Bersahabat dengan Alam

Kabar bencana banjir dan tanah longsor seolah susul menyusul mengisi berita di setiap stasiun televisi. Tidak hanya di daerah hutan atau desa terpencil, bahkan perkotaan. Disikapi sebagai bencana atau akibat dari ulah manusia dalam bentuk peringatan alam?

Banyaknya penggundulan hutan menjadi salah satu sebab banjir dan rawan longsor. Berbagai program penghijauan telah dicanangkan oleh pemerintah dan masyarakat. Selain pemantauan dan evaluasi yang harus dilakukan secara berkelanjutan, kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup amatlah diperlukan.

Sayangnya, kesadaran akan menjaga kelestarian ini rupanya kurang diperhatikan oleh pemerintah dan sebagian besar masyarakat kita. Kita lihat saja di daerah perkotaan. Terlepas dari masalah drainase, sangatlah perlu dilakukan beberapa pembenahan, penghijauan kota juga patut menjadi sorotan pemerintah daerah. Sedangkan pembuangan sampah tidak pada tempatnya telah menyumbat saluran-saluran air. Bahkan membuang sampah sekecil bungkus permen dilakukan secara sembarangan. Hal ini seharusnya menjadi perhatian masyarakat.

Saat banjir dan longsor datang, saat korban mulai berjatuhan, saat kerugian mulai terhitung, apa yang harus kita lakukan? Selalu saja muncul suara "Siapa yang salah?". Masyarakat menyalahkan pemerintah yang dianggap kurang tanggap dan cekatan mengantisipasi dan mencegah terjadinya banjir. Ditambah lagi dengan lambatnya penanganan atas korban banjir. Sebaliknya pemerintah menuding masyarakat yang terlampau berharap meminta bantuan keselamatan setelah banjir terjadi.

Sebaiknya kita tidak usah menyalahkan satu sama lain. Hanyalah kesadaran untuk menjaga lingkungan hidup yang kita perlukan. Saat liburan ini merupakan saat yang tepat bagi diri kita sendiri untuk berjanji menjaga lingkungan disekitar. Hal yang paling mudah dilakukan adalah dengan membuang sampah pada tempatnya.

Marilah kita belajar dari kesalahan yang telah terjadi dan janganlah mengulangi kesalahan itu lagi.

0 komentar:

Poskan Komentar