Oleh-Oleh dari Rote (3): Melongok Tenun Ikat

by Reynold Sumayku

Hal lainnya yang saya cari dalam perjalanan ke Pulau Rote beberapa waktu lalu adalah tenun ikat. Foto-foto ini diambil di Kampung Ndao. Kampung tersebut dinamakan demikian karena sebagian besar penduduknya berasal dari Pulau Ndao, sebuah pulau kecil yang dapat ditempuh dalam waktu tiga jam berperahu dari Rote.

Menurut cerita, setiap perempuan Ndao harus bisa menenun. Kemampuan ini penting dalam kebudayaan mereka. Barangkali sama pentingnya dengan kewajiban bagi kaum lelaki untuk bekerja atau pergi mencari nafkah. Bagaimanapun, sehari-hari, para perempuan Ndao baru menenun di waktu luang, setelah selesai memasak dan mengurus keluarga.

Kemampuan menenun diajarkan turun-temurun dari nenek ke ibu, dari ibu ke anak, dari anak ke cucunya si nenek, begitu terus. Tidak begitu mengherankan apabila banyak perempuan Ndao yang sudah bisa menenun sejak usia belia. “Saya sudah bisa sejak umur sembilan,” kata Wenty Fattu (30) siang itu.

Ibu Wenty biasanya menyelesaikan tiga kain tenun dalam sebulan. “Dahulu kami memintal benang sendiri dari pohon kapas. Tapi sekarang kami membeli benang sutra saja, agar praktis. Lagipula di mana mau cari pohon kapas sekarang,” ucapnya.

Setiap satu bantal benang menurut harga pada September lalu ia beli dengan uang 250 ribu rupiah. Itu setidaknya bisa digunakan sebagai bahan untuk membuat sehelai kain. Atau, katanya, “Satu kemeja pun bisa.” Harga jual sehelai kain tenun jadi antara 300-500 ribu rupiah tergantung motifnya. Namun jika sudah sampai di Jakarta, atau luar negeri, bisa mencapai satu juta lebih.

Berikut beberapa foto dari Kampung Ndao di Pulau Rote:

Menyiapkan benang.

Jalinan benang kapas semula berwarna putih.

Proses pewarnaan. Benang kapas telah menjadi hitam, warna dasar.

Ibu Koten menunjukkan jalinan benang yang sedang dikeringkan dalam proses pewarnaan. Ikatan-ikatan yang berwarna biru dibuat dengan tali rafia, sebagai batas penanda untuk membuat warna lain.

Wenty Fattu sedang mengerjakan tenunannya. Foto yang ini saya buat dengan angle seperti ini dengan alasan yang rada aneh: sering sekali saya melihat foto orang menenun dengan angle kira-kira seperti ini.

Salah satu kain tenun yang sudah selesai.

Kain-kain tenun yang sudah selesai digantung di beranda untuk menarik minat calon pembeli.

0 komentar:

Poskan Komentar