Pemanasan Global dan Perubahan Iklim Akibat Metana

Pemanasan global adalah fenomena meningkatnya suhu rata-rata bumi, yang mencakup atmosfer, lautan, dan daratan. Selama 100 tahun terakhir, suhu rata-rata bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F). Pemanasan global terjadi akibat panas matahari yang tidak dapat dipantulkan kembali akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana, sehingga panas terperangkap di dalam bumi. Hal ini berlangsung sangat lama. Akibatnya, suhu bumi pun perlahan-lahan meningkat dan semakin meningkat hingga taraf yang mengkhawatirkan. Dalam laporan terbaru, Fourth Assessment Report, yang dikeluarkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), salah satu badan PBB yang terdiri dari 1.300 ilmuwan dari seluruh dunia, terungkap bahwa 90% aktivitas manusia selama 250 tahun terakhir inilah yang membuat planet kita semakin panas. Sebagian besar dihasilkan dari pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor, asap pabrik, pembangkit tenaga listrik (misal: batubara), pembakaran hutan, dan peternakan. Dan gas yang paling memberikan dampak adalah metana. Metana adalah hidrokarbon paling sederhana yang berbentuk gas dengan rumus kimia CH4. Metana dapat ditemukan di ladang minyak (api yang terlihat pada puncak sumur minyak adalah kobaran api dari metana yang terbakar), ladang gas bumi, dan juga tambang batu bara. Metana juga dihasilkan di tempat pembuangan akhir sampah (gas metana yang mudah terbakar dihasilkan dari degradasi sampah), serta penampungan kotoran manusia dan hewan. Dan metana dari industri peternakan merupakan penyumbang emisi terburuk dan terbesar dari aktivitas manusia. Dr. Kirk Smith, Profesor Kesehatan Lingkungan Global di Universitas Kalifornia, Berkley mengatakan: “Metana merupakan gas kedua dalam efek rumah kaca setelah CO2, akan tetapi gas ini menjadi ancaman yang paling berbahaya.” Metana merusak lapisan ozon dan dapat merusak kesehatan manusia. Apabila gas metana tingkat tinggi mengurangi kadar oksigen di dalam atmosfer di bawah 19,5% maka akan menyebabkan sesak nafas. Perhitungan terbaru menunjukkan bahwa selama periode 20 tahun efek pemanasan metana menjadi 72 kali lebih kuat. Sebuah penelitian oleh ilmuwan Rusia selama 15 tahun di Laut Es Kutub Utara di daerah Siberia membuktikan bahwa terdapat bongkahan metana beku di dasar laut yang diketahui sebagai metana hidrat mengandung konsentrasi 100 kali lipat lebih tinggi daripada yang biasa ditemukan di atmosfer. Metana ini berbentuk gelembung-gelembung gas yang berbentuk seperti awan yang sedang bergerak naik melewati air. Metana ini stabil dalam keadaan beku di dasar laut. Akan tetapi, pemanasan global menyebabkan es mencair, metana pun terlepas ke atmosfer dan menambah kadarnya menjadi semakin banyak. Namun, penghasil gas metana terbesar adalah peternakan, terutama hewan mamalia seperti sapi, kuda, dan domba. Gas metana yang dihasilkan berasal dari kotorannya, bahkan sendawanya pun menghasilkan metana. Menurut Laporan Perserikatan Bangsa Bangsa tentang peternakan dan lingkungan yang diterbitkan pada tahun 2006 mengungkapkan bahwa, “industri peternakan adalah penghasil emisi gas rumah kaca yang terbesar (18%), jumlah ini lebih banyak dari gabungan emisi gas rumah kaca seluruh transportasi di seluruh dunia (13%).” Hampir seperlima (20 persen) dari emisi karbon berasal dari peternakan dan jumlah ini melampaui jumlah emisi gabungan yang berasal dari semua kendaraan di dunia. Penumpukan metana di atmosfer menyebabkan terhalangnya panas matahari yang harus dipantulkan kembali untuk menjaga suhu bumi tetap stabil. Abibatnya, panas pun terperangkap dan suhu rata-rata bumi meningkat. Hal itu menyebabkan perubahan-perubahan, seperti menaiknya permukaan air laut akibat es yang mencair di daerah kutub sehingga terjadi penyempitan luas daratan. Daerah hangat yang menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan sehingga curah hujan pun meningkat dan lebih sering mengakibatkan banjir. Pada beberapa daerah, air tanah lebih cepat menguap dan terjadilah kekeringan. Hewan-hewan pun akan mencari daerah yang lebih sejuk, karena habitat lamanya telah menjadi semakin panas. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi migrasi ini. Beberapa spesies yang tidak mampu bermigrasi pun kemungkinan akan punah. Suhu yang tinggi pun dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan, malnutrisi, dan penyakit-penyakit, seperti diare, busung lapar, penyakit kulit, dan lain-lain. Ditambah dengan polusi udara hasil emisi gas-gas yang dapat menimbulkan penyakit saluran pernafasan, seperti asma, alergi, coccidiodomycosis, penyakit jantung dan paru kronis, dan lain-lain. Kita sebagai manusia tidak dapat mencegah hal itu. Namun, kita bisa mengurangi dampak buruknya. Seperti penghijauan dan menanam pepohonan lebih banyak lagi. Pohon yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbon dioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Daerah pantai dapat dibangun barrier (penghalang) untuk menghalangi masuknya air laut ke daratan. Pemerintah pun dapat membantu perpindahan populasi di pantai ke tempat yang lebih tinggi. Selain itu, pemerintah juga harus peduli dan tanggap terhadap lingkungan dengan cara penegasan undang-undang pembangunan, penebangan kayu, pencurian hasil hutan (kayu) dan laut (terumbu karang), dan lain-lain. Daftar Pustaka Anonim. 2009. Pemanasan Global. http://id.wikipedia.org. Anonim. 2009. Metana. http://id.wikipedia.org. Kharistya. 2009. Metana Sebagai Hasil dari Dekomposisi Bahan Organik di TPA dan Lindi Sebagai Sumber Pencemar Air Tanah. http://kharistya.blogspot.com. Anonim. 2009. Metana – Lebih Berbahaya daripada CO2. http://kontaktuhan.org. Anonim. 2008. Satu Ton Sampah Lepaskan 50 Kg Gas Metana. http://www.antara.co.id. Anonim. 2009. Metana Hidrat: Apakah Itu dan Bagaimana Ia Dapat Mempengaruhi Perubahan Iklim. http://www.perubahaniklim.net. Anonim. 2009. Mencairnya Es Kutub Utara ‘Bom Waktu Metana’. http://www.jakartapress.com.

0 komentar:

Poskan Komentar