Junghuhn

Setelah lebih dari 200 tahun sejak kelahirannya, naturalis kelahiran Jerman Franz Wilhelm Junghuhn masih kerap dibicarakan sebagai orang asing yang paling mengenal--dan begitu mencintai--alam tanah Jawa.

SATWA PENDAKI Spesimen badak jawa di Museum Zoologi, Bogor. Satwa terancam punah ini sekarang hanya terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon. Junghuhn berpapasan dengan badak seperti ini dekat puncak Gunung Pangrango, dan mengenali jejaknya dekat puncak Gunung Ciremai. "Kekaguman kita timbul dengan memandang jalan-jalan yang dibuat badak dan mengarah ke puncak tertinggi. Orang melihat jalan setapak ini tidak mungkin tanpa rasa kagum jika orang membayangkan sosok binatang raksasa kaku namun sekaligus merupakan pendaki gunung piawai," tulisnya.

LAHAN PINDAHAN Sejumlah prajurit melakukan rutinitas pagi hari di area perkebunan teh Malabar, Pangalengan. Area ini dipandang oleh Junghuhn, seorang dokter bedah militer yang lebih menyukai ilmu alam, sebagai lokasi yang paling tepat untuk membudidayakan kina. Begitu diserahi tugas untuk memimpin budi daya kina oleh pemerintah kolonial, salah satu langkah pertama yang dilakukannya adalah memindahkan proyek tersebut, dari lokasi semula di Cibodas ke Pangalengan dan Lembang.

SAAT INI: TEH Salah satu perkebunan teh di Malabar diberi nama Perkebunan Pasir Junghuhn, sebagai penghormatan kepada sang naturalis pencinta alam Jawa yang berjasa dalam budi daya kina di Tanah Priangan. Akan tetapi, sekarang hanya tersisa 1-2 batang pohon kina di sekitar lokasi ini.

RUMAH SAKIT Plang penanda rumah sakit di wilayah PTPN VIII.

BUAH KEINGINTAHUAN Pada tahun 1837, Junghuhn mendaki Gunung Patuha di dekat Ciwidey, Jawa Barat. Penduduk setempat melarangnya, karena menganggap tempat itu angker sehingga burung pun enggan terbang di atasnya. Ketika melihat suatu danau kawah kecil di sana, Junghuhn mengetahui bahwa burung-burung itu menghindari aroma belerang yang kuat. Kini Kawah Putih--sebutan atas kawah Patuha--menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Jawa Barat sekalipun di musim penghujan.

GUNUNG KESAYANGAN Tangkuban Perahu yang sekarang ramai adalah gunung favorit Junghuhn, yang didakinya berulang-ulang. Ia pernah membangun sebuah pondok di salah satu lokasi dekat kawah untuk didiami selama beberapa waktu. Kepada gunung ini pula ia berpamit diri sebelum mengembuskan napas terakhir.

NISAN Makam Junghuhn di Lembang, Jawa Barat.

MAKAM JUNGHUHN "Gubuk pada ketinggian 1.300 meter, di atas pegunungan, sangat sunyi, dua mil jaraknya dari tempat permukiman terdekat Bandung," demikian tulis Junghuhn kepada Alexander von Humboldt, sebagai pengantar foto berupa pemandangan rumahnya di Lembang. Di Lembang pula Junghuhn dimakamkan, tempat anak-anak muda kini menggunakan tugu nisannya sebagai tempat bercengkerama selepas senja.

GUNUNG GEDE-PANGRANGO Pemandangan dari arah selatan. Junghuhn menentang pembukaan lahan di lereng-lereng gunung ini, yang dimaksudkan sebagai area aklimatisasi bagi tanaman-tanaman produksi asal Eropa dan Mediterania.

SUMBER INSPIRASI Karena penyakit maag dan usus, pada akhir Januari hingga Maret 1840 Junghuhn diizinkan cuti dari dinas sebagai dokter militer. Alih-alih beristirahat, ia menggunakan kesempatan itu untuk kembali ke Plato Dieng dan menelitinya secara menyeluruh. Sejak itulah Junghuhn memiliki gagasan untuk mendirikan sanatorium pegunungan di Jawa bagi pasien orang Eropa.

"Hanya di ketinggian pegunungan saya dapat bahagia!"--FW Junghuhn; Terugreis van Java naar Europa (perjalanan pulang dari Jawa ke Eropa)

MEREKAM ALAM Candi Bima berdiri menyendiri dan agak jauh dari candi-candi Hindu lainnya yang terletak di Dataran Tinggi Dieng. Junghuhn menggunakannya sebagai latar depan, dengan mengabaikan perspektif yang benar, dalam sketsanya yang berjudul "Plateau Dieng".

ELEVASI DAN VEGETASI Tanaman tembakau di Kledung dekat Temanggung, sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut. Junghuhn membuat sebuah klasifikasi tumbuhan berdasarkan ketinggian tempat dan suhu udara, yang masih digunakan hingga hari ini sebagai panduan dalam pembudidayaan tanaman. Bagaimanapun, para petani tembakau belakangan ini mengeluhkan curah hujan tinggi pada saat seharusnya musim kemarau. Tanaman tembakau rusak apabila mendapat terlalu banyak air.

0 komentar:

Poskan Komentar