Latihan Olah Rasa (Olah Sukma)


Pemain harus menyadari jika latihan olah rasa tidak dilakukan dengan sepenuh hati hasilnya akan sia sia. Dalam latihan ini tidak boleh sambil bercanda. Untuk itu harus memilih dan mengambil metode yang paling tepat mengenai latihan olah rasa. Latihan olah rasa dapat dilaksanakan melalui dua tahap yaitu:

  • Tahap pertama adalah latihan konsentrasi. Dalam latihan konsentrasi, pemain harus memusatkan perhatiannya kepada sesuatu hal yang kongkrit umpamanya memperhatikan bunga diatas meja. Seluruh panca indranya terarah ke bunga selama beberapa menit dan berusaha melenyapkan dan mematikan rangsangan rangsangan lain. Selanjutnya menutup mata dan dan melakukan pemusatan perhatian tanpa melihat benda tadi sampai dapat membayangkannya kembali dengan jelas pada persepsinya. Latihan pendahuluan sperti tersebut diatas, harus dilakukan berulang ulang dengan berbagai macam variasi objek pemusatan pada setiap kali latihan. Membayangkan lakon secara keseluruhan atau adegan demi adegan, serta membayangkan dirinya sendiri sebagai pemeran merupakan bagian program latihan konsentrasi. Perkembangan lebih jauh adalah pada saat persiapan praktik penyajian pementasan atau shooting film, pemain seyogyanya konsentrasi dahulu terhadap segala sesuatu yang menyangkut permainan dan pengadegan teaterikal yang akan dilaksanakan.
  • Tahap kedua adalah latihan penghayatan. Dalam tahap ini memulai latihan dengan penghayatan terhadap kata, kalimat, konflik teaterikal, narasi dan dialog naskah lakon. Setelah melakukan latihan tersebut kemudian dilanjutkan dengan latihan penghayatan terhadap gerak. Latihan dimulai dari penghayatan terhadap gerak yang paling sederhana sampai kepada yang rumit. Misalnya, merasakan gerakan tergesa gesa, gerakan sakit karena sayatan pisau, menggeleng geleng kepala karena bingung, memegang dahi Karenna sakit kepala. Semua gerakan itu didemonstrasikan berulang ulang dan harus diberi kadar rasa yang sesuai. Latihan selanjutnya adalah penghayatan imajinasi, dimulai dari yang paling sederhana. Misalnya, member bobot rasa kepada gerak mengambil dan membawa telur pada baki datar, membawa air panas dalam gelas, menginjak kotoran, menginjak pecahan kaca dengan kaki telanjang, makan dengan lahap sambil bicara yang semuanya tidak dilengkapi dengan benda benda yang sebenarnya. Hal tersebut hanya dihayalkan saja, tetapi disertai dengan kesungguhan. Olah rasa ini sangat beraneka ragam, bahannya dapat digali dari peristiwa tingkah laku sehari hari, dari buku buku bacaan dan dari naskah lakon. Latihan berikutnya melakukan imajinasi yang intensif, antara lain membayangkan suasana sedih, gembira, ceria, tangis, ngeri, tegang dan tergesa gesa.

0 komentar:

Poskan Komentar