Daud dan Sulaiman (3) Kebanyakan ahli arkeologi Israel menghendaki agar hasil penelitian mereka tidak digunakan sebagai senjata politik. Namun, hal ini memang cara yang biasa digunakan negara baru yang masih terus menjajaki keabsahan mereka. Sebagaimana yang diamati oleh guru besar arkeologi Avraham Faust dari Universitas Bar-Ilan, "Bangsa Norwegia mengandalkan keberadaan situs Viking untuk menciptakan jatidiri yang terpisah dari para penguasa mereka yang berasal dari Swedia dan Denmark. Zimbabwe mendapatkan namanya dari situs arkeologi. Arkeologi adalah alat bantu yang sangat nyaman untuk menciptakan jatidiri bangsa. Itulah salah satu hal yang membedakan Israel dengan negara lain. Jatidiri nasionalnya sudah ada jauh sebelum adanya kegiatan penggalian. Benda galian dapat menegaskan jatidiri itu… atau sebaliknya. "TEMPAT INI IBARAT NERAKA," kata Tom Levy dengan riang saat berdiri di tepi sumur tambang terbuka purba yang dipenuhi terak legam sehitam batubara. Di sekelilingnya dan sejumlah sukarelawan mahasiswa S-1 dari University of California, San Diego, terbentang situs penggalian tembaga seluas 10 hektar—dan di samping kawasan itu tampak kompleks benteng besar yang terdiri atas reruntuhan rumah jaga berusia 3.000 tahun. Tampaknya para penjaga itu tinggal di dekat lokasi tambang, sambil mengawasi para pekerja yang mungkin dipaksa bekerja di situ. "Apabila kita memiliki produksi berskala industri sebesar ini, pasti diperlukan sistem pengadaan makanan dan air minum," kata Levy lagi. "Saya tidak bisa membuktikannya, namun menurut pendapat saya, orang yang bekerja di lingkungan yang sangat berat ini pastilah para budak—atau mahasiswa S-1. Intinya, masyarakat miskin yang papa mustahil bisa melakukan kegiatan penambangan berskala sebesar ini." Levy, sebagai ahli antropologi, pertama kali datang ke Yerusalem selatan pada 1997 untuk mengkaji peranan metalurgi dalam evolusi masyarakat. Distrik dataran rendah Faynan, tempat kita bisa menyaksikan kilauan malakhit biru-hijau dari jarak jauh, adalah tempat yang tepat untuk melakukan kajian tersebut. Tempat ini pulalah yang diklaim dengan bangga pada 1940 oleh rabi dan ahli arkeologi Amerika Nelson Glueck sebagai tempat dia menemukan tambang Edom yang dikuasai Raja Sulaiman. Para penggali berkebangsaan Inggris yang berikutnya meyakini bahwa mereka telah menemukan bukti yang menyatakan bahwa kurun waktu yang ditetapkan oleh Glueck meleset sampai tiga abad, dan bahwa Edom sebenarnya baru ada pada abad ke-7 SM. Namun, ketika Levy mulai memeriksa situs yang dikenal sebagai Khirbat en Nahas (dalam bahasa Arab berarti "puing-puing tembaga"), sampel yang dikirimkannya ke Oxford untuk ditentukan usianya dengan metode radiokarbon menegaskan bahwa klaim Glueck memang tepat: Ini adalah situs produksi tembaga abad ke-10 SM—dan, Levy menambahkan dengan yakin, "sumber tembaga terdekat ke Yerusalem." Tim yang dikepalai oleh Levy dan sejawatnya dari Yordania, Mohammad Najjar, berhasil menggali gerbang berkamar empat yang mirip dengan gerbang yang ditemukan di sejumlah situs di Israel yang mungkin berasal dari abad ke-10 SM. Beberapa kilometer dari kompleks pertambangan itu, mereka berhasil menggali sebuah permakaman yang berisi lebih dari 3.500 makam yang berasal dari kurun waktu yang sama—mungkin berisi sisa-sisa jenazah kaum nomaden pegunungan dari Zaman Besi yang menurut sumber Mesir purba dikenal sebagai Shasu, yang menurut Levy mungkin "ditawan pada suatu waktu tertentu dan dipaksa bekerja di pertambangan." Sebagian besar kegiatan di tambang itu tampaknya berhenti menjelang akhir abad ke-9 SM—dan lapisan yang dinamakan "lapisan jarahan" yang digali oleh mahasiswa Levy mungkin bisa menjelaskan alasannya. Dalam lapisan ini mereka menemukan 22 biji kurma, yang ternyata berasal dari abad ke-10 SM, bersama sejumlah artefak Mesir seperti jimat berkepala singa dan jimat berbentuk kumbang, keduanya berasal dari kurun waktu Firaun Shoshenq I. Penyerbuan wilayah itu oleh sang firaun tidak lama setelah kematian Sulaiman dikisahkan dalam Perjanjian Lama dan di Kuil Amun di Karnak. "Saya sepenuhnya percaya bahwa Shoshenq mengakhiri produksi logam di sini pada akhir abad ke-10 SM," kata Levy. "Bangsa Mesir pada Periode Antara Ketiga tidak cukup kuat untuk menyediakan pasukan dan persenjataan di wilayah jajahan, dan itulah alasannya mengapa di sini kita tidak menemukan cetakan roti dan peninggalan kebudayaan penting lainnya yang khas Mesir. Namun, mereka mungkin melakukan serangan militer yang cukup besar—yang cukup kuat untuk mengalahkan beberapa kerajaan kecil ini, untuk memastikan bahwa mereka tidak menjadi ancaman bagi Mesir. Itulah yang menurut saya dilakukan oleh Shoshenq di sini." "Neraka" yang berhasil digali oleh Levy di Khirbat en Nahas mungkin bisa merupakan "neraka" juga bagi teori Filkenstein tentang "kronologi abad lebih kini." Tambang tembaga yang ditemukan Levy mungkin tidak semenggairahkan istana Raja Daud atau tempat di ketinggian untuk mengamati perkelahian antara Daud dan Goliath. Namun, kegiatan penggalian Levy mencakup kurun waktu lebih panjang dan area lebih luas daripada yang dilakukan Eilat Mazar dan Yosef Garfinkel, dan jauh lebih sering menggunakan analisis radiokarbon untuk menentukan usia berbagai lapisan stratigrafi di situsnya. "Semua ilmuwan yang mengkaji Edom pada 1980-an dan 1990-an menyatakan bahwa Edom tidak ada sebagai negeri sebelum abad ke-8 SM," kata Amihai Mazar. "Tetapi, analisis radiokarbon yang dilakukan Levy memberikan bukti lain, dan bukti tersebut menunjukkan kurun waktu abad ke-10 hingga ke-9 SM, dan tidak seorang pun bisa menyatakan bahwa bukti tersebut keliru."

0 komentar:

Poskan Komentar