara, minyak bumi dan gas. Amerika Serikat dan Cina merupakan penyumbang gas karbondioksida terbesar saat ini.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Celakanya Indonesia saat ini telah menempati peringkat ketiga setelah AS dan Cina sebagai negara penyumbang gas CO2 terbesar. Sumbangan gas CO2 dari Indonesia ini bukan karena kegiatan industri saja, tetapi juga karena kebakaran hutan yang marak terjadi delapan tahun ini. Kebakaran hutan yang terjadi tahun 1997-1998 melepaskan gas CO2 sebagai gas emisi rumah kaca sebesar hampir tiga giga ton karbon ke atmosfer, atau setara dengan 13-40 persen total emisi karbon dunia yang dihasilkan dari bahan bakar fosil pertahun. Ini sangat mempengaruhi perubahan iklim dan pemanasan global saat ini. Kebakaran hebat seperti ini terjadi lagi pada tahun 2006 yang mencoreng muka Indonesia karena menyebarnya asap ke negara tetangga.

Prinsip rumah kaca pada atmosfer bumi sederhananya adalah sinar matahari ditangkap oleh tanah dan air, diubah menjadi panas dan dilepaskan kembali ke atmosfer sebagai radiasi inframerah untuk menghangatkan bumi. Seperti dinding-dinding kaca dari sebuah rumah kaca, gas-gas atmosfer terutama karbondioksida, uap air dan metana, menjebak sebagian besar dari panas yang membumbung dan menahannya di atmosfer yang lebih rendah. Tanpa efek rumah kaca ini, temperatur bumi rata-rata akan berkisar di –18oC, bukan 14.5oC seperti sekarang.

­Sebelum revolusi industri, atmosfer bumi mengandung sekitar 280 ppm (part per million/ bagian per sejuta) CO­2. Itu merupakan jumlah yang baik. Oleh karena struktur CO2 menjebak panas dekat permukaan planet yang justru tanpanya akan memancar balik keluar angkasa. Peradaban tumbuh besar dalam suatu dunia yang angka temperaturnya ditentukan oleh banyaknya kandungan CO2 tersebut. Itu setara dengan suatu suhu rata-rata global sekitar 14.5oC. Sekali kita membakar batubara, minyak bumi dan gas untuk meyokong kehidupan, angka 280 itu mulai naik. Saat diukur pada tahun 1950an, CO2 dalam atmosfer telah mencapai angka 315 ppm. Sekarang nilai itu ada di 380 ppm dan meningkat hingga 2 ppm pertahun. Itu sepertinya tidak banyak, tetapi berlebih yang dijebak oleh CO2, beberapa watt permeter persegi permukaan bumi cukup untuk menghangatkan planet secara nyata. Kita telah menaikkan suhu lebih dari setengah derajat celcius. Mustahil memperkirakan secara persis akibat dari peningkatan CO2 di atmosfer. Namun, pemanasan yang sudah kita lihat sejauh ini mulai mencairkan hampir segala sesuatu yang membeku di muka bumi. Ia telah mengubah musim dan pola curah hujan dan kenaikan muka air laut.

Molekul-molekul CO2 akan menetap di dalam atmosfer hingga 200 tahun, maka jika hasil pembakaran bahan bakar fosil (emisi) dikurangi hari ini, bumi akan terus memanas, meski mungkin agak lambat. Jika emisi dipertahankan pada laju saat ini, tingkat CO2 akan tetap mencapai 525 ppm, hampir dua kali lipat tingkat pra-industri. Selambat-lambatnya pada 2100, bumi akan memanas beberapa derajat. Perilaku manusia sperti sekarang mendorong tingkat CO2 melampaui 800 ppm, memicu kenaikan temperatur hingga 5oC bisa jadi mengalahkan kemampuan beradaptasi banyak species.

Sumber-sumber energi yang memajukan masyarakat industri modern telah menyamai krisis-krisis perubahan iklim pula. Bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batubara dan gas akan bertanggung jawab atas 80% dari tambahan CO2 yang kini menahan lebih banyak panas dalam atmosfer. Sebagian besar daari sisa CO2 berasal dari perubahan penggunaan lahan, terutama di hutan-hutan tropis, termasuk budidaya ladang berpindah dan pemanenan kayu. Hutan dirusak untuk pengalihan perkebunan monokultur seperti sawit, tebu, jagung, kedelai dan pembalakan liar justru menjadi pemicu bertambahnya titik panas dari tahun ke tahun. Hutan semestinya berfungsi sebagai pengikat karbon bukan sebagai penyumbang karbon.

Titik ApiMari kita tengok apa yang sedang terjadi di Indonesia. Iminng-iming karena hasil sawit, kertas dan pembalakan liar yang menggiurkan, membuat pembukaan hutan menjadi marak dengan jalan pintas dan relatif murah; yaitu dengan cara membakar. Sebagai contoh, dalam 20 tahun terakhir, luasan hutan alam di Provinsi Riau telah berkurang sekitar 56,8 persen. Jika dirata-rata, setiap tahunnya Riau kehilangan sekitar 182.140 hektare hutan alam, atau 15.178 hektare setiap bulannya. Menurut data WWF, hingga akhir tahun 2005 hutan yang tersisa di Riau tinggal 2.743.198 hektare atau hanya 33 persen dari luas daratannya.

Memang, jika kebakaran selalu terjadi setiap tahun, sudah seharusnya Pemerintah Indonesia bisa memecahkan permasalahannya untuk kemudian dicari solusinya. Sebut saja penegakan hokum untuk menjerat para pelaku pembakar lahan dan penanggung jawabnya. Sederat aturan diimplementasikan dalam kehidupan nyata, seperti UU No. 41/1999 tentang kehutanan dan UU No. 23/1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup. Izin usaha perkebunan dan hutan tanaman industri (HTI) yang mengonversi hutan alam harus diperketat dan diawasi.

Dengan memelihara hutan, berarti mencegah terlepasnya karbon ke atmosfer karena hutan berfungsi sebagai pengikat senyawa karbon yang merupakan salah satu gas rumah kaca penyebab utama pemanasan global. REDD merupakan skema pengurangan emisi dari deforestasi di negara berkembang, suatu scenario konvensi PBB untuk menangkal pemanasan global. REDD diusulkan sebagai medium untuk memperbaiki kondisi huatan alam yang merupakan dapur karbon alamiah paling efektif.

Selain hutan, para ilmuwan juga telah memikirkan bagaimana cara mengurangi emisi karbon ini. Para ilmuwan memperingatkan bahwa emisi karbon saat ini seharusnya dikurangi hingga setidaknya setengah selama 50 tahun berikutnya untuk menghindari bencana-bencana pemanasan global dimasa depan. Setiap strategi dibawah ini, selambatnya pada 2057, akan mereduksi emisi karbon tahunan hingga semiliar metrik ton.

Efisiensi dan Konservasi

  1. Memperbaiki ekonomi bahan bakar pada dua miliar mobil dari 12 km/liter ke 25 km/liter
  2. Mengurangi kilometer setiap tahun per mobil dari 16.000 ke 8.000
  3. Meningkatkan efisiensi pendinginan, pencahayanna dan peralatan rumah tangga hingga 25 persen
  4. Memperbaiki efisiensi pembagkit listrik tenaga batubara dari 40% ke 60%

Tangkap dan Simpan Karbon

  1. Memperkenalkan system untuk menangkap CO2 dan menyimpannya didalam tanah di 800 pembangkit bertenaga batubara
  2. Menggunakan system tangkapan di pembangkit hydrogen, penghasil bahan bakar untuk semiliar mobil
  3. Menggunakan system tangkapan di pembangkit bahan bakar sintetis turunan batubara, penghasil 30 juta barel sehari

Bahan Bakar Rendah Karbon

  1. Mengganti 1.400 pembangkit bertenaga batubara dengan gas alam
  2. Melenyapkan batubara dengan menaikkan produksi tenaga nuklir hingga tiga kali kapasitas saat ini.

Sumber Daya Terbarukan

  1. Meningkatkan kapasitas tenaga angin sampai 25 kali
  2. Meningkatkan tenaga surya hingga 700 kali kapasitas saat ini
  3. Meningkatkan tenaga angin hingga 50 kali kapasitas saat ini untuk emmbuat hydrogen
  4. Meningkatkan produksi bahan bakar nabati etanol sampai 50 kali kapasitas saat ini. Dibutuhkan sekitar seperenam drai lahan garapan dunia
  5. Menghentikan semua deforestasi
  6. Memperluas pengolahan lahan konservasi ke semua lahan garapan (pembajakan biasa melepaskan karbon dengan mempercepat dekomposisi bahan organic)

0 komentar:

Poskan Komentar