Plastik biologis belum tentu ramah lingkungan

Plastik biologis belum tentu ramah lingkungan

Plastik biologis yang terbuat dari tanaman ternyata tidak "sehijau" namanya akibat proses pembuatannya tidak ramah lingkungan.
Plastik seperti itu diakui tampak ramah lingkungan karena, selain terbuat dari tanaman, juga karena kemampuannya untuk terurai. "Tapi hanya karena mereka terbuat dari tanaman, tidak berarti mereka 'hijau'," tegas Amy Landis dari University of Pittsburgh.
Penelitian yang dilakukan Landis--terbit di Enviromental Science & Technology--melacak efek berbagai tipe plastik. Pelacakan dimulai dari bahan baku sampai terbentuknya plastik. Penelitian tersebut membagi efek plastik menjadi 10 tipe, mulai dari kanker sampai dengan pencemaran lingkungan.
Pada plastik biologi, perhitungan melibatkan konsekuensi penggunaan energi dan bahan kimia yang digunakan untuk menanam bahan baku, seperti jagung, kacang kedelai, atau tebu. Pada pembuatan plastik standar, para peneliti mengukur pengeluaran dan penggunaan minyak.
Hasilnya, para peneliti mendapati kalau proses produksi plastik biologis membutuhkan minyak lebih sedikit dibandingkan produksi plastik biasa. Efek terhadap pemanasan global pun lebih sedikit. Akan tetapi, produksi plastik biologis menyebabkan efek yang lebih besar pada eutrofikasi ganggang (pertumbuhan ganggang besar-besaran akibat terlalu banyak memperoleh asupan makanan) serta meningkatkan produksi karsinogen. Karsinogen merupakan zat yang menimbulkan kanker. "Semua itu mungkin disebabkan oleh penggunaan pupuk, pestisida, pengalihan lahan, serta proses perubahan ke plastik," jelas Landis.
Landis menegaskan kalau penelitian ini tidak bertujuan agar orang tidak lagi berpaling dari plastik biologis. "Kami ingin memberi tahu kalau ada masalah. Tapi, ada penelitian lain yang berusaha membuat plastik biologis yang tidak menggunakan jagung sebagai bahan baku," jelasnya.
Michael Griffin dari Carniege Mellon University di Pittsburgh menyetujui pendapat Landis. "Penggunaan bahan baku dari tangkai jagung, rumput, atau kayu lebih baik," katanya. Griffin menambahkan, daripada menggunakan bahan seperti jagung, lebih baik bahan baku dialihkan ke bahan selulosa yang menggunakan bahan kimia lebih sedikit pada saat produksi.
Landis mengakui ada satu hal penting yang dia tidak perhitungkan dalam penelitian ini. Ia dan timnya tidak memperhitungkan faktor daur ulang dari plastik biologis. "Jika faktor itu diperhitungkan, mungkin kondisi plastik biologis bisa lebih baik," kata Griffin
Sumber: Discovery News

0 komentar:

Poskan Komentar