STUDI KARAKTERISTIK SISTEM USAHATANI DI KAWASAN DAERAH ALIRAN SUNGAI

Pengembangan usahatani lahan kering sering dikaitkan dengan upaya dan tindakan konservasi tanah dan air di daerah aliran sungai (DAS), namun masih belum berhasil sebagaimana yang diharapkan. Penyebabnya antara lain karena faktor non teknis dalam diri petani kurang diperhitungkan. Dalam implikasi kebijakan sering meremehkan pengetahuan teknis yang dimiliki petani (indigeneus technology). Sebelum dilakukan inovasi diperlukan studi karakterisasi lokasi untuk mendapatkan rancang bangun teknologi yang sesuai dengan karakteristik sumberdaya alam dan kebutuhan serta kemampuan petani. Metode yang dipakai melalui pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA), lokasi yang ditetapkan adalah desa Cacaban Lor, kecamatan Bener, kabupaten Purworejo. Hasil pengkajian di desa Cacaban yang terletak pada ketinggian 400 – 500 m dpl, merupakan daerah tangkapan air (catchment area), sehingga banyak terbentuk alur parit yang bermuara di sungai Juih (Sub Das Juweh), kemudian mengalir ke sungai Bogowonto. Lahan untuk usahatani didominasi oleh jenis tanah andosol. Status hara tanah (lahan kering) terutama unsur fosfat dan kalium termasuk rendah masing-masing 28,8 mg/100 g dan 50,5 mg/100 g,.dengan kemiringan 25 - 40%. Usahatani didominasi pertanaman jahe, kencur, jagung dan ketela pohon yang ditanam dengan pola tumpang sari. Tanaman tahunan yang dominan adalah kelapa, melinjo, pisang, duku, sengon, mahoni, bambu dan jati. Ternak yang diusahakan adalah kambing dan sapi. Kendala utama yang dihadapi petani adalah terbatasnya asset usahatani. Permasalahan budidaya tanaman utamanya adalah penyakit busuk rimpang pada jahe, keterbatasan benih unggul dan rendahnya penggunaan pupuk nitrogen pada usahatani jagung, jahe dan kencur. Kelembagaan dalam arti organisasi usahatani tidak ada, sehingga dalam memenuhi kebutuhan saprodi dilakukan secara individu sesuai dengan kemampuan modal kerja yang dimiliki. Pengetahuan konservasi tanah dan airbagi petani sudah familiartetapi masih terbatas dalam bertindak karena keterbatasan biaya dan tenaga kerja. Hasil studi pemahaman, telah disepakati cara pemecahan masalah aspek teknis dengan membuat petak pengkajian usahatani padi yang dikaitkan dengan pembuatan guludan sesuai kontur, perbaikan teknologi budidaya jagung dan jahe secara tumpangsari yang disisipi tanaman cabe, pada bibir teras ditanami pakan ternak. Komoditas baru yang diintroduksikan adalah nilam yang diperkirakan mempunyai prospek pasar. Teknologi konservasi tanah dan air yang diintroduksi adalah pembuatan dam parit sebanyak 2 buah serta pembuatan rorak. Manfaat dam parit dan rorak adalah untuk menghambat laju run off dan menampung air hujan, sekaligus akan dimanfaatkan untuk mengairi pertanaman. Aspek sosial dan ekonomi yang diintroduksikan adalah pembentukan kelembagaan usahatani dimana kepengurusannya sebagian dimotori oleh perempuan desa. Orientasi kelembagaan diarahkan pada aspek ekonomi terutama dalam pengadaan saprodi dan simpan pinjam untuk kegiatan non farm
Kata kunci: Daerah aliran sungai, sistem usahatani

0 komentar:

Poskan Komentar