Iklim Viking (6)

”Kehidupan tradisional Greenland mengandalkan kestabilan,” ujar Rysgaard. Selain dari Greenland selatan yang selalu disapu badai Atlantik, iklim negara itu, walaupun cukup dingin, jarang berubah drastis. Lapisan es raksasa dengan udara dingin yang padat memaksakan kestabilan di hampir seluruh penjuru negara. ”Di musim dingin kami bisa berburu atau memancing menggunakan kereta anjing di lautan es. Di musim panas kami bisa berburu menggunakan kayak. Apa yang terjadi sekarang adalah ketidaksabilan, kondisi yang khas Greenland selatan tengah bergerak ke utara.” Johannes Mathaeussen, nelayan ikan pecak suku Inuit yang berusia 47 tahun telah melihat perubahan itu dengan mata kepala sendiri. Mathaeussen tinggal di Ilulissat (bahasa Greenland untuk ”gunung es”), sebuah kota yang terletak sekitar 300 kilometer di utara lintang Arktika dengan penduduk 4.500 jiwa dan jumlah kereta anjing yang hampir sebanyak penduduknya. Pada suatu hari di akhir Juni, kami berlayar dari pelabuhan Ilulissat, melewati sebuah kapal pukat-udang yang besar. Kami menggunakan perahu terbuka Mathaeussen yang panjangnya 4,5 meter, sebuah perahu khas nelayan ikan pecak di daerah itu. Pemancingan di musim panas masih menghasilkan cukup banyak ikan, tetapi musim dingin mulai jadi masalah. ”Dua puluh tahun lalu, di musim dingin, kami masih bisa mengemudikan mobil di atas es menuju Pulau Disko,” ujar Mathaeussen, menunjuk ke sebuah pulau besar sekitar 15 kilometer dari bibir pantai. ”Selama 10 dari 12 tahun terakhir ini, teluk itu tidak pernah membeku lagi di musim dingin.” Sewaktu teluk masih membeku, Mathaeussen dan nelayan lainnya akan mengendarai kereta anjingnya lalu pergi memancing sekitar 15 kilometer dari fjord. ”Aku akan menghabiskan satu hari satu malam dan kembali dengan 100 atau 250 kilogram ikan pecak di keretaku. Kini memancing pada musim dingin di fjord sangat berbahaya bila kita membawa beban berat; esnya terlalu tipis.” Mathaeussen mengarahkan perahunya melewati ngarai es yang sudah runtuh, yang perlahan-lahan hanyut ke tengah laut. Gunung es terbesar menjulang 60 meter di hadapan kami dengan bagian bawahnya menyentuh dasar lautan sekitar 180 meter di bawah permukaan laut. Tiap gunung es memiliki topografinya sendiri yang berbentuk bukit, tebing, gua dan sungai putih mulus yang terbentuk oleh arus lelehan es. Semua gundukan es ini berasal dari Jakobshavn Isbrae, alias Sermeq Kujalleq, ’gletser selatan’, yang menguras 7 persen lembaran es Greenland dan melepaskan lebih banyak gunung es dibandingkan gletser lainnya di Belahan Utara Planet ini. (gunung es yang menenggelamkan Titanic mungkin berasal dari tempat ini). Pada 10 tahun terakhir, garis pantai Sermeq Kujalleq telah menyurut lebih dari 15 kilometer ke dalam fjord. Pantai itu telah menjadi pusat wisata yang terbesar di Greenland terbesar--19,375 orang datang untuk melihat dampak pemanasan global di tempat tersebut pada 2008. Namun turisme tetap menjadi sumber pendapatan kedua setelah perikanan; karena musimnya pendek, akomodasi terbatas, dan biaya perjalanan mahal.

0 komentar:

Poskan Komentar