PERAN ILMU GEOGRAFI DALAM MINIMISASI AKIBAT KENAIKAN PARAS LAUT DAN BANJIR DAMPAK PEMANASAN GLOBAL

ABSTRAK Pemanasan global (global warming) pada dasamya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (C02), metana (CH4) , dinitrooksida (N20) dan Chlorofluorocarbon (CFC) sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Fenomena ini mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan bio-geofisik dan aktivitas sosial-ekonomi masyarakat. Ada beberapa skenario dapat terjadi dengan naiknya paras laut: meningkatnya erosi pantai, banjir di wilayah pesisir yang lebih buruk, terbenamnya wilayah lahan basah pesisir, perubahan arus laut dan meluasnya kerusakan hutan mangrove, meluasnya intrusi air laut, perubahan lokasi penumpukan sedimen dari sungai, tenggelamnya terumbu karang. Selain itu terjadi ancaman terhadap kegiatan sosial-ekonomi masyarakat pesisir.llmu Geografi mengkaji fenomena permukaan bumi, yaitu ruang di permukaan bumi yang terbentuk oleh unsur-unsur geosfer (atmosfer, litosfer, pedosfer, hidrosfer, biosfer, dan antroposfer) yang berupa wilayah, dipelajari dengan menggunakan pendekatan spasial (keruangan), ekologis, dan kompleks wilayah. Makalah ini bertujuan untuk mengkaji peran ilmu geografi dalam minimisasi dampak pemanasan global berupa kenaikan paras air laut (sea level rise) dan banjir. IImu geografi mempelajari wilayah secara utuh menyeluruh mempunyai peran dalam menentukan kerangka kebijakan makro dan mikro operasional yang strategis dalam penataan ruang Daerah Aliran Sungai dan wilayah pesisir terpadu dan berkelanjutan, dengan menggunakan ketiga pendekatan ilmu geografi. Kata-Kata kunci: IImu Geografi, pemanasan global. kenaikan paras air laut, banjir PENDAHULUAN Pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (C02), metana (CH4), dinitrooksida (N20) dan Chlorofluorocarbon (CFC) sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Berbagai literatur menunjukkan kenaikan temperatur global, termasuk Indonesia yang terjadi pada kisaran 1,5°- 40° C pada akhir abad 21. Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan bio-geofisik * Makalah disajikan pada Seminar Nasional dan PIT XI Ikatan Geograf Indonesia (IGI). Kerjasama IGI Pusat dengan IGI Wilayah Sumatera Barat. Jurusan Geografi Fakultas Imu Sosial Universitas Negeri Padang. Padang 22-23 November 2008. seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun pasir, peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna tertentu, migrasi fauna dan hama penyakit, dsb. Sedangkan dampak bagi aktivitas sosial¬ekonomi masyarakat meliputi: ganggu~n terhadap fungsi kawasan pesisir dan kota pantai, gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti jaringan jalan, pelabuhan dan bandara gangguan terhadap permukiman penduduk, pengurangan produktivitas lahan pertanian, peningkatan resiko kanker dan wabah penyakit, dsb. Makalah ini bertujuan untuk mengkaji peran ilmu geografi dalam minimisasi dampak pemanasan global berupa kenaikan paras air laut (sea level rise) dan banjir. ILMU GEOGRAFI IImu Geografi mempelajari fenomena permukaan bumi, yaitu ruang di permukaan bumi yang terbentuk oleh unsur-unsur geosfer (Iitosfer, atmosfer, hidrosfer, pedosfer, biosfer, dan antroposfer), yang berupa wilayah dan isinya, dipelajari dengan pendekatan spasial (keruangan), ekologi (kelingkungan), dan kompleks wilayah (kewilayahan), untuk keperluan pengelolaan wilayah secara optimal dan berkelanjutan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kelangsungan hidup umat manusia. Obyek material ilmu geografi adalah fenomena permukaan bumi. Fenomena permukaan bumi merupakan suatu perwujudan atau face permukaan bumi yang dibentuk oleh unsur-unsur geosfer, dan terwujud dari hasil hubungan, interaksi dan interdependensi antara unsur-unsur geosfer. Ruang di permukaan bumi atau wilayah sebagai fenomena permukaan bumi dapat terbentuk mulai dari yang sederhana hingga yang kompleks. Geosfer merupakan substansi yang menyelubungi bumi mulai dari atmosfer, litosfer, hidrosfer, pedosfer, biosfer, dan antroposfer. Unsur geosfer terdiri atas (1) litosfer atau batuan terluar dari bumi, yakni kulit bumi; (2) atmosfer, yakni udara yang meliput bumi; (3) hidrosfer, adalah air yang menyelubungi bumi; (4) pedosfer, tanah yang menyelubungi bumi baik di darat maupun di laut; (5) biosfer, adalah makhluk hidup baik tetumbuhan maupun hewan; (6) antroposfer, masyarakat manusia dengan segala aspek dan aktivitasnya yang menghuni bumi. Obyek formal ilmu geografi adalah pendekatan spasial, ekologis, dan kompleks wilayah. Pendekatan ilmu geografi bermakna suatu cara berpikir dan melihat kompleksitas fenomena permukaan bumi dalam konteks ruang, lingkungan, dan wilayah. IImu geografi dengan obyek kompleksitas fenomena atau gejala permukaan bumi menggunakan pendekatan spasial, ekologi, dan kompleks wilayah. Pendekatan spasial (keruangan) merupakan suatu kajian untuk mempelajari fenomena permukaan bumi dengan. menggunakan ruang sebagai media untuk analisis. Dimensi spasial yang dimunculkan lebih menonjolkan sebaran, pola, struktur, organisasi, proses, tendensi, asosiasi, interaksi, asosiasi, komparasi dan sinergis elemen-elemen fenomena permukaan bumi. yang dibentuk oleh unsur-unsur geosfer yang berupa wilayah dan potensinya. Penekanan pendekatan spasial adalah pembandingan kekhasan lokasional ruang. Pendekatan ini akan memperhatikan unsur jarak, pola, site dan situation, aksesibiltas dan keterkaitan. Berbeda dari pendekatan spasial yang bertolak dari perbedaan fenomena permukaan bumi yang terbentuk oleh unsur-unsur geosfer (Iitosfer, atmosfer, hidrosfer, pedosfer, biosfer, dan antroposfer) dari satu tempat ke tempat lainnya, pendekatan ekologi memandang rangkaian fenomena permukaan bumi dalam satu kesatuan ruang. Fenomena permukaan bumi membentuk satu rangkaian yang saling berkaitan (sinergis) dalam sebuah ekosistem dengan manusia sebagai unsur utama. Penekanan utama pendekatan ekologi adalah mengelaborasi secara lebih intens tentang keterkaitan elemen-elemen lingkungan dengan manusia dan matra kehidupannya. Ada beberapa tema yang dikembangkankan dalam pendekatan ekologi yaitu keterkaitan antara manusia (perilaku, persepsi) dengan elemen-elemen lingkungan geografi dan keterkaitan antara kearifan lokal, guyub tutur masyarakat dengan elemen-elemen lingkungan geografi (unsur fisik, unsur manusia, dan aksesibiltas). Pendekatan kompleks wilayah merupakan kombinasi pendekatan spasial, dan pendekatan ekologi. Pendekatan kompleks wilayah didasarkan pad a pemahaman yang mendalam mengenai keberadaan suatu wilayah sebagai suatu sistem, di mana di dalamnya terdapat banyak sekali subsistem dan elemen¬ elemen wilayah yang saling berkaitan (sinergis). Keterkaitan tersebut dapat berbentuk keterkaitan mempengaruhi, keterkaitan saling mempengaruhi, keterkaitan tergantung, dan keterkaitan saling tergantung. DAMPAK KENAIKAN PARAS AIR LAUT DAN BANJIR TERHADAP KONDISI LINGKUNGAN BIO-GEOFISIK DAN SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT Kenaikan paras air laut seear:a umum akan mengakibatkan dampak sebagai berikut : (a) meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir, (b) perubahan arus laut dan meluasnya kerusakan hutan mangrove, (e) meluasnya intrusi air laut, (d) aneaman terhadap kegiatan sosial-ekonomi masyarakat pesisir, dan (e) berkurangnya luas daratan atau hilangnya pulau-pulau keeil. Meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir disebabkan oleh terjadinya pola hujan yang aeak dan musim hujan yang pendek sementara eurah hujan sangat tinggi (kejadian ekstrim). Kemungkinan lainnya adalah akibat terjadinya efek backwater dari wilayah pesisir ke darat. Frekuensi dan intensitas banjir diprediksikan terjadi 9 kali lebih besar pada dekade mendatang dimana 80% peningkatan banjir tersebut terjadi di Asia Selatan dan Tenggara (termasuk Indonesia) dengan luas genangan banjir meneapai 2 juta mil persegi. Peningkatan volume air pada kawasan pesisir akan memberikan efek akumulatif apabila kenaikan paras air laut serta peningkatan frekuensi dan intensitas hujan terjadi dalam kurun waktu yang bersamaan. Kenaikan paras air laut selain mengakibatkan perubahan arus laut pada wilayah pesisir juga mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove, yang pada sa at ini saja kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Luas hutan mangrove di Indonesia terus mengalami penurunan dari 5.209.543 ha (1982) menurun menjadi 3.235.700 ha (1987) dan menurun lagi hingga 2.496.185 ha (1993). Dalam kurun waktu 10 tahun (1982-1993), telah terjadi penurunan hutan mangrove :f: 50% dari total luasan semula. Apabila keberadaan mangrove tidak dapat dipertahankan lagi, maka : abrasi pantai akan kerap terjadi karena tidak adanya penahan gelombang, peneemaran dari sungai ke laut akan meningkat karena tidak adanya filter polutan, dan zona budidaya aquaculture pun akan teraneam dengan sendirinya. Meluasnya intrusi air laut selain diakibatkan oleh terjadinya kenaikan muka air laut juga dipicu oleh terjadinya land subsidence akibat penghisapan air tanah secara berlebihan. Sebagai contoh, diperkirakan pada periode antara 2050 hingga 2070, maka intrusi air laut akan mencakup 50% dari luas wilayah Jakarta Utara. Gangguan terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang terjadi diantaranya adalah : (a) gangguan terhadap jaringan jalan lintas dan kereta api di Pantura Jawa dan Timur-Selatan Sumatera ; (b) genangan terhadap permukiman penduduk pada kota-kota pesisir yang berada pada wilayah Pantura Jawa, Sumatera bagian Timur, Kalimantan bagian Selatan, Sulawesi bagian Barat Daya, dan beberapa spot pesisir di Papua; (c) hilangnya lahan-Iahan budidaya seperti sawah, payau, kolam ikan, dan mangrove seluas 3,4 juta hektar atau setara dengan US$ 11,307 juta ; gambaran ini bahkan menjadi lebih 'buram' apabila dikaitkan dengan keberadaan sentra-sentra produksi pangan yang hanya berkisar 4 % saja dari keseluruhan luas wilayah nasional, dan (d) penurunan produktivitas lahan pad a sentra-sentra pangan, seperti di DAS Citarum, Brantas, dan Saddang yang sangat krusial bagi kelangsungan swasembada pangan di Indonesia. Terancam berkurangnya luasan kawasan pesisir dan bahkan hilangnya pulau¬pulau kecil yang dapat mencapai angka 2.000 hingga 4.000 pulau, tergantung dari kenaikan muka air laut yang terjadi. Dengan asumsi kemunduran' garis pantai sejauh 25 meter, pad a akhir abad 21 lahan pesisir yang hilang mencapai 202.500 hektar. Bagi Indonesia, dampak kenaikan muka air laut dan banjir lebih diperparah dengan pengurangan luas hutan tropis yang cukup signifikan, baik akibat kebakaran maupun akibat penggundulan. Data yang dihimpun dari The Georgetown - International Environmental Law Review (1999) menunjukkan bahwa pad a kurun waktu 1997 - 1998 saja tidak kurang dari 1,7 juta hektar hutan terbakar di Sumatra dan Kalimantan akibat pengaruh EI Nino. Bahkan \NWF (2000) menyebutkan angka yang lebih besar, yakni antara 2 hingga 3,5 juta hektar pad a periode yang sama. Apabila tidak diambil langkah-Iangkah yang tepat maka kerusakan hutan, khususnya yang berfungsi lindung, akan menyebabkan run-off yang besar pada kawasan hulu, meningkatkan resiko pendangkalan dan banjir pada wilayah hilir , serta memperluas kelangkaan air bersih pada jangka panjang. PERAN ILMU GEOGRAFI DALAM MINIMISASI AKIBAT KENAIKAN PARAS LAUT DAN BANJIR SEBAGAI DAMPAK PEMANASAN GLOBAL IImu geografi mempunyai peran yang sangat penting dalam pembangunan, khususnya pembangunan yang berbasis wilayah. Tugas utama seorang geograf adalah mengidentifikasi masalah wilayah, mengenali faktor-faktor lingkungan hidup yang saling berpengaruh langsung maupun tidak langsung, mengidentifikasi hubungan antar variabel yang berpengaruh dan menentukan munculnya masalah wilayah, mengidentifikasi dampak negatif maupun positif dari masalah yang timbul baik pada saat ini maupun saat yang akan datang, dan akhirnya menemukan alternatif pemecahannya baik secara preventif, kuratif maupun inovatif. Dengan memperhatikan dampak pemanasan global yang memiliki skala nasional dan dimensi waktu yang berjangka panjang, IImu geografi mempelajari wilayah secara utuh menyeluruh mempunyai peran dalam menentukan kerangka kebijakan makro dan mikro operasional yang strategis dalam penataan ruang wilayah pesisir dan Daerah Aliran Sungai secara terpadu dan berkelanjutan, dengan menggunakan ketiga pendekatan ilmu geografi. Dalam upaya mengantisipasi dampak kenaikan paras air laut dan banjir maka perlu dilakukan rencana tata ruang wilayah pesisir dan daerah aliran sungai. Selain antisipasi yang bersifat makro-strategis tersebut, diperlukan pula antisipasi dampak kenaikan muka air laut dan banjir yang bersifat mikro-operasional. Pad a tataran mikro, pengembangan kawasan budidaya pada kawasan pesisir selayaknya dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa alternatif sebagai berikut. Pertama, relokasi, alternatif ini dikembangkan apabila dampak ekonomi dan lingkungan akibat kenaikan muka air laut dan banjir sangat besar sehingga kawasan budidaya perlu dialihkan lebih menjauh dari garis pantai. Dalam kondisi ekstrim, bahkan, perlu dipertimbangkan untuk menghindari sama sekali kawasan¬kawasan yang memiliki kerentanan sangat tinggi. Kedua, akomodasi, alternatif ini bersifat penyesuaian terhadap perubahan alam atau resiko dampak yang mungkin te~adi seperti reklamasi, peninggian bangunan atau perubahan agriculture menjadi budidaya air payau (aquaculture) ; area-area yang tergenangi tidak terhindarkan, namun diharapkan tidak menimbulkan ancaman yang serius bagi keselamatan jiwa, asset dan aktivitas sosial-ekonomi serta lingkungan sekitar. Ketiga, proteksi, alternatif ini memiliki dua kemungkinan, yakni yang bersifat hard structure seperti pembangunan penahan gelombang (breakwater) atau tanggul banjir (seawalls) dan yang bersifat soft structure seperti revegetasi mangrove atau penimbunan pasir (beach nourishment). Walaupun cenderung defensif terhadap perubahan alam, alternatif ini perlu dilakukan secara hati-hati dengan tetap mempertimbangkan proses alam yang te~adi sesuai dengan prinsip "working with nature". Sedangkan untuk kawasan lindung, prioritas penanganan perlu diberikan untuk sempadan pantai, sempadan sungai, mangrove, terumbu karang, suaka alam margasatwa/cagar alam/habitat flora-fauna, dan kawasan-kawasan yang sensitif secara ekologis atau memiliki kerentanan tinggi terhadap perubahan alam atau kawasan yang bermasalah. Untuk pulau-pulau kecil maka perlindungan perlu diberikan untuk pulau-pulau yang memiliki fungsi khusus, seperti tempat transit fauna, habitat flora dan fauna langka/dilindungi, kepentingan hankam, dan sebagainya. Agar prinsip keterpaduan pengelolaan pembangunan kawasan pesisir benar-benar dapat diwujudkan, maka pelestarian kawasan lindung pada bagian hulu, khususnya hutan tropis perlu pula mendapatkan perhatian. Hal ini penting agar laju pemanasan global dapat dikurangi, sekaligus mengurangi peningkatan skala dampak pad a kawasan pesisir yang berada di kawasan hilir. PENUTUP Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan bio-geofisik dan aktivitas sosial-ekonomi masyarakat. Kenaikan paras air laut secara umum akan mengakibatkan meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir, perubahan arus laut dan meluasnya kerusakan hutan mangrove, meluasnya intrusi air laut, ancaman terhadap kegiatan sosial-ekonomi masyarakat pesisir, dan berkurangnya luas daratan atau hilangnya pulau-pulau kecil. Meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir disebabkan oleh te~adinya pola hujan yang acak dan musim hujan yang pendek sementara curah hujan sangat tinggi (kejadian ekstrim). Kemungkinan lainnya adalah akibat te~adinya efek backwater dari wilayah pesisir ke darat. Sedangkan dampak bagi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat meliputi: gangguan terhadap fungsi kawasan pesisir dan kota pantai, gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti jaringan jalan, pelabuhan dan bandara gangguan terhadap permukiman penduduk, pengurangan produktivitas lahan pertanian, peningkatan resiko kanker dan wabah penyakit, dsb. IImu geografi mempunyai peran yang sangat penting dalam pembangunan, khususnya pembangunan yang berbasis wilayah. Tugas utama seorang geograf adalah mengidentifikasi masalah wilayah, mengenali faktor-faktor lingkungan hidup yang saling berpengaruh langsung maupun tidak langsung, mengidentifikasi hubungan antar variabel yang berpengaruh dan menentukan munculnya masalah wilayah, mengidentifikasi dampak negatif maupun positif dari masalah yang timbul baik pada saat ini maupun sa at yang akan datang, dan akhirnya menemukan alternatif pemecahannya baik secara preventif, kuratif maupun inovatif. Dalam upaya mengantisipasi dampak kenaikan paras air laut dan banjir maka perlu dilakukan rencana tata ruang wilayah pesisir dan daerah aliran sungai. Selain antisipasi yang bersifat makro-strategis tersebut, diperlukan pula antisipasi dampak kenaikan muka air laut dan banjir yang bersifat mikro-operasional. Pada tataran mikro, pengembangan kawasan budidaya pada kawasan pesisir selayaknya dilakukan dengan relokasi, akomodasi, dan proteksi. DAFTAR PUSTAKA Angin, Ignas. Suban., 2008, Tinjauan Filosofis Sains Geografi, Makalah Seminar Nasional Filsafat Sains Geografi, Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta 12 Juli 2008. Dibyosaputro, Suprapto,2008, Aksi%gi Geografi Fisik, Makalah Seminar Nasional Filsafat Sains Geografi, Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta 12 Juli 2008. Sutikno, 2007, Peran IImu Geografi Dalam Era Otonomi Daerah dan Globalisasi, Makalah Seminar Nasional Peluang dan Tantangan Geograf Dalam Era Otonomi Daerah dan Globalisasi, Jurusan Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan IImu Pendidikan Universitas Nusa Cendana, Kupang 31 Oktober 2007.

0 komentar:

Poskan Komentar