Daud dan Sulaiman (2) Masalahnya, jika kita mengandalkan bab ini, yang memang ada di dalam Alkitab, kita harus menyadari bahwa bab tersebut ditambahkan lama setelah Sulaiman wafat pada 930 SM, ketika Israel pecah menjadi dua bagian—Yudea di selatan dan Israel di utara. "Gezer adalah kota paling selatan di kerajaan Israel di kawasan utara, sedangkan Hazor adalah kawasan paling utara, dan Megiddo adalah pusat kegiatan ekonomi di kawasan tengah," kata ahli arkeologi Norma Franklin dari Universitas Tel Aviv. "Jadi, amatlah penting bagi para penulis kisah ini untuk mengklaim semua wilayah tersebut. Bagi Yadin, Alkitab mengatakan demikian. Titik. Tiga gerbang—semuanya pasti berasal dari masa Sulaiman." Dewasa ini, banyak ilmuwan (termasuk Franklin dan sejawatnya Finkelstein) meragukan bahwa ketiga gerbang itu berasal dari masa pemerintahan Sulaiman, sementara ilmuwan lain (Amihai Mazar, misalnya) berpendapat bisa saja begitu. Namun, semuanya menolak nalar pembuktian terbalik yang dianut Yadin, yang pada awal 1980-an membantu meluncurkan gerakan penentangan "minimalisme Alkitab," yang dipimpin oleh para ilmuwan di Universitas Kopenhagen. Bagi penganut aliran minimalisme ini, Daud dan Sulaiman hanyalah tokoh rekaan. Kredibilitas keyakinan ini dibuktikan tidak benar pada 1993, ketika sebuah tim penggalian di kawasan utara Israel di situs Tel Dan berhasil menggali stela basalt hitam yang bertuliskan "Rumah Daud." Namun, keberadaan Sulaiman, masih belum terbukti sama sekali. Tanpa bukti tambahan, mau tak mau kita harus menerima dunia Alkitab abad ke-10 SM yang menjemukan yang dikemukakan pertama kali oleh Filkenstein dalam tulisannya pada 1996—bukan satu-satunya kerajaan besar yang memiliki kemegahan bangunan monumental, melainkan hanya memiliki bentang alam gersang yang dikuasai oleh beberapa suku yang terpencar-pencar dan berkembang dengan lamban: bangsa Filistin di selatan, bangsa Moab di timur, bangsa Israel di utara, bangsa Arama di utara jauh, dan ya, mungkin juga bangsa Yudea yang melakukan penyerbuan di bawah pimpinan penggembala muda di Yerusalem, sebuah kota kecil dan miskin. Tafsiran ini membuat geram warga Israel yang memandang ibukota Kerajaan Daud sebagai cikal bakal masyarakat mereka. Banyak penggalian yang dilakukan di Yerusalem didanai oleh City of David Foundation, yang direktur pengembangan internasionalnya, Doron Spielman, dengan jujur mengakui, "Tatkala kami menggalang dana untuk melakukan penggalian, yang mengilhami kami adalah pengungkapan Alkitab—dan hal itu sepenuhnya berkaitan dengan kedaulatan Israel." Tidaklah mengherankan apabila kegiatan ini tidak disambut baik oleh penduduk Yerusalem yang kebetulan bangsa Palestina. Banyak penggalian ini dilakukan di bagian timur kota, tempat yang sudah dihuni keluarga mereka selama beberapa generasi, dan mungkin sekali kelak mereka diusir jika proyek penggalian itu berubah menjadi klaim Israel untuk menjadikannya sebagai tempat permukiman mereka. Dari sudut pandang bangsa Palestina, sikap tergesa-gesa mencari bukti arkeologi untuk membenarkan rasa kepemilikan sebagian orang sungguh tidak adil. Sebagai penduduk Yerusalem Timur dan guru besar arkeologi, Hani Nur el-Din berkata, "Saat saya melihat perempuan Palestina membuat gerabah tradisional sejak awal Zaman Perunggu, tatkala saya mencium roti taboon yang dibakar dengan cara yang sama dengan yang dilakukan orang pada milenium keempat atau kelima SM, saya menganggapnya sebagai DNA budaya. Di Palestina memang tidak ada dokumen tertulis, tidak ada riwayat bersejarah—namun, tetap saja, ini adalah sejarah."

0 komentar:

Poskan Komentar