Kupat Santen, Sedaya Lepat Nyuwun Pangapunten

Lebaran kok makan ketupat, rasanya jadul banget, ya? Lebih asyik nyeruput es krim atau menyantap coklat. Jangan salah, kupat ternyata memiliki filosofi yang dalam lho.

Kupat kaliyan santen, sedaya lepat nyuwun pangapunten. Demikian paribasan yang biasa kita dengar.

Setahun berkarib, kamu pasti pernah berbuat salah kepada sahabatmu, kan? Demikian pula sebaliknya. Walau tak terlihat, namun meninggalkan bercak noda di hati. Menjelma “perang dingin” alias permusuhan diam-diam. Jika itu yang terjadi, datanglah ke rumah temanmu dengan membawa beberapa biji ketupat. Tak perlu dipikirkan, siapa yang banyak salah: kamu atau dia. Minta maaflah padanya, pasti permusuhan itu akan cair dengan sendirinya.

Pada hari lebaran, masyarakat memiliki tradisi berkirim kupat santen. Tujuannya untuk menjalin silaturahmi. Kupat simbol dari ungkapan ngaku lepat (mengakui kesalahan). Itulah makna Idul Fitri, menyadari kesalahan masing-masing. Makanan kupat diberi kuah santen (santan), yang merupakan simbol nyuwun pangapunten (meminta maaf).

Menyebar ke Asia

Kupat terbuat dari beras yang ditanak dalam anyaman daun kelapa (janur). Anyaman selang-seling menggambarkan berbagai kesalahan manusia. Setelah dibuka, tampaklah nasi berwarna putih. Melambangkan hati yang suci setelah saling memaafkan. Ketika bersalaman pun, kita biasanya menempelkan tangan ke dada. Hati terletak di dada, jadi kita bermaafkan secara lahir dan batin (di hati).

Tak jelas asal muasal ketupat. Siapakah yang pertama kali membuatnya? Tak ada yan tahu. Yang jelas, ketupat tak hanya ada di Indonesia, tetapi menyebar di Asia seperti Malaysia, Brunei, Singapura, dan Philipina. Model anyamannya juga beraneka ragam. Tak melulu kotak, namun beraneka bentuk. Seperti corak hati, segitiga, atau bawang (kerucut).

Seusai lebaran, di berbagai daerah biasanya digelar tradisi kupatan, swalayan, atau bakdo kupat. Di kawasan pantura (Demak, Jepara, Kudus, Pati, Rembang) selama seminggu warga bersilaturahmi dengan kerabat. Kemudian berkembang menjadi even budaya yang unik berupa pawai, karnaval, atau acara lomban (bertamasya ke pantai).

Jaman sekarang tradisi membuat ketupat menggunakan selongsong janur sudah mulai mudar. Masyarakat lebih senang menyediakan masakan yang praktis. Sayang jika tradisi yang penuh makna ini lenyap. Yuk, kita lestarikan bersama.

Tak sulit kok, membuat ketupat. Seperti menanak nasi biasa. Beras yang sudah dicuci dimasukan dalam selongsong. Kemudian direbus sekitar empat jam hingga matang. Rasanya gurih pengaruh zat-zat alami yang terkandung pada janur.

Yang agak susah barangkali merangkai janur. Tetapi bisa dibeli di pasar dengan harga murah. Tentu lebih asyik jika membuat sendiri, sekaligus berlatih kesabaran. Cara membuatnya dengan merangkai dua lembar daun kelapa. Dijalin sedemikian rupa hingga berbentuk selongsong. Cobalah minta diajari saudara kamu yang sudah sepuh. Kakek atau nenekmu mungkin bisa. Sekalian belajar membuat prakarya sekolah yang indah, bukan?

0 komentar:

Poskan Komentar