Mata Semesta (2)

Galileo, orang pertama yang meneropong langit malam dengan teleskop, 400 tahun silam di musim gugur ini, memelopori program dua-langkah tersebut. Pertama, dia terpesona pada apa yang dia saksikan. Teleskop Galileo menampilkan begitu banyak bintang yang sebelumnya tak terlihat sehingga ketika dia berusaha memetakan semua bintang hanya dalam satu gemintang, Orion, dia menyerah. Dia mengaku “terpukau oleh jumlah bintang yang begitu banyak.” Dia melihat pegunungan di Bulan — bertentangan dengan teori ortodoks yang berlaku saat itu, yang menyatakan bahwa semua benda langit terbuat dari “eter” yang tidak terdapat di Bumi. Galileo melacak empat satelit yang benderang di saat keempatnya bergegas mengelilingi Jupiter seperti planet-planet dalam tata surya mini, sesuatu yang oleh para pengecam kosmologi heliosentrik Copernicus ditepis sebagai sesuatu yang mustahil. Terbukti kemudian bahwa Bumi adalah bagian kecil dari jagad raya yang luas, bukan bagian besar dari alam semesta yang kecil. Tidak lama kemudian, sebagaimana yang diperkirakan, Galileo membuat teleskop yang lebih besar dan lebih baik. Lensa besar pengumpul-cahaya belum tersedia saat itu sehingga dia mencurahkan perhatian untuk membuat teleskop yang lebih panjang, yang menghasilkan daya pembesaran lebih tinggi dan mengurangi halo aneka warna palsu yang menjadi kekurangan lensa kaca pada masa itu. Para pengamat selanjutnya membuat rancangan teleskop pembias berlensa-kaca yang amat panjang. Di Danzig, Johannes Hevelius menggunakan teleskop sepanjang 46 meter. Teleskop yang digantungkan dengan tali dari sebuah tiang itu pun sudah bergoyang-goyang hanya oleh tiupan angin semilir. Di Negeri Belanda, Huygens bersaudara memperkenalkan teleskop panjang dan ramping yang sama sekali tidak memiliki tabung: lensa objektif diletakkan di atas platform tinggi di suatu lapangan, sementara seorang pengamat berada hingga 60 meter jauhnya meluruskan lensa pembesar dan mengintip melalui lensa itu. Instrumen semacam itu memberikan penglihatan sekilas yang menampilkan planet dan bintang yang, seperti tarian tujuh cadar, semakin mengobarkan hasrat untuk melihat semakin banyak. Teleskop pemantul atau reflektor yang dirintis oleh Isaac Newton dengan mudah memenuhi hasrat dalam melihat langit malam: cermin hanya perlu dilekatkan di satu permukaan untuk mengumpulkan dan memantulkan cahaya bintang ke titik fokus, dan karena ditopang dari belakang, cermin itu bisa cukup besar tanpa goyah oleh beratnya sendiri sebagaimana yang cenderung terjadi pada lensa besar. William Herschel menemukan planet Uranus dengan teleskop pemantul buatan sendiri—dia mengecor cermin logamnya di kebun dan ruang bawah tanah rumahnya. Suatu saat dia harus menyelamatkan diri dari sungai logam cair yang mengalir deras setelah cetakan yang terbuat dari tahi-kuda itu pecah. Galaksi berlengan-spiral mula-mula tampak sekilas melalui teleskop pemantul besar, dengan cermin primer berdiameter 1,8 meter, yang dirakit Lord Rosse di rumahnya di Irlandia.

0 komentar:

Poskan Komentar