Iklim Viking (9)

Pada pagi hari bulan Juli yang indah, aku dan Hoegh melaju dengan kecepatan 25 knot di fjord yang ditempati Erik the Red 1.000 tahun lalu. Tujuan kami adalah Ipiutaq, populasinya tiga orang. Kalista Poulsen menunggu kami di sana, di atas gundukan batu di bawah pertaniannya di pantai utara dari fjord tersebut. Bahkan dengan menggunakan pakaian terusan abu-abu yang kumal, Poulsen lebih terlihat seperti ilmuwan daripada petani: Tubuhnya ramping, mengenakan kaca-mata, dan berbicara dalam bahasa Inggris dengan aksen yang Perancis. Buyutnya adalah seorang angakkoq—dukun—salah satu yang terakhir di Greenland yang telah membunuh banyak orang dalam sejumlah pertikaian sebelum akhirnya masuk ke dalam Kristen setelah mendapatkan visi Yesus. Kami berjalan melintasi ladang rumput timothy (Phleum pratense) dan gandum hitam (Lolium perenne) milik Poulsen yang subur. Dibandingkan dengan tebing fjord yang kelabu, tanaman untuk pakan ternak tersebut hampir terlihat berkilauan. Di bulan September, Poulsen akan membeli dombanya yang pertama, ternak yang dikembangbiakkan oleh hampir semua peternak Greenland, kebanyakan untuk diambil dagingnya. Dia membeli pertanian itu di tahun 2005, saat dunia luar pertama kali mendengar Greenland yang lebih hangat dan jinak. Dari sudut pandang Poulsen, janji itu sepertinya sangat jauh dari kenyataan. ”Ini adalah daerah peperanganku,” ujarnya saat kami berjalan susah payah melewati lahan berlumpur penuh batuan besar yang dia bersihkan untuk dijadikan lahan pertanian dengan sebuah backhoe dan traktor bajak yang besar, yang didatangkan dengan sebuah pesawat terbang militer tua. Saat aku bertanya kepada Poulsen apakah dia menganggap pemanasan global bakal membuat kehidupannya atau anaknya lebih mudah, ekspresinya berubah getir. Dia menatapku penuh arti saat menyalakan sebatang rokok, yang perlahan-lahan mengusir kerumunan nyamuk. ”Tahun lalu kami hampir mengalami bencana,” ujarnya. ”Cuaca sedemikian kering sehingga panen hanya setengah dari biasanya. Kurasa kami tidak bisa mengandalkan cuaca akan terus normal. Jika cuaca semakin hangat, kami harus menyiram lebih banyak, berinvestasi dalam sistem irigasi. Di musim dingin kami tidak mendapatkan hujan salju yang normal; turun hujan lalu membeku. Itu tidak baik untuk rerumputan. Semua lahanku akan hancur dalam cuaca dingin.”

0 komentar:

Poskan Komentar