Ramai-Ramai Belajar Hipnotis

Pada Sabtu siang di pertengahan Desember 2004, di lounge butik Socialite yang terletak di bilangan Jakarta Selatan, berkumpul puluhan eksekutif muda dari berbagai profesi. Hari itu, mereka memenuhi undangan seharga 1,5 juta rupiah dari sebuah event organizer (EO) bernama Anggrek Communications untuk mengikuti workshop hipnotis selama delapan jam. Tujuannya, tentu saja agar mereka mengerti tentang hipnotis serta manfaatnya. Maka, setelah paruh waktu berworkshop, mulailah para peserta itu berpasang-pasangan untuk mempraktikan ilmu hipnotis dari instruktur. Lalu, seorang yang kebagian jadi hypnotist (orang yang menghipnotis) pun mulai menghipnotis temannya, “Saya akan memandu anda untuk mengerahkan kekuatan pikiran anda…Mohon anda rileks dengan memejamkan mata. Selanjutnya, saya akan memandu anda agar anda dapat lebih mudah melakukannya…anda cukup mendengarkan apa yang saya katakan….” Begitulah, dengan ilmu hipnotis yang baru didapat sekitar empat jam, para hypnotist dadakan itu berusaha menyugesti Suyet (orang yang dihipnotis) laiknya seorang hypnotist ulung. Terdengar suara lembut dari seorang peserta bernama Letta yang sedang menghipnotis seorang wartawan, “Sekarang bayangkan anda sedang ada di pelukan istri. Anda merasa nyaman, rileks, karena istri anda kini juga memijat anda (Letta mulai memijat-mijat suyet sambil bibirnya meniup-niupkan udara ke wajah suyet untuk mendukung kenyamanan si suyet). Isap napas dalam-dalam, hembuskan (Letta mengeluarkan napasnya membantu suyet, suaranya mirip seorang yang sedang melakukan body language, ssss…). Ya, tidur anda kini makin lelap…” Sementara di sebelahnya, terlihat seorang produser radio juga sedang menghipnotis. “Korbannya” kali ini adalah seorang fotografer. Sekitar sepuluh pasang peserta workshop itu asyik dengan perannya masing-masing. Melihat animo peserta yang cukup tinggi, boleh jadi ini akibat dari sebuah tayangan televisi yang memamerkan kemampuan hipnotis Romi Rafael yang tampak begitu gampang “ngerjain” orang dengan ilmu hipnotisnya menjadi sebuah tontonan yang menarik. “Nggak cuma itu. Dengan tahu ilmu hipnotis, kita juga bisa menangkal kejahatan yang dilakukan tukang gendam (hypnotiest tradisional) yang suka mencari korban di pasar atau di mal,” tutur Erni Koesworini, pemilik EO Anggrek Communications. Letta, yang berprofesi sebagai penyiar radio swasta di Jakarta itu mengaku, keikutsertaannya dalam workshop itu sekedar memenuhi rasa penasarannya mengenai hipnotis. “Syukur-syukur kalau bisa menguasai ilmunya, jadi bisa dipraktikkan untuk menyugesti anak-anak agar rajin belajar,” ujar Letta yang memiliki dua anak. Ya, semenjak Deddy Corbuzier “membumikan” sulap lewat televisi dan menjadikan sulap dan pesulapnya kian dekat dengan masyarakat, rupanya kini gantian hipnotis mendapat giliran memasyarakat. Bahkan, instruktur hipnotis Yan Nurindra yang siang itu memberikan workshop mengatakan, dirinya kini mengajar hipnotis di empat kota : Jakarta, Semarang, Yogyakarta dan Denpasar. Itu artinya, ilmu hipnotis bukan lagi menjadi ilmu angker yang cuma dimiliki oleh mereka yang tabah berlaku batin dengan puasa, bertapa, atau melafal doa, seperti yang dilakukan oleh para hypnotiest tradisional, sebutan untuk mereka yang belajar ilmu hipnotis dengan cara-cara klasik seperti disebut di atas yang menghasilkan “orang-orang sakti” atau yang kita kenal dengan sebutan paranormal. “Awalnya, saya belajar hipnotis juga dengan cara seperti itu. Menyepi ke tempat-tempat keramat,” tutur Yan. Menurut Yan, praktik paranormal sebetulnya bagian dari hipnotis. Ketika mereka bertapa, berpuasa, dan berolah batin lainnya, sebetulnya mereka sedang memupuk keyakinan untuk berkemampuan sesuai dengan yang diinginkan. Misalnya, kemampuan untuk tak mempan senjata tajam, mampu mengobati, bahkan mempengaruhi orang lain. “Itu disebut self hypnotis,” jelas Yan. Maka, ketika seseorang sudah memiliki keyakinan dirinya berkemapuan, orang tersebut bisa mentransfer ilmunya ke orang lain melalui sugesti. Lalu, Yan pun memberi contoh bagaimana proses lahirnya sebuah jimat yang diberikan oleh “orang pintar”. Katanya, jimat itu sebetulnya anchor yang diberikan kepada suyet (orang yang dihipnotis). Adapun anchor, adalah sugesti berupa simbol-simbol yang akan menghasilkan reaksi pemikiran, emosional, atau perilaku tertentu. Yan memberi contoh, saat suyet sudah berada di bawah pengaruh seorang paranormal, maka paranormal itu pun mulai memberi anchor. Misalnya dengan sugesti seperti ini, “saat kamu memegang benda ini (jimat) maka kamu tidak merasa panas saat kulitmu saya bakar dengan korek.” Proses ini, menurut Yan, sama dengan munculnya fenomena hantu. Hantu, kata Yan, adalah entitas yang muncul dari diri seseorang yang pernah mendapat semacam anchor dari orang lain. Misalnya, sejak kecil kita sudah diberi anchor, bahwa kuburan, tempat gelap, pohon besar, rumah kosong, adalah tempat-tempat berhantu. Nah, saat kita berada di tempat-tempat tersebut, anchor itu pun mulai bekerja. Mereka yang secara fisik maupun mental sedang lemah, akan lebih mudah melihat ujud yang sekian lama mengendap di alam bawah sadarnya. Ilmu hipnotis modern dikenal manusia sejak abad 18. Tokoh utamanya adalah Franz Anton Mesmer, dan disusul oleh James Braid, Charcot, Liebault, Bemheim, Sigmund Freud, Clark Haul, dan sebagainya. Hipnotis oleh para pakar di barat lebih diyakini sebagai seni ketimbang klenik. Hipnotis, kata para pakar itu, merupakan seni sugesti, seni komunikasi, seni merubah tingkat kesadaran, dan seni eksplorasi alam bawah sadar. Yan mengungkap, konsep dasar hipnotis adalah belajar memahami fakta dan mitos di sekitar hipnotis, memahami fungsi dan peranan Sub-Conscious (alam bawah sadar), memahami perbedaan antara Western hipnotis dan Eastern Hipnotis, memahami ruang lingkup Hipnotis dan fungsi hipnotis dalam kehidupan sehari-hari, dapat melakukan Hypnosis sederhana dengan prosedur yang benar, dengan orientasi utama ke stage hipnotis (Entertaintment Hypnosis), serta apresiasi terhadap aplikasi khusus hipnotis yang berisi antara lain : Professional Stage Hypnosis, Clinical Hypnotherapy, Forensic Hypnosis, dan Anodyne Awareness. Secara sederhana, dengan memiliki dasar ilmu hipnotis seorang Hypnotist dapat membuat seseorang (Suyet) sangat relaks dan tenang. Bahkan pada orang-orang tertentu dan dalam situasi tertentu, seorang Hypnotist dapat membuat Suyet sangat tenang secara ekstrim, sehingga masuk ke suatu tahapan yang dikenal sebagai kondisi “Hypnotic” atau “Tertidur Hypnosis”. Pada saat Suyet sudah dalam kondisi sangat rileks, atau dalam kondisi “Hypnos”, maka Hypnotist dapat memberikan sugesti-sugesti yang relatif lebih mudah diterima oleh Suyet dibandingkan dalam kondidi biasa. Pertanyaan yang sering muncul adalah, apakah setiap orang dapat menjadi seorang hypnotist? Yan memberi jawaban begini, “Hipnotis adalah ilmu komunikasi yang sangat prima. Oleh karena itu persyaratan dasar agar seseorang dapat menjadi seorang Hypnotist yang ahli, dia harus memiliki kemampuan komunikasi verbal dan non verbal (Body Language) yang sangat baik, dan bersifat persuasif, mampu menginterptrestasikan bahasa tubuh (Body Language) dari lawan komunikasi, Memiliki kreativitas tinggi dalam berkomunikasi, dan mampu untuk menyesuaikan diri dengan strata lawan komunikasi, memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Kemudian, pertanyaan berikutnya adalah, apakah setiap orang bisa dihipnotis? Rupanya, ada beberapa persyaratan untuk seseorang bisa dihipnotis. Di antaranya adalah, ia harus pada kondisi Hypnotisability: tidak menolak (Secara Sadar), dapat berkomunikasi, berkemampuan untuk fokus. Secara umum, wilayah kesadaran manusia memiliki tiga kategori. Terdiri dari: Kesadaran Tinggi (Super-Conscious), Kesadaran Normal (Conscious), Bawah Sadar (Sub-Conscious). Dalam kehidupan sehari-hari, mekanisme manusia biasanya terdiri: Conscious 12 % , Sub-Conscious 88 %. Nah, keberhasilan praktik hipnotis adalah ketika suyet sudah berada pada situasi deep trance. Namun, untuk mencapat tingkat ini, ada faktor yang mempengaruhinya. Yakni, kondisi psikologis (Kejiwaan) suyet, tingkat keaktifan berpikir suyet, suasana dan kondisi lingkungan, ketrampilan seorang hypnotist, waktu, serta tingkat kepercayaan suyet terhadap seorang hypnotist. Pre-Induction (pra-induksi) merupakan suatu proses untuk mempersiapkan suatu situasi dan kondisi yang bersifat kondusif antara seorang Hypnosis dan Suyet. Agar proses Pre-Induction berlangsung dengan baik, maka sebelumnya Hypnotist harus dapat mengenali aspek-aspek psikologis dari Suyet, antara lain : hal yang diminati, hal yang tidak diminati, apa yang diketahui Suyet terhadap Hypnosis, dan seterusnya. Pre-Induction dapat berupa percakapan ringan, saling berkenalan, serta hal-hal lain yang bersifat mendekatkan seorang Hypnotist secara mental terhadap seorang Suyet. Pre-Induction merupakan tahapan yang bersifat kritis. Seringkali kegagalan proses hipnotis diawali dari proses Pre-Induction yang tidak tepat. Langkah berikutnya adalah Induction (induksi). Merupakan kunci utama dalam proses hipnotis, karena proses inilah yang akan membawa Suyet dari kondisi “Beta” ke kondisi “Alpha” bahkan “Theta” dengan kondisi sepenuhnya di bawah kendali seorang Hypnotist. Bagian utama dari induction adalah “kalimat kunci” dari seorang Hypnotist, ketika memerintahkan seorang Suyet untuk tidur “Hypnotic”, di mana selanjutnya Hypnotist akan mengambil alih kendali atas Sub-Conscious Suyet. Secara utuh, proses induction terdiri dari 3 bagian, yaitu: Relaxation, adalah proses untuk mengurangi keaktifan BrainWave Suyet (High Beta to Low Beta). Induction, adalah Proses untuk membawa Suyet ke Brainwave Alpha, untuk selanjutnya siap di-sugesti dengan “kalimat kunci”. Deepining adalah proses untuk membawa Suyet ke “Trance Level” yang lebih dalam (Theta). Selanjutnya, sampailah kita pada proses Dept Level Test. Seringkali diistilahkan dengan “Trance Level Test” atau pengujian tingkat kedalaman “Hypnotic” seorang Suyet. Bagi seorang Stage hypnotist, perlu memperoleh seorang Suyet dengan tingkat kedalaman “Trance” tertentu. Minimal : Medium Trance. Bagi seorang Hypnotherapist, tingkat kedalaman “Trance” akan berkaitan dengan efektivitas pengaruh Sugesti Therapi yang akan diberikan kepada Suyet. Depth Level Test dilakukan dengan cara memberikan perintah sederhana yang berlawanan dengan logika kesadaran biasa (Conscious). Jika tingkat kedalaman “Trance” yang dimaksud belum dicapai, maka Hypnotist harus melakukan “induction” kembali. Seringkali diikuti dengan segesti yang bersifat “provokatif”. Tidak setiap orang dapat mencapai tingkat “Trance” yang dalam. Hal ini tidak menjadi masalah dalam Hypnotherapy. Kemudian kita menginjak pada langkah Suggestion atau Sugesti. Merupakan tahapan inti dari maksud dan tujuan proses hipnotis. Pada tahapan ini seorang Hypnotist mulai dapat memasukkan kalimat-kalimat sugesti ke Sub-Conscious Suyet. Setelah itu, kita menuju tahapan Post Hypnotic Suggestion. Yakni, suatu Sugesti yang tetap “bekerja” walaupun seorang telah berada dalam kondisi pasca-hipnotis (normal). Post Hypnotic Suggestion merupakan hal penting yang mendasari proses Clinical Hypnotherapy. Apabila hypnotist ingin mengendalikan Suyet, ia bisa menggunakan simbol bunyi atau tindakan. Inilah yang disebut Anchor. Yakni sugesti berupa simbol-simbol yang akan menghasilkan reaksi pemikiran, emosional, atau perilaku tertentu disebut juga dengan “Anchor”. Inilah yang sering dipraktikan Romy Rafael di televisi atau dikenal dengan istilah anchoring, yang merupakan proses “Programming” seorang Hypnotist terhadap Suyet. Misalnya, mulai saat ini, jika kamu melihat Warung Tegal, maka kamu tidak dapat menahan keinginan kamu untuk mentraktir saya! Tahap paling akhir adalah Termination, yakni suatu tahapan untuk mengakhiri proses hipnotis. Konsep Termination adalah agar seorang Suyet tidak mengalami kejutan psikologis ketika terbangun dari “tidur hipnotis”. Standar dari proses Termination adalah membangun sugesti positif yang akan membuat tubuh seorang Suyet lebih segar dan relaks, kemudian diikuti dengan regresi beberapa detik untuk membawa Suyet ke kondisi normal kembali. Di ruang yang tak seberapa lebar itu, proses saling menghipnotis pun usai pada sore hari. Pasangan-pasangan yang sudah mempraktikan pelajaran hipnotis pun saling berdialog. “Bagaimana rasanya?” tanya Letta kepada Suyet. “Apanya yang bagaimana?” Suyet ganti bertanya. “Terhipnotis nggak sama saya?” Suyet tersenyum. “Kok senyum?” Letta mulai penasaran. Suyet senyum lagi. Letta tambah penasaran. Ia pun mulai merajuk, kepingin tahu betul, apakah ilmu hipnotisnya sudah bisa diandalkan atau belum. “Gimana? Jangan senyum-senyum gitu dong,” ujar Letta tambah penasaran. “Jawaban jujur atau terus terang?” Suyet menjawab. “Ya yang jujur dong.” “Saya malah terangsang.” “Hah?!” “Habis situ menghipnotisnya pakai pijat-pijat segala sih.”

0 komentar:

Poskan Komentar