Iklim Viking (5)

Pada pukul 7:30 orang-orang penuh berkumpul di atas dok. Banyak juga yang berada di atas atap-atap rumah kayu tua di sekeliling pelabuhan; beberapa menonton dari perahu kayak, mendayung cukup dekat untuk mengambang di atas lautan yang tenang dan berkilauan itu. Upacara dimulai dengan paduan suara menyanyikan lagu kebangsaan Greenland, ”Nunarput Utoqqarsuanngoravit—Engkau, Tanah Pusaka Kami.” Rosing menghadap khalayak dan memberi tanda lewat gerakan tubuh agar semua orang ikut bernyanyi. Hari itu, Kalaallisut, sebuah dialek Inuit, menjadi bahasa resmi Greenland, menggantikan bahasa Denmark. Kemudian, tak lama selewat pukul delapan pagi, ratu Denmark yang mengenakan pakaian tradisional Inuit untuk perempuan yang sudah menikah—sepatu merah setinggi betis dari kulit anjing laut atau kamiks, syal bermanik-manik, dan celana bulu anjing laut—memberikan piagam kedaulatan yang baru kepada Josef Tuusi Motzfeldt, ketua Parlemen Greenland. Para hadirin bersorak-sorai dan tembakan meriam di atas bukit membahana di atas pelabuhan mengirimkan gelombang udara yang menyapu tubuh kami bagaikan semburan adrenalin. Berdasarkan piagam itu, Denmark masih menangani kebijakan luar negeri Greenland; subsidi tahunan pun masih dilanjutkan. Namun Greenland kini memiliki kendali yang lebih besar untuk masalah dalam negerinya—dan khususnya atas sumber daya mineralnya yang besar. Tanpa sumber daya itu, tidak mungkin Greenland bisa mandiri secara ekonomi. Kini perikanan meliputi lebih dari 80 persen pendapatan ekspor Greenland; udang dan ikan pecak menjadi komoditi utama. Walaupun persediaan ikan pecak masih cukup besar, tetapi populasi udang telah menurun. Royal Greenland, perusahaan perikanan pelat merah kini terus menerus merugi. Penyebab turunnya populasi udang—di Greenland disebut sebagai ”emas merah muda”—tidaklah begitu jelas. Soren Rysgaard, direktur Pusat Penelitian Iklim Greenland di Nuuk, mengatakan iklim Greenland menjadi semakin tidak menentu disamping menjadi lebih hangat. Suhu laut yang semakin meningkat mungkin telah mengganggu jadwal bertelurnya larva udang dan tumbuhnya fitoplankton yang menjadi makanan utama larva tersebut; tidak ada yang mengetahui dengan persis. Para nelayan berharap ikan kod akan kembali begitu air laut menghangat. Namun setelah peningkatan kecil beberapa tahun lalu, populasi kod menurun kembali.

0 komentar:

Poskan Komentar