Iklim Viking (2)

Namun di Greenland sendiri, kegelisahan mengenai perubahan iklim seringkali dikaburkan oleh besarnya harapan. Untuk saat ini, negeri yang pemerintahannya bergantung pada Denmark itu masih sangat mengandalkan mantan penguasa kolonialnya. Setiap tahun, Denmark memompa dana sebesar 6,2 triliun rupiah ke dalam ekonomi Greenland yang kurang darahy—lebih dari 110 juta rupiah untuk setiap penduduk Greendland. Namun, mencairnya Kutub Utara telah mulai membuka akses terhadap sumber minyak, gas, dan mineral lainnya yang bisa memberi Greenland kemerdekaan finansial dan politik yang dirindukan penduduknya. Perairan Greenland diperkirakan mengandung setengah dari total cadangan minyak ladang Laut Utara. Suhu yang lebih hangat juga akan membuat semakin panjangnya musim bercocok tanam pada sekitar 50 lahan pertanian Greenland dan mungkin akan mengurangi ketergantungan negara tersebut atas makanan impor. Ada kalanya pada zaman sekarang, seluruh negeri seakan-akan sedang menahan napas—menanti apakah ”penghijauan Greenland,” yang secara rutin diberitakan di media internasional akan terjadi juga pada akhirnya. Pengalaman pertama Greenland sebagai subjek berita terjadi 1.000 tahun lalu saat Erik the Red tiba dari Islandia dengan sekumpulan Norsemen (orang Utara) alias Viking. Erik sedang lam,’melarikan diri’ (berasal dari kata lemja dalam bahasa Norse Kuno) karena membunuh seorang lelaki yang menolak untuk mengembalikan ranjang yang dipinjam olehnya. Pada tahun 982 dia mendarat di sebuah fjord di dekat Qaqortoq, kemudian, walaupun dengan insiden ranjang itu, dia kembali ke Islandia untuk menyebarkan kabar tentang negeri yang dia temukan, yang menurut hikayat Erik the Red, ”disebut Greenland atau Tanah Hijau karena menurut Erik, orang-orang akan tertarik untuk pergi ke sana jika tempat itu memiliki nama yang menarik.” Teknik pemasaran Erik yang gegap gempita menuai hasil. Sekitar 4.000 bangsa Norse akhirnya menetap di Greenland. Bangsa Viking yang terkenal dengan reputasi kebengisannya sesungguhnya adalah kaum petani, meski kadang-kadang menjarah, merampok, dan menemukan Dunia Baru di waktu luangnya. Di sepanjang fjord yang terlindung di daerah selatan dan barat Greenland, bangsa Viking beternak domba dan sapi, sebagaimana yang dilakukan para peternak Greenland masa kini di fjord yang sama. Mereka membangun gereja dan ratusan lahan pertanian; mereka menukar kulit anjing laut dan gading walrus dengan kayu dan besi dari Eropa. Putra Erik, Leif, mendirikan sebuah pertanian sekitar 55 kilometer sebelah timur laut Qaqortoq dan menemukan Amerika Utara sekitar tahun 1000. Di Greenland, desa-desa Norse bertahan lebih dari empat abad lamanya. Kemudian tiba-tiba, menghilang begitu saja. Kehancuran para petani pengarung lautan yang gagah berani ini menjadi sebuah contoh yang meresahkan tentang ancaman perubahan iklim terhadap kebudayaan yang paling cerdik sekali pun. Bangsa Viking menetap di Greenland pada masa kehangatan menyelimuti daerah tersebut, masa kehangatan sama yang menyaksikan berkembangnya pertanian dan pembangunan sejumlah katedral besar di Eropa. Namun pada tahun 1300 Greenland menjadi terlalu dingin dan hidup di pulau itu menjadi lebih sulit. Bangsa Inuit yang tiba dari Kanada utara, bergerak ke selatan di sepanjang pantai barat Greenland di saat bangsa Viking bergerak ke utara, ternyata mampu bertahan hidup (sebagian besar masyarakat Greenland modern berasal dari bangsa ini serta dari misionaris dan pendatang Denmark yang tiba di abad ke-18). Bangsa Inuit membawa kereta anjing, kayak, dan berbagai peralatan lainnya yang dibutuhkan untuk memburu dan memancing di Kutub Utara. Sejumlah peneliti menyatakan bahwa pemukim Norse gagal karena mereka terus mempertahankan cara-cara tradisional Skandinavianya, sangat mengandalkan ternak impor dan bukannya mengeksploitasi sumber daya lokal.

0 komentar:

Poskan Komentar