Mata Semesta (4)

Instrumen teleskop Subaru tersimpan dalam ceruk yang bentuknya mirip botol sampanye di gudang penyimpanan minuman anggur surgawi. (Perbandingan ini tidak sepenuhnya khayali; seorang astronom Jepang ternama memberikan persembahan kepada para dewa di awal setiap pengamatan yang menggunakan Subaru dengan menuangkan sake tua ke tanah di luar kubah pada keempat penjuru mata angin.) Manakala sebuah alat tertentu diperlukan, sebuah robot berupa troli kuning menghampiri ceruk, mengambil alat tersebut, membawanya ke dasar teleskop yang besar, lalu memasang ke tempatnya, memasang kabel data dan pipa untuk sistem pendinginan detektor. Subaru adalah salah satu dari segelintir teleskop raksasa yang pernah benar-benar digunakan untuk melihat bintang langsung dengan mata. Untuk penggunaan perdananya pada 1999, sebuah lensa intip dipasang agar Putri Sayako dari Jepang dapat melihat bintang dengan teleskop itu dan untuk beberapa malam kemudian, para staf Subaru yang penuh hasrat juga melakukan hal yang sama. “Semua yang terlihat pada foto Teleskop Antariksa Hubble—warna, buhul di awan—aku dapat melihatnya dengan mata kepala sendiri, dalam warna-warni yang memukau,” salah seorang berkata sambil mengingat-ingat. Keck terdiri atas dua teleskop yang identik. Keduanya memiliki cermin sepuluh meter yang terdiri atas 36 segmen; setiap segmen beratnya hampir 400 kilogram termasuk struktur penopangnya, harganya sekitar 10 miliar rupiah. Satu teleskop Keck saja sesungguhnya sudah mumpuni untuk menjadi teleskop kelas kelas-universitas yang bagus. “Tabung” teleskop berupa rangka baja tipis dan panjang yang tampak seperti sarang laba-laba yang rapuh, tetapi rancangannya jauh lebih saksama dibandingkan dengan perahu balap yang tiangnya dirancang untuk menghasilkan kecepatan maksimum. “Kami menggunakan misi dari teleskop ini untuk memotivasi diri kami sendiri,” kata salah seorang astronom Keck. “Jika ada serabut atau sesuatu masuk ke dalam bidang pandang, kami mempersoalkannya. Karena, bila saja cahaya sudah melintasi ruang angkasa selama 90 persen usia alam semesta dan berada telah begitu dekat ke teleskop, kami harus memastikan perjalanannya tuntas.” Hanya segelintir dari astronom yang memeroleh jatah waktu di teleskop besar itu benar-benar datang ke sana lagi untuk melakukan pengamatan. Kebanyakan mengajukan permohonannya via internet—pada suatu malam belum lama ini di Gemini, proyek-proyek terjadwal itu, mulai dari “Massa Tata Surya Primordial” hingga “Aktivitas Magnetik dalam Bintang Kerdil Mahadingin”—lalu hasil pengamatan dikirimkan kembali kepada mereka. Geoff Marcy, Pangeran Henry, Sang Navigator masa kini, yang timnya tela menemukan lebih dari 150 planet yang mengorbit sejumlah bintang selain Matahari kita, mendapatkan jatah waktu pengamatan lebih banyak daripada kebanyakan astronom di Keck, tetapi sudah bertahun-tahun tidak pernah ke observatorium tersebut. Alih-alih, tim planet luar Tata-Surya yang dipimpinnya melakukan pengamatan dari sebuah fasilitas operasi di University of California Berkeley yang jauh dari observatorium. Selama masa pengamatan, Marcy melaporkan, “kami menjadi terbiasa bekerja sepanjang malam. Semua buku dan bahan rujukan lain tersedia di sini, kami juga menjalani kehidupan yang cukup normal sehingga suami atau istri kami tidak melupakan kami.”

0 komentar:

Poskan Komentar