Madu Tesso Nilo tembus pasar internasional

Pekanbaru (14/06)-Madu Sialang yang merupakan sumber pendapatan kedua masyarakat di sekitar kawasan hutan Tesso Nilo (setelah getah karet) kini masuk pasar Internasional. Awal Juni lalu, TLH Product Industries yang berbasis di Selangor, Malaysia membeli satu ton madu organik produk tiga desa di sekitar kawasan konservasi Tesso Nilo yakni Lubuk Kembang Bunga, Air Hitam, dan Gunung Sahilan.

Melalui website madu Tesso Nilo yang dikembangkan WWF bersama Asosiasi Petani Madu Hutan Tesso Nilo (APMTN), TLH Product Industries mengutarakan ketertarikannya. Sampel madu pun dikirim ke Malaysia untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium milik perusahaan yang memproduksi suplemen makanan berbasis madu tersebut.

“Setelah diteliti, ternyata madu Tesso Nilo memenuhi standar mereka. Akhirnya mereka mengunjungi Tesso Nilo untuk melihat secara langsung potensi madu yang ada di sana. Dari potensi ini, mereka kemudian mengambil lagi sampel yang ada dan dibawa ke tempat mereka untuk diteliti lagi. Apakah memang benar madu yang dikirim kemarin itu sama dengan sampel yang diambil ketika mereka berkunjung. Akhirnya betul sama, tidak ada perbedaan. Mereka pun lalu memesan satu ton madu,” jelas Community Engagement Module Leader WWF-Indonesia Program Riau Adi Purwoko.

Untuk pengambilan satu ton madu, PT. TLH Product Industries mengirimkan perwakilannya datang ke Tesso Nilo untuk melihat langsung proses panen madu sampai dengan pengemasannya.

Madu Sialang Tesso Nilo telah diproses dengan menggunakan peralatan berstandar higienis. Sejak tahun 2004, WWF-Indonesia Program Riau mendampingi kelompok petani madu hutan dengan melakukan pelatihan untuk meningkatkan kulaitas madu dalam bentuk program Internal Control System (ICS). Melalui manajemen ICS, Kelompok Tani Usaha Madu Sialang memberikan jaminan akan kemurnian dan keaslian produk Madu Sialang Tesso Nilo.

Ekspor perdana madu Tesso Nilo ini kemungkinan besar akan berlanjut. Pasalnya, PT. TLH Product Industries telah menawarkan draft MoU untuk kerjasama antara perusahaan TLH, WWF, dan Asosiasi Petani Madu Hutan Tesso Nilo (APMTN).

“Kita berharap ini merupakan titik cerah bagi masa depan madu Tesso Nilo. WWF bersama APMTN sampai saat ini masih terus mengupayakan pasar-pasar lokal dan nasional, bahkan internasional untuk menyerap madu yang ada di Tesso Nilo. Dengan demikian keuntungan kelompok ini cukup lumayan karena selama ini harga madu di di tingkat lokal berkisar antara 15 sampai 20 ribu. Nah kelompok asosiasi ini membeli di masyarakat dengan harga 33 ribu. Dan kemarin ekspor ini kita menjual 37 ribu. Memang hal yang menjadi tantangan terbesar adalah pasar. Jadi kita berharap kita sama-sama saling membahu antara kelompok dan WWF untuk mencari peluang-peluang pesar yang bisa menyerap madu di Tesso Nilo dengan harga yang baik untuk masyarakat tentunya,” pungkas Adi.

0 komentar:

Poskan Komentar