Iklim Viking (3)

Namun bukti arkeologi yang ditemukan belakangan menunjukkan, bangsa Norse sesungguhnya juga beradaptasi dengan baik terhadap rumah barunya. Thomas McGovern, antropolog Hunter College di Manhattan, AS, mengatakan, bangsa Norse mengorganisasi perburuan anjing laut tahunan secara besar-besaran, khususnya begitu iklim menjadi lebih dingin dan ternak mulai mati. Sayangnya, anjing laut juga kalah melawan iklim yang ganas. ”Anjing laut dewasa bisa melewati musim panas yang dingin, tapi anak-anak anjing laut tidak,” ujar McGovern. Bangsa Norse mungkin telah dipaksa untuk meluaskan daerah perburuan mereka untuk mencari spesies anjing laut lainnya, di perairan dengan cuaca yang jauh lebih buruk. ”Kini kami berpikir bahwa bangsa Norse memiliki sistem sosial sangat baik yang membutuhkan banyak gotong-royong, tetapi ada sebuah kelemahan yang besar—mereka harus menempatkan sebagian besar orang dewasanya untuk memburu anjing laut,” ujar McGovern. ”Pemicu berakhirnya bangsa Norse di Greenland mungkin adalah hilangnya nyawa sebagian besar penduduk dalam sebuah badai salju yang buruk.” Bangsa Inuit tidak begitu rapuh karena cenderung berburu dalam kelompok kecil. ”Semua ini menjadi cerita yang lebih rumit dari yang kita bayangkan,” ujar McGovern. ”Kisah lama menceritakan bagaimana bangsa Viking yang bodoh datang ke utara, mengacaukan segalanya, lalu mati. Tetapi cerita yang baru ternyata sedikit lebih menakutkan karena mereka terlihat memiliki kemampuan beradaptasi yang cukup baik, terorganisasi dengan baik, melakukan semuanya dengan benar—tetapi mereka tetap saja mengalami kehancuran.” Catatan peristiwa bersejarah terakhir dalam kehidupan bangsa Norse di Greenland bukanlah badai yang ganas ataupun bencana kelaparan apalagi eksodus ke Eropa. Sebuah pernikahan yang diadakan di gereja di dekat puncak fjord Hvalsey, sekitar 15 kilometer timur laut Qaqortoq. Sebagian besar bangunan gereja itu masih berdiri di atas lereng penuh rumput tepat di bawah puncak gunung granit yang menjulang di atasnya. Pada suatu pagi yang sejuk di musim panas lalu, kabut tipis melayang di sisi timur gunung bagaikan hamparan panji-panji dari sutera tipis. Serpili liar dengan bunga merah-ungu nan indah terhampar di lahan depan gereja berusia 800 tahun yang kini beratapkan langit tersebut. Keempat dinding batu setebal satu meter tetap berdiri – dinding timur menjulang lebih dari 5 meter tingginya. Mereka sudah jelas dibangun oleh orang-orang yang berniat menetap di sana untuk waktu yang lama. Di dalam bangunan itu, rerumputan dan kotoran domba memenuhi tanah yang bergelombang di mana pada tanggal 14 September 1408, Thorstein Olafsson menikah dengan Sigrid Bjornsdottir. Sebuah surat yang dikirimkan dari Greenland ke Islandia tahun 1424 menyebutkan pernikahan itu, mungkin sebagai bagian dari pertikaian warisan, tetapi tidak mengungkapkan apa-apa mengenai perselisihan, penyakit, atau tanda-tanda marabahaya. Itulah berita terakhir dari pemukiman Norse itu.

0 komentar:

Poskan Komentar