TRANSPOR MATERI, ENERGI, DAN RANTAI MAKANAN PADA EKOSISTEM PADANG LAMUN DI WILAYAH PESISIR KARANG BOLONG

Pesisir menjadi wilayah yang sangat berarti bagi kehidupan manusia di bumi. Edgreen pada tahun 1993 memperkirakan bahwa sekitar 50-70% dari 5,3 milyar penduduk di bumi sekarang ini tinggal di kawasan pesisir (Kay R, 1999). Wilayah pesisir memiliki keunikan ekosistem. Wilayah ini sangat rentan terhadap perubahan, baik karena diakibatkan oleh aktifitas daerah hulu maupun karena aktifitas yang terjadi di wilayah pesisir itu sendiri.

Permasalah wilayah pesisir yang dikemukakan oleh Rohmin Dahuri (2001) merupakan permasalah umum wilayah pesisir yang banyak dijumpai di Indonesia. Dikemukakan bahwa permasalah wilayah pesisir meliputi : pencemaran, kerusakan habitat pantai, pemanfaatan sumberdaya yang berlebihan, abrasi pantai, konversi kawasan lindung dan bencana alam. Permasalah-permasalahn tersebut sebagian besar diakibatkan oleh aktifitas kegiatan manusia baik yang tinggal dalam kawasan maupun yang berada di luar kawasan. Salah satu ekosistem yang terkena dampak dari permasalahan tersebut adalah padang lamun.

Padang lamun merupakan tumbuhan yang hidup terbenam di perairan dangkal yang agak berpasir. Secara ekologis padang lamun memiliki beberapa fungsi penting bagi daerah pesisir yaitu ; sumber utama produktivitas primer, sumber makanan penting bagi organisme, dengan sistem perakaran yang rapat menstabilkan dasar perairan yang lunak, tempat berlindung organisme, tempat pembesaran bagi beberapa spesies, sebagai peredam arus gelombang dan sebagai tudung pelindung panas matahari. Kehidupan padang lamun sangat dipengaruhi oleh kondisi kecerahan air laut, temperatur air laut, salinitas, substrat dan kecepatan arus.

Padang lamun sering dijumpai berdampingan atau tumpang tindih dengan ekosistem mangrove dan terumbu karang. Bahkan, terdapat interkoneksi antarketiganya. Berikut bagan yang menggambarkan interaksinya :

Keberadaan padang lamun di wilayah pantai selatan jawa khususnya di daerah Karang Bolong jumlahnya sedikit, selain karena permasalahan yang diungkapkan di atas tadi, hal ini juga dikarenakan kondisi tofografi pesisir selatan yang curam dan tidak selandai pesisir di pantai utara Jawa.

Padang lamun dapat terdiri dari vegetasi lamun jenis tunggal ataupun jenis campuran. Padang lamun merupakan tempat berbagai jenis ikan berlindung, mencari makan, bertelur, dan membesarkan anaknya. Ikan baronang, misalnya, adalah salah satu jenis ikan yang hidup di padang lamun.

Amat banyak jenis biota laut lainnya hidup berasosiasi dengan lamun, seperti teripang, bintang laut, bulu babi, kerang, udang, dan kepiting. Duyung (Dugong dugon) adalah mamalia laut yang hidupnya amat bergantung pada makanannya berupa lamun. Penyu hijau (Chelonia mydas) juga dikenal sebagai pemakan lamun yang penting. Karena itu, rusak atau hilangnya habitat padang lamun akan menimbulkan dampak lingkungan yang luas.

Dalam ekosistem lamun ,rantai makanan tersusun dari tingkat-tingkat trofik yang mencakup proses dan pengangkutan detritus organik dari ekosistem lamun ke konsumen yang agak rumit. Sumber bahan orfganik berasal dari produk lamun itu sendiri, di samping tambahan dari epifit dan alga makrobentos, fitoplankton dan tanaman darat. Zat organik di makan fauna melalui perumputan (grazing) atau pemanfaatan detritus. Gambar di bawan ini menunjukkan rantai makanan dan energy pada kosistem lamun.

Pada bagan di atas, sumber energy utama adalah cahaya matahari yang digunakan organism autotrop seperti lamun dan fitoplankton sebagai produsen untuk berfotosintesis. selanjutnya rantai makanan terbagi ke dalam dua, yaitu rantai makanan detritus dan rantai makanan merumput.

Pada rantai makanan detritus, guguran daun adalah sumber nutrient yang diurai oleh bakteri (detrivor). yang kemudian detritus tersebut dimakan oleh cacing, kepiting dan meiofauna lainnya sebagai konsumen tingkat pertama. kemudian konsumen tingkat pertama ini dimakan oleh ikan sedang sebagai konsumen tingkat kedua, dan konsumen tingkat kedua dimakan oleh ikan besar sebagai konsumen tingkat ketiga dan oleh burung laut sebagai predator. kemudian konsumen tingkat tiga dimakan oleh ikan hiu sebagai predator yang menduduki tingkatan tropok paling tinggi. Ketika predator tersebut mati maka jasadnya diurai oleh bakteri sebagai detrivor yang menguraikan materi dari bangkai tersebut supaya dapat digunakan lagi oleh konsumen tingkat pertama.

Sedangkan pada rantai makanan merumput, sumber nutriennya secara langsung adalah tumbuhan lamun itu sendiri yang daunnya dimakan oleh konsumen tingkat pertama yaitu dugong, penyu, ikan beronang dan bulu babi. kemudian konsumen tingkat pertama ini dimakan oleh predator kecuali bulu babi, ia dimakan oleh ikan buntal sebagai konsumen kedua.

Adapun guguran daun tidak seluruhnya menjadi detritus, tetapi ada juga yang menjadi bahan organic terlarut yang kemudian dimanfaatkan oleh fitoplankton. peran fitoplankton disini sebagai produsen. kemudian fitoplankton tersebut dimakan oleh zooplankton sebagai konsumen tingkat pertama yang selanjutnya dimakan oleh ikan anakan kecil sebagai konsumen kedua. ikan kecin ini akan kembali dimakan oleh ikan sedang dan pada akhirnya transport energy dan materi akan masuk ke dalam rantai makanan detritus. pasokan bahan organic tidak seluruhnya berasal dari dalam ekosistem tetapi ada juga yang dari luar ekosistem seperti dari ekosistem mangrove, terumbu karang, dan dari aliran sungai.

Kerusakan pada tingkatan trofik ataupun produsen akan memutus rantai makanan dan menyebabkan keseimbangan terganggu dan pada akhirnya kerusakan tersebut diakibatkan oleh aktivitas manusia yang tidak bertanggungjawab terhadap lingkungan.

0 komentar:

Poskan Komentar