Pengaruh Enso dan IOD Terhadap Cuaca di Bandung

Cuaca yang ekstrim. Mungkin kalimat itu bisa menggambarkan keadaan cuaca di Negara kita Indonesia. Banyak yang menyadari jika memang cuaca sekarang telah mengalami perubahan yang besar. Sebagai contoh salah satu contoh saja yaitu kota bandung yang kini saya tinggali. Saya sangat menyadari kalau sekarang keadaan kota Bandung teras sangat panas tidak seperti dulu. Suhunya bisa mencapai 35 derajat Celsius. Padahal setau saya suhu di Bandung tidak pernah melebihi 29 derajat selsius. Lalu mengapa suhu di bandung bisa berubah seperti itu?Apa penyebabnya? Untuk mengetahui hal tersebut setidaknya kita perlu meninjau tiga hal yaitu: monsun, ENSO, Indian Ocean Dipole. Pertama, monsun. Dari pengamatan International Pacific Research Center, Hawai, tampak bahwa angin monsun di Indonesia adalah monsun timur dan monsun tenggara. Tepatnya, Indonesia timur (Papua, Sulawesi, Halmahera) mengalami monsun tenggara yang kuat. Sementara itu, di Indonesia barat (Kalimantan, Bali, Jawa, Sumatra) terjadi monsun timur yang lemah. (Anonim, 2010) Kedua, pergolakan di Samudra Pasifik selatan yang disebut ENSO (El-Nino Southern Oscillation).El Nino merupakan suatu fase ketidakteraturan fluktuasi temperatur muka laut pasififik sehingga siklus El Nino dan La Nina bersifat tidak periodik (teratur) tetapi membentuk pola per 3 atau 4 tahunan. ENSO merupakan asosiasi dari SO di atmosfir dengan EL Nino dan La Nina di lautan pasifik. Untuk mengukur anomali perubahan ini digunakan SO Indeks dimana perubahan tekanan udara di kota Darwin akan berlawanan dengan di kota Tahiti. Besarnya perbedaan tekanan udara antara Darwin dan Tahiti disebut sebagai SO Indeks (digunakan sebagai indikator pemantauan El Nino dan La Nina). Dampak dari terjadinya ENSO akan terasa di beberapa area di seluruh dunia, sebagai contoh menghangatnya ENSO secara ekstrim akan mengakibatkan terjadinya kekeringan dibeberapa bagian daratan Afrika, Asia Tenggara, Australia dan Brasil serta banjir di bagian timur daerah Amerika Selatan dan Utara serta kawasan Florida, Amerika Serikat. ENSO memiliki karakteristik antara lain : tekanan udara turun di wilayah luas di tengah lautan Pasifik dan air hangat terbawa oleh arus equatorial current yang kemudian terkumpul di pantai Peru dan Ecuador. El-Nino akan terjadi apabila perairan yang lebih panas di Pasifik tengah dan timur meningkatkan suhu dan kelembaban pada atmosfer yang berada di atasnya. Kejadian ini mendorong terjadinya pembentukan awan yang akan meningkatkan curah hujan di sekitar kawasan tersebut. Bagian barat Samudra Pasifik tekanan udara meningkat sehingga menyebabkan terhambatnya pertumbuhan awan di atas lautan bagian timur Indonesia, sehingga di beberapa wilayah Indonesia terjadi penurunan curah hujan yang jauh dari normal. Pembentukan El-Nino dikaitkan dengan pola sirkulasi samudera pasifik yang dikenal sebagai osilasi selatan sehingga disebut juga El Nino-Southern Oscillation (ENSO) yang merupakan fenomena yang ditimbulkan oleh interaksi laut-atmosfer. El-Nino merupakan fenomena global dari sistem interaksi laut dan atmosfer yang ditandai dengan memanasnya suhu muka laut di Pasifik Equator atau anomali suhu muka laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya). Pada saat yang bersamaan terjadi perubahan pola tekanan udara yang mempunyai dampak sangat luas dengan gejala yang berbeda-beda, baik bentuk dan intensitasnya. Fenomena El Nino secara umum akan menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berkurang, besar pengurangannya tergantung dari lokasi dan intensitas El-Nino tersebut. Namun demikian, karena luasnya wilayah Indonesia serta posisi geografisnya yang dikenal sebagai benua maritim, maka tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi oleh fenomena El-Nino. Pada tahun normal, tekanan permukaan rendah berkembang di wilayah utara Australia dan Indonesia dan tekanan tinggi melalui sistem pantai Peru .Akibatnya, angin pasat melalui Samudera Pasifik bergerak sangat kuat dari barat ke timur. Di timur aliran angin pasat membawa permukaan air hangat ke barat, sehingga badai membawa badai konvektiv ke Indonesia dan pesisir Australia. Sepanjang pantai Peru, kolam air dingin terbawa sampai ke permukaan untuk menggantikan kolam air hangat yang diambil di sebelah barat. Suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur menjadi lebih tinggi dari biasa pada waktu-waktu tertentu, walaupun tidak selalu. Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya fenomena La-Nina .Tekanan udara di kawasan equator Pasifik barat menurun, lebih ke barat dari keadaan normal, menyebabkan pembentukkan awan yang lebih dan hujan lebat di daerah sekitarnya. Kejadian El-Nino tidak terjadi secara tunggal tetapi berlangsung secara berurutan pasca atau pra La-Nina. Hasil kajian dari tahun 1900 sampai tahun 1998 menunjukan bahwa El-Nino telah terjadi sebanyak 23 kali (rata-rata 4 tahun sekali). La-Nina hanya 15 kali (rata-rata 6 tahun sekali). Dari 15 kali kejadian La-Nina, sekitar 12 kali (80%) terjadi berurutan dengan tahun El-Nino. La-Nina mengikuti El-Nino hanya terjadi 4 kali dari 15 kali kejadian sedangkan yang mendahului El-Nino 8 kali dari 15 kali kejadian. Secara umum, hal ini menunjukkan bahwa peluang terjadinya La-Nina setelah El-Nino tidak begitu besar. Kejadian El-Nino 1982/83 yang dikategorikan sebagai tahun kejadian El-Nino yang kuat tidak diikuti oleh La-Nina. Jadi El Nino itu merupakan fenomena naiknya temperatur permukaan laut sepanjang pantai Ecuador dan Peru, 2 – 5o C di atas rata-rata. El Nino biasanya terjadi pada akhir Desember sampai beberapa minggu atau bulan. Namun dapat pula terjadi dalam waktu yang lama, misalnya tahun 1991 sampai 1995. Beberapa indikasi perubahan alam yang merupakan tanda-tanda awal El Nino, antara lain : 1. Naiknya tekanan udara di atas Samudra Hindia, Indonesia dan Australia. 2. Turunnya tekanan udara di Tahiti, bagian timur dan tengah Samudra Pasifik. 3. Angin di selatan Pasifik melemah, bahkan berbalik arah ke timur. 4. Munculnya air hangat di sekitar perairan Peru. Jika El Nino mengakibatkan kekeringan, maka lain halnya dengan La Nina. Kembaran El Nino ini memiliki sifat yang bertolak belakang dengan El Nino. Fenomena La Nina ditandai dengan menurunnya SPL sehingga sering juga disebut sebagai fase dingin. Karena sifatnya yang dingin ini, kedatangannya juga dapat menimbulkan petaka di berbagai kawasan khatulistiwa, termasuk Indonesia. Curah hujan berlebihan yang menyertai kedatangan La Nina dapat menimbulkan banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah di Indonesia. Jadi, dua “lakon” di panggung Samudera Pasifik ini sama-sama menakutkan. Yang satu menyebar petaka kekeringan, sementara yang lain memberi ancaman banjir. Ketiga, Kekeringan yang melanda Indonesia selalu dikaitkan dengan gejala El Nino. Ternyata, Sama halnya dengan Samudera Pasifik, Samudera Hindia juga merupakan panggung pertunjukan bagi kejadian yang menyerupai El Nino dan La Nina, yang dikenal dengan istilah Indian Ocean Dipole (IOD). Namun, fenomena IOD baru ditemukan pada tahun 1999 oleh Dr N H Saji dan Profesor Toshio Yamagata. Dalam makalahnya yang diterbitkan di majalah Nature, mereka mendefinisikan IOD sebagai gejala penyimpangan iklim yang dihasilkan oleh interaksi laut dan atmosfer di Samudera Hindia di sekitar khatulistiwa. Interaksi ini menghasilkan tekanan tinggi di Samudera Hindia bagian timur (bagian selatan Jawa dan barat Sumatera) yang menimbulkan aliran massa udara yang berembus ke barat. Embusan angin ini akan mendorong massa air di depannya dan mengangkat massa air dari bawah ke permukaan. Akibatnya, SPL di sekitar pantai selatan Jawa dan pantai barat Sumatera akan mengalami penurunan yang cukup drastis, sementara di dekat pantai timur Afrika terjadi kenaikan SPL. Perbedaan SPL ini (anomali positif di sebelah barat dan anomali negatif di sebelah timur) membentuk dua kutub, positif dan negatif, di Samudera Hindia yang kemudian disebut sebagai Dipole Mode Event (DME) atau Indian Ocean Dipole (IOD). Seperti halnya El Nino, kejadian IOD direpresentasikan dengan satu indeks yang diberi nama Dipole Mode Index (DMI), yaitu perbedaan SPL di bagian barat Samudera Hindia (50°-70°BT, 10°LS-10°LU) dan SPL di bagian timur Samudera Hindia (90°-110°, 10°LS-ekuator). Semakin besar nilai indeks ini, semakin kuat sinyal IOD dan semakin dahsyat akibat yang ditimbulkan. Jika di Samudera Pasifik El Nino memiliki kembarannya, yaitu La Nina, maka IOD di Samudera Hindia juga berpasangan; positif IOD (pIOD) dan negatif IOD (nIOD). Positif IOD menyebabkan kekeringan, sama halnya dengan El Nino, sementara nIOD memiliki sifat yang sama dengan La Nina, yaitu meningkatkan curah hujan. Lain halnya dengan El Nino-La Nina yang mencapai puncaknya pada akhir/awal tahun (Desember-Februari), evolusi IOD dimulai pada bulan Juni/Juli dan akan mencapai puncaknya pada bulan September-Oktober. Maka jika terjadi kombinasi El Nino di Samudera Pasifik dan pIOD di Samudera Hindia, Indonesia akan mengalami bencana kekeringan yang sangat parah akibat kemarau yang berkepanjangan dari bulan Juli hingga Februari tahun berikutnya. Hal ini pernah kita alami pada tahun 1997/1998. Namun, kapan IOD muncul memang sulit diprediksi. Namun upaya para ilmuan untuk mempertepat prakiraan gejala ini telah banyak mendatangkan hasil. Dimulai dengan dua orang ilmuan Jepang Prof. T. Yamagata dan Dr. NH. Saji yang menganalisa data SST lautan Hindia tahun 1958-1998 dikaitkan dengan banjir di Afrika Timur tahun 1961 dan kekeringan di Indonesia 1994 dan 1997 (Ishaq, 2008). Monsun, ENSO,Indian Ocean Dipole, memiliki pengaruh yang berbeda terhadap pola musim di berbagai wilayah di Indonesia. Musim di Indonesia timur lebih banyak dipengaruhi oleh ENSO, karena lebih dekat dengan Samudra Pasifik. Indonesia tengah lebih banyak dikontrol oleh monsun. Sementara itu, Indonesia barat (seperti Bandung)banyak diatur Indian Dipole Mode, mengingat wilayah ini dekat dengan Samudra Hindia. Dari pengamatan monsun, ENSO, Indian Ocean Dipole, diperoleh kesimpulan bahwa musim kemarau tahun ini cenderung basah karena pengaruh La-Nina. Sehingga hujan sesekali masih akan terjadi sepanjang musim kemarau. Indonesia barat dan selatan akan lebih kering dibandingkan Indonesia Indonesia timur dan utara. Untuk membuktikan apakah telah terjadi suhu ekstrem tersebut, pengamatan terhadap data suhu di Bandung perlu dilakukan. Data suhu rata-rata klimatologis (minimal 30 tahun) yang diperoleh stasiun meteorologi BMG Bandung pada Juni-Juli-Agustus menunjukkan suhu antara 21-23 derajat Celsius. Suhu tertinggi maksimum 27-29 derajat celsius, suhu paling rendah 16-19 derajat Celsius. Ada hal yang menarik pada pola data yang disajikan BMG dalam bentuk grafik tersebut. Selama bulan Juni, suhu terendah di Bandung mencapai 19 derajat Celsius. Suhu ini kemudian menurun drastis pada bulan berikutnya (Juli), karena melorot hingga 16 derajat celsius. Selanjutnya, suhu terendah menaik pada Agustus, yaitu menjadi 17 derajat celcius. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa selama ini selama lebih dari 30 tahun terakhir, suhu terendah di Bandung pada Juli memang memiliki nilai paling rendah jika dibandingkan dengan bulan lainnya di musim kemarau (Juni, Agustus, September). Dengan demikian, dapat dikatakan Bandung kini memang didera cuaca ekstrem meskipun tidak terlampau parah (Anonim, 2008) Daftar Pustaka * http://www.kompas.com * http://www.imbuheni.blogspot.com * Anonim, Enso (el nino southern osilation).2008 (http://www.bdg.lapan.go.id) * anonim, Kekeringan sampai November akibat IOD Positif.2008 (http://www.cheeka21’s .wordpress.com) * Anonim, Cuaca Ekstrem di Bandung.2008 (http://www.pikiran rakyat.com) * Anonim,bersiap menyongsong La Nina.2007 (http://www.unisosdem.org) * Anonim, samudra hindia :”Mesin” Perubahan Iklim Berulah (http://www.library.pelangi.or.id)

0 komentar:

Poskan Komentar