KECERDASAN EMOSIONAL

I. PENDAHULUAN

Banyak kejadian-kejadian yang sudah kita lihat selama ini seperti yang sering terjadi di lingkungan kita sendiri atau pun di dunia kerja antara lain :

- Pertengkaran antar pelajar

- Depresi

- Broken home

- Tidak menghargai orang tua atau guru/dosen

- Membuat keputusan yang tidak bijaksana

- KKN

- Selingkuh di tempat kerja

- Dll

Maka membangun keterampilan ataupun kecerdasan emosional anak sejak dini menjadi sangat penting kalau kita ingin menjadikan anak memiliki karakter emsional anak yang baik.

Dalam pembahasan kali ini kita akan memcoba membahas tentang kecerdasan emosional yang meliputi : Definisi emosi dan kecerdasan emosional, Apakah otak emosional, Ciri-ciri kecerdasan emosional, Kecakapan emosional, Deteksi status kesehatan emosional, Self science sehingga diharapkan mahasiswa mampu mengenali kecerdasan emosionalnya dalam menjalani kehidupannya sehari-hari, sehingga terbentuk karakter yang baik.

  1. II. PENYAJIAN
  2. A. Apakah kecerdasan emosional itu??

Istilah kecerdasan emosional pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire Amerika untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Kualitas-kualitas ini antara lain adalah :

- Empati (kepedulian)

- Mengungkapkan dan memahami perasaan

- Mengendalikan amarah

- Kemandirian

- Kemampuan menyesuaikan diri

- Disukai

- Kemampuan memecahkan masalah antar pribadi

- Ketekunan

- Kesetiakawanan

- Keramahan

- Sikap hormat

Tidaklah mudah untuk membentuk pribadi dengan kecerdasan emosional yang ideal, perlu kesadaran dan ketelitian. Usaha membentuk kecerdasan emosional ini bukanlah suatu yang harus membebani orang tua dalam mendidik anaknya, dan tidak ada orang tua yang sempurna. Satu hal penting yang perlu diingat adalah bahwa satu perubahan saja dapat memberikan efek yang luar biasa pada kehidupan anak kita. Dengan kata lain, menekankan pada pada salah satu aspek (dalam kecerdasan emosional) akan mendatangkan efek bola salju.

Dengan melihat kualitas-kualitas yang ditunjukkan dalam kecerdasan emosional, kita akan sepakat bahwa karakter-karakter seperti inulah yang diharapkan oleh kita sebagai mahluk sosial dan dengan memiliki beberapa kualitas tersebut seorang anak atau orang dewasa akan dapat menghadapi permasalahan-permasalahan hidup yang semakin kompleks dan berhubungan dengan orang lain.

Ada banyak perbedaan pendapat tentang apa yang dimaksud dengan kecerdasan emosional. Secara relatif bidang ini dianggap masih baru dalam Psikologi dan masih mencari bentuknya yang lebih mantap. Secara sederhana saya mencoba memahaminya sebagai:

  • kemampuan mengenali emosi diri sendiri
  • kemampuan mengendalikan emosi dan mengambil tindakan yang tepat
  • kemampuan mengenali emosi orang lain
  • kemampuan bertindak dan berinteraksi dengan orang lain

Dengan demikian orang yang cerdas secara emosional adalah orang yang memahami kondisi dirinya, emosi-emosi yang terjadi, serta mengambil tindakan yang tepat. Orang tersebut juga secara sosial mampu mengenali dan berempati terhadap apa yang terjadi pada orang lain dan menanggapinya secara proporsional.

  1. B. Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi

Menurut Bambang Sujiono, Yuliani Nurani Sujono (2001 : 115), ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi, yaitu :

  1. Faktor Pematangannya

Perkembangan kelenjar endoktrin berperan dalam pematangan perilaku emosional. Bayi secara relatif kekurangan produksi endoktrin yang diperlakukan untuk menopang reaksi fisiologis terhadap stress. kelenjar adrenalin yang memainkan peran utama pada emosi mengecil secara tajam segera setelah bayi lahir. Tidak lama kemudian kelenjar itu mulai membesar lagi, pembesarannya melambat pada usia 5 – 11 tahun, dan membesar lebih pesat berusia 16 tahun, kelenjar tersebut mencapai ukuran semula seperti pada saat lahir. hanya sedikit adrenalin yang diproduksi dan dikeluarkan sampai saat kelenjar itu membesar, pengaruhnya penting terhadap keadaan emosional pada masa kanakkanak.

  1. Faktor Belajar

Anak harus siap untuk belajar sebelum tiba saatnya masa belajar. sebagai contoh bayi yang baru lahir tidak mampu mengekspresikan kemarahan kecuali dengan menangis, dengan adanya pematangan sistem syaraf dan otot, anak-anak mengembangkan potensi untuk berbagai macam reaksi potensial mana yang akan digunakan untuk menyatakan kemarahan.

  1. Faktor Penunjang Perkembangan Emosi

- Belajar secara coba dan ralat

- Belajar dengan cara meniru

- Belajar dengan cara mempersamakan diri

- Belajar melalui pengkondisian

- Pelatihan

Tingkat Kecerdasan Emosi Anak Usia 4 – 6 Tahun

Menurut Subyantoro (2002 : 107), kecerdasan emosi dibagi ke dalam 4 tingkatan, yaitu :

  1. Tingkat kecerdasan emosi dalam mengenali emosi diri

Berdasarkan deskripsi data hasil penelitian tingkat kecerdasan emosi anak usia 4 – 6 tahun dalam mengenali rasa takut dan rasa bersalah.

  1. Tingkat kecerdasan emosi anak dalam mengelola dan mengekspresikan emosi

Berdasarkan penelitian, tingkat kecerdasan emosi anak usia 4 – 6 tahundalam mengelola dan mengekspresikan emosi dapat dilihat melalui perilaku menenangkan dan mengekspresikan wajah, sebagian besar anak yang mampu menenangkan diri menunjukkan bahwa anak memiliki tingkat kecerdasan emosi yang cukup tinggi.

  1. Tingkat kecerdasan emosi anak dalam memotivasi diri sendiri

Berdasarkan hasil penelitian, tingkat kecerdasan emosi anak usia 4 – 6 tahun dalam memotivasi diri sendiri, dapat dilihat dari perilaku kemampuan mengeluarkan pendapat dan memiliki ketekunan terhadap sesuatu, anak yang kurang mampu untuk mengeluarkan pendapat menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan emosi cukup rendah begitu pula sebaliknya.

  1. Tingkat kecerdasan emosi anak dalam mengenali emosi orang lain

Berdasarkan hasil penelitian, tingkat kecerdasan emosi anak usia 4 – 6 tahun dalam mengenali emosi orang lain, dapat dilihat melalui perilakukemampuan memiliki rasa empati, dan dapat dilihat melalui perilaku kemampuan mengendalikan emosi orang lain dan bersikap santun terhadap orang lain.

  1. C. Fungsi Dan Ciri Kecerdasan Emosi

Kecerdasan emosi juga memiliki fungsi atau kegunaan sebagai berikut :

  1. Dengan adanya emosi manusia dapat menunjukkan keberadaannya dalam masalah duniawi
  2. Emosi sebagai titik pusat manusia
  3. Emosi menuntut kita menghadapi saat-saat kritis dan tugas-tugas yang terlampau riskan bila hanya diserahkan pada otak
  4. Emosi menjadi pembimbing yang bijaksana dalam perjalanan Evolusi yang panjang
  5. Emosi memberi masukan dan informasi kepada proses pikiran rasional dan pikiran emosional
  6. Emosi mampu untuk melepaskan suasana hai yang tidak mengenakkan.

Ciri-ciri kecerdasan emosi

  1. Menurut Richard Hernstein dan Charles Murray ciri-ciri kecerdasan emosional : kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, berempati, dan berdo’a.
  2. Menurut Gardner : kemampuan untuk membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temparemen, motivasi dan hasrat orang lain.
  3. Orang yang memiliki kecerdasan emosional cenderung dapat mengenali dirinya sendiri.

Sejak kapan kecerdasan emosional perlu ditanamkan pada anak???

Keberhasilan kecerdasan emosional seseorang berpengaruh pada kesuksesan seseorang pada masa yang akan datang, juga berpengaruh pada prestasi belajar dan bekerja. Hal tersebut sudah harus menjadi kebiasaan sejak kecil, sehingga dapat dikatakan bahwa kecerdasan emosional sudah harus diberikan sejak usia anak mengenal tantangan di dunia luar kehidupan dirinya,yaitu sejak balita.

Kecerdasan emosional tidak hanya dibutuhkan di dalam proses belajar dibangku sekolah atau kehidupan rumah tangga tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih luas sampai ke jenjang kerja. Dan apabila kita pelajarai leboh dalam satu persatu kecerdasan emosional tersebut. Kita akan temukan banyak manfaat dalam kehidupan kita bermasyarakat.

Daniel Goleman (Emotional Intelligence) menyebutkan bahwa kecerdasan emosi jauh lebih berperan ketimbang IQ atau keahlian dalam menentukan siapa yang akan jadi bintang dalam suatu pekerjaan. Lewat suatu penelitian terhadap lebih dari 500 perusahaan, ia menyimpulkan bahwa tidak seperti IQ – EQ dapat diperbaiki, dan kita semua punya potensi untuk melakukannya.

  1. D. Mengembangkan Kecerdasan Emosi Anak

Kecerdasan emosional sudah dapat dilatih atau dikembangkan sejak usia dini sesuai dengan perkembangan jiwa anak untuk mengembangkan emotional intelligence pada anak-anak usia dini, ada beberapa hal-hal yang harus diperhatikan oleh orang tua guru maupun pengasuhnya, yaitu :

  1. Agar anak mengerti perbedaan antara yang “baik” dan yang “buruk”anak harus mengembangkan kebiasaan berbuat atau berperilaku baik. Misalnya : Tidak menganggu atau memikul teman, tidak merebut mainan teman/adil.
  2. Agar dapat mengembangkan sikap peduli, dermawan atau suka menolong, ramah dan pemaaf Misalnya : Kalau ada teman terpeleset atau jatuh, menolong tidak menertawakan.
  3. Anak dapat merasakan reaksi emosi negative Misalnya : Rasa malu, merasa bersalah, dan merasa rendah bila melanggar aturan moral berbagai emosi negatif mendorong anak untuk belajar dan mempraktekkan perilaku-perilaku sosial. Misalnya :
  4. Takut dihukum
  5. Kekhawatiran tidak diterima oleh orang lain
  6. Rasa kekhawatiran tidak diterima oleh orang lain
  7. Rasa bersalah bila mengalami kegagalan
  8. Rasa malu.

4. Dua emosi positif utama yang membentuk perkembangan moral adalah:

  1. Empati (merasakan apa yang dirasakan orang lain) Empati merupakan dasar semua keterampilan sosial, sedikit demi sedikit anak harus diperkenalkan tentang pentingnya berempati yaitu, kemampuan memandang suatu masalah dari sudut pandang orang lain. Kemampuan berempati ini harus dikembangkan oleh orang tua. Psikolog perkembangan Martin Hoffman menyebutkan ada beberapa tahapan empati pada anak, yaitu : 1). Empati global/empati tahap pertama Tahap ini merupakan tahap ketidakmampuan anak untuk membedakan antara diri sendiri dan dunianya kita dapat melihat tahap empati global ini pada anak yang belum berusia 5 tahun. Bayi akan mencoba, bayi lain yang sedang menangis dan sering menangis. Sampai ikut menangis ia menafsirkan rasa tertekan bayi lain sebagai rasa tekanannya. 2). Empati tahap kedua Tahap ini pada anak usia satu dan dua tahun, dimana mereka sudah dapat melihat dengan jelas bahwa kesusahan orang lain bukanlah kesusahan mereka sendiri. psikolog M. Radke-Tarrow dan A. Zahn-Waxler melaporkan bahwa dalamsebuah studi terhadap anak-anak balita, sebagian bereaksi terhadap kesedihan anak lain melalui ungkapan rasa empati dan usaha langsung untuk membantu.3). Empati tahap ketiga Tahap ini lebih terlihat menunjukkan reaksi negative kepada anak-anak yang sedang kesakitan atau sedih, ada juga yang sengaja menyingkir dari anak yang sedang menangis dan ada yang sampai marah-marah dan memikul anak itu 4). Usia 6 tahun ditandai dengan dimulainya tahapan empati Kognitif Tahap ini merupakan kemampuan memandang sesuatu dari sudut pandang orang lain, empati kognitif tidak memerlukan komunikasi emosi, karena dalam usia ini seorang anak mengembangkan acuan tentang bagaimana perasaan seseorang yang sedang dalam situasi yang menyusahkan entah diperlihatkan atau tidak. 5). Menjelang berakhirnya masa kanak-kanak (10 – 12 tahun) anak-anak mengembangkan empati mereka tidak hanya kepada orang yang mereka kenal atau mereka lihat secara langsung, namun juga termasuk kelompok orang yang belum mereka jumpai pada tahapan ini disebut tahapan “Empati Abstrak”.
  2. Naluri Pengasuhan (kemampuan untuk menyayangi) Keberhasilan perkembangan moral berarti dimilikinya emosi dan perilaku yang mencerminkan kepedulian orang lain : saling berbagai, tolong-menolong, saling mengasihi, tenggang rasa, keinginan untuk peduli, dan menyenangi orang lain, bahkan sampai mengorbankan diri sendiri. Kerja sama diantara sesama anggota sangat penting dan perlu sekali untuk kelangsungan hidup, karena segala aspek yang ada di dunia ini serba saling tergantung.
  3. Harus membuat peraturan keluarga yang konsisten

Anak usia 3-5 tahun sudah dapat diminta untuk membantu mengerjakan tugas ringan. Misalnya : memasang sendok garpu di meja makan, tanggung jawab harus ditingkatkan sesuai dengan usia dan tidak diimbali dengan hadiah atau uang saku. Anak harus diajari membantu orang tua, semata-mata karena membantu orang lain adalah benar.

  1. Mencatat perbuatan baik yang dilakukan anggota keluarga setiap hari Misalnya :

- Membukakan pintu bagi orang lain

- Menengok teman yang sakit

- Mengelap meja kursi setiap pagi

- Mengajar anak untuk bersikap peduli harus melalui praktek,

- orang tua memberi contoh.

  1. Melatih kejujuran

Anak usia 4 tahun, mulai mengerti bahwa bohong yang dilakukan dengan sengaja untuk mengelabuhi orang lain adalah perbuatan buruk, anak kecil berbohong dengan maksud untuk menghindari hukuman dan untuk mendapatkan yang diinginkan, walaupun bohong dapat dimaklumi, dari segi perkembangan anak, tetapi bila menjadi kebiasaan akan menjadi masalah.

  1. Emosi moral negatif (rasa malu dan rasa bersalah) Emosi negatif seperti rasa malu dan rasa bersalah ternyatalebih berdayaguna daripada emosi positif ketika seseorang belajar mengubah perilakunya.

- Memanfaatkan rasa malu

Upaya mempermalukan harus diberikan bila seorang anak tak memiliki reaksi emosi setelah melakukan sesuatu yang seharusnya membuat malu “upaya mempermalukan” dipertimbangkan sebagai cara pengubahan perilaku bila cara pendisiplinan yang lebih lunak dianggap gagal.

- Memanfaatkan rasa bersalah

Untuk mengendalikan perilaku anak dibanding ancaman atau rasa takut dari luar, rasa bersalah makin efektif untuk mengendalikan hukuman perilaku anak dibanding ancaman hukuman.

Bagaimana kita dapat meningkatkannya?

  1. Membaca situasi

Dengan memperhatikan situasi sekitar Anda, Anda akan mengetahui apa yang harus dilakukan.

  1. Mendengarkan dan menyimak lawan bicara

Anda yang selalu merasa benar punya kecenderungan untuk tidak mendengarkan kata orang lain. Luangkan waktu untuk melakukannya, maka Anda akan tahu apa yang sebenarnya terjadi.

  1. Siap berkomunikasi

Jurus ini memang paling ampuh. Lakukan selalu komunikasi biar pun pada situasi sulit.

  1. Tak usah takut ditolak

Ada kalanya orang ragu-ragu bertindak karena takut ditolak orang lain. Sebelum berinisiatif, sebenarnya Anda cuma punya 2 pilihan: diterima atau ditolak. Jadi, siapkan saja diri Anda. Yang penting usaha.

  1. Mencoba berempati

EQ tinggi biasanya didapati pada orang-orang yang mampu berempati atau bisa mengerti situasi yang dihadapi orang lain. Caranya, apalagi kalau bukan mendengarkan dengan baik ?

  1. Pandai memilih prioritas

Ini perlu supaya Anda bisa memilih pekerjaan apa yang mendesak, dan apa yang bisa ditunda.

  1. Siap mental

Sikap mental tempe itu sudah ketinggalan zaman. Situasi apa pun yang akan dihadapi, Anda mesti menyiapkan mental sebelumnya. Ingat, tak ada kesukaran yang tak bisa ditangani. Paling tidak, Anda sudah berusaha.

  1. Ungkapkan lewat kata-kata

Bagaimana orang bisa membaca pikiran Anda kalau Anda diam seribu bahasa? Ungkapkan pikiran Anda lewat kata-kata yang jelas.

  1. Bersikap rasional

Betul, kecerdasan emosi berhubungan dengan perasaan. Tapi, tetap memerlukan pola pikir yang rasional, apa lagi dalam pekerjaan.

  1. Fokus

Konsentrasikan diri Anda pada suatu masalah yang perlu mendapat perhatian. Jangan memaksa diri melakukannya dalam 4-5 masalah secara bersamaan. Dua atau 3 mungkin masih bisa ditangani, tapi lebih dari itu, Anda bisa kehabisan energi.

  1. E. Kecerdasan Emosional Dan Realita Dunia Kerja

Dalam bukunya Daniel Goleman menyebutkan disamping Kecerdasan Intelektual (IQ) ada kecerdasan lain yang membantu seseorang sukses yakni Kecerdasan Emosional (EQ). Bahkan secara khusus dikatakan bahwa kecerdasan emosional lebih berperan dalam kesuksesan dibandingkan kecerdasan intelektual. Klaim ini memang terkesan agak dibesarkan meskipun ada beberapa penelitian yang menunjukkan kebenaran ke arah sana. Sebuah studi bahkan menyebutkan IQ hanya berperan 4%-25% terhadap kesuksesan dalam pekerjaan. Sisanya ditentukan oleh EQ atau faktor-faktor lain di luar IQ tadi.

Jika kita melihat dunia kerja, maka kita bisa menyaksikan bahwa seseorang tidak cukup hanya pintar di bidangnya. Dunia pekerjaan penuh dengan interaksi sosial di mana orang harus cakap dalam menangani diri sendiri maupun orang lain. Orang yang cerdas secara intelektual di bidangnya akan mampu bekerja dengan baik. Namun jika ingin melejit lebih jauh dia membutuhkan dukungan rekan kerja, bawahan maupun atasannya. Di sinilah kecerdasan emosional membantu seseorang untuk mencapai keberhasilan yang lebih jauh.

Berdasarkan pengalaman saya sendiri dalam proses rekrutmen karyawan, seseorang dengan nilai IPK yang tinggi sekalipun dan datang dari Universitas favorit tidak selalu menjadi pilihan yang terbaik untuk direkrut. Ada kalanya orang yang pintar secara intelektual kurang memiliki kematangan secara sosial. Orang seperti ini bisa jadi sangat cerdas, memiliki kemampuan analisa yang kuat, serta kecepatan belajar yang tinggi. Namun jika harus bekerja sama dengan orang lain dia kesulitan. Atau jika dia harus memimpin maka akan cenderung memaksakan pendapatnya serta jika harus menjadi bawahan punya kecenderungan sulit diatur.

Orang seperti ini mungkin akan melejit jika bekerja pada bidang yang menuntut keahlian tinggi tanpa banyak ketergantungan dengan orang lain. Namun kemungkinan besar dia akan sulit bertahan pada organisasi yang membutuhkan kerja sama, saling mendukung dan menjadi sebuah “super team”, bukan “super man”.

Tentunya tidak semua orang yang cerdas secara intelektual seperti itu. Dan bukan berarti kecerdasan intelektual tidak penting. Dalam dunia kerja kecerdasan intelektual menjadi sebuah prasyarat awal yang menentukan level kemampuan minimal tertentu yang dibutuhkan. Sebagai contoh beberapa perusahaan mempersyaratkan IPK mahasiswa minimal 3.0 atau 2.75 sebagai syarat awal pendaftaran. Hal ini kurang lebih memberikan indikasi bahwa setidaknya kandidat tersebut telah belajar dengan baik di masa kuliahnya dulu.

Setelah syarat minimal tersebut terpenuhi, selanjutnya kecerdasan emosional akan lebih berperan dan dilihat lebih jauh dalam proses seleksi. Apakah dia punya pengalaman yang cukup dalam berorganisasi? Apakah calon tersebut pernah memimpin atau dipimpin? Apa yang dia lakukan ketika menghadapi situasi sulit? Bagaimana dia mengelola motivasi dan semangat ketika dalam kondisi tertekan? Dan banyak hal lagi yang akan diuji.

Dalam dunia kerja yang semakin kompetitif, kemampuan seseorang menangani beban kerja, stres, interaksi sosial, pengendalian diri, menjadi kunci penting dalam keberhasilan. Seseorang yang sukses dalam pekerjaan biasanya adalah orang yang mampu mengelola dirinya sendiri, memotivasi diri sendiri dan orang lain, dan secara sosial memiliki kemampuan dalam berinteraksi secara positif dan saling membangun satu sama lain. Dengan cara ini orang tersebut akan mampu berprestasi baik sebagai seorang individu maupun tim.

Beberapa Karakteristik Orang Yang Sukses dalam Pekerjaan

Jika kita melihat orang yang sukses dalam pekerjaan, ada beberapa karakteristik umum yang mirip satu sama lain:

  • Bekerja dengan sepenuh hati dan riang
  • Memiliki prestasi dalam pekerjaan sebagai individu dan tim
  • Mampu mengelola konflik
  • Mampu menghadapi dan menjalankan perubahan
  • Memiliki empati terhadap atasan, bawahan dan rekan kerja
  • Mampu membaca dan mengenali emosi diri sendiri maupun orang lain serta mengambil tindakan yang tepat dalam menanganinya

Jika kita perhatikan, maka hampir semua daftar di atas akan dimiliki oleh orang yang cerdas secara emosional. Khusus untuk item nomor dua diperlukan kecerdasan intelektual yaitu bagaimana seseorang bisa menjadi ahli di bidangnya. Memiliki pengetahuan dan skill yang mumpuni agar bisa berprestasi secara individu. Selanjutnya kecerdasan emosional akan membantunya berprestasi pula sebagai tim bersama rekan kerja, bawahan maupun atasannya.

Secara sederhana, ada dua kelompok keahlian yang dimiliki orang yang cerdas secara emosional:

  1. Kemampuan Pribadi
    • Pengenalan diri (Self Awareness), memahami emosi, batasan yang dapat dicapai, kemampuan, kekuatan dan kelemahan.
    • Manajemen diri (Self Management), mampu mengendalikan diri menghadapi berbagai situasi
    • Orientasi Tujuan (Goal Orientation), mengetahui apa yang menjadi tujuannya dan menyusun langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapainya.
  2. Kemampuan Sosial
    • Empati: mengenali perasaan dan emosi orang lain serta mampu menempatkan diri dalam posisi tersebut.
    • Keahlian sosial (Social skills): mampu berinteraksi dengan orang lain, bekerjasama, mengelola konflik serta bersikap dengan tepat terhadap berbagai situasi perasaan dan emosi orang lain.
  1. F. Melatih Kecerdasan Emosional

Sejak kecil kita telah memiliki emosi dan berinteraksi dengan emosi tersebut. Kebiasaan kita dalam menanganinya akan terus terbawa dan menjadi karakter seseorang ketika dewasa. Dengan demikian, alangkah berbahagianya seorang anak yang memiliki orangtua yang peka dan pelatih emosi yang baik. Anak seperti ini akan berlatih menangani dirinya sejak masa kecil. Untuk topik ini insya Allah akan saya posting dalam kesempatan yang akan datang.

Bagaimana jika ketika dewasa kita kurang memiliki kematangan secara emosional? Jawabannya adalah kecerdasan tersebut dapat dilatih. Cara paling awal adalah dengan mengenali emosi diri Anda ketika terjadi. Kenali apa saja yang berkecamuk dalam dada Anda dan suara-suara yang memerintahkan Anda untuk bertindak. Tahapan berikutnya adalah melakukan kontrol diri terhadap berbagai bentuk emosi yang ada. Bagaimana Anda mengendalikan diri ketika marah, tidak terpuruk ketika merasa kecewa, dapat bangkit dari kesedihan, mampu memotivasi diri dan bangkit ketika tertekan, mengatur diri dari kemalasan, menetapkan target yang menantang namun wajar, serta bisa menerima keberhasilan maupun kegagalan dengan lapang dada.

Jika hal tersebut sudah Anda kuasai, selanjutnya adalah melatih kematangan sosial. Bagaimana Anda berempati – merasakan apa yang dirasakan orang lain – sehingga bisa memberi respon yang tepat terhadap sinyal-sinyal emosi yang ditampilkan orang lain. Kematangan ini akan mudah dikembangkan jika Anda aktif terlibat dalam organisasi, bekerjasama dengan orang lain dan memiliki interaksi sosial yang intens. Latihlah kemampuan Anda dalam memimpin dan dipimpin, memotivasi orang lain, serta mengatasi dan mengelola konflik.

Bagi saya pribadi, memahami emosi sangat membantu dalam mengenali diri dalam tahap awal. Selanjutnya adalah mengenali dan mengendalikan oknum-oknum yang saling berperang dalam diri: berbagai keinginan, kesombongan, iri hati, dengki, kebencian, amarah dan sifat-sifat lainnya. Cerdas secara emosional akan membantu Anda pada tahap awal untuk mengenali diri dengan lebih baik, sekaligus bersikap positif dan melatih kematangan menghadapi kehidupan, apapun yang terjadi: susah atau senang, sukses atau gagal, mudah atau sulit.

Self Science

Remaja di Indonesia, sebagai generasi sekarang, banyak yang mengalami kesulitan secara emosional. Kemerosotan emosi ini berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian disebabkan oleh kurangnya perhatian keluarga, sekolah, dan masyarakat. Perilaku sosial emosional yang muncul berupa perilaku kesepian dan pemurung, perilaku beringas dan kasar, perilaku rendahnya sopan santun, perilaku cemas dan gugup, dan perilaku impulsif, yang dilakukan remaja dan anak-anak. Kondisi ini menyiratkan betapa pentingnya aspek emosi dan sosial dikembangkan kepada siswa khususnya siswa sekolah menengah pertama yang berada pada kelompok usia remaja awal. Pada usia sekolah menengah pertama ini, para siswa sedang mencari identitas diri yang seringkali menimbulkan problem-problem emosional. Apabila problem emosi ini berlarut-larut tanpa teratasi dengan baik maka dapat berakibat terganggunya aktivitas siswa sebagai pelajar dan anggota masyarakat.

Problem emosi siswa-siswa ini diduga karena meraka tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang perkembangan emosi dan keterampilan mengembangkan emosi. Pembelajaran emosi dapat diberikan melalui berbagai kegiatan baik di sekolah maupun di luar sekolah. Di sekolah, pengembangan emosi dapat diberikan melalui program bimbingan dan konseling. Penerapan model pengembangan self-science merupakan salah satu solusi stimulasi untuk mengembangkan kecerdasan emosional. Penerapan model pengembangan self-science ini dapat dilakukan dalam kegiatan layanan bimbingan di kelas maupun di luar kelas.

Bagaimana kecerdasan emosional bekerja.

Mungkin kita pernah mendengar apa itu Kecerdasan Emosional, itu dilatihkan oleh berbagai maca lembaga. Contoh, apabila bertemu dengan orang “keep your eyes contact” artinya tatap matanya agar diberi perhatian, itu adalah Kecerdasan Emosional. Contoh kedua, ketika kita senyum, bibir kanan dua centi bibir kiri dua centi, itu harus seimbang. Tidak boleh bibir kanan lebih panjang ketika kita tersenyum. Mari kita coba senyum dengan bibir kanan 3 centi dan bibir kiri 2 centi, lihatlah di kaca, apa yang akan terjadi.

Selanjutnya disaat kita melihat seseorang yang baru pertama kali bertemu maka jangan menatap dengan tajam tataplah dengan lembut sambil tersenyum. Ini adalah Kecerdasan Emosional.

Ketika kita berbicara dengan orang lain jangan banyak omong, tapi biarkan orang lain bicara dan ketika ia berbicara anda harus memberi perhatian, tangan jangan dilipat di depan dada. Mengapa tidak boleh karena itu artinya “Dipensif” yang artinya “Saya tidak mau dengar” Ketika orang lain berbicara kita harus menghadap ke arah dia, jangan menyamping atau miring. Kemudian jangan memberikan pujian yang terlalu berlebihan, jadi ketika ia berbicara anda kita jangan berkata “Wah…. Hebat” itu salah, yang harus anda katakan adalah “begitu ya… saya baru dengar, saya sangat tertarik. Begitulah ini adalah ilmu Kecerdasan Emosional. Kemudian ajukan pertanyaan-pertanyaan supaya orang lain bercerita tentang dirinya. Contohnya Pak Azis bisa jadi Presiden Direktur di PT air putih, bagaimana caranya..?

Dia pasti dengan bangganya akan menceritakan hal itu, dengan semangatnya dia akan bercerita kepada kita, dan ingat setiap 3 menit kita harus menganggukkan dagu (oohh gitu ya..) dengan cara seperti itu makan kita akan meraih hatinya, ketika kita telah meraih hatinya baru kita ajukan proposal atau keinginan kita terhadapnya. Ini adalah contoh teknik-teknik Kecerdasan Emosional.

Ada seseorang yang ingin memasarkan Safety Box ke seorang pengusaha hotel, sebut saja namanya Andi. Saat itu Andi sebagai seorang Pegawai Negeri yang kita tahu gajinya tidak seberapa, oleh sebab itu Andi ingin mencari uang tambahan maka ia mencoba memasarkan Safety Box ke pengusaha kaya yang mempunyai banyak hotel di kota Bali. Sebelum bertemu dengan pengusaha itu Andi mempelajari bukunya bahwa keputusan di dalam bisnis 80 % adalah Emosional dan 20 % adalah Intelektual maka dipelajari jurus-jurus tadi. Jika pertama bertemu maka mata harus santai dan lembut, dan senyum harus seimbang antara bibir kiri dan bibir kanan, kemudian siap badan tegak dan ketika orang itu berbicara kita harus menatapnya dengan tegap, dan tangan tidak boleh di lipat didepan dada. Ketika Andi dipersilahkan masuk ke ruangan Pengusaha tersebut, ia melihat sekeliling ruangan yang luas itu terdapat banyak foto-foto pengusaha tersebut dengan para pejabat dan dengan rekan-rekan bisnisnya yang lain. Pengusaha tersebut mempersilahkan Andi untuk berbicara 10 menit, tetapi Andi meminta waktu 2 menit saja untuk bertanya masalah pribadi, pengusaha itu pun menyanggupinya. Andi mulai melancarkan jurusnya.Pertama kali saya ingin mengucapkan selamat dulu karena bapak telah dilantik sebagai Ketua sebuah Organisasi sosial yang terkemuka.“Loh anda tahu darimana” Pengusaha tersebut mulai terpancing “Saya kan juga ikut mengikuti perkembangan politik” nampaknya pengusaha tersebut sudah terkena ilmu Kecerdasan Emosi dari Andi. Kemudian Andi bertanya lagi “mengapa bapak masih mau mengajar di kampus-kampus, masih mau bekerja sosial untuk orang banyak padahal Bapak sudah memiliki hotel, perusahaan, mobil mewah dll”. Boleh saya tahu pak, saya ingin belajar..Wah rupanya pengusaha tersebut semakin tertarik, kemudian ia bercerita “saya kira kita tidak cukup hanya dengan mempunyai uang dan harta yang berlimpah, kita harus peduli dengan sosial, dengan orang lain, kita harus melihat orang disekeliling kita. Pada saat pengusaha itu berbicara, Andi melancarkan Ilmu EQ, dengan tersenyum kemudian badan Andi di majukan dua centi kedepan, kesannya supaya Andi berminat dan setiap ia berbicara Andi menganggukkan dagunya setiap 3 menit sekali. Dengan cara seperti itu pengusaha tersebut semakin bersemangat, foto-foto ia tunjukkan semuanya dan tanpa terasa ia memberhentikan pembicaraanya karena tak terasa sudah 2 jam lamanya ia berbicara tentang dirinya sendiri.

Kesimpulannya Andi Baru saja mempergunakan Ilmu Kecerdasan Emosional, kemampuan membaca hati seseorang, kemampuan membaca harapan orang. Dapat disimpulkan ada 4 jurus dalam Kecerdasan Emosianal

  • 1000 sungai gunung turun ke laut

Maksudnya, kalau kita merendah menjadi lembah yang landai kemudian mereka berada di tempat yang tinggi, air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.

  • Berikan Pujian

Memberikan orang pujian ibarat lentingan Harfa di pagi hari dan itu adalah sangat indah. Berikan pujian penghargaan bukan pujian dari “gigi” tapi pujian dari “hati”

  • Sebutkan namanya berkali-kali

Maka itu adalah musik yang paling indah yang tak pernah ia dengar sepanjang hidupnya.

  • Mengakui kesuksesan orang lain

Maka itu adalah air sejuk dari surga yang pernah ia peroleh.

Setelah melakukan 4 jurus diatas barulah ajukan proposal atau keinginan kita insyaalah akan diterima dengan senang hati. Sekarang yang menjadi pertanyaan untuk kita semua “Apakah cukup hanya dengan dua kecerdasan tadi IQ dan EQ” Intelektualitas, otak pintar. Kecerdasan Emosi, mampu merayu seperti cerita diatas, apakah cukup ?

Kita bisa bayangkan apa yang terjadi, entah bagaimana menurut kita semua, kita masih membutuhkan satu Kecerdasan lagi, kita masih butuh satu kecerdasan lain yang disebut SQ atau Kecerdasan Spritual. Yang mampu menjawab untuk apa Kecerdasan Intelektual saya ini, untuk apa Kecerdasan Emosional ini dan untuk apa semua ini terjadi. Perlu kita ketahui dua kecerdasan (IQ dan EQ) tidaklah cukup dan bahkan takkan pernah bahagia.

Kita semua bisa melihat bagaimana contoh-contoh orang yang begitu sukses yang sudah kaya raya tapi kemudian ia loncat dan bunuh diri dari lantai 56. Kita masih ingat Presiden Direktur Hyundai, ia bunuh diri. Bahkan juga beberapa orang yang sudah sukses, bagaimana mereka bunuh diri dan tidak pernah merasa puas dengan kesuksesannya.

Dua kecerdasan ini tidak bisa membuat kita bahagia, bahkan yang paling menyedihkan kasus Harianto, seorang anak 12 tahun yang bunuh diri karena tidak bisa membayar uang untuk mengikuti Ekstrakurikuler sebesar 2.500 (dua ribu lima ratus) dan kita lihat remaja-remaja sekarang lari ke Narkoba karena ia tak mampu menemukan untuk apa saya hidup, dimana saya hidup dan kita lihat orang-orang tua yang begitu gemar bermewah-mewahan gemar bersenang-senang, ia mencari bagaimana kebahagian.

III. PENUTUP

A. Rangkuman

    1. Orang yang cerdas secara emosional adalah orang yang memahami kondisi dirinya, emosi-emosi yang terjadi, serta mengambil tindakan yang tepat. Orang tersebut juga secara sosial mampu mengenali dan berempati terhadap apa yang terjadi pada orang lain dan menanggapinya secara proporsional.
    2. Beberapa cara yang dapat dilakukan dalam mengembangkan kecerdasan emosional antara lain :

- Membaca situasi.

- Mendengarkan dan menyimak lawan bicara

- Siap berkomunikasi

- Tak usah takut ditolak

- Mencoba berempati

- Pandai memilih prioritas

- Siap mental

- Ungkapkan lewat kata-kata

- Bersikap rasional

- Fokus

  1. Secara sederhana, ada dua kelompok keahlian yang dimiliki orang yang cerdas secara emosional:
  • Kemampuan Pribadi

- Pengenalan diri (Self Awareness), memahami emosi, batasan yang dapat dicapai, kemampuan, kekuatan dan kelemahan.

- Manajemen diri (Self Management), mampu mengendalikan diri menghadapi berbagai situasi

- Orientasi Tujuan (Goal Orientation), mengetahui apa yang menjadi tujuannya dan menyusun langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapainya.

  • Kemampuan Sosial

- Empati: mengenali perasaan dan emosi orang lain serta mampu menempatkan diri dalam posisi tersebut.

- Keahlian sosial (Social skills): mampu berinteraksi dengan orang lain, bekerjasama, mengelola konflik serta bersikap dengan tepat terhadap berbagai situasi perasaan dan emosi orang lainMetode pengembangan self science merupakan salah satu metode dalam meningkatkan kecerdasan emosional.

1 komentar:

musyafa ali mengatakan...

ya aku setuju dengan hal yang semacam itu ,barangla

Poskan Komentar