Validitas Instrumen Tes

Suatu instrumen dikatakan valid jika instrumen yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur, Gay (1983). Seorang guru hendak melakukan tes untuk melakukan penilaian apakah para siswa dapat menguasai pengetahuan yang telah diberikan di kelas. Oleh karena guru mengetahui seluk-beluk siswa yang diajarkannya, mereka dapat mereka dapat membuat tes yang cocok dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Validitas suatu instrumen penelitian, tidak lain adalah derajat yang menunjukkan dimana suatu tes mengukur apa yang hendak diukur. Prinsip suatu tes adalah valid, tidak universal. Bahwa ia hanya valid untuk suatu tujuan tertentu saja. Tes valid untuk untuk bidang studi metrology industri belum tentu valid untuk bidang yang lain, misalnya bidang mekanika teknik. Tes valid untuk suatu grup individu belum belum tentu valid untuk grup lainnya. Sebagai contoh suatu tes valid untuk para siswa Sekolah Menengah Umum (SMU), belum tentu valid untuk anak Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Bukannya valid atau tidak suatu tes, seorang guru valid untuk mengajar kelompok umur tertentu, misalnya taman kanak-kanak, belum tentu valid untuk mengajar anak kelompok usia Sekolah Menengah Kejuruan. Validitas yang berkaitan untuk siapa perlu diperhatikan, karena menyangkut dengan membangun gambaran atau deskripsi terhadap suatu grup normal. Derajat validitas hanya berlaku untuk suatu kelompok tertentu yang memang telah direncanakan pemakaiannya oleh si peneliti. Contoh dalam tes pencapaian prestasi anak yang direncanakan oleh orang dewasa, akan berbeda bentuk maupun substansinya dengan tes prestasi untuk anak usia remaja. Validitas suatu tes dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu validitas isi, konstruk, konkuren, dan prediksi. Kedua macam validitas itu yaitu validitas logik dan validitas empirik. Validitas logik pada prinsipnya mencakup validitas isi. Dinamakan demikian karena validitas tersebut ditentukan dengan menghubungkan performasi sebuah tes terhadap kriteria penampilan tes lainnya dengan menggunakan formulasi statistik. Validitas logia diantaranya adalah validitas kokuren dan prediksi. Validitas empirik pada umumnya menunjukkan lebih objektif. Validitas suatu tes dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu validitas isi, validitas konstruk, validitas konkuren dan prediksi. Adapun rumus lain yang sering digunakan untuk validitas butir soal adalah dengan koefisien korelasi point biserial. Macam-macam validitas antara lain : 1. Validitas Isi Validitas isi ialah derajat dimana sebuah tes mengukur cakupan substansi yang ingin diukur. Dua aspek penting yaitu valid isi dan valid teknik samplingnya. Valid isi mencakup khususnya hal-hal yang berkaitan dengan apakah item-item itu menggambarkan pengukuran dalam cakupan yang ingin diukur. Validitas sampling pada umumnya berkitan dengan bagaimanakah baiknya suatu sampel tes mempresentasikan total cakupan isi. Sebuah tes direncanakan untuk mengukur pengetahuan tentang pendidikan teknologi kejuruan, diakatakan valid karena dalam kenyataannya semua item benar-benar berkaitan dengan faktual PTK. Validitas sampling jelek, karena pengambilan sampling materi tidak merepresentasikan untuk materi yang dimaksud. Tes validitas isi juga disebut fase validility atau validitas wajah. Masih meragukan, karena validitas wajah hanya menggambarkan derajat dimana sebuah tes tampak mengukur, tetapi tidak menggambarkan cara psikometri yang mengukur apa yang ingin diusahakan dapat diukur. Para ahli, pertama diminta untuk mengamati secara cermat semua item dalam tes yang hendak divalidasi. Kemudian mereka diminta untuk mengoreksi semua item-item yang telah dibuat. Pertimbangan ahli tersebut biasanya juga menyangkut, apakah semua aspek yang hendak diukur telah dicakup melalui item pertanyaan dalam tes. Atau dengan kata lain perbandingan dibuat antara apa yang harus dimaksukkan dengan apa yang ingin diukur yang telah direfleksikan menjadi tujuan tes. 2. Validitas Konstruk Validitas konstruk merupakan derajat yang menunjukkan suatu tes mengukur sebuah konstruk sementara atau hypotetical construct. Suatu sifat yang tidak dapat diobservasi, tetapi kita dapat merasakan pengaruhnya melalui satu atau dua indra kita. Konstruk tidak lain adalah merupakan “temuan” atau suatu pendekatan untuk menerangkan tingkah laku. Dalam pendidikan anak contoh konstruk seperti Intelligence Quotient (IQ), melalui penelitian mengahasilkan bahwa seseorang yang memiliki IQ lebih tinggi, ada kecenderungan bahwa orang tersebut dapat mengerjakan tugas-tugas sekolah dengan baik. Dalam dunia pendidikan, contoh lain menyangkut konstruk, misalnya ketakutan, kreatifitas, semangat, dan sebagainya. Proses melakukan validasi konstruk dapat dilakukan dengan cara melibatkan hipotesis testing yang dideduksi dari teori yang manyangkut dengan konstruk yang relevan. Misalnya jira suatu teori kecemasan menyatakan bahwa seseorang yang memiliki kecemasan yang lebih tinggi akan bekerja lebih lama dalam menyelesaikan suatu masalah, dibanding dengan orang yang memiliki tingkat kecemasan rendah. Jika terjadi orang yang cemasnya tinggi ternyata kemudian bekerja sebaliknya, yaitu lebih cepat, ini bukan berarti bahwa tes yang sudah baku tadi berarti tidak mengukur kecemasan orang. 3. Validitas Konkuren Validitas konkuren adalah derajat dimana skor dalam suatu tes dihubungkan dengan skor lain yang telah dibuat. Tes dengan validasi konkuren biasanya diadministrasi dalam waktu yang sama atau dengan kriteria valid yang sudah ada. Validitas konkuren ditentukan dengan membangun analisis hubungan atau pembedaan. Cara membuat tes dengan validitas konkuren dapat dilakukan dengan beberapa langkah seperti berikut : a. Administrasikan tes yang baru dilakukan terhadap grup atau anggota kelompok. b. Catat tes baku yang ada termasuk beberapa keofisien validitasnya jika ada. c. Hubungan atau korelasikan dua tes skor tersebut. Metode pembeda (discrimination) merupakan validitas konkuren yang melibatkan penentuan suatu tes. Jika skor tes dapat digunakan untuk membedakan antara orang yang memiliki sifat-sifat tertentu yang diinginkan seseoarang yang tidak memiliki sifat-sifat tersebut. Tes mental adalah merupakan contoh nyata terapan suatu tes pembeda yang sering ditemui dalam kasus-kasus psikologi. Jika hasil skor suatu tes dapat digunakan dengan benar untuk mengklarifikasi person yang satu dengan person lainnya maka validitas konkuren tes tersebut memiliki daya pembeda yang baik. 4. Validitas Prediksi Validitas prediksi adalah derajat yang menunjukkan suatu tes dapat memprediksi tentang bagaimana seseorang akan melakukan suatu prospek tugas atau pekerjaan yang direncanakan. Instrumen validitas prediksi mungkin bervariasi bentuknya tergantung beberapa faktor, misalnya kurikulum yang digunakan, buku pegangan yang dipakai, intensitas mengajar, dan letak geografis atau daerah sekolah. Yang perlu diperhatikan ketika kita akan melakukan tes prediksi diantaranya adalah perlunya memperhatikan proses dan cara membandingkan instrumen yang divalidasi dengan tes yang telah dibakukan. Validitas prediksi suatu tes pada umumnya ditentukan dengan membangun hubungan antara skor tes dan bebarapa ukuran keberhasilan dalam situasi tertentu yang digunakan untuk memprediksi keberhasilan, yang selanjutnya disebut sebagai predicktor. Validitas prediksi suatu tes dengan cara seperti berikut : 1. Buat item tes sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. 2. Tentukan grup yang dijadikan subjek dalam pilot study. 3. Identifikasi creiterion prediksi yang hemdak dicapai. 4. Tunggu sampai tingkah laku yang diprediksi atau variabel criterion muncul dan terpenuhi dalam grup yamng telah ditentukan. 5. Capai ukuran-ukuran criteriom tersebut. 6. Korelasikan dua set skor yang dihasilkan.

0 komentar:

Poskan Komentar