Mata Semesta (3)

Teleskop-teleskop terbesar dewasa ini memiliki cermin yang berdiameter hingga sekitar 10 meter dengan daya pengumpulan cahaya empat kali lipat Teleskop Hale ukuran lima meter yang legendaris di Observatorium Palomar, California selatan. Beberapa di antara teleskop raksasa ini, yang menjulang sebesar gedung perkantoran, sangat otomatis sehingga dapat membersihkan sendiri peralatan optiknya dari debu saat Matahari terbenam, membuka kubah, mengurutkan dan melaksanakan pengamatan sepanjang malam, dan menutup saat cuaca buruk menjelang. Semua dilakukan tanpa bantuan tangan manusia. Akan tetapi, manusia, karena sifat manusiwinya, tetap saja sering ikut campur, meskipun hanya untuk memastikan bahwa tidak ada sesuatu yang tidak beres: kehilangan hasil kerja teleskop besar satu malam saja sekarang ini sama dengan menghamburkan biaya operasional hingga sekitar 1 miliar rupiah. Tiga teleskop terbesar dewasa ini—Gemini North, Subaru, dan Keck—berdiri berdekatan di atas puncak Mauna Kea, gunung api tidur yang tingginya 4.205 meter di Hawaii. Ketinggian ini menyebabkan 40 persen atmosfer Bumi berada di bawah ketiga teleskop tersebut—juga kebanyakan uap air dalam atmosfer yang menghalangi panjang gelombang inframerah yang menjadi bahan penelitian para astronom. Ketinggian tersebut juga membuat para astronom dan teknisi yang bekerja di situ sulit bernapas dan berpikir. Banyak di antara mereka memasang selang oksigen plastik-bening di lubang hidung, sama seperti kebiasaan sebagian dari kita mengenakan kacamata. Yang lain mengandalkan kemampuan tubuh untuk beradaptasi, tetapi khawatir tentang hal yang mereka namakan “kesalahan yang menghambat karier.” “Di ketinggian ini, kita tidak bisa berimprovisasi; bisa menimbulkan malapetaka,” kata astronom Gemini, Scott Fisher. “Kita seperti monyet terlatih di atas sini. Pemikiran yang sesungguhnya dilakukan di dataran rendah.” Observatorium Mauna Kea yang besar-besar ini sama-sama cerdas dan mahal, tetapi masing-masing memiliki kepribadian yang berbeda. Teleskop Gemini yang ukurannya 8,1 meter terletak di dalam kubah perak berbentuk bawang yang dikelilingi oleh serangkaian penutup yang, ketika ditutup di siang hari, membuat observatorium itu tampak canggung seperti gajah bengkak. Rangkaian penutup itu membuka di senja kala, membentuk serangkaian jendela yang besar, setinggi gedung tiga lantai dan merentang hampir tiga per empat keliling observatorium, membuat angin malam masuk dan membentangkan panorama Samudra Pasifik yang biru, jauh hingga ke Maui dan lebih jauh lagi. Empat detektor digital utama Gemini—kamera dan spektrometer yang seberat mobil dan masing-masing harganya sekitar 50 miliar rupiah—dipasang di atas landasan putar yang mengelilingi titik fokus teleskop sehingga alat-alat itu dapat berputar ke satu posisi dalam hitungan menit. Di malam hari, teleskop tersebut dioperasikan oleh komputer untuk melaksanakan pengamatan-pengamatan yang sudah didaftarkan agar tak ada waktu yang terbuang. “Kami sangat berkepentingan untuk menggunakan waktu malam seefisien mungkin,” kata Fisher.

0 komentar:

Poskan Komentar