Mata Semesta (6)

Teleskop yang istimewa inovasinya adalah Teleskop Survei Sinoptik Besar atau LSST (Large Synoptic Survey Telescope) yang cermin primer ukuran 8,4 meternya dicor Agustus silam dalam tungku putar di bawah tribun stadion futbol Wildcats di University of Arizona di Tucson. (Teknik rotasi itu menghasilkan lempeng kaca yang bentuknya sudah cekung, ini dapat mengurangi jumlah kaca yang harus digerus untuk menghasilkan cermin yang bentuknya sesuai.) Teleskop konvensional memiliki bidang pandang yang sempit, biasanya dengan rentang tinggi dan lebar tidak lebih dari setengah derajat—terlalu sempit untuk menangkap pola berukuran sangat besar yang disebabkan oleh dentuman besar (big bang). LSST akan memiliki bidang pandang yang meliputi sepuluh derajat persegi, seluas 50 bulan purnama. Dari lokasinya di Pegunungan Andes, Cile, LSST akan mampu mencitrakan galaksi yang berada jauh di alam semesta dengan waktu pemaparan masing-masing hanya 15 detik, memotret kejadian yang berlangsung begitu cepatnya pada berjarak lebih dari 10 miliar tahun-cahaya atau 70 persen dari jarak ke batas alam semesta yang dapat diamati. “Karena akan memiliki bidang pandang yang luas, kami dapat melakukan pemotretan dengan waktu pemaparan yang singkat-singkat dan—jepret, jepret, jepret—mendapat gambar seluruh langit yang terlihat setiap beberapa malam, kemudian mengulanginya lagi,” kata Direktur LSST Tony Tyson. “Jika kita terus melakukannya selama 10 tahun, kita akan mendapatkan sebuah film—film pertama tentang alam semesta.” Pencitraan bersudut-lebar dan cepat dengan LSST dapat ikut menjawab dua dari sekian banyak pertanyaan terbesar yang dihadapi para astronom dewasa ini: hakikat benda gelap dan energi gelap. Keberadaan benda gelap dapat diketahui dari adanya tarikan gravitasi benda tersebut—ini menjelaskan kecepatan rotasi galaksi, tetapi benda gelap memancarkan cahaya dan bahan penyusunnya juga tidak diketahui. Energi gelap adalah nama yang diberikan kepada fenomena misterius yang selama lima miliar tahun ini meningkatkan kecepatan perluasan alam semesta. “Memang agak mengerikan,” kata Tyson, “seakan-akan kita menerbangkan pesawat terbang dan tiba-tiba ada kekuatan tak dikenal mengambil alih kendali.” LSST dapat membantu kita memecahkan teka-teki besar ini antara lain berkat, agak ganjil juga sebetulnya, pengetahuan tentang suara. Dentuman besar sangat bising. Meskipun suara tidak dapat merambat melalui ruang antariksa yang hampa—seperti ahli yang senang mengingatkan gejala ini kepada sutradara film fiksi-ilmiah—alam semesta di awal pembentukannya adalah plasma yang rapat dan hiruk-pikuk seperti ajang penabuh drum bermain bersama. Suara tertentu beresonansi dalam plasma primordial ini—seperti suara gelas-gelas anggur yang saling disentuhkan—dan harmoni suara yang menggores ke dalam berlapis-lapis galaksi dan kini berjalan terseret-seret sejauh miliaran tahun-cahaya, mengandung informasi akurat tentang hakikat benda gelap dan energi gelap. Jika para astronom dapat memetakan struktur berukuran raksasa ini secara akurat, mereka akan mampu mengenali ciri-khas benda gelap dan energi gelap dalam harmonik Dentuman Besar. Survei Langit Digital Sloan, penelitian perintis bersudut-lebar, berhasil menangkap sejumlah informasi ini ketika memetakan langit sejak 1999 hingga 2008. LSST dirancang untuk merasuk jauh lebih dalam ke ruang kosmos. Mungkin saja LSST tidak mampu menjawab misteri ini, tetapi, menurut ramalan Tyson, “teleskop ini akan dapat memberikan informasi jauh lebih banyak dan menunjukkan apa saja yang tidak termasuk energi gelap dan benda gelap.”

0 komentar:

Poskan Komentar