Nanoteknologi – kawan atau lawan?

Ilmuwan di Australia meminta dilakukannya pengujian biologis dan toksikologi terhadap nanomaterial-nanomaterial yang ada sekarang ini.

Colin Raston dan rekan-rekannya di University of Western Australia telah menyoroti beberapa kemajuan terbaru di bidang nanoteknologi, mulai dari penggunaan nanomaterial dalam kedokteran sampai pembersihan polusi. Raston telah meneliti isu kesehatan dan isu etis yang terkait dengan industri nanoteknologi yang berkembang pesat.

Raston menginginkan pengujian biologis dan toksikologi khusus untuk struktur-struktur yang berskala nano. Toksisitas nanopartikel tidak bisa dinilai hanya dengan menguji material dalam bentuk curah, kata dia. "Sangat bijaksana jika kita meneliti dan membahas masalah-masalah lingkungan dan kesehatan masyarakat, sebelum meluasnya adopsi nanoteknologi yang spesifik".

Sebagai contoh, dalam aplikasi penyaluran obat, nanopartikel telah direkayasa untuk melintasi pembatas darah-otak. Raston bertanya: mampukah nanopartikel sintetik lainnya (yang tidak direkayasa) melintasi batas ini, dengan efek merusak bagi manusia? Raston juga menyebutkan bahwa nanopartikel yang dengan mudah terlepas ke udara (dan dengan demikian bisa dihirup) dapat memberikan ancaman kesehatan yang lebih besar dibanding yang digunakan dalam material lainnya.

Andre Nel, salah seorang pelopor dalam nanomedisinal di University Of California, Los Angeles, sependapat bahwa melakukan pemeriksaan memang sangat penting. "Meskipun ada kemungkinan bahwa kebanyakan nanomaterial itu aman dari sudut pandang biologi, namun kita perlu membuktikannya sebagai bagian dari tindakan pencegahan," katanya. "Sebagai sebuah pendekatan rasional untuk permasalahan ini, kita harus menentukan paradigma-paradigma toksisitas yang terprediksi, yang bisa membantu mengelompokkan material-material ini sebagai material yang kemungkinan aman dan yang berpotensi berbahaya.

0 komentar:

Poskan Komentar