Kerusakan Terumbu Karang di Indonesia dan Kelangkaan Ikan Dunia

Potensi alam Indonesia tak habis-habisnya menjadi sumber penghidupan dan pengetahuan manusia. Mulai dari tanaman hingga segala sesuatu yang berasal dari laut. Tujuh puluh persen dari wilayah Indonesia adalah laut dengan panjang garis pantai lebih dari 81.000 km. Hal ini menjadikan sumber daya kelautan yang dimiliki Indonesia sangat berlimpah dan sangat kaya. Salah satunya adalah terumbu karang. Terumbu karang ini merupakan potensi besar yang sekarang mulai terlupakan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya masyarakat yang tidak peduli dengan kelestarian terumbu karang. Mereka sering memperjualbelikan terumbu karang, menangkap ikan dengan bom, bahkan mereka tidak segan-segan mengambil terumbu karang hanya untuk pembuatan rumah atau jalan. Padahal terumbu karang memiliki banyak fungsi yang vital bagi kehidupan biota laut. Terumbu karang merupakan rumah atau tempat berlindung berbagai biota laut seperti ikan, moluska, udang, echinodermata, dan rumput laut. Selain itu, terumbu karang ternyata dapat digunakan sebagai obat anti kanker, tumor, HIV AIDS dan penyakit-penyakit lainnya. Artinya, terumbu karang yang subur akan membuat kelestarian laut serta isinya tetap terjaga dengan baik.

Pengertian terumbu karangreef

Sejak beberapa abad yang lalu dan bahkan sampai sekarang, kita menganggap karang adalah batu atau tumbuhan meskipun sesungguhnya mereka adalah sekumpulan hewan ( polip ). Dalam bentuk yang paling sederhana, karang bisa hanya terdiri dari sebuah polip yang mempunyai bentuk seperti tabung dengan mulut di bagian atas yang dikelilingi oleh tentakel. Pada beberapa jenis karang, individu polip ini mempunyai banyak bentuk kembar identik yang tersusun rapat membentuk formasi yang disebut koloni. Walaupun semua spesies karang dapat menggunakan sengatan tentakel untuk menangkap mangsanya, kebanyakan proporsi terbesar makanan karang tropis berasal dari simbiosis yang unik.

Di dalam jaringan karang, hidup ribuan alga mikroskopik yang disebut zooxanthellae, yang menghasilkan energi langsung dari cahaya matahari melalui fotosintesis. Karang dapat memperoleh banyak energi dan kebutuhan oksigen langsung dari zooxanthellae. Sebaliknya, alga memperoleh tempat berlindung dari pemangsa dan memakai karbon dioksida yang dihasilkan karang dari proses metabolismenya. Asosiasi yang erat ini sangat efisien, sehingga karang dapat bertahan hidup bahkan di perairan yang miskin zat hara. Keberhasilan hubungan ini dapat dilihat dari besarnya keragaman dan usia karang yang sudah sangat tua, yang berevolusi pertama kali lebih dari 200 juta tahun lalu. Banyak karang mempunyai beberapa bentuk rangka untuk menyokong badan mereka yang sederhana. Karang lunak dan karang kipas mempunyai rangka yang terbuat dari protein. Namun, karang pembentuk terumbu mempunyai kerangka dari kalsium karbonat atau batukapur. Karang-karang ini kebanyakan berasal dari kelompok scleractinia dan kadang dikenal sebagai hermatipik atau pembentuk terumbu.

Jadi terumbu karang adalah karang yang terbentuk dari kalsium karbonat koloni kerang laut yang bernama polip yang bersimbiosis dengan organisme miskroskopis yang bernama zooxanthellae. Kini, hampir 800 jenis karang yang tergolong kelompok scleractinia telah dideskripsikan. Beberapa terumbu karang terdiri dari kumpulan kecil karang-karang dan jenis-jenis biota lain yang berasosiasi dengannya, sedangkan yang lain dapat berupa struktur raksasa dengan lebar berkilo-kilo meter. Walaupun karang dapat mendominasi zona terumbu karang tertentu, namun organisme lainnya juga merupakan komponen yang penting dalam struktur terumbu karang. Gangguan badai, penambahan unsur hara, dan peningkatan sedimentasi dapat menyebabkan zona dominasi karang yang alami berubah menjadi alga. Jika alga mengganti bekas zona karang, hal ini merupakan tanda bahwa terumbu karang tersebut tidak sehat. Terumbu karang yang sehat merupakan tempat yang paling beragam dari semua ekosistem laut yang telah dikenal, dengan susunan bentuk kehidupan yang lebih besar dibandingkan dengan ekosistem lainnya di bumi.

Jenis-jenis terumbu karang

Soft Coral

Soft Coral

Hard Coral

Hard Coral

Ada dua jenis terumbu karang yaitu terumbu karang keras (hard coral) dan terumbu karang lunak (soft coral). Terumbu karang keras (seperti brain coral dan elkhorn coral) merupakan karang batu kapur yang keras yang membentuk terumbu karang. Terumbu karang lunak (seperti sea fingers dan sea whips) tidak membentuk karang. Terdapat beberapa tipe terumbu karang yaitu terumbu karang yang tumbuh di sepanjang pantai di continental shelf yang biasa disebut sebagai fringing reef, terumbu karang yang tumbuh sejajar pantai tapi agak lebih jauh ke luar (biasanya dipisahkan oleh sebuah laguna) yang biasa disebut sebagai barrier reef dan terumbu karang yang menyerupai cincin di sekitar pulau vulkanik yang disebut coral atoll.

Kegunaan terumbu karang

Terumbu karang memberikan manfaat yang luar biasa kepada bumi dan seisinya. Bahkan masa depan Indonesia di laut terletak pada terumbu karang. Sebab terumbu karang bisa menjadi indikator hasil perikanan yang artinya terumbu karang yang terjaga baik akan mampu memberikan hasil perikanan yang melimpah. Sebalikanya jika terumbu karang rusak mencerminkan buruknya produktivitas perikanan. Manfaat terumbu karang sangatlah banyak diantaranya adalah:

1. Sebagai benteng-benteng pelindung pantai dari kerusakan yang disebabkan oleh gelombang atau ombak laut, sehingga manusia dapat hidup di daerah dekat pantai. 2. Sebagai tempat untuk wisata. Karena keindahan warna dan bentuknya, banyak orang berwisata bahari. 3. Tempat asuhan dan berkembang biak bagi ikan, dan menyediakan makanan, tempat tinggal, dan perlindungan bagi makhluk laut 4. Menyediakan sumber protein bagi masyarakat 5. Menyediakan lapangan kerja melalui perikanan dan pariwisata 6. Sebagai salah satu sumber obat-obatan untuk berbagai macam penyakit 7. Ekosistem terumbu karang berperan dalam upaya penanggulangan perubahan iklim global, dan ekosistem terumbu karang juga sangat rentan terhadap perubahan iklim khususnya kenaikan suhu air laut.

Penyebaran terumbu karang di Indonesia

Peta Lokasi Terumbu Karang Di Indonesia

Peta Lokasi Terumbu Karang Di Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki lebih kurang 17.508 pulau, dengan sekitar 6.000 di antaranya merupakan pulau yang berpenduduk. Indonesia secara keseluruhan juga memiliki garis pantai terpanjang di dunia yakni 81.000 km yang merupakan 14% dari garis pantai yang ada di seluruh dunia. Luas laut Indonesia mencapai 5,8 juta km2, atau mendekati 70% dari luas keseluruhan negara Indonesia. Ekosistem di laut Indonesia tercatat sangat bervariasi, khususnya ekosistem pesisir. Ekosistem-ekosistem ini menopang kehidupan dari sekian banyak spesies. Indonesia merupakan rumah bagi hutan bakau yang sangat luas dan padang lamun, serta juga menjadi rumah bagi sebagian besar terumbu karang yang luar biasa, yang ada di Asia. Luas terumbu karang Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 42.000 kilometer persegi atau sekitar 17% dari terumbu karang di dunia dan telah menempatkan peringkat terumbu karang terluas kedua setelah Australia. Terumbu karang di Indonesia ditemui sangat berlimpah di wilayah kepulauan bagian timur (meliputi Bali, Flores, Banda dan Sulawesi). Namun juga terdapat di perairan Sumatera dan Jawa. Indonesia menopang tipe terumbu karang yang bervariasi (terumbu karang tepi, penghalang dan atol). Namun tipe terumbu karang yang dominan di Indonesia ialah terumbu karang tepi. Terumbu karang tepi ini dapat dijumpai sepanjang pesisir Sulawesi, Maluku, Barat dan Utara Papua, Madura, Bali, dan sejumlah pulau-pulau kecil di luar pesisir Barat dan Timur Sumatera. Tipe Patch reefs (terumbu karang yang mengumpul) paling baik terbentuk di wilayah Kepulauan Seribu, sedangkan terumbu karang penghalang paling baik terbentuk di sepanjang tepi Paparan Sunda, bagian Timur Kalimantan dan sekitar Kepulauan Togean (Sulawesi Tengah). Terdapat pula beberapa atol, contohnya ialah Taka Bone Rate di Laut Flores merupakan atol terbesar ketiga di dunia. Keadaan terumbu karang daulu, sekarang, dan kemungkinan masa depan.

Peta Lokasi Kerusakan Terumbu Karang. Biru = Rusak Sedikit Kuning =  Cukup Parah Merah = Parah

Peta Lokasi Kerusakan Terumbu Karang. Biru = Rusak Sedikit Kuning = Cukup Parah Merah = Parah

Kondisi terumbu Karang Indonesia mengalami penurunan drastis hingga 90% dalam lima puluh tahun terakhir akibat penangkapan dalam lima puluh tahun terakhir akibat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Total terumbu karang Indonesia yang mencapai 85200 Km persegi terluas ke dua di duia setelah Great Barrier Reef— itu tercatat 40 persen diantaranya berada dalam kondisi rusak, rusak sedang 24 persen, dan sangat baik hanya enam persen.

Kerusakan terumbu karang di Indonesia

Terumbu karang adalah ekosistem yang rentan dan mudah rusak. Disadari atau tidak, kerusakan demi kerusakan terumbu karang di Indonesia sangatlah menghawatirkan. Pada umumnya kerusakan terumbu karang disebabkan oleh 3 faktor, yaitu:

1. Keserakahan manusia 2. Ketidaktahuan dan ketidakpedulian 3. Penegakan hukum yang lemah.

Selain itu terumbu karang juga dapat rusak oleh beberapa proses antara lain: pengendapan, pencemaran, penangkapan ikan yang merusak, sampah, gempa, bintang laut pemangsa karang yang disebut bulu seribu, dan dampak perubahan alam seperti perubahan iklim.

Di daerah Lombok Mataram dan pantai tenggara Bali memiliki kebiasaan mengambil terumbu karang sebagai dinding atau fondasi rumah atau bahan campuran adukan semen bangunan. Coba bayangkan jika hal tersebut dilakukan untuk oembangunan yang lebih besar lagi, maka kerusakan terumbu karang kian cepat terjadi. Sedangkan di kawasan Banten terumbu karang diambil untuk cendera mata. Bahkan dalam taraf yang lebih besar bunga-bunga karang yang masih hidup diambil untuk diekspor oleh pengusaha. Ancaman kerusakan terumbu karang juga daratan. Tingginya sedimentasi akibat erosi di daratan dan limbah cair yang dibuang ke laut juga menjadi ancaman serius bagi terumbu karang.

Jika laju kerusakan terumbu karang tidak menurun, maka diperkirakan pada beberapa dekade ke depan sekitar 70% terumbu karang dunia akan mengalami kehancuran. Kenaikan temperatur air laut sebesar 1 hingga 2 oC dapat menyebabkan terumbu karang menjadi stres dan menghilangkan organisme miskroskopis yang bernama zooxanthellae yang merupakan pewarna jaringan dan penyedia nutrient-nutrien dasar. Jika zooxanthellae tidak kembali, maka terumbu karang tersebut akan mati.

Salah satu kerusakan terumbu karang yang dapat terlihat ialah pemutihan karang yaitu perubahan warna pada jaringan karang dari warna alaminya yang kecoklat-coklatan atau kehijau-hijauan menjadi warna putih pucat. Pemutihan karang dapat mengakibatkan kematian pada karang. Antara bulan Maret dan Mei 1983 peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengamati peristiwa pemutihan karang besar-besaran dengan tingkat kematian yang luas mulai dari Selat Sunda (Jawa Barat), Kepulauan Seribu (Jakarta) sampai Kepulauan Karimunjawa (Jawa Tengah). Sejak saat itu terjadi lagi peristiwa pemutihan karang secara global pada tahun 1998, dimana lebih dari 55 negara mengalami tingkat pemutihan dan kematian karang yang tinggi. Sebanyak 90% karang mati akibat pemutihan pada 1998 di Sumatera Barat dan Kepulauan Gili, Lombok. Karang di wilayah Indonesia yang lain juga banyak yang terkena pemutihan. Karena karang memegang peranan penting yakni sebagai rangka dari pembentukan terumbu karang dan pulau karang, organisme terumbu karang dan juga perikanan sangat tergantung hidupnya pada karang yang sehat. Peristiswa pemutihan sering dihubungkan dengan gangguan lingkungan seperti naiknya suhu air laut. Karang dapat hidup dalam batas toleransi suhu berkisar dari 20 sampai 30 derajat selsius. Suhu kritis yang dapat menyebabkan karang memutih tergantung dari penyesuaian karang tersebut terhadap suhu air laut rata-rata daerah dimana ia hidup. Karang cenderung memutih apabila suhu meningkat tajam dalam waktu yang singkat atau suhu meningkat perlahan-lahan dalam jangka waktu yang panjang. Gangguan alam yang lain yang dapat menyebabkan pemutihan karang yaitu tingginya tingkat sinar ultra violet, perubahan salinitas secara tiba-tiba, kekurangan cahaya dalam jangka waktu yang lama, dan penyakit. Faktor pengganggu lainnya adalah kegiatan manusia, mencakup sedimentasi, polusi dan penangkapan ikan dengan bahan peledak.

Jelas bahwa terumbu karang memiliki fungsi yang sangat besar dalam ekosistem kelautan. Kerusakan terumbu karang praktis mengganggu seluruh ekosistem laut dan pantai. Karena itu pula, penyebab hancurnya terumbu karang haruslah dicegah sejak dini.

Dampak kerusakan terumbu karang di Indonesia terhadap penyebaran ikan dunia

Rusaknya terumbu karang mengakibatkan sumber rantai makanan juga hilang. Akibatnya, selain nelayan kian sulit menangkap ikan, udang atau biota laut lainnya, pertumbuhan dari biota tersebut juga lambat. Kondisi ini diperarah dengan perburuan ikan yang semakin intensif seiring dengan meningkatnya konsumsi manusia. Itulah sebabnya selain stok perikanan tangkap dunia termasuk Indonesia terus merosot juga ukurannya kian mengecil dari waktu ke waktu. Upaya yang dilakukan untuk melestarikan terumbu karang Cara-cara penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan racun harus segera dihentikan karena hanya dalam sekejap akan meluluhlantahkan ekosistem terumbu karang. Untuk mengembalikannya lagi ke tingkat semula merupakan satu hal yang cukup sulit. Menurut penelitian dibutuhkan waktu setahun untuk menumbuhkan terumbu karang sepanjang 1 cm.

Pemerintah dalam usahanya untuk melindungi, merehabilitasi dan memanfaatkan secara lestari terumbu karang agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat memprakarsai suatu program yaitu COREMAP program ini adalah suatu program rehabilitasi dan pengelolaan terumbu karang.

Kita dapat melestarikan terumbu karang dengan menyulap barang rongsokan menjadi terumbu karang. Hal ini sudah dilakukan negara Jepang dan Amerika 100 tahun lalu.

Selain itu juga ada teknologi transplantasi terumbu karang. Hal ini mungkin masih jarang dilakukan di Indonesia. Untuk mengoptimasi teknologi transplantasi terumbu karang tersebut dapat dilakukan melalui teknologi elektrolisa. Terumbu karang yang diikatkan pada bronjog-bronjong kawat baja lalu dialiri listrik voltase rendah melalui kabel tembaga. Hasilnya luar biasa, terumbu karang yang diikatkan pada bronjong-bronjong kawat baja tadi segera tumbuh dan mengeras sekaligus melekat kuat di kawat-kawat baja. Aliran listrik melalui kabel tembaga elektroda tadi ternyata menstimulir percepatan pertumbuhan terumbu karang yang ditransplantasikan.

Upaya-upaya yang dapat melestarikan terumbu karang kita dapat melakukan hal sebagai berikut: • Tidak membuang sampah yang dapat mencemari pantai dan laut • Minta penjaga/pengelola pantai untuk menyediakan tong sampah (bila tidak ada) • Adakan kegiatan membersihkan pantai • Tidaka memakai karang batu dalam aquarium air laut • Tidak memakai batu karang sebagai bahan bangunan

Penyelamatan terumbu karang adalah tanggung jawab kita bersama. Kita semua dapat ikut aktif menjaga terumbu karang dengan berbagai cara, antara lain :

• Belajar lebih banyak tentang terumbu karang dan menyebarkan pengetahuan ini pada teman atau keluarga. • Pujilah anggota masyarakat maupun aparat pemerintah yang giat menyelamatkan terumbu karang • Menghormati peraturan dan panduan lokal saat mengunjungi lokasi terumbu karang • Tidak memegang, menginjak atau menambil karang waktu menyelam di laut • Ingatkan awak kapal untuk hati-hati dalam membuang jangkar, supaya tidak merusak terumbu karang • Laporkan kegiatan yang dapat merusak terumbu karang (seperti penengkapan ikan secara ilegal dan polusi) pada yang berwenang atau media massa • Bergabunglah dengan kelompok yang bergerak di bidang lingkungan hidup • Mendukung kegiatan yang berkaitan dengan penyelamatan terumbu karang

Sumber : Iptek Menguak Laut Indonesia

0 komentar:

Poskan Komentar