Berbicaralah ke Semua Bagian Otak ( Re-called Brain Information)

Pernahkan Anda mengetahui bahwa dengan menggunakan benda, gambar, dan gerakan, dapat menekankan pada ingatan implicit siswa (Jenis daya ingat yang mengkodekan kembali informasi melalui intuisi dan pengalaman) Daya ingat jenis ini bekerja di luar control kesadaran manusia, sebagaimana dipraktikkan dan penelitian baru yang melibatkan subjek yang melakukan resksi corpus callosum, jalan utama yang menjamin terjadinya komunikasi antara dua cerebral hemisphere (sebuah prosedur yang biasa dilakukan untuk mengontror epilepsy berat). Dengan bantuan alat yang dapat memproyeksikan gambar kedalam satu hemisphere, para peneliti menemukan bahwa sebuah gambar yang ditangkap oleh hemisphere kiri (hemisphere yang mendominasi level verba), dapat dideskripsikan dengan jelas oleh pasien. Sebaliknya, sesuatu agak mengejutkan terjadi. Gambar-gambar yang diproyeksikan dan ditangkap oleh hemisphere kanan ( yang mengontrok kemampuan bahasa music, gambar, dan emosi) tidak dapat dideskripsikan. Otak kanan tidak dapat menerjemahkan secara verbal sesuatu yang telah terekam. Karena otak kirilah yang dapat merespon, pasien akan menegaskan bahwa ia belum melihat gambar tersebut. Namun demikian, ketika diminta untuk menunjukkan objek yang merepresentasikan gambar yang diproyeksi tadi dengan menggunakan tangan kirinya ( yang dikendalikan oleh otak kanan), jari-jarinya bergerak kearah kanan, kea rah yang dikontrol oleh otak kiri, yakni otak yang tidak tahu-menahu mengapa ia melakukan gerakan tersebut.

Nah, sekarang bagaimanakan melakukan re-called ke semua bagian otak ?

Hasil diatas menunjukkan bahwa orang memiliki beragam channel untuk belajar. Oleh karena itu, agar siswa dapat mencapai hasil yang maksimal, semua bagian harus direkrut, fungsi otak kiri maupun fungsi otak kanan, sama banyaknya pada proses asimilasi informasi dan ekspresinya. Semakin banyak pesan yang disampaikan keotak secara keseluruhan, maka pesan akan dapat menancap dalam pikiran yang lebih kuatdan lebih efesien. Sebuah pendekatan multi sensorik, bukan hanya pendekatan berbahasa, namun juga berupa objektivitas nyata yang ditandai dengan berbagai aktivitas pandangan mata, bentuk-bentuk pengalaman konkrit. Multisensorik tersebut akan menghasilkan penggabungan konsep yang lebih baik. Informasi yang diterima oleh setiap manusia (khususnya anak) memiliki zona ingatan yang berbeda-beda, dan memiliki banyak titik acuan sebagai pengumpul informasi yang akan di ingat.

Sebagai contoh misalnya kita menemukan seorang siswa yang sering membuat onar di kelas, namun tidak sampai membuat sesuatu yang berakibat fatal terhadap teman atau lingkungannya sehingga ia harus di beri hukuman. Kita telah berusaha untuk menegur beberapa kali, tetapi teguran kita dianggap sebuah siaran radio, "dengarkan dan selesai ". Ia terus mengganggu kelas ketika guru tidak ada, karena ia berfikir bahwa yang ia lakukan itu tidak berakibat buruk, baik dimasa sekarang maupun di masa yang akan datang. Untuk membuat anak tersebut mengerti terhadap apa yang kita sampaikan dalam teguran kita, anak tersebut kita ajak bicara empat mata. Kemudian ia diminta untuk berdiri didepan meja guru, dan ia diminta melangkah menuju pintu kelas, dengan posisi tubuh dan wajah tetap menghacap kepada guru. Ia harus melangkah selangkah demi selangkah setiap kali kita menyebutkan perbuatan yang mengganggu kelas yang ia lakukan. Misalnya anda mengatakan: "Kalau saya minta kamu berhenti berkata-kata dengan temanmu di kelas, kamu tetap saja bicara, jadi amb il satu langakh keluar menuju pintu itu.". Dengan demikian, ia akan merasa bahwa ia akan semakin jauh dari kita dan semakin dekat dengan pintu. Dalam keadaan demikian, ia akan menyadari bahwa perbuatannya benar-benar tidak dapat dimaafkan sehingga perbuatannya itu telah membuat jarak antara dia dan guru. Ia kemudian akan merasa bahwa perbuatannya dapat menyebabkan ia dihukum. Jika perlu, kita sebutkan lebih banyak lagi, kelakuan buruk yang pernah ia lakukan di kelas, sehingga ia terus melangkah samapi ia berada diruang luar kelas. Ia perlu dibiarkan berada di luar kelas untuk beberapa saat sampai ia bias benar-benar merasakan akibat dari apa yang ia lakukan di kelas. Setelah itu ia diminta melangkah mendekati guru , selangkah demi selangkah, setiap kali ia mendengar guru menyebutkan hal-hal yang dapat ia lakukan untuk memperbaiki sikapnya. Setiap kali kita menyebutkan satu perbuatan baik, maka ia melangkah satu langkah mendekat. Dengan merasakan efek yang berbeda dari perilaku yang berbeda tadi, ia akan lebih termotivasi untuk merubah perilakunya menjadi baik.

Karena kegiatan di atas menyadarkan memori implisitnya melalui gerakan tubuh, kita tidak perlu lagi untuk menasehatinya secara verbal akibat positif dan negative dari perilaku yang akan ia pilih, karena ia sudah menyadarinya. Selain daripada itu, masing-masing gerakan yang ia lakukan secara efektif memiliki penancap lain, yang memasukkan informasi ke beberapa bagian dari otak. Prosesnya hampir sama diibaratkan memiliki beberapa kunci pintu rumah yang disembunyika ditempat yang berbeda-beda. Dengan kunci yang sama yang berbeda tempat disembunyikannya tersebut, hampir dapat dipastikan bahwa jika kita kehilangan atau lupa tempat penyimpanannya, maka kita dapat mencari ditempat lain yang masih kita ingat.

Resource : Danie Beaulieu at Impact Techniques in The Classroom in Crown House Publishing Company LLC, CT 06850 , USA

0 komentar:

Poskan Komentar